Follow IG : renitaria7796
Zivana adalah seorang pelayan di Rumah besar keluarga Pradipta. Karena memiliki wajah yang sangat cantik, Zivana sengaja menyembunyikan kecantikan wajahnya. Dia tidak mau menjadi pusat perhatian laki-laki.
Suatu hari karena sebuah insiden, Zivana di kejar oleh seorang penjahat. Zivana di tolong oleh pemuda tampan bernama Sean Pradipta. Zivana tidak mengetahui jika Sean adalah majikannya.
Sean Pradipta mempunyai calon istri bernama Rissa. karena suatu insiden Rissa tidak hadir di acara pernikahannya bersama Sean. Untuk membantu agar reputasi Sean tidak hancur, Ziva lalu mengantikan Rissa menjadi istri dari Sean.
Namun Zivana tidak mengetahui ada rahasia besar yang telah di sembunyikan oleh Sean. Lalu bagaimana nasib pernikahan Sean dan Zivana di saat kehidupan masa lalu Sean dan Ziva muncul menghadang?
Season 2
Menceritakan kisah Angel anak dari Sean Pradipta. Angel menyukai Jimi sang asisten orangtuanya. Namun Jimi mempunyai kekasih dan akan segera menikah.
Bagaimana cara Angel menaklukkan hati Jimi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon renita april, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sean merangkul Ziva memasuki rumah. Di ruang tamu sudah ada Jimi yang menunggu kedatangannya. Jimi memberi kode pada Sean agar menuju ruang kerja.
"Ziva ... kamu ke atas dulu," titah Sean.
Ziva mengangguk. "Baiklah!"
Sean langsung saja menuju ruang kerja dengan di ikuti Jimi. Sean membuka pintu dan masuk ke dalam. Jimi menutup pintu rapat dan menekan tombol peredam suara.
Sean duduk di kursi bos. "Ada kabar apa?"
"Daniel sudah aku tangkap. Dia di sekap di rumah pinggir kota."
Sean menarik sudut bibirnya. "Bagus ... aku ingin secepatnya ini terbongkar. Aku sudah muak melihat wajah Rissa."
Jimi duduk di sofa. "Bagaimana kalau yang di katakan Rissa benar?"
Sean menyunggingkan senyum licik. "Habisi saja dia. Aku tidak ingin memiliki anak dari jal**ng sepertinya."
Jimi mengangguk mengerti akan ucapan dari Sean. Jimi tahu betul kalau Sean sangat membenci wanita yang sudah di sentuh oleh laki-laki lain.
"Jim ... bawa aku menemui si bren**k itu," kata Sean.
"Malam saja kita menemuinya. Tadi Daniel sempat pingsan karna aku memukul kepalanya," ungkap Jimi.
Jimi keluar dari ruangan kerja. Sean mengusap wajahnya. Dia teringat akan pertemuannya dengan Eve. Hampir saja Eve membocorkan masalahnya.
Sean belum bisa untuk mengatakan yang sebenarnya pada Ziva. Dia akan berkata jujur kalau masalah Rissa sudah terselesaikan.
Tok ... tok ... tok ... !
Pintu ruangan kerja Sean di ketuk.
"Masuk," ucap Sean.
Desy masuk ke dalam ruangan Sean. Dia tampak gugup saat berhadapan dengan majikannya. Sean menatap malas wajah polos Desy.
"Ada apa?" tanya Sean.
"Tuan ... di ruang tamu ada Nona Angel dan Nyonya Eve," kata Desy.
Sean mendelik mendengarnya. "Apaaaa?"
Sean beranjak dari duduknya. "Di mana Ziva?"
"Nyonya Ziva sedang di dapur. Dia sedang memasak untuk makan malam," ucap Desy.
"Dengar ... aku tahu kamu orang suruhan Eve. Tapi, aku mau kamu jangan beritahu apa pun pada Ziva," titah Sean.
Desy mengangguk. "Baik, Tuan!"
Sean melangkah keluar dari ruang kerja. Namun tiba-tiba saja dia berhenti. "Desy ... dimana Rissa?"
"Nona Rissa belum pulang, Tuan," jawab Desy.
"Tahan Rissa ... jangan sampai dia masuk ke rumah selagi Eve berada di sini," titah Sean kembali.
"Baik, Tuan!" kata Desy.
Sean melanjutkan langkah kakinya kembali. Dia menuju ruang tamu menemui anak dan istrinya. Sean menatap tajam Eve yang sengaja datang untuk menganggu dirinya.
Angel segera memeluk daddynya saat Sean tengah berjalan ke arahnya. "Daddy!"
Sean memeluk dan mengecup puncak kepala putrinya. "Angel ... bisa tinggalkan Daddy dan Mom?"
Angel mengangguk. "Oke ... Angel akan ke kamar uncle Ken."
Angel berlalu meninggalkan kedua orang tuanya. Dia menaiki anak tangga menuju kamar Ken. Angel langsung saja membuka pintu kamar. Terlihat Ken sibuk dengan laptop.
"Uncle Ken," pekik Angel.
Ken kaget dan lebih kaget lagi ternyata Angel yang memanggilnya. Ken menatap tidak percaya keponakannya telah kembali ke rumah. Ken mengucek-ngucek matanya. Mungkin saja itu bukan Angel. Melainkan khayalannya sendiri.
"A-angel ... kamu benaran Angel?" tanya Ken.
