NovelToon NovelToon
Complicated Relationship (End Of Love)

Complicated Relationship (End Of Love)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:246.5k
Nilai: 5
Nama Author: January99

Pernikahan yang di harapkan akan bahagia dan selamanya, nyatanya malah membawa luka yang akan membekas selamanya.

Dua tahun menikah, siapa yang mengira bahwa Dinda akan terluka untuk kedua kalinya?

Dan saat hatinya terluka, seseorang datang untuk mengobati luka itu.

Ini adalah akhir cerita dari Adinda Maheswari. Akankah ia bertahan atau pergi bersama pengobat lukanya?



Jangan lupa kritik dan saran nya ya guys..:)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon January99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Complicated Relationship 24

BAB 24

Hari ini Dinda dan Ilham mendapat kunjungan dadakan dari mertuanya, wanita paruh baya itu tidak memberitahu anak dan mantunya sama sekali karena ingin memberi kejutan.

Tidak seperti biasanya, hari ini apartemen Ilham sangat berisik karena kehadiran Salamah. Biasanya di akhir pekan seperti ini pasangan suami istri itu masih bergelut diatas ranjang.

"Ummi silahkan diminum. Maaf ya Dinda gak sempet masak, biasanya sabtu dan minggu Dinda gak masak. Jadi gak ada makanan deh." ucap Dinda yang berjalan dari dapur sambil membawa minuman untuk salamah.

Salamah tersenyum manis pada menantunya itu, "Iya gak apa-apa sayang, Ummi juga kan gak kabarin kalau mau mampir."

"Ummi dari Surabaya langsung ke Jakarta? gak pulang ke Bandung dulu?" tanya Dinda.

"Iya sayang, ummi kangen sama kalian. Hehe" jawab Salamah. Maaf sayang, sebenarnya ada yang lebih penting dari sekedar kangen, batin Salamah.

"Sayang, handphone aku mana ya?" tanya Ilham yang sedang menuruni satu persatu anak tangga.

"Lama banget sih mandinya Ham, ngapain aja di kamar mandi? luluran?" sahut Salamah sewot.

"Salah siapa datang gak ngabarin, lagi enak-enak belum sampai puncak terpaksa berhenti." gumam Ilham.

"Sayang, tolong cariin handphone aku dong." pinta Ilham pada istrinya, Dinda pun segera ke kamar untuk mencari ponsel Ilham.

Ibu dan anak itu menunggu sampai Dinda benar-benar sudah menjauh dari ruang tamu, mereka akan membahas hal yang selama ini dirahasiakan dari Dinda.

"Gimana kabar dia mi? ada perkembangan?" tanya Ilham setelah dirasa Dinda sudah masuk ke kamar.

"Ummi gak tahu apakah ini kabar bahagia atau sedih nak, ummi menyesal karena sudah membohongi Dinda dan mengatakan hal bodoh tentang kehidupan seseorang. Maafin ummi ya nak, seharusnya ummi berkata yang sejujurnya dari awal, seperti yang kamu inginkan." ucap Salamah sedih.

"Sudahlah mi, yang berlalu biarlah. Jadi bagaimana? apa yang terjadi disana?" ucap Ilham sambil mengusap punggung ibunya.

Sementara Dinda didalam kamar sedang sibuk mencari ponsel milik Ilham, tak butuh waktu lama untuk menemukan benda pipih itu. Ponsel itu jelas-jelas tergeletak di atas nakas.

"A Ilham kebiasaan deh, kalau cari barang gak pernah pake mata." gumam Dinda menggelengkan kepalanya.

Dinda segera keluar dari kamar untuk memberikan ponsel itu kepada Ilham.

"Apa yang harus ummi katakan pada Dinda? bagaimana kita menjelaskan situasi yang rumit ini nak? ummi benar-benar bingung"

Langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan serius antara ibu dan anak itu. Apalagi namanya turut disebut dalam percakapan itu, alhasil Dinda pun terpaksa menguping karena sangat penasaran.

"Dinda pasti akan mengerti mi, kita hanya perlu menjelaskan keadaann ini." ucap Ilham yang terdengar tenang.

"Sabrina.." ucap Salamah.

Dinda mengerutkan keningnya mendengar Salamah menyebut nama itu. Sabrina? bukannya itu istri A Ilham yang udah meninggal dua tahun lalu? batin Dinda.

"Sabrina sudah sadar dari koma nak!" ucap Salamah mencoba semangat, bibirnya tersenyum tetapi matanya menunjukan kesedihan.

Mata Dinda membulat sempurna mendengar ucapan mertuanya, ia menutup mulutnya agar tidak berteriak. Apa ini? ada apa lagi ini? awww, kepalaku!, batin Dinda.

