NovelToon NovelToon
SUAMI PILIHAN PAPA 2

SUAMI PILIHAN PAPA 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Perjodohan / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Rahmania Hasan

"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"

Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Merasa bersalah

CAPTER 26

MERASA BERSALAH

Waktu terasa berat bagi Angga, tidak ada konsentrasi lagi yang tersisa. Bersyukur jam kerja akhirnya usai juga, lekas ia membereskan meja kerja; meninggalkan beberapa file yang belum ia sentuh.

Masih seperti biasa laki-laki itu mendatangi ruang kerja Naura sekedar memberi tahu saja kemudian turun lebih dulu, menunggu di dalam mobil. Ia yang hati dan pikirannya tidak menyatu pada raga berjalan setengah linglung menuruni tangga. Bahkan sapaan padanya tidak terdengar sama sekali apalagi membalasnya.

"Kenapa sama itu cowok?!" gumam Lisa saat melihat Angga berjalan lurus dengan pandangan agak kosong.

Bukan cuma itu yang membuatnya penasaran, sapaan salah satu karyawan di lantai satu yang juga tidak ia balas menambah penasaran hatinya. Bahkan wanita itu melempar tanya pada Lisa namun Lisa yang tak tahu menahu hanya mengangkat kedua pundaknya.

Masuklah Angga ke mobil, menyandarkan punggungnya yang terasa berat di kursi pengemudi.

Tangan kirinya menekan tombol, menurunkan sandaran kursi untuk membuat posisinya tiduran. Sekali saja Angga berkedip kemudian mengeluarkan ponsel dari saku celana. Dinyalakan ponsel itu hanya untuk memandangi wajah Lusi yang terpajang di layar beranda.

"Harusnya nggak begini...." ucap Angga nyaris saja meneteskan air mata.

Dalam diam jari jemarinya menulis sesuatu yang ia kirim ke Lusi, Angga meminta wanita itu mengabari dirinya jika sudah sampai. Tidak ada niatan untuk melampiaskan kemarahan hanya saja ia belum mendengar suara Lusi sepanjang hari itu. Andai waktu bisa

diputar ia pasti akan menerima permintaan Lusi untuk menginap di sana.

"Pantas dia perhatian banget semalam," gumamnya lagi.

Naura datang tiba-tiba, menyentak Angga dengan menepuk pundak laki-laki itu dan melempar pertanyaan. Cepat-cepat Angga mematikan ponsel khawatir Naura melihat foto Lusi yang ia jadikan wallpaper beranda.

"Siapa tuh yang semalam perhatian?!" goda Naura sekaligus memancing Angga.

Angga tak berniat menjawabnya, ia hanya tersenyum singkat kemudian memasang sabuk pengaman dan menjalankan mobil. Sepanjang perjalanan ia banyak diam, Naura tak

jarang memperhatikan raut muka Angga yang nampak sedih, kesal, berat semuanya menjadi satu.

Tiba-tiba saja Naura menurunkan kaca jendela mobil, kemudian bergeser mendekat ke pintu. Ia menghela nafas sebelum bersuara.

"Hidup ini penuh cerita ya?!" ucapnya memancing Angga bersuara.

Tetap tidak ada tanggapan, Naura kembali bersuara, "Dulu aku pikir hidup itu sederhana, menghabiskan waktu sama teman dan juga Papa! Tidak mengenal rasa suka, cinta, perhatian dan kerinduan, apalagi kesedihan!

Saat sudah mengenal semuanya hal yang paling berat dalam hidup ternyata saat orang yang mengisi hati dan jiwa kita tak di sisi...." Naura mulai

mengeluarkan isi hati.

Angga melirik, dalam batin ia sepenuhnya sependapat dengan Naura. Namun Angga tak punya kemampuan untuk bersuara, meluapkan apa yang tertahan di dada.

"Angga! Jangan Kamu anggap aku ini hanya atasanmu saja, aku juga orang terdekatmu ... Berbagilah!" kata Naura lagi. Setelah ia tidak berhasil memancing Angga, ia pun bertanya secara langsung.

"Tidak apa-apa Nona, saya hanya lagi capek!" jawab Angga.

"Iya aku tahu kamu capek, capek segalanya! Mungkin Kamu butuh masukan dari orang lain agar beban mu berkurang!" sahut Naura, memaksa Angga bicara.

Angga hanya melempar senyum tumpul, sebelum menatap lurus ke depan dan menutup mulutnya dengan rapat. Kali ini Naura tidak memaksa, ia hanya berucap saja.