Angel mengangguk dan mendekat pada Ken. "Ini Angel ... memangnya siapa lagi?"
Ken beranjak menutup pintu kamar dan menguncinya. "Angel ... kamu kenapa disini?"
"Angel dan Mom akan makan malam disini," kata Angel.
"Apa ... serius?" kaget Ken.
"Angel ... kamu jangan bilang kalau kamu anak Sean. Kalau mommy Ziva tanya cari alasan yang lain," tutur Ken.
Angel tampak kecewa akan ucapan dari Ken. Padahal dia ingin dekat dengan ibu tirinya. Tapi Angel juga mengerti akan permasalahan dari kedua orang tuanya.
"Baiklah ... Angel tidak akan bilang," lirih Angel.
Ken bernapas lega. Setidaknya hanya ini yang bisa dia lakukan untuk Sean. Masalah Rissa belum selesai. Di tambah lagi dengan Eve. Ken tidak dapat membayangkan apa yang akan Ziva lakukan jika mengetahui kebenarannya.
Sean menarik tangan Eve menuju kamar kosong. Dia begitu geram pada istri pertamanya itu. Bisa-bisanya Eve datang dengan membawa Angel ke rumahnya.
Sean menatap tajam Eve. "Kenapa kamu datang. Apa kamu ingin membongkar rahasiaku?"
Eve melipat tangan di dada. "Istri mudamu yang mengundangku untuk makan malam."
Sean tampak kesal. "Apa kamu mengangap serius perkataan Ziva?"
"Sean ... aku hanya minta keadilan darimu. Aku ingin kamu juga perhatian padaku," ujar Eve.
Sean terkekeh. "Aku tidak salah dengar. Kamu ingin di perhatikan!"
"Masalah rumah tangga kita itu semua bukan kesalahanku. Kamu yang tidak memberiku perhatian. Jadi ... jangan salahkan kalau aku meminta itu dari pria lain," ucap Eve.
"Bukan berarti kamu bisa tidur dengan pria lain. Bukan berarti kamu membiarkan orang lain menyentuhmu," hardik Sean.
"Sean ... kamu bilang sudah memaafkan diriku. Lalu sekarang, kau menyakitiku," lirih Eve.
"Aku memang sudah memaafkan kamu. Namun aku belum bisa melupakan kejadian itu," kata Sean.
Sean keluar dari dalam kamar kosong. Dia menarik napas dan mengembuskannya. Sean duduk kembali di sofa ruang tamu. Eve juga keluar dan ikut duduk menyusul Sean.
"Bertingkah sewajarnya saja, Eve," kata Sean.
Eve berdecak. "Ck ... sampai kapan kamu akan bersandirwara?"
"Diamlah ... aku sendiri yang akan mengatakanya pada Ziva," ucap Sean.
Ziva selesai memasak untuk makan malam. Dia menyuruh pelayan untuk menata semua masakannya di atas meja makan. Ziva keluar dari dapur menuju meja makan.
Ziva melirik Jam di dinding. Sepuluh menit lagi jam makan malam akan segera tiba. Ziva hendak menuju tangga untuk memanggil suaminya.
Ken dan Angel turun dari tangga. Ziva mengernyit saat melihat gadis remaja yang berjalan beriringan dengan Ken.
"Ken ... dia siapa?" tanya Ziva.
"Halo ... aku Angel," ucap Angel seraya mengulurkan tanganya.
Ziva tersenyum menatap gadis cantik itu. Ziva menyambut tangan Angel lalu berjabat tangan. "Aku Ziva!"
Ziva membelai wajah dan rambut Angel. Dia lalu melirik Ken. "Ken ... putri siapa dia?"
"Putriku," jawab Eve.
Ziva menoleh ke arah sumber suara. Ken terkesiap melihatnya. Kakak iparnya juga berada di dalam rumah yang sama. Sean menghampiri Ziva dan merangkul pinggangnya.
"Ziva ... kamu mengundang Eve untuk makan malam, kan?" kata Sean.
Ziva ingat saat di mall dia mengundang Eve untuk datang ke rumahnya. Pada hal itu hanya basa-basi saja. Ternyata Eve menganggapnya serius.
"Benar ... waktu makan malam sudah tiba. Kita makan bersama yuk," ajak Ziva.
Semuanya menuju ruang makan. Ziva seperti biasa melayani Sean. Ziva juga mengambilkan makanan untuk Angel.
"Makasih Mom," ucap Angel pada Ziva.
Ziva kaget mendengarnya. Begitu juga Sean, Eve dan Ken. Melihat itu Angel mencari alasan agar Ziva tidak curiga padanya.
"Kamu sangat cantik. Apa aku boleh menjadi anakmu. Apa aku boleh memanggilmu Mom?" tanya Angel.
Ziva tersenyum. "Tentu saja ... kalau ibumu tidak keberatan."
Angel menatap ibunya. Dia berharap Eve mengijinkan dirinya memanggil mommy pada Ziva. Eve tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk mengiyakan.
Tidak mungkin baginya untuk menolak. Itu akan membuat masalah semakin kacau. Sean akan semakin membencinya jika dia berulah. Angel tampak senang saat Eve memberinya izin.
Sean merasa lega. Putrinya bisa menerima Ziva sebagai mommynya. Sean juga merasa yakin kalau Ziva juga akan menerima Angel sebagai putrinya.
TBC
Dukung Author dengan vote, like dan juga koment.
top lah 👍😍😍😍