"Alhamdulillah!! Ummi serius kan? ini nyata kan mi? istri Ilham sudah kembali mi?" ucap Ilham, ia sangat bahagia. Tapi ia tidak sadar istrinya yang lain sedang melihat dan mendengar pembicaraan mereka.

Tanpa sadar Dinda meneteskan air matanya, jadi istri kamu sudah kembali A?, batin Dinda. Ia tersenyum miris dan menghapus air matanya. Drrt..drrt.. ponsel Ilham berdering 'DR.IRA' nama si penelpon, dengan lancang Dinda menjawab panggilan itu. Ia terlihat sangat frustrasi.

"Halo, selamat siang pak." ucap seorang dokter yang bernama Ira.

"Selamat siang dokter." ucap Dinda. Dokter itu diam tidak merespon, ia pasti bingung karena seorang wanita yang menjawab telpon itu.

"Maaf sebelumnya, bisa saya bicara dengan pak Ilham?" ucap dokter itu.

"Ada apa ya? apakah penting? Ilham sedang sibuk sekarang." ucap Dinda dingin, entah mendapat keberanian darimana sehingga dia bersikap seperti itu.

"Sangat penting bu! Ini mengenai kabar dari istri pak Ilham." ucap dokter itu.

Ahh, ternyata benar dugaan ku. Ini dokter yang merawat Sabrina, batin Dinda. Ia tidak menjawab dokter itu, Dinda berjalan menghampiri Ilham dan Salamah yang melihatnya dengan tatapan terkejut. Dinda mencoba untuk bersikap biasa, seolah-olah tidak mendengar apa-apa.

"A, ada telepon. Maaf ya, aku jawab telponnya." ucap Dinda. Ilham langsung merampas ponsel itu dari tangan Dinda setelah melihat nama si penelpon. Telpon itu masih tersambung, lalu Ilham menatap dingin sekilas kepada Dinda dan sedikit menjauh untuk berbicara pada dokter itu.

Suasana terasa sangat canggung antara Dinda dan Salamah, entah mengapa Salamah merasakan aura yang berbeda pada Dinda. Tak lama kemudian Ilham yang telah menyelesaikan panggilan telpon itu langsung menghampiri Dinda.

"BERANI-BERANI NYA KAMU JAWAB TELPON AKU!!! LANCANG!" bentak Ilham, Dinda berjengit kaget begitupun dengan Salamah.

"Ilham! ada apa sama kamu nak? kenapa kamu membentak istri kamu." ucap Salamah, ia kebingungan melihat putranya.

"Kenapa? bukannya kamu dan ummi harus menjelaskan sesuatu padaku?" ucap Dinda bergetar menahan tangis, keberaniannya yang tiba-tiba muncul tadi langsung hilang ketika mendapat bentakkan oleh Ilham.

Ilham dan Salamah saling melirik satu sama lain, mungkin mereka memikirkan hal yang sama.

"Adinda.." ucap Salamah lembut,

"Sebenarnya istri aku belum meninggal, dia hanya koma. Sudah dua tahun, karena dia memaksa untuk melahirkan Ammar secara normal padahal dia memiliki riwayat pernapasan yang bermasalah." sahut Ilham, nada bicaranya sangat dingin.

"Ilham!" ucap Salamah, ia tidak percaya akan apa yang dilakukan oleh putranya. Padahal tadi dia sendiri yang bilang akan menjelaskan ini semua ke Dinda dengan perlahan. Tapi apa yang dia lakukan sekarang?

"Kebenaran sebesar ini, kenapa begitu mudah untuk kamu memberitahu aku tanpa menjelaskan alasan kamu berbohong!" ucap Dinda dengan bibir yang bergetar, ia merasa seperti sampah yang akan segera dibuang.

"Sayang, biar ummi yang menjelaskan semuanya sama kamu ya.. Dari awal ummi lah yang meminta Ilham untuk berbohong." ucap Salamah sambil menggenggam tangan Dinda.

Dinda tersenyum melihat Salamah, tersenyum dengan air mata yang tak berhenti menetes.

"Jangan ummi, Dinda gak mau membenci ummi, jadi jangan beritahu alasan ummi sampai membohongi Dinda seperti ini. Yang terpenting Dinda tahu poin dari kebohongan ini." ucap Dinda, ia menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Sedangkan Salamah menatap prihatin pada menantunya.

"Maafkan ummi nak, ummi janji. Semua akan baik-baik saja." ucap Salamah, ia memeluk Dinda sangat erat. Dinda hanya diam, ia lelah harus menangis lagi, lagi, dan lagi.

"Ummi, ayo kita ke Surabaya sekarang! Ilham mau lihat Sabrina" ucap Ilham tiba-tiba dan semakin memperkeruh keadaan.