"Kapanpun Kamu butuh teman, aku siap mendengarkan ceritamu!" imbuh Naura.

Selebihnya ia memilih diam seperti halnya Angga sehingga suasana di dalam mobil itu nampak hening. Namun tak seberapa lama suara notifikasi merusak keheningan itu. Lekas Naura membuka ponsel untuk mengetahui dari siapa chat itu masuk. Rupanya Andik

lah yang mengirim chat dan mengabari jika ia akan pulang nanti malam.

"Oh apa dia lagi berkencan?!" gumam Naura teringat dengan ucapan Andik tadi pagi.

Ia membalas chat itu dan langsung bertanya perihal apa alasan laki-laki itu pulang malam. Dan seperti dugaannya, Andik memberitahu Naura jika saat ini dirinya sedang di luar bersama seorang wanita. Namun ia tidak jujur siapa wanita itu.

Naura geram lantaran pertanyaan tidak dijawab, lekas ia mengirim chat pada Ilyas untuk mendapatkan informasi. Sayangnya chat itu belum terbaca, Naura menyimpan kembali ponsel ke dalam tas. Siku tangannya menempel di jendela mobil kemudian terangkat dan

menopang dagunya.

Tak seberapa lama suara notifikasi kembali berbunyi, muka Naura cerah lagi. Ia mengira itu adalah balasan dari Ilyas. Tapi ternyata  yang tak diduga, bukan hanya cerah senyuman menghiasi wajahnya.

Ya, siapa lagi yang mampu mengembalikan kecantikan dirinya jika itu bukan Hasan? Sebuah chat masuk dari Hasan diterima oleh Naura. Tidak ada kata-kata dalam isi chat itu melainkan hanyalah foto yang rajin Hasan kirim.

"Tumben kirim chat jam segini?!" gumam Naura sambil memandangi foto Hasan di layar ponsel.

Tak tahan tak mencium foto itu tanpa ragu Naura mendekatkan mukanya dan mendaratkan ciuman ke layar ponsel. Tingkah Naura tak ayal memancing suara Angga yang sedari tadi tertelan.

"Wah Nona lagi berbunga-bunga nih!"

seru Angga.

"Iya dong, lihat ini!" sahut Naura dan menunjukkan foto Hasan, memakai setelan hem kotak-kotak serta topi membuat laki-laki itu semakin ganteng saja.

"Kayaknya tuan Muda sekarang suka pelihara kumis sama jenggot ya Nona?" seru Angga menyentak Naura.

"Masak?!" ucapnya. Kemudian memperhatikan lagi foto Hasan dengan seksama. Benar juga ada yang berbeda pada laki-laki itu yang tak lain karena kumis serta jenggotnya yang dibiarkan menebal.

Lekas Naura menghubungi Hasan saat itu juga namun sayang panggilannya ditolak. Runtuh hati Naura namun ia berusaha mengerti, pastilah Hasan sedang sibuk sehingga ia menolak panggilan itu.

"Gini ya rasanya sebuah penolakan!" gumam Naura berbagi kesedihan.

"Itu bukan penolakan yang sesungguhnya Nona," sahut Angga.

"Oh iya?! Terus yang sesungguhnya kayak gimana?!" ujar Naura tidak berniat memancing.

"Saat hati sudah menyatu tapi tak diharapkan, itulah penolakan yang

sesungguhnya," kata Angga nampak memaknai dengan sangat setiap kata yang keluar dari mulutnya.

Naura cuma melempar senyum, dia tidak memancing Angga untuk bersuara. Setidaknya ia mulai tahu apa yang terganjal di hati Angga. Biarlah perlahan ia berbagi dengannya.

Tak terasa obrolan mereka harus berakhir, Anga memarkir mobil seperti biasanya kemudian turun dan mengeluarkan motor sebelum menyerahkan kunci mobil pada Naura.

"Sepertinya rumah sepi,Nona?!" seru Angga melihat tidak ada penampakan dua kunyuk seperti biasanya.

Duduklah Naura di teras rumah, kemudian berkata dengan nada datar. Angga terpancing untuk ikut duduk bersama di samping wanita itu.

"Tampaknya mereka bertemu dengan penakluk hati mereka sekarang ... Kedepannya pastilah waktu mereka akan terbagi, tidak lagi fokus menemaniku...." ucap Naura sedih.

Bukan karena tidak ingin mereka pada akhirnya menemukan jalan cinta masing-masing tapi tak siap melepas mereka nanti jika waktunya sudah tiba.

