NovelToon NovelToon
Terpaksa Menjadi Sugar Baby Tuan Mafia

Terpaksa Menjadi Sugar Baby Tuan Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia / Roman-Angst Mafia / Persaingan Mafia
Popularitas:19.1k
Nilai: 5
Nama Author: Violetta Gloretha

'Apa dia bilang? Dia ingin aku jadi Sugar Baby?.' Gumam Sheilla Allenna Arexa

"Maaf?!." Sheilla mengernyitkan dahinya, bingung sekaligus tak mengerti. "Mengapa aku harus menjadi Sugar Baby mu?." Tanyanya dengan nada bicaranya yang sedikit keras.

Sean memijat rahang tegasnya sembari tetap menatap ke arah Sheilla dengan seringain kecil di bibir pria itu.

"Bagaimana menurutmu?." Tanya Sean pada Sheilla. "Apa kamu tidak tau apa kegunaan Sugar Baby dalam konteks ini? Sudah ku jelaskan dan bukankah kamu sudah dewasa?."

Kemarahan melonjak dalam diri Sheilla dan wajahnya memerah karena begitu marah.

"Sudah ku bilang, AKU BUKAN P--"

**

Sheilla Allenna Arexa adalah gadis biasa yang mendapati jika dirinya tiba-tiba terjerat dengan seorang bos mafia yang kejam karena hutang dari sepupunya sebesar 5 juta Dollar. Untuk menyelamatkan keluarganya dan juga membalas budi mereka karena telah merawatnya, Sheilla terpaksa menyetujui kontrak menjadi budak dengan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Gloretha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

    Sheilla tidak tahu apa yang merasuki pikirannya.

    Dirinya dan Sean bukanlah pasangan yang serasi. Namun, ia merasa sangat cemburu saat melihat Sean bersama wanita lain.

Benjolan terbentuk di tenggorokannya saat melihatnya, membuatnya sulit menelan.

Melihat Sean seperti itu tiba-tiba membuatnya sangat sakit hati. Jantungnya berdebar kencang dan perutnya terasa melilit sakit.

Lebih buruknya lagi, Sean tidak menghentikan apa yang sedang dia lakukan atau menyadari kehadiran Sheilla. Sepertinya Sheilla telah membaca segala sesuatunya terlalu dalam.

Sheilla merasa dirinya tidak istimewa bagi Sean. Mereka hanya terikat oleh kontrak menjadi sugar baby. Karena itu, ia tidak punya hak untuk merasa cemburu atau marah.

Ini adalah fakta yang Sheilla tahu dengan sangat baik dan ia tidak dapat mengerti mengapa dirinya merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Dadanya terasa sangat berat seperti ada gunung besar yang menekannya.

Ketika Sheilla meninggalkan klub, kepalanya dipenuhi dengan berbagai macam pikiran.

Kejadian di kantor itu terus terputar di benaknya seperti kaset rusak. Setiap kali ia memikirkannya, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Rasanya seperti ada yang menusukkan jarum ke dalamnya.

Di samping rasa sakit yang dirasakannya, kemarahan merupakan emosi kuat lain yang menggelegak dalam dirinya.

Yang lebih membuatnya marah adalah kecemburuan yang sangat besar yang ia rasakan setelah melihat Sean bersama wanita lain. Ia seharusnya tidak merasa seperti itu.

Mereka tidak menjanjikan apa pun satu sama lain.

Sheilla dengan lesu kembali ke rumah Nina. Dia mendapati Nina sedang menonton beberapa drama Korea di televisi diruang keluarga.

Melihat sahabatnya pulang lebih awal dengan wajah sedih, Nina menjadi khawatir dan bertanya. "Ada apa? Kamu tidak melihat Sean?"

Nina belum pernah melihat Sheilla tampak begitu putus asa. Bagaimana tidak? Sheilla selalu terlihat ceria, jadi melihatnya tampak seperti dunia telah kiamat sungguh aneh.

