Tidak ada yang salah, termasuk bertemu dan menikah dengan pria itu, pria asal Busan-Korea, yang hidupnya terlalu pas-pasan. Pernah mendapatkan cinta yang penuh dari pria itu sebelum akhirnya memudar lalu kandas.
Gagal di pernikahan pertama, Anjani kembali menjalani pernikahan kedua, dengan seorang pengacara kontroversial di negeri yang sama. Bukan hanya harta dan kedudukan tinggi yang menaunginya, Anjani berharap, ada kekuatan cinta menghampar 'tak terbatas untuknya, menggantikan yang lebur di kegagalan lalu, dia tidak ingin kandas kedua kali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Magisna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Baru, Harapan Baru
Bagaimana pun Woojun pernah menjadi bagian dalam hidupnya, bahkan hingga beberapa waktu lalu.
Waktu tiga tahun bukan jentikan jari. Perasaannya sudah mendalam selama itu dan pasti sulit terhapus.
Kemunculannya beberapa saat lalu membuat hati Anjani kembali penuh gejolak.
“Tidak! Aku tidak boleh begini! Aku sudah memutuskan hal yang benar," katanya, menguatkan diri sambil menyeka genangan di bola mata. “Aku harus tidur. Ya, tidur saja." Memutuskan merebah, selimut ditariknya hingga meliput kepala. Namun saat akan memejamkan mata ....
TOK TOK TOK!
Pintu terketuk lagi.
“Haaa ....” Dia mengerang. “Kenapa kembali lagi?! Bukankah sudah kuusir pergi!” Selimut diempas dari wajahnya dengan cara kasar. “Woojun siaー”
“Anjani ini aku!”
Teeewww ....
Suaranya berbeda.
“Bukan suara Woojun!”
“Anjani!”
Ulangan panggilan kedua segera mengentak. Jelas Anjani tahu milik siapa suara itu. Dalam seketika melotot lebar bola matanya. “Jeong!” pekiknya pelan, lalu meringis. “Haa, aku lupa. Dia pasti mau menagih jawaban yang kujanjikan, bukan? Ya, Tuhaan.”
Mengerang pun tak ada guna, jangka waktu dua jam yang dijanjikan telah habis tersita. Dia harus memberikan kepastian pada lelaki itu sekarang juga, tanpa sempat berpikir. “Bagaimana ini?”
“Anjani!” Seruan Jeong terdengar lagi.
“Bukankah sudah bilang dia tunggu saja telepon dariku! Kenapa harus datang kemari?!” sungutnya lagi, kali ini sambil bergerak ke arah pintu.
Dan ...
KLEK!
BREEENG!
Terpampanglah perwujudan Jeong yang bagai kutukan malam.
(Pemanis)
Anjani sampai tergagap saking terpesonanya. “Ka-kau!”
Penampilan Jeong berbeda dari beberapa waktu lalu di pertemuan mereka terakhir kali. Sangat tampan dengan outfit formal dan rambut yang walaupun tak disisir klimis, tetap awur-awuran aura yang dipancarkannya.
“Maaf aku tidak sabaran. Aku merasa aku akan mati jika hanya menunggu telepon darimu,” kata Jeong.
Jadi terbata, bola mata Anjani bergulir acak. “Dia benar. Aku bahkan malah berniat tidur setelah habis tenaga menghadapi Ahn Woojun, sampai melupakan perjanjian kami. Mungkin sampai besok pagi aku tak akan menghubunginya.”
"Jeong ... aku ...."
Lama.
Anjani seperti seorang gagu yang sulit bicara.
Habis kesabaran, sabarnya Jeong.
Dan ...
GREB!
Inilah yang akan dilakuan pria itu saat sudah sampai di titik jemu. Melesat menyambarkan dirinya memeluk Anjani. Sangat erat sampai Anjani yang masih bingung tidak dipedulikannya.
"Jeong ...."
Untuk sekian saat tidak digubris.
“Aku sangat suka aromamu.”
Anjani menelan ludah.
Aroma? Aroma apa?
Dia bahkan belum mandi sepulang kerja.
Pelukan dilepas, Jeong langsung menjauhkan diri, memberi jarak. Setelah diam hanya menatap, dia lalu meminta, "Tolong ... jawab aku ... sekarang juga, Anjani."
Usai dibuat terkejut dengan pelukan, sekarang Anjani kembali dibuat bingung karena tuntutan itu.
“Salahku hanya memberinya waktu dua jam saja. Seharusnya lebih dari setengah hari.”
Mata yang galau bergulir di wajah Jeong, dibuangnya ke lain arah, ke tepi, udara lalu merunduk menatap kakinya sendiri.
Jeong masih menunggu dengan sabar yang bukan sabar, hanya berusaha mengendalikan dorongan rusuh dalam dirinya.
Anjani bukan tipe wanita yang mudah diberi hati lalu menyambar, cara berpikirnya kritis dan selalu memikirkan akhir, jadi Jeong akan berusaha menahan diri, setidaknya untuk tidak memaksa.
Detik berikutnya, saat tatapan Anjani tegak kembali padanya, jantung Jeong benar-benar terlonjak dan bola matanya tak bisa diam.
"Jeong ...." Diam lagi.
Anjani benar-benar membuat pria itu semakin ingin menggempur dengan caranya. Tapi tak lama kemudian .... “Ayo kita menikah."
Terdengar.
Jelas.
Tapi sedang dicerna.
Membentuk loading yang panjang ... dan lambat.
Jeong malah membeku seperti tolol.
Lebih tepatnya belum percaya dengan pendengarannya sendiri.
“Bisa kau ulangi sekali lagi, Anjani?” Dia meminta, demi keyakinan bahwa telinganya masih berguna sesuai fungsi.
