Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.
Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.
Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Jika dan Maka
Jam pelajaran terakhir itu berlangsung lebih lama dari biasanya.
Bukan karena jarum jam melambat, tapi karena suasana di kelas terasa berbeda. Cahaya sore masuk miring melalui jendela, menempel di papan tulis, memantul di meja-meja kayu yang penuh coretan kecil—nama, tanggal, kenangan yang ingin diabadikan diam-diam.
Pak Arman berdiri di depan kelas dengan sebatang kapur di tangan.
“Hari ini kita main permainan kata,” katanya. “Namanya Jika dan Maka. Saya yang menunjuk. Yang ditunjuk mengucapkan kalimat dengan ‘jika’. Lalu saya tunjuk orang lain untuk menjawab dengan ‘maka’. Gunakan perasaan.”
Beberapa murid mengangguk, sebagian tersenyum malas.
Putaran pertama, kedua, berjalan biasa saja. Raka, Dina, Liora, Galen—kata-kata mereka puitis, menyentuh, tapi masih terasa aman.
Sampai Pak Arman berhenti di satu titik.
“Varrendra.”
Varrendra tersentak kecil, lalu berdiri. Tatapannya sempat, tanpa sadar, mencari satu wajah di kelas: Selvina.
“Ucapkan satu kalimat. Mulai dengan ‘jika’.”
Varrendra menelan ludah. Ini hanya permainan, katanya pada diri sendiri. Tapi dadanya terasa terlalu penuh untuk sekadar permainan.
“Jika…” suaranya pelan tapi jelas,
“Jika seseorang mencintai dalam diam, menyimpan perasaannya rapi karena tahu waktunya salah dan keadaannya rumit… apakah cintanya tetap berarti meski tak pernah diucapkan dengan lantang?”
Kelas mendadak sunyi.
Pak Arman tidak langsung menunjuk Selvina. Ia justru memandang sekeliling, lalu berkata,
“Jawaban dari… Mira.”
Mira berdiri gugup. “Maka… cinta itu tetap berarti. Karena rasa tidak selalu butuh panggung, kadang cukup hidup di dalam.”
Varrendra mengangguk pelan, meski hatinya tahu—itu bukan jawaban yang ia tunggu.
Permainan berlanjut dengan siswa lain. Sampai akhirnya Pak Arman kembali mengangkat kapur, matanya berhenti pada satu sosok.
“Selvina. Sekarang kamu yang mulai dengan ‘jika’.”
Selvina berdiri perlahan. Tangannya terlipat di depan, rapi, seperti selalu. Tapi ada sesuatu di matanya yang lebih dalam dari biasanya.
“Jika…” ia menarik napas,
“Jika seseorang hanya diberi satu kesempatan untuk mencintai dengan sepenuh hati—satu waktu, satu orang, satu kisah—dan setelah itu dunia memintanya untuk belajar melepaskan… apakah ia akan menyesal telah jatuh terlalu dalam?”
Suara itu tidak bergetar, tapi terasa menahan.
Pak Arman terdiam sejenak, lalu menunjuk,
“Jawaban dari… Varrendra.”
Seolah seluruh kelas menahan napas.
Varrendra berdiri. Kali ini, ia tidak menunduk. Ia menatap ke depan, tapi yang ia lihat hanya satu wajah.
“Maka…” katanya pelan,
“ia mungkin akan terluka. Tapi ia tidak akan menyesal. Karena mencintai, meski hanya sekali, lebih baik daripada tidak pernah berani sama sekali.”
Ada sesuatu yang menghangat di udara.
Pak Arman melanjutkan permainan, tapi kini ada ketegangan halus yang tak bisa diabaikan.
“Varrendra, satu kali lagi. ‘Jika’.”
Varrendra menarik napas panjang. Ini mungkin kesempatan satu-satunya—bukan untuk mengaku, tapi untuk jujur dalam batas yang aman.
“Jika… dua orang bertemu di waktu yang tidak ideal, dengan dunia yang menuntut terlalu banyak dari mereka, lalu mereka harus memilih antara bertahan bersama atau saling merelakan… apakah perpisahan selalu berarti kalah?”
Beberapa murid saling pandang.
Pak Arman menoleh ke arah lain.
“Damar, jawab.”
“Maka… perpisahan tidak selalu kalah. Kadang itu bentuk keberanian, untuk tidak saling melukai lebih jauh.”
Jawaban itu benar. Tapi tidak sepenuhnya menenangkan.
Pak Arman lalu mengangkat tangan lagi.
“Selvina. Terakhir. Satu ‘jika’ lagi.”
Selvina berdiri. Jantungnya berdetak lebih cepat, meski wajahnya tetap tenang.
“Jika…” suaranya lebih lembut sekarang,
“Jika seseorang memilih tetap tinggal, bukan karena ia yakin akan masa depan, tapi karena ia ingin menghargai satu-satunya kesempatan yang diberikan hari ini… apakah itu keputusan yang bodoh?”
Kelas terasa sangat sunyi.
Pak Arman menatap sekeliling, lalu berkata,
“Varrendra. Jawab.”
Varrendra berdiri. Kali ini, tidak ada ragu.
“Maka… itu bukan kebodohan. Itu keberanian. Karena tidak semua orang berani hidup sepenuhnya di satu momen, meski tahu momen itu tidak akan abadi.”
Ada jeda panjang setelah itu.
Bel akhirnya berbunyi, memecah udara yang terlalu sarat perasaan.
Siswa-siswa mulai berkemas. Suara kursi digeser, tas ditutup, langkah-langkah kaki terdengar. Tapi ada dua orang yang masih diam di tempatnya.
Varrendra dan Selvina.
Mereka tidak saling mendekat. Tidak berbicara. Hanya bertukar pandang singkat—cukup lama untuk mengerti, cukup singkat untuk tidak melanggar batas.
Di antara mereka, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar diucapkan, tapi juga tidak pernah hilang.
Mereka tahu:
kesempatan itu hanya satu.
Waktu itu tidak akan terulang dalam bentuk yang sama.
Dan mungkin, mereka tidak ditakdirkan untuk saling memiliki sepenuhnya.
Tapi di ruang kelas sore itu, lewat permainan Jika dan Maka, mereka saling memberi satu hal yang lebih berharga dari janji:
pengakuan bahwa perasaan itu pernah ada, pernah hidup, dan pernah berarti.
Sedih, karena harus dibatasi.
Senang, karena pernah dirasakan.
Galau, karena tidak tahu bagaimana akhirnya.
Namun satu hal pasti—
mereka tidak menyesal telah menggunakan kesempatan itu untuk benar-benar merasa.
-bersambung-
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