"Apa kita jalani aja dulu, sampai kita merasa bosan."
"Lah kok, Abang bilang kayak gitu, sama aja itu gak ada hubungan, gak ada ikatan, aku gak mau terjebak dalam satu hubungan yang bernama Friendzone, apa itu? Hubungan yang buat muak aja!!"
Seketika dengan sekali tarikan nafas, Embun mengeluarkan semua isi hatinya mengenai perkataan Gerry tadi, dengan seluruh kata-kata yang ada di fikirananya tanpa berfikir ulang untuk ia ucapkan.
Ikuti dan tunggu cerita selanjutnya. Terima kasih.
❌ DILARANG PLAGIAT KARYA SAYA
Dipublish: 13 September 2020
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si Gadis Imut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
“Ketika kamu melakukan sesuatu yang indah dan tidak ada yang memperhatikan, jangan sedih. Karena matahari setiap pagi adalah tontonan yang indah, namun sebagian besar penonton masih tidur.”- John Lennon.
Malam Pun berganti Pagi yang cerah dengan diiringi suara ayam yang saling bersahutan pun terdengar di telinga seorang gadis yang terusik tidurnya dalam lautan mimpi dan berselimut hangat.
Alarm pun berbunyi didalam kamar seorang gadis tersebut yang mengusik tidurnya masih dalam suasana mimpi indahnya yang entah sampai mana akan berada.
"Hoaaaam....sudah Pagi lagi." gumam Embun disela-sela kantuknya seraya mengusap-usap mata dikala kantuk yang masih belum padam.
"Semangaaaaaaaaaaat......supaya cepat olahraga dan bantu Mama masak, aku tak mau Mama kecapekan dan masuk rumah sakit lagi, no..no..no..pokoknya tak boleh itu terjadi lagi." Umucap Embun menggebu-gebu disertai tepukan tangan yang menggebu-gebu dikarenakan Embun ingin menjaga sang Mama dan calon adiknya.
Embun pun membuka selimut dan bangkit dari tempat tidur dan tak lupa ia rapikan tempat tidurnya yang sedikit berantakan setelah itu ia bergegas untuk mandi, yang mana telah menjadi kebiasaannya menjalankan rutinitas sehari-hari ini walaupun kadang sedikit mengeluh yang mana ia masih mengantuk dan selalu menguap menyerang ia.
Embun pun mengambil handuk dan pakaian olahraganya yakni baju lengan panjang dipadukan dengan celana training.
"Ya ampun, dinginnya." keluh Embun seraya menggigil dikarenakan air yang ia gunakan saat mandi sangatlah dingin.
"Ayo Embuun semangaaaaaaaaaaat, semangaaaaaaaaaaat." ujar Embun kembali untuk menyemangati dirinya sendiri dikala mata yang tidak bisa diajak kompromi.
Embun pun bergegas turun untuk olahraga seperti biasa dengan mengendarai sepedanya dan menuju garasi. Sesampai di garasi ia tak lupa mengecek keadaan ban sepedanya apakah masih ada anginnya atau tidak, dirasa angin didalam ban sepeda masih ada ia pun bergegas menuju lapangan, dikarenkan tadi dibawah belum nampak kedua Orangtuanya ia tidak berpamitan ia ingin berpamitan tak enak hati takut mengganggu tidur kedua orang tuanya.
Sesampainya di lapangan yang biasa ia yakini lari ataupun senam santai. Hari ini ia hanya lari 1 putaran saja dan sepedanya ia letakkan ditengah lapangan seperti ia yang punya lapangan, karena apa? Karena disini masih sepi jarang yang olahraga pada saat ini yang mana masih menarik selimut.
Embun pun sudah menyelesaikan 1 putaran yang membuatnya capek dan berkeringat yang bercucuran membasahi seluruh wajah, tangan, kaki dan badannya.
"Hah capeknya." keluh Embun seraya mendudukkan bokongnya di tanah sambil meluruskan kakinya supaya tidak kram.
"Istirahat sebentar deh, capek nanti lanjut sepedaan." kata Embun sendiri seraya memijat-mijat kakinya yang pegal.
Setelah beberapa menit istirahat Embun pun melanjutkan bersepedanya santai mengelilingi komplek rumah disertai melihat pemandangan di Pagi hari yang sangat sejuk.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 06.50 saatnya Embun pulang ke rumah untuk menyiapkan materai untuk sekolah online.
"Oke waktunya pulang." ucap Embun seraya melihat jam tangannya dan mengayuh sepedanya sampai ke rumah.
Sesampai di rumahnya ia memasukkan sepedanya ke dalam garasi tak lupa ia mencuci tangan dan kakinya dahulu sebelum masuk ke rumah.
"iiih, dingin banget si." keluh Embun saat mencuci tangannya dikarenakan air yang digunakan sangat dingin, setelah siap mencuci tangannya ia pun langsung masuk ke kamar untuk mandi.
Setelah beberapa menit kemudian Embun sudah keluar kamar mandi lengkap dengan seragam sekolahnya.