Dan Anjani, degup dalam dadanya sudah tak normal lagi. Dia memang sudah menjawab, tapi jawabannya itu ... dia bahkan belum menegaskan kebenarannya pada diri sendiri. Hanya sejenis jawaban impulsif yang mungkin sangat dan sangat gegabah.
Apakah ini keputusan tepat? Tapi untuk ditarik kembali karena menuruti perasaan bingung dan meminta waktu kembali, Jeong pasti tidak akan memberi itu.
"Anjani!"
Pada akhirnya ....
CUP!
Sekilas kecupan didaratkannya di bibir Jeong, lalu memberi kejelasannya, "Iya. Jeong ... aku mau menikah denganmu."
Setidaknya delapan detik Jeong terdiam lagi, terkejut dengan apa yang baru saja dilakukan Anjani, juga kata-katanya. Sekarang dia sedang menatap ke dalam mata wanita itu, untuk menerobos seberapa kuat keputusan yang diberikan.
Perasaannya jelas sudah meledak, dan detik berikutnya yang dia lakukan adalah ....
GREB!
Menarik Anjani kembali dalam pelukan dan mengetatkannya terdorong rasa. "Terima kasih, Anjani. Terima kasih sudah menerimaku." Pada akhir dia tidak peduli nilai keseriusan Anjani, sampai seperti ini saja sudah sangat harus disyukurinya.
Dengan kaku dan perlahan, dua tangan Anjani naik untuk balas memeluk, tapi tidak ada kata yang sanggup dia ucapkan.
ー
Setelah berhasil dengan misinya, Jeong tak ingin pulang, masih ingin berlama-lama di rumah atap dengan wanita yang mungkin tak lama lagi akan mudah dilihatnya setiap hari. Tapi Anjani menolak dan malah meminta pria itu pulang saja.
"Beri aku waktu untuk berpikir."
Kata-kata aneh yang membuat Jeong mengerut kening. "Waktu? Lagi? Dan ... berpikir untuk apa?"
"Untuk bagaimana caraku memperlakukanmu ke depannya!” terang Anjani, “Maaf, Jeong, bagaimana pun keputusan ini juga mengejutkanku sendiri, aku tidak ingin jadi aneh dan kaku. Jadi ... pulanglah dan beri aku peluang berpikir untuk menjadi Anjani yang lain, Anjani yang kini jadi milikmu."
Pada akhir pria itu mengalah, pergi setelah memeluk Anjani sebagai penutup temu, sekaligus awal pembuka kisah yang baru. Kata-kata akhir Anjani sangat terdengar manis hingga memancingnya terus tersenyum, jadi dia tak keberatan untuk berlalu, pulang membawa kepuasan hati.
......................
Setelah kisah itu terjalin, harapan untuk bertemu setiap hari sebagai pasangan yang akan menikah justru tergeser.ーHanya harapan Jeong sendiri, sih.
Pria itu harus pergi dinas ke Jepang, terkait kasus perusahaan kontroversial yang ditangani baru-baru ini, setidaknya selama seminggu.
Dia terus mengutuk diri, menyesal karena sudah menandatangi kontrak sebagai pengacara yang akan berperang demi nama besar sebuah perusahaan terkenal.
Hanya bisa melakukan panggilan suara, itu pun tak banyak yang bisa dikatakan. Anjani juga tak mau ber-video call. Alasannya aneh: "Aku tidak suka saja."
Padahal Jeong sangat ingin melihat wajahnya. Walau tak bicara, Anjani cukup diam dan akan memandanginya sepuas hati. Tapi wanita itu benar-benar sulit.
"Beginilah mencintai seorang introvert."
Untungnya Kim Raon memiliki beberapa foto serampang saat dimintanya menyelidiki Anjani di awal-awal. Itu yang dia gunakan untuk setidaknya mengobati sedikit rindu.
Ada satu foto yang membuatnya tak henti senyum.
Ketika Anjani tertawa lebar dengan Nam Jisu di toko roti.
"Haa ... rindu ini membuatku ingin berhenti kerja."
***
Seminggu yang sesak itu akhirnya berakhir juga.
Ryu Jeong dan team yang hanya seorang Kim Raon itu baru saja keluar dari ruang persidangan, di Osaka, bersama klien penting yang menggunakan jasanya.
Mereka berbicara bahasa Jepang. Jeong menguasainya dengan sangat baik, tidak kaku dengan aksen yang tepat seolah dirinya berasal dari negara itu.
"Terima kasih atas kerja keras Anda, Pengacara Ryu. Saya benar-benar terselamatkan berkat kehebatan Anda."
"Sama-sama, Tuan Hideyoshi. Senang bisa membantu. Jika ada masalah lagi, jangan ragu untuk memanggil saya kembali."
"Tentu saja. Anda sangat mengesankan. Saya tidak membutuhkan yang lain selain Anda jika itu terjadi."
"Haha, Anda berlebihan. Tapi ... semoga tidak ada masalah lagi. Sebaiknya, Anda berlibur dulu beberapa waktu, Tuan Hideyoshi. Mata Anda memintanya dengan sangat jelas."
"Haha, tentu. Tentu saja akan saya lakukan!"
"Bagus. Kalau begitu saya pamit pulang kembali ke Korea."
"Secepat ini? Tidak ingin ikut berlibur denganku?"
"Tidak, terima kasih. Ada seseorang yang sudah sangat saya rindui."
"Wah, sepertinya tidak bisa diganggu gugat."
"Itu benar."
Keduanya berjabat tangan, lalu berpisah.
Di dalam pesawat ....
“Tunggu aku ... Anjani. Segera akan kuurus apa yang harus.”
DZIIIING... 🤜🥴💨
Selamat jingkat buat Author!