Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGHADAPI YANG TAK TERLIHAT
Wardah dan Sobirin, di giring masuk ke dalam hutan. Suasana mencekam tampak begitu terasa.
Angin dingin berhembus menusuk tulang. Tiba-tiba merasakan merasakan keanehan di sekeitar. Hanya Parmi
saja, yang tampak begitu tenang.
"Parmi! Kok, suasananya sangat berbeda ya?" Ucap Jepri, memegangi tengkuknya yang terasa menegang.
"Iya, Jep. Macam sunyi sekali. Bahkan, siara hewan jangkrik sekali pun tak terdengar." Ibuh Ucok.
"Bedalah! Udah malam. Ya gelap! Tapi kita kan punya lampu penerangan. Kenapa? Kamu takut? Gitu aja takut.
Jadi lelaki cemen banget kamu, Pri."
"Bukan begitu, Parmi! Kalau tiba-tiba kita di hadang dedemit, seperti ceritanya Pak RT, kan, ngeri juga."
"Yaelah! Omongan dia aja di percaya. Si RT, itu cuma halu. Percaya amat sih, ama ceritanya dia yang asal. Udah..., jangan takut, sebentar lagi kita eksekusi, habis itu, kantong kita bakal tebel. Emang kamu nggak mau, kantong penuh duit?"
Jepri dan kawan-kawan, yang semula merasa ketakutan pun, menyunggingkan senyum lebar kembali.
"Iya dah!"
Mereka pun sampai pada sebuah pohon besar dan rindang. Mereka berhenti di sana, dan mendorong tubuh Warda, dan Sobirin yang tangan mereka terikat, dengan kasar.
BRUUGGHH!!!
Keduanya tersungkur. Wardah menelisik keadaan sekitar, seperti ada yang janggal menurutnya. Dia sepertinya pernah kesini. Tapi kapan? Pikirnya.
Saat di ingat-ingat kembali, dia pun tersadar, kalau dirinya pernah ada di pohon besar ini, Yah! Itu adalah mimpinya sewaktu di rumahnya Budenya waktu itu.
"I-inikan? Ya Allah. Apakah...!" Wardah masih tak percaya dengan kenyataan itu. Sebenarnya, ada rahasia apakah dengan pohon ini. Pikirnya. Belum sempat ia berpikir lagi, matanya di bulatkan dengan sosok hitam, dan tinggi besar. Matanya merah menyala, dan mempunyai tanduk yang begitu besar dan runcing di ujungnya.
Wardah membeku dengan napas yang tercekat di tenggorokan, lalu berkata. "Rin, apa kamu melihat apa yang aku lihat saat ini?" Desis Wardah pelan tanpa menoleh.
Sobirin menelan ludah. "I-iya, Embak. Ma-makhluk apa itu, Embak?" Tanya Sobirin yang tubuhnya mulai menggigil ketakutan. Makhluk itu begitu menyeramkan. Seolah-olah akan menelan mereka hidup-hidup.
Wardah menggeleng. Terlihat makhluk itu mendekati
rombongan Parmi, yang membelakangi makhluk itu. Parmi yang saat ini sedang tertawa senang, tak menyadari akan kehadiran makhluk itu.
"Haha...! Cuma segitu saja, raut wajah kalian sudah kayak orang mau ngompol. Makanya, Wardah! Jadi orang itu jangan sombong, mentang-mentang punya ilmu hitam. Sekarang lihat, kamu sedikit pun tak punya nyali untuk melawan kami, bukan? Haha...! Dan pada akhirnya, kamu bakalan berakhir tragis seperti orang-orang yang kau celakai itu. Haha...!"
"Kayaknya, mereka benar-benar takut sama kita, Par.
Lihat saja, mimik mukanya. Kayak orang yang sudah kena rajam. Haha...!" Jepri ikutan tertawa.
Begitu pun kedua teman Jepri, ucok dan Cikrak.
"Enggak sebanding ama ilmunya ya, Jep?" Ujar Ucok mencemo'oh.
Makhluk itu kian mendekat. Dan tiba-tiba di susul makhluk lain yang tak kalah menyeramkannya. Kini keduanya berjalan beriringan. Dan tiba-tiba, dua makhluk menyeramkan itu berubah menjadi lelaki dan perempuan yang cantik dan tampan.
Sobirin dan Wardah, terperanjat. Terpana dengan kecantikan dan ketampanan makhluk itu.
"Wardah, kok mereka mirip... ka...mu." tukas Sobirin tanpa sadar. Wardah hanya diam mengamati keduanya. Ada rasa yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Kalian mau apakan anakku, Parmi?" Ucap makhluk yang menjelma menjadi perempuan cantik itu. Hati Wardah bergetar. Ada bulir-bulir kerinduan yang tiba-tiba merayap di dalam hatinya.
Bunda...? Apakah dia yang di maksud lelaki di dalam mimpiku itu.
"Iya, Parmi. Kami salah apa, kepada kamu? Hingga kamu tega, mau menyakiti anak perempuan kami juga."
Ucap Makhluk yang menjelma menjadi pria tampan itu, tampak memelas.
Parmi, Jepri, dan kedua temannya menelan ludah kasar. Dengan ketegangan yang tak bisa mereka kontrol lagi.
Parmi yang masih ingat jelas dengan suara itu pun, mendadak tangannya bergetar.
Hah? Su-suara ini..., a-apa aku bermimpi lagi, sekarang? Batinnya.
"Jep, tolong cubit lenganku." Pinta Parmi dengan dada yang mulai naik turun tak beraturan.
"Somplak kamu, Par. Kamu masih inget nggak sih, sama suara itu. Apa aku saja yang dengar?" Ucap Jepri yang masih ragu akan pendengarannya.