"Dulu saat aku sama suamiku melepas Ilham, sedih banget rasanya! Butuh waktu lama buat kita terbiasa tanpa kehadirannya, tanpa suaranya ... Dan sepertinya aku harus belajar membesarkan hati dari sekarang...." kata Naura cukup membuat Angga tersentuh.

"Sepertinya Nona sayang banget sama mereka!" seru Angga.

"Ya, aku ini terlahir dalam keluarga yang tidak lengkap dan kehadiran mereka

melengkapi hari-hariku! Aku ini orang yang mudah tersentuh, bukan hanya mereka yang aku sayangi kamu juga bagian dari hidupku," ungkap Naura.

"Terimakasih Nona sudah memperlakukan saya dengan baik," ucap Angga menimpali.

"Ya sudah sana buruan balik, kasihan sama yang di rumah nungguin!" kata Naura kemudian bangun.

Angga pun pamit, lekas ia berjalan menuju motor kemudian melajukan motor itu meninggalkan rumah Hasan. Naura baru berbalik badan kala pintu pagar kembali terbuka, rupanya itu Ilyas yang datang.

Ia tidak jadi masuk, tersenyum ia menyambut kedatangan laki-laki itu. Cepat-cepat Ilyas memarkir motor kemudian berhambur ke Naura.

"Hari sabtu bukannya jam kerjanya lebih awal?!" tanya Naura sekedar memancing saja.

"Iya Mba, tadi masih keluar dulu bentar! Andik belum di rumah?!" jawab Ilyas

sekaligus bertanya.

"Nggak, katanya dia lagi keluar sama cewek!" jawab Naura lekas.

"Keluar sama cewek?! Cepat banget itu anak? Perasaan baru semalam yang galau sekarang sudah berbunga-bunga!" seru Ilyas penasaran.

"Nah tiru itu Andik, sergep sama cewek!" kata Naura tertawa sendiri.

Keduanya memasuki rumah, memisahkan diri kembali ke kamar masing-masing. Naura langsung naik ke lantai dua dan Ilyas masuk kamar, menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Cukup penasaran dia siapa ceweknya Andik. Rasa ingin tahu membuat dirinya

merogoh ponsel, mengetik chat yang ia kirim ke Hanis. Chat yang sudah terkirim dibuka oleh Hanis dan tentu Andik mengintip chat itu.

"Chat dari siapa?!" tanyanya padahal melihat nama yang tertera.

Hanis menutupi layar ponsel, menoleh ke Andik dan menjawab pertanyaan itu. "Ini kak Ilyas nanya Kakak lagi jalan sama siapa?." Andik cukup tersentak, ia menduga pastilah Naura yang membocorkannya sehingga laki-laki itu bergelirya.

"Jawab aja nggak tahu! Oh iya nanti kalo di rumah jangan marah ya kalo mas bersikap seperti biasanya?!" kata Andik.

Hanis lumayan dibuat kaget kala mendengar pernyataan barusan, dahinya menyatu ketat bersamaan dengan kedua alisnya. Andik menambahi, menjelaskan apa yang tadi ia ucapkan.

"Mas masih malu aja kalo ketahuan sama Mba sama Ilyas dan juga ... Pengen ngasih kejutan ke mereka," imbuh Andik.

"Kejutan?! Kejutan apa?!" tanya Hanis ingin tahu.

"Ya tiba-tiba gitu ngundang mereka ke pernikahan kita " tambahnya memancing senyum Hanis.

"Ohh...." gumamnya kemudian membalas chat Ilyas.

Angga sudah sampai di rumah, tidak ada ulukan salam seperti yang biasa terdengar tiap kali ia pulang. Juga langsung menutup rapat pintu kamar, tas ia letakkan ke meja kemudian mencopot sepatu, kaos kaki dan melompat ke atas kasur.

Lagi-lagi teringat kembali kencan semalam, perhatian Lusi serta permintaan wanita itu untuk menginap di apartemennya. Tak henti Angga menyalahkan diri sendiri, ingin rasanya ia memutar waktu kembali dan menahan Lusi tetap bersama dengannya.

"Kenapa Kamu nggak bilang?!" gumam Angga, panas matanya karena menahan air mata.

Tatapannya masihlah kosong sementara pikirannya menerawang jauh, kilas balik pertemuannya dengan Lusi terekam; mulai pertama mereka bertemu hingga kedekatan terjalin dan rasa tumbuh perlahan. Hingga pada akhirnya ia menyerah pada kantuk yang tiba-tiba datang, terpejam mata Angga.

