NovelToon NovelToon
ISTRI BERCADAR MAFIA

ISTRI BERCADAR MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Saniaa96

ISTRI BERCADAR MAFIA

​Jakarta. Di bawah guyuran hujan yang meradang.
​Di dalam dinding mansion mewah bergaya Eropa, takdir dua dunia yang bertolak belakang baru saja disatukan oleh paksaan dan ancaman. Ini bukan kisah cinta, melainkan kisah pengorbanan di ujung moncong pistol.

​Alaska Ravendra. Nama itu adalah sinonim dari kekuasaan, kegelapan, dan kekejaman. Sebagai pemimpin Black Vipers, kelompok mafia yang paling ditakuti di Asia Tenggara, ia hidup dalam hukumnya sendiri, yang kuat memakan yang lemah. Di tangan dinginnya, pistol Beretta perak hanyalah mainan, dan nyawa manusia adalah alat tawar menawar.

​Di hadapannya berdiri Sania Humairah, seorang gadis sederhana yang jiwanya berhias iman dan raga terbungkus cadar hitam—simbol dari kehormatan yang ia jaga melebihi nyawanya.

Sania dipaksa menjadi "bayaran" atas hutang ayahnya kepada Alaska.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saniaa96, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ISTRI BERCADAR MAFIA

Bab 26: Puing-Puing Keangkuhan dan Awal Penantian.

​Asap tipis masih mengepul dari sudut-sudut The Fortress saat matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui jendela-jendela tinggi yang kini tak berkaca.

Bangunan yang dulu menjadi simbol kekuasaan mutlak Alaska kini dipenuhi garis polisi. Ratusan aparat bersenjata lengkap menyisir setiap sudut, menyita tumpukan dokumen dan barang bukti dari bisnis gelap yang selama ini tersembunyi di balik dinding-dinding marmer.

​Alaska duduk di kursi besi di ruang interogasi sementara yang didirikan polisi di aula utama. Tangannya tidak diborgol—sebuah bentuk penghormatan kecil karena ia secara sukarela menyerahkan diri dan memberikan kunci enkripsi server pusatnya yang berisi data seluruh jaringan kartel internasional.

​Bara berdiri tak jauh darinya, lengannya sudah diperban rapi.

"Tuan, pengacara kita sudah di depan. Mereka bilang Anda bisa keluar dengan jaminan karena status Anda sebagai saksi kunci dan pelaku whistleblower."

​Alaska menggeleng perlahan. Matanya menatap kosong ke arah lantai yang masih menyisakan bekas noda darah yang mengering.

"Tidak, Bara. Jika aku keluar sekarang, aku hanya akan kembali ke lingkaran yang sama. Biarkan proses ini berjalan. Aku butuh tempat yang sunyi untuk benar-benar 'pulih'."

​Perpisahan di Gerbang Besi.

​Sania berdiri di ambang pintu aula, didampingi oleh seorang petugas polisi wanita. Ia membawa sebuah bungkusan kecil—sajadah yang kemarin sempat tertutup debu, kini sudah dibersihkan.

​Alaska bangkit berdiri. Kehadiran Sania seperti oase di tengah gurun kehancuran yang ia ciptakan sendiri.

​"Kamu akan pergi?" tanya Alaska, suaranya serak.

​Sania mengangguk pelan.

"Tugas saya di sini sudah selesai, Tuan. Anda sudah menemukan jalan pulangnya. Sekarang, Anda harus berjalan di jalan itu sendiri."

​Ia menyerahkan bungkusan itu kepada Alaska.

"Di dalamnya ada kitab kecil dan sajadah itu. Di penjara nanti, mungkin hanya itu yang akan menemani Anda saat malam terasa terlalu panjang."

​Alaska menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar.

"Sania... apakah seseorang seperti aku benar-benar bisa dimaafkan? Di luar sana, ribuan orang hancur karena barang-barang yang aku distribusikan dulu. Satu malam perlawanan terhadap Dante tidak akan menghapus ribuan malam kejahatanku."

​"Pintu taubat tidak pernah tertutup karena banyaknya dosa, Tuan, melainkan karena keangkuhan manusia untuk berhenti melangkah menuju-Nya," jawab Sania lembut. "Jangan hitung masa lalu Anda, tapi hitunglah berapa banyak kebaikan yang bisa Anda tanam mulai detik ini."