Mendengar pertanyaan Nina, Sheilla kembali teringat akan apa yang telah disaksikannya dan matanya perih. Sebelum ia sempat menahan diri, air mata mengalir di pipinya tanpa izin.

"Hai..." Nina berdiri dan bergegas menghampiri sahabatnya itu. Ia menarik Sheilla ke dalam pelukannya dan memeluknya untuk menenangkannya.

Sheilla akhirnya menangis seperti kehilangan mainannya yang paling berharga. Ia terisak di bahu Nina sambil terus memaki Sean dalam hatinya.

'Aku seharusnya tahu dia adalah seorang pemain. Tidak heran dia menjadikan aku sugar baby-nya, tapi dia tidak pernah menyentuh ku. Dia punya wanita lain yang bisa melakukan hubungan !ntim yang lebih baik untuknya. Pria sialan itu sangat tidak berperasaan."

"Sudah cukup menangisnya. Aku ingin tahu kenapa kamu seperti ini. Kamu membuatku takut, Sheilla."

Setelah menarik napas dalam-dalam, Sheilla akhirnya berhenti menangis. Itu tidak akan menyelesaikan apa pun. Lagipula, tidak masuk akal jika dirinya menangis untuk bos Mafia yang berbahaya itu.

Sheilla mengikuti Nina ke sofa dua dudukan dan duduk. "Aku melihat Sean bersama wanita lain."

Nina mengangkat sebelah alisnya, tetapi tidak berkata apa-apa. Ia ingin mendengar semuanya sebelum berkomentar.

"Aku... dia bahkan tidak berhenti saat aku masuk. Atau terlihat takut saat aku memergokinya. Dia terus saja bermain !nt!m dengan wanita itu tanpa rasa malu, sama sekali mengabaikan kehadiranku." Kata Sheilla terus menjelaskan, suaranya bergetar saat menceritakannya.

Nina mengerutkan alisnya dan kemudian tertawa terbahak-bahak setelah beberapa menit.

    "Tunggu... jadi kamu kesal karena dia memutuskan untuk bermain dengan orang lain selain dirimu? Tapi bukankah itu yang kamu inginkan? Kamu tidak ingin dia mengambil keperaw4n4nmu, ingat?"

"Ya... tapi aku-"

"Jadi kamu ingin dia hidup selibat sementara tidak ada hubungan yang jelas antara kalian berdua? Ayolah, dia bos Mafia dan pria seperti itu punya banyak wanita."

Sheilla menelan ludah. Benjolan di tenggorokannya tiba-tiba terasa lebih besar. "Yah, mungkin kamu benar." Sheilla menarik napasnya. "Aku tidak tahu kenapa aku marah."

Tidak mungkin Sheilla mengakui kalau dirinya cemburu dan tidak ingin Sean bersama wanita lain.

"Sheilla, aku sudah bilang padamu untuk menjadikan pria itu milikmu, tapi kamu menolaknya. Sejujurnya, tidak ada hubungan di antara kalian berdua yang memungkinkan dan membut dia berhenti bersama wanita lain." Kata-kata Nina, membuat hati Sheilla hancur.

     Nina memang benar. Sheilla merasa bahwa dirinya sudah bersikap tidak masuk akal dan alasan dari kemarahannya memang aneh.

Dia mengerutkan bibirnya menjadi garis lurus dan mengganti topik pembicaraan. "Ngomong-ngomong, aku harus mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang untuk membayar utang. Boleh aku menggunakan laptop mu?"

Nina mengerti bahwa Sheilla ingin melupakan topik itu, jadi dia menganggukkan kepalanya. "Tentu."

Nina melihat Sheilla berjalan dengan susah payah ke kamar tidur, begitu Sheilla masuk, dia menutup pintu, Nina mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor Diego

Sheilla cukup naif dan lamban. Jika Nina tidak turun tangan untuk membantu, sahabatnya itu mungkin akan kehilangan pria yang disukainya.