"Jep! Aku juga dengar. Bukannya itu suara, Yusuf dan istrinya, ya?" Ucap Cikrak yang masih tidak mau percaya akan pendengarannya.
"Bukannya Yusuf, sama istrinya sudah meninggal
lama sekali?" Jawab Ucok.
Ke-empatnya membeku di tempat.
"Parmi, Jepri? Kenapa kalian diam saja? Apa salah kami, Parmi? Hihi...! Hihi...!" Wajah memelas, kini tiba-tiba menampakan senyum yang sangat menyeramkan. Suara tawa pun mulai terdengar sangat mengerikan. Sukses membuat Parmi, dan yang lainnya berasa lutut mereka lemas.
Ke-empatnya menoleh perlahan. Jantung mereka berdetak sangat cepat, melihat penampakan yang masih mereka kenali, namun terlihat sangat mengerikan.
"Kamu, tidak mimpi, Parmi. Dan kamu tidak pernah bermimpi! Hihi....! Dasar, wanita sinting! Dan berhati iblis! Sudah kami peringatkan, tapi masih saja melakukan hal yang sama. Hahaha...! Kini, tidak akan kami beri ampun! Hahaha...!" Teriak makhluk yang bergantian itu membuat Ke-empatnya tak bisa lagi menahan ketakutan.
Parmi kembali menelan ludah kasar. "Me-Mas Yusuf? Se-seruni?" Parmi mundur beberapa langkah.
"Hahhaaa....!!! Hihi...!!!" Makhluk itu tertawa seakan senang akan ketakutan yang kini menguasai, Parmi.
"Dasar setan! Kalian pikir aku takut?" Parmi segera menuju ke arah Wardah berada. Dia pun mengeluarkan sajam dari saku celananya, hendak melukai, Wardah.
Wardah yang ketakutan hanya bisa memohon. "Ja-jangan, Embak! Ku mohon." Wardah mundur hingga
menempel kepada pohon tersebut.
"Kamu kan yang mengeluarkan kedua iblis itu.
Sekarang akan aku buat kamu tidak ada di dunia ini lagi. Supaya tidak ada lagi, terror dan pengwafatan di desa kami!" Parmi mengangkat sajam itu hendak menghuj*m Wardah. Namun, tiba-tiba rambutnya di tarik keatas bersamaan dengan tubuhnya yang ikut melayang keatas.
"Ja-jangan! Wardah! Kamu benar-benar manusia terkutuk!" Teriak Parmi, sambil meringis kesakitan.
"Hihi...!!! Kaulah yang iblis, Parmi. Kamu...! Haha... !!!" Ucap makhluk tampan bersamaan makhluk cantik, yang kini telah berubah wujud menjadi sangat mengerikan dengan taring giginya yang tiba-tiba muncul sangat panjang. Persis seperti Buto ijo. Kalau orang jawa bilang mah.
Jepri dan kedua temannya menganga. "Jep! Sebaiknya kita kabur! Jangan sia-siakan hidup kita di sini. Ayo cepat!" Saran Ucok. Lalu dia kabur duluan.
"Tunggu aku, Cok!" Cikrak pun ikut kabur menyusul ucok. Jepri yang juga teramat ketakutan ikut kabur.
"Tunggu aku!!! HAAAA!!!" Ketiganya lari tunggang langgang. Namun tetap saja hanya berputar-putar di sekitar situ.
Sedangkan Parmi, dia berkali-kali di bant*ng dan di bent*rkan tubuhnya ketanah.
Kedua makhluk itu semakin sadis. Hingga Wardah
yang tak tega menangis meminta makhluk itu berhenti.
"Cukup! Jangan kalian menyaikitanya lagi. Jangan lakukan!" Teriak Wardah.
Namun, kedua makhluk itu malah semakin bringas.
Tubuh Parmi persis seperti boneka mainan mereka.
Tubuh Parmi sudah penuh dengan luka, dan juga cairan merah.
Wardah yang tak tega, lalu menenangkan diri, dan mulai membaca ayat-ayat Alqur'an. Membuat kedua makhluk itu berteriak kepanasan.
"ΑΚΚΚΗΗΗ!!!" Terdengar suara mereka menggelegar, membuat Jepri dan kawan-kawan menutup telinga karena kepekakkan suara tersebut.
Makhluk itu mengamuk lalu terlihat lemas, dan berubah menjadi kepulan asap hitam lalu menghilang.
Wardah mengehela napas lega.
"Embak. Kenapa malah membantu, Embak Parmi? Wong dia saja jahat sama kita." Ujar Sobirin, yang kini ikatan tali di lengannya sudah berhasil ia buka. Dan kini sedang membantu melepaskan ikatan di lengan, Wardah juga.
Parmi dengan sisa kesadarannya, memandang Wardah dengan penuh kebencian.
"Jepri! Bawa aku pulang, sekarang. Ayo cepat! Sebelum setan itu datang lagi." Teriak, Parmi.
Jepri dan kawan-kawan yang tersadar dari
Kelelahannya pun segera bangun dan mengikuti perintah, Parmi. Ke-empatnya tergopoh-gopoh meninggalkan hutan tersebut.
"Tuh! Lihat, Embak. Mengucap terimaksih saja tidak. Padahal, Embak yang menyelamatkannya." Ucap Sobirin lagi kesal. Namun, bukannya Wardah mendengarkan, dia malah focus terhadap semak, yang sepertinya ada bekas seseorang yang baru saja pergi dari sana. Dengan rasa penasaran yang kuat, dia pun bergegas berdiri lalu mengejarnya.
"Hi! Siapa kamu!"
"Embak! Mau kemana?!" Sobirin yang tidak mau di tinggal sendiri, segera mengikuti, Wardah. Wardah terus mengikuti jejak itu.