Salamah mendelik kearah putranya, Ilham berdehem setelah mendapat tatapan sinis dari ibunya.

"Sayang, maafin aku ya. Gak seharusnya aku membentak kamu, dan membuat kamu bingung terhadap kata-kata aku tadi." ucap Ilham, pria itu duduk berlutut dihadapan Dinda.

Dinda hanya diam, ia menatap lekat manik coklat suaminya. Dinda tidak tahu apakah yang dikatakannya tulus atau tidak, bahkan sekarang ia meragukan semua ketulusan dan kehangatan yang diberikan oleh Ilham selama ini, ahh, kepalanya terasa sakit lagi saat ia mempunyai banyak pikiran.

"Ummi, sebaiknya ummi ajak Ammar juga. Dia pasti sangat merindukan Ammar." ucap Dinda, ia mengacuhkan Ilham yang masih bersimpuh didepannya. Walaupun diacuhkan, Ilham tersenyum bahagia karena Dinda secara tidak langsung memberinya izin untuk pergi menemui Sabrina.

"Sayang.. Terima kasih atas perhatian kamu," ucap Salamah yang kembali memeluk Dinda.

*

*

*

*

Ilham sedang mempersiapkan barang-barang yang akan ia bawa ke Surabaya, dia begitu bersemangat sampai tidak sadar bahwa ia mungkin saja telah menyakiti hati Dinda.

Saat ini Dinda sedang berada di kamar Ammar, ia tidak membantu Ilham. Ia memilih bermain bersama Ammar sebelum bocah kecil nan imut itu pergi menemui ibu kandungnya.

"Bu, ibu tidak apa-apa diapartemen sendirian?" tanya Intan tiba-tiba.

Dinda tersenyum hangat pada Intan sebagai tanda bahwa ia baik-baik saja, "Gak apa-apa Tan, kamu jagain Ammar ya."

"Sebenarnya kamu juga tahu kalau mamanya Ammar sedang koma?" tanya Dinda.

Intan tertunduk, ia merasa bersalah. Walaupun itu bukanlah salahnya. "Maaf bu.."

Dinda hanya tersenyum, hanya dia yang tidak tahu. Ia sangat yakin bahwa adik dan ayahnya pasti juga tahu. Bahkan orang-orang di kampungnya pasti juga tahu.

Pak.. kenapa bapak tega bohongin teteh, ucapnya dalam hati.

"Bunda, nanti kita naik pesawat besar?" tanya Ammar polos, maklum lah ini adalah kali pertama ia menaiki pesawat.

Dinda lagi-lagi memaksakan bibirnya untuk tersenyum walaupun ia tak ingin, "Iya sayang, tapi bunda gak ikut naik pesawatnya. Cuma nenek, papa, mbak Intan dan Ammar yang naik pesawat."

"Yaaahhhh... Kenapa?" tanya Ammar lagi.

"Nanti tante Febby gak ada temennya disini nak," ucap Dinda.

"Tante Ebby takut sendiri?" tanya Ammar lagi.

Dinda mengelus pipi gembul Ammar, "Iya sayang, jadi Ammar disana jangan nakal ya. Kasihan nanti mbak Intan, oke?"

"Oke bunda" ucap Ammar, kemudian mereka membuat simbol janji kelingking.

*

*

*

"Hati-hati ya mi, kalau udah sampai jangan lupa kabarin Dinda." ucap Dinda di pelukan Salamah, saat ini mereka sedang berpamitan.

"Kamu jaga diri ya selama gak ada Ilham, kalau bisa ajak aja Febby nginep disini." ucap Salamah, Dinda hanya mengangguk.

"Sayang, kalau ada apa-apa langsung telpon aku ya." ucap Ilham sembari mencium kening Dinda.

"Bye bye bundaaaa" teriak Ammar didalam mobil, Dinda melambaikan tangannya sampai mobil itu tidak terlihat lagi.

Dinda segera kembali ke apartemennya untuk mengistirahatkan diri. Kejadian tadi siang benar-benar membuatnya lelah.

Sesampainya di kamar, Dinda langsung merebahkan dirinya. Ia menutup mata sampai akhirnya benar-benar tertidur.

+

Dinda terbangun dari tidurnya karena merasa kering di tenggorokannya, ia melihat kamar dalam keadaan gelap. Ia mengambil ponselnya untuk melihat jam, ternyata ini sudah jam delapan malam. Dinda bangun dan menyalakan lampu pada tiap ruangan, lalu kemudian ia pergi mandi.