Saat menemukan kontak yang disimpannya, senyum tipis tersungging di bibirnya. Ia juga akan menggunakan alasan itu untuk mengenal pria bernama Diego ini. Mereka belum pernah bertemu, tetapi dari deskripsi Sheilla tentang Diego, Nina merasa bahwa dirinya sudah terpikat padanya.

Nina bisa merasakan jantungnya berdebar kencang saat telepon berdering di telinganya. Ia gembira sekaligus gugup.

"Halo."

Suara bariton yang dalam bergema dari pengeras suara. Mendengar suara Diego, Nina merasakan sensasi nikmat menjalar di sekujur tubuhnya.

'Ya Tuhan, suaranya saja luar biasa apalagi wajahnya... pasti dia tampan sekali.'

"Halo?"

Nina tersadar dari lamunannya dan segera menjawab. "H-halo."

Dia mengernyitkan alisnya, merasa suaranya tidak terdengar seperti yang diharapkan. Kedengarannya terlalu tajam dan keras.

"Ya, Nona. Dengan siapa saya bicara?"

"Um... Aku Nina. Sahabat Sheilla. Apa ini Diego?." Tanya Nina dengan gugup. Jantungnya berdebar kencang di tulang rusuknya. Suara Diego membuat kupu-kupu berterbangan di perutnya.

"Oh, halo Nina. Bagaimana kabar Sheilla sekarang? Apa terjadi sesuatu padanya?." Tanya Sheilla dengan nada mendesak dari seberang telepon.

"Tidak, sama sekali tidak. Dia baik-baik saja. Maksudku, secara fisik. Tapi kalau secara emosional, dia menderita. Aku ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi antara dia dan Sean."

Diego mendesah keras, "Karena kamu temannya, mungkin kamu bisa membantu menyelesaikan kesalahpahaman di antara mereka. Sean memang keras kepala. Kemarin dia menghabiskan waktu untuk mengatur kencan makan malam. Dia mengawasi sendiri proses dekorasi dan menyiapkan acara kejutan untuk Sheilla. Aku belum pernah melihat Sean begitu terikat pada seorang wanita sebelumnya."

Diego pun melanjutkan untuk menceritakan detail tentang bagaimana Sean telah melakukan banyak hal untuk Sheilla. Hal-hal yang belum pernah Sean lakukan untuk wanita lain sebelumnya.

Mata Nina membelalak. "Benarkah? Dia benar-benar melakukan itu untuk Sheilla? Aku yakin kalau Sean pasti menyukai Sheilla!"

"Menurutku juga begitu, meskipun dia tidak mau menerima atau bertindak sesuai perasaannya. Mungkin dia bisa bergerak jika Sheilla juga bersedia kembali untuknya. Cobalah untuk meyakinkan Sheilla agar mau kembali."

"Ya, aku mau." Nina menyeringai lebar dan tersipu. "Eh, aku suka suaramu, Diego. Boleh aku mengenalmu lebih jauh?"

Karena mereka sedang berbicara di telepon, tidak perlu malu. Nina bisa mencoba mendekati Diego dan melihat apa yang terjadi.

Ada keheningan sejenak setelah pertanyaannya. Nina mulai merasa gugup ketika Diego tidak segera menjawab.

'Oh tidak, apakah aku terdengar terlalu memaksa? Bagaimana jika dia berpikir kalau aku gadis murahan?.' Batin Sheilla.

Karena takut Diego akan tersinggung dengan pertanyaannya, Nina ingin mengganti topik pembicaraan demi menyelamatkan mukanya, tetapi Diego sudah mendahuluinya.

"Suaramu juga merdu, Nina."

Jantung Nina berdebar lebih kencang. 'Ya Tuhan! Pria itu baru saja mengatakan suaraku merdu!"

Nina menyeringai seperti orang bodoh sambil menjatuhkan dirinya di sofa dan memutar-mutar sehelai rambut merahnya dengan jarinya.

"Terima kasih..."