​"Berapa lama aku harus menunggu untuk bisa melihatmu lagi?" tanya Alaska, sebuah pertanyaan yang tidak pernah ia duga akan keluar dari mulut seorang 'Naga'.

​Sania terdiam sejenak, lalu tersenyum di balik cadarnya.

"Jadilah manusia yang lebih baik karena Allah, bukan karena saya. Jika takdir mengizinkan, kita akan bertemu di titik di mana Anda sudah benar-benar berdamai dengan masa lalu Anda."

​Dinginnya Sel dan Hangatnya Doa.

​Tiga hari kemudian, Alaska resmi dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan dengan keamanan tingkat tinggi. Tidak ada lagi setelan jas mahal seharga ratusan juta. Kini ia mengenakan seragam oranye yang kusam. Tidak ada lagi pelayan yang membungkuk hormat, hanya sipir yang membentak dan denting kunci jeruji besi.

​Dante berada di blok yang berbeda, berteriak gila setiap malam, bersumpah akan membunuh Alaska. Namun Alaska tidak peduli.

​Di dalam selnya yang sempit, Alaska membentangkan sajadah pemberian Sania. Suasana penjara yang bising dengan teriakan tahanan lain tiba-tiba terasa sunyi bagi Alaska. Ia mencoba mengikuti gerakan sujud yang ia pelajari. Saat dahinya menyentuh lantai yang dingin, air mata yang selama puluhan tahun ia tahan akhirnya tumpah.

​Itu bukan tangisan kelemahan. Itu adalah tangisan seorang pria yang baru saja melepaskan beban dunia yang sangat berat dari pundaknya.

​Di luar sana, Bara mulai menjalankan instruksi terakhir Alaska: menggunakan sisa harta legal perusahaan untuk membangun yayasan rehabilitasi bagi korban narkoba dan panti asuhan. Alaska ingin menghancurkan warisan kegelapannya dan menggantinya dengan sesuatu yang bernapas.

​Ancaman di Balik Tembok.

​Namun, dunia gelap tidak membiarkan pengkhianat pergi begitu saja. Di sebuah hotel mewah di Mexico City, para pemimpin kartel berkumpul. Wajah Alaska terpampang di layar besar.

​"Sang Naga telah memotong lidahnya sendiri," ucap seorang pria dengan cerutu di mulutnya.

"Tapi dia masih memiliki ingatan. Dia tahu semua jalur kita. Dia tidak boleh dibiarkan hidup, bahkan di dalam penjara terdalam sekalipun."

​Malam itu, di dalam penjara, Alaska sedang membaca kitab kecil pemberian Sania saat ia merasakan kehadiran seseorang di depan selnya. Seorang narapidana bertubuh besar dengan tato kalajengking di lehernya menatapnya dengan tatapan lapar. Di tangannya, terselip sebuah shiv (pisau buatan penjara) yang tajam.

​Alaska menutup kitabnya dengan tenang. Ia berdiri, menatap pria itu tanpa rasa takut.

​"Kau dikirim untuk membunuhku?" tanya Alaska datar.

​Pria itu menyeringai.

"Harga kepalamu cukup untuk membuatku kaya tujuh turunan di luar sana, Sang Naga."

​Alaska tersenyum tipis—bukan senyum monster, melainkan senyum seseorang yang sudah siap menghadapi apa pun.

"Mungkin kau bisa mengambil nyawaku, kawan. Tapi kau tidak akan bisa mengambil ketenangan yang baru saja aku temukan."

​Pertempuran baru baru saja dimulai. Bukan pertempuran memperebutkan wilayah, melainkan pertempuran untuk mempertahankan prinsip di tempat paling kotor di dunia.

​__Tempat paling gelap bukan berada di balik jeruji penjara, melainkan di dalam hati yang tertutup oleh kabut dendam dan harta haram. Kebebasan sejati adalah saat kaki terbelenggu namun jiwa mampu terbang tinggi menuju pengampunan Tuhan. Terkadang, kita harus kehilangan segala hal yang kita miliki hanya untuk menemukan satu hal yang benar-benar kita butuhkan: Kedamaian hati__

​Bersambung ....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!