Tak lama kemudian Dinda sudah menyelesaikan acara mandinya, ia turun kedapur untuk melihat adakah makanan yang bisa ia makan. Dinda menghela napas kasar karena tidak ada apa-apa di kulkasnya, hanya ada roti tawar dan selai.

Dinda mengambil ponselnya untuk memesan makanan, ia memilih menonton tv sambil menunggu pesanannya tiba. Ini sudah hampir jam sembilan tetapi tidak ada satu kabar pun dari Salamah ataupun Ilham. Mereka pasti udah sampai dari tadi kan? kok gak ada yang kasih kabar sih!, ucap Dinda dalam hati.

Butuh waktu yang cukup lama hingga pesanannya tiba, Dinda segera melahap makannanya, ia ingin segera tidur agar tidak terlalu memikirkan Ilham. Setelah selesai makan, Dinda membersihkan bekas makannya dan langsung menuju kamar untuk tidur.

🍃🍃🍃🍃🍃🍃

Sedangkan di tempat lain, Ilham tampak gelisah. Pasalnya ia belum bisa menemui Sabrina karena wanita itu harus menjalani berbagai cek up terlebih dahulu.

Saat ini ia sedang mondar-mandir di dalam kamar hotelnya, hatinya tidak sabar menunggu hari esok untuk bertemu wanita yang sangat ia cintai.

Ah, aku lupa ngabarin Dinda. ucapnya dalam hati. Ia melihat jam, sudah pukul dua belas. Ia ragu haruskah ia menelpon sekarang atau besok saja. Setelah lama berpikir akhirnya ia memutuskan untuk menelpon sekarang juga, karena ia tidak mau dimarahi oleh ibunya. Pasalnya sedari tadi Salamah sudah meminta Ilham untuk mengabari Dinda.

"Sayang? kamu udah tidur?" ucap Ilham saat telpon mereka tersambung.

"Iya.." ucap Dinda lirih.

"Maafin aku ya, aku lupa ngabarin kamu. Yaudah tidur lagi ya, besok aku telpon lagi. Selamat tidur sayang.." ucap Ilham, Tuut! Ilham terkejut karena Dinda memutuskan sambungan telpon mereka tanpa membalas ucapan selamat tidur darinya.

Masih marah ya? pikir Ilham, ia pun memilih untuk tidur agar besok pagi tidak terlambat bangun.

TBC❤❤

**Jangan lupa kritik dan sarannya ya guys..;)

Tinggalin komentar supaya aku lebih semangat nulisnya :)

Makasihhh ❤❤**

1
Firgi Septia
enak saja titip anaknya memangnya dinda tempat penitipan anak setelah apa yg dia lakukan dimaafkan iya tapi lukanya pasti membekas
Firgi Septia
ini jg yg bikin Dinda menderita dari season 1 datang seperti TDK terjadi apa2
Firgi Septia
mustinya si Daffa dan Vanesa dapat karma masa Dinda memaafkan saja mustinya Vanessa tetap di penjara dan Daffa menyesal adeuh belum jg oma si Daffa minta maaf mustinya jg dia dapat karma masa yg jahat cuma dimaafkan saja baru hidup bahagia kaya TDK adil rasanya Thor Dinda dari awal dikhianatin, dapat kdrt menderita terus TDK ada bahagianya
Firgi Septia
memaafkan si bisa tapi jangan di cabut laporannya sehingga si Vanesa bebas, mustinya dinda jangan cabut laporan biar Vanessa dapat pelajaran biar dia kapok tidak berbuat jahat lagi, bingung sama sifat Dinda baik sih baik tapi jangan terlalu baik jadi kelihatan bego
Rafid Dwi wicaksana
ya begitulah cinta itu buta,udah dikhianati Mash aja cinta...kl AQ sih ogah
Ajeng Rias
good job thort
Modish Line
bego bgt sih Dinda , engga usah sok baik deh jadi org
Modish Line
sakit jiwa tuh si vanesha
Ikoh Jenggung
lanjut
OY
seru dan banyak semangat
OY
Alhamdulillah semua pada senang semoga juga penulis seneng buat update setiap hari hehe
Ikoh Jenggung
lanjut
OY
waduh bikin penasaran nih😁
shitie Khomariyah
ditunggu kelanjutanya kak.
Kangen Bapak dan ibu
lama bngt thor...kangen nih
Kangen Bapak dan ibu
si alvin qo gitu bngt.udah ngerusak anak perawan ya hrs tanggungjwb.hamil ataupun tidak.gedek gw
Widi Yanti
semoga cpt sembuh thor. jgn lmaa lama menghilang. penasaran dgn kisah febby
Ikoh Jenggung
semoga cepat sembuh dan jangan kelamaan Hiatus nya
Ikoh Jenggung
makasih up nya
Ikoh Jenggung
lg thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!