"Tentang pertanyaanmu. Kedengarannya kamu orang yang baik. Aku juga ingin mengenalmu lebih jauh."

Nina menendang-nendangkan kakinya ke udara saat kegembiraan mengalir dalam dirinya. Dia menyeringai lebar, menggigit bibirnya.

"Baiklah, kita bisa terus mengobrol lewat pesan teks dan kemudian kita bisa bertemu suatu hari nanti."

"Aku akan sangat senang. Senang berbicara denganmu, Nina."

Saat mereka mengakhiri panggilan, Nina merasa gembira. Dia menyukai kenyataan bahwa meskipun mereka belum pernah saling melihat, mereka telah cocok dan ada hubungan yang tak terlihat di antara mereka.

Mengingat apa yang dikatakan Diego, Nina kemudian mengikuti Sheilla ke kamar untuk memberi tahu dia tentang apa yang telah Sean lakukan untuknya.

Pada saat yang sama, tetapi di tempat yang berbeda, Diego tersenyum sendiri setelah menutup telepon. Ia segera menyimpan nomor Nina dan memasukkannya ke daftar panggilan cepat.

Diego bukan tipe orang yang menerima panggilan dari nomor asing, tapi entah kenapa, ia mengangkat panggilan asing yaitu saat Nina menelepon.

Begitu mendengar suara manis gadis itu, Diego tidak ingin segera menutup telepon. Dia ingin memperpanjang obrolan agar mereka bisa terus berbicara. Suara gadis itu menenangkan dan membuatnya merasakan sensasi menyenangkan di hatinya.

Karenanya Diego benar-benar ingin bertemu Nina. Gadis itu terdengar seperti tipenya.

   **

Kembali ke rumah Nina.

Sheilla baru saja selesai mendengarkan perkataan Nina. Nina telah menceritakan semua yang diceritakan Diego kepadanya.

    "Sean menyukaimu. Aku yakin itu karena kamu tidak terlihat tertarik sehingga dia memilih wanita lain. Lagipula, pria mafia punya banyak wanita. Kamu tidak perlu peduli dengan mereka."

Sheilla mengerutkan alisnya dan hidungnya. Dia tidak nyaman jika harus berbagi Sean dengan wanita lain.

Nina melihat ekspresi tidak setuju dari gadis itu dan tersenyum. "Jika kamu menyukainya, kamu bisa merayunya dan menjadikannya milikmu. Lalu kamu bisa mencegahnya bersama wanita lain."

"Kurasa aku tidak bisa." Sheilla terbata-bata. Ia tidak begitu yakin bisa melakukannya.

"Ya, kamu bisa. Siapa yang bisa menolak gadis secantik dirimu? Aku akan menunjukkan kepadamu apa yang harus dilakukan. Kamu hanya perlu mengambil inisiatif, kalau tidak, Kamu akan kehilangan dia selamanya."

'Kehilangan dia? Selamanya?' Pikiran itu membuat hati Sheilla bergetar kesakitan. Sheilla kemudian menyadari bahwa dikontraknya bersama Sean, pria itu menjadi sugar daddy dan dirinya menjadi sugar baby-nya, perasaan yang kuat telah berhasil meresap di antara mereka.

Sayangnya, Nina benar. Sheilla mengaku dalam hatinya bahwa dirinya tidak ingin kehilangan Sean.

1
Desmeri epy Epy
lanjut Thor
Siti Aishah
good
Mimik Pribadi
Ayo donk thor,smangat up nya,aku tunggu kelanjutan nya,,,,☺️🤗
Mimik Pribadi
Hahaaa,,,Begitulah rasanya cinta Sean,untung yng kamu mkn es cream, jdi tidak seburuk kata perumpamaan yng mengatakan klo sdh cinta, tahi ayam pun serasa coklat Sean 🤣🤣🤣
Mimik Pribadi
Menarik,,,,aku suka ❤️
Jenny
baru nemu ceritamu kak, nyimak dulu yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!