"Akhirnya sudah segar, turun ah laper hehe." ucap Embun seraya memegang perutnya dan turun ke ruang makan.
Setelah itu Embun pun membawa semua perlengkapan untuk online hari ini dan turun ke lantai bawah.
"Ke kamar Mama Papa sajalah, mau bangunin dedek juga " ucap Embun yang telah meletakkan semua peralatan onlinenya dimeja ruang tipi menuju kamar kedua orang tuanya.
Sesampainya dikamar kedua orang tuanya ia tidak lupa mengetuk pintu kamar tersebut sebelum masuk dan diinterupsi untuk masuk kedalam.
"Mamah... Papa...kalian sudah bangun belum?" tanya Embun seraya mengetuk-ketuk pintu kamar tersebut.
"Sudah Kak, sini masuk." sahut Mama Embun dan mempersilahkan Embun masuk.
"Pagi Mama, Papa dan adikku." ucap Embun seraya menaiki tempat tidur kedua orang tuanya, tak lupa mencium kedua pipi orang tuanya dan juga menyapa adiknya yang berada dalam perut Mamanya.
"Adik, semalam kamu tidak nakal kan?" tanya Embun pada perut Mama Embun layaknya ia tengah berbicara dengan sang adik.
"Tidak Kaka, adik baik dan menurut semalam." jawab Mama dengan suara yang dibuat-buat seperti anak kecil.
"Mama... Embun lapar tadi mau masak tapi takut nanti dapur kebakaran karena Embun kan takut untuk menyalakan kompor
" ucap Embun sendu.
"Ya sudah Mama mandi dulu, kamu masih mau disini sama Papa apa turun dulu?" tanya Mama Embun pada Embun.
"Embun turun kebawah sajalah, disini tak mau nemenin Papa yang masih bau iler, wlee." ucap Embun seraya menggoda Papanya yang masih asik dengan bantal guling yang dipeluknya.
"Ya sudah, Mama mandi dulu " ucap Mama Embun seraya mengambil handuk dan pakaian lalu menuju kamar mandi, Embun pun bergegas keluar dari kamar kedua orang tuanya menuju ruang tipi dan menyalakan laptopnya.
"Hem...jam online masih beberapa jam lagi aku mau apa ya, dengar musik lagi tak mau, mau cari-cari informasi juga lagi tak mau, mau apa ya? Arrrrrgh, bete sekali, mana Mama lama banget mandinya, ya sudah lah aku lihat-lihat isi kulkas saja, sekalian mau lihat apa aku ada ide buat masakan pagi ini, ya walaupun Mama yang masak aku hanya bantu dalam potong-memotong atau kupas-mengupas ataupun hanya bagian cuci saja haha, aku mau bertekad belajar masak ah, supaya meringankan beban Mama hanya sedikit, ya aku harus bisa, semangat Embun." ucap Embun sendiri panjang lebar dan bertekad untuk bisa memasak.
Tanpa ia sadari semua celotehan ia didengar seseorang, dan seseorang itu ialah sang Mama yang sudah turun dengan pakaian sederhananya guna memasak untuk sarapan sang anak, suami dan dirinya sendiri.
"Kaka bicara sama siapa? Mama lihat tadi dari atas asik sekali, Hem?" tanya Mama Embun pada Embun.
"Tidak bicara apa-apa, Mah." elak Embun seraya mengajak Mamanya menuju dapur untuk segera memasak.
"Ayo, Kaka let's go." ucap Embun dan Mamanya kompak.
"Ya Tuhan, semoga anak yang didalam perut hamba-mu ini sehat selalu, jangan biarkan senyum yang terpatri dari anakku Embun hilang, dan lindungilah kami semua dari segala marabahaya yang menyerang kami terutama diseluruh dunia ini. Amin." gumam Mama Embun disela-sela jalan yang menuju dapur.
Sesampainya didapur Embun pun tiba-tiba berhenti dan mengarahkan wajahnya kepada Mama Embun...
baca jg bukalah hatimu untukku ya..
Dukunganku mendarat ✨💐
Semangat yaaa 🔥
udah kangen sama si Rudy yang kelewat
gemessinnnn saking gemesnya jadi pengin nampol eekkkhhhh candaaaa jahahahaha😂😂😂🙈🙈🙈
walah walahhhh sabar mama embun😌😌😌 anakmu memang begitu sikapnya, dah lah terimain aja wkwkwkwk itu kan juga hasil goyangan anda dan suami anda eeeehhhh🤣🤣🤣🤣🙈🙈🙈
enak banget ya kerja di rumah embun😌😌😌 dianggap keluarga 😍😍😍 iya sih pasti orangtuanya Rudi merasa gak enak, toh itu majikannya 😳😳😳
mama embun takut calon bayinya bersifat kayak embun astaga ngakak bangettt🤣🤣🤣🤣 semoga sikapnya kagak kayak kakaknya ya bund😂😂😂😂