Di luar ibu Gufro diam-diam mengintip ke garasi, hanya memastikan apakah putranya sudah kembali atau mungkin masih di luar menemui Lusi. Ia tidak

tahu jikalau Lusi telah kembali seperti yang ia minta. Maklum, Lusi tidak

mengabari dan buat apa pula ia mengabari jika semuanya harus berakhir.

“Sudah balik,” gumam ibu Gufro tatkala melihat motor sudah terparkir di garasi samping. Ibu Gufro melangkah masuk, berjalan ia menuju depan kamar Angga yang tertutup rapat. Nampak ragu ibu Gufro untuk mengetuk pintu, ia

berdiri di sana dan terus memandang daun pintu. Hingga datanglah pak Hendra dari ruang tamu, melihat sikap aneh istrinya segera ia menegur.

“Ngapain Ibu bengong di sana?” tanyanya, menyentak ibu Gufro dari kegundahan.

Sontak ibu Gufro berpaling, menoleh ke pak Hendra yang berdiri beberapa langkah darinya. Ia melempar senyum tipis, mencoba menyembunyikan apa yang sedang mengganggu hati dan pikirannya.

“Oh ini mau bangunin Angga tapi kok nggak ada suara dari dalam?!” seru ibu Gufro memberi alasan.

“Mungkin ketiduran dia! Coba bangunin udah adzan soalnya!” tegur pak Hendra santainya.

Ibu Gufro tidak lagi menyahut, ia memalingkan wajah kembali ke daun pintu kemudian mengetuk pintu itu pelan. Tidak ada respon dari dalam kamar, sekali lagi ibu Gufro mengetuk pintu sedikit lebih keras dari yang tadi.

“Nak, bangun! Sudah adzan ini!” panggil ibu Gufro membangunkan Angga.

Angga belumlah terbangun meski ibu Gufro sudah memanggilnya beberapa kali, hingga akhirnya ibu Gufro memberanikan diri membuka pintu. Sebelum masuk ke dalam ia mengintip terlebih dulu dengan menjulurkan kepala dari balik pintu yang dibuka separuh saja.

“Benar, tidur anaknya,” gumam ibu Gufro.

Melangkah ia memasuki kamar Angga, agak berhati-hati kala duduk di tepi kasur. Ibu Gufro tidak langsung membangunkannya, dipandangnya wajah lelah Angga yang masih tertidur. Tak tega ia melihat kesedihan itu, di lubuk hati tentulah ibu Gufro merasa bersalah. Perlahan ia bergerak mendekat, tangannya mendarat ke pipi Angga. Mata ibu Gufro nanar menahan air mata, diusapnya pipi Angga lembut. Angga tersentak kaget, ia menggeliat dan meraih tangan ibu Gufro yang masih menempel di pipi.

“Ibu....” Angga bergerak, beranjak dari tidurnya dan duduk bersandar di kasur.

“Sudah adzan, sholat dulu baru tidur lagi!” kata ibu Gufro kemudian melempar senyum tipis.

“Ibu, kalo aku merantau keluar negeri apa ibu izinin?” tanya Angga begitu saja padahal tidak terlintas pikiran itu sebelumnya.

“Ngapain ke luar negeri? Bukannya pekerjaanmu di sini sudah nyaman? Jangan kemana-kemana kedua orang tuamu sudah tua!” jawab ibu Gufro jelas tidak mengijinkan.

Bangkitlah ibu Gufro dari sana karena belum menunaikan sholat. Namun saat ia mencapai pintu tiba-tiba Angga bersuara, menghentikan langkah kaki ibu Gufro. Tangan kirinya menyentuh daun pintu dan berbalik badan.

“Bu, Lusi balik tadi pagi ... dia bahkan nggak ngasih tahu ke aku....” ungkap Angga.

Hati ibu Gufro tersentak, ia tidak menyangka Lusi akan secepat itu meninggalkan Angga. Memenuhi permintaan dirinya kemarin, hati ibu

Gufro berdesir. Ia mampu merasakan apa yang dirasakan Angga juga yang dirasakan Lusi di sana.

“Maafkan ibu, Nak....” batin ibu Gufro berucap.

Naura turun lagi ke lantai satu, pikirannya tidak tenang jika belum mendapati suara Andik terdengar di rumah. Diketuk pintu kamar mereka

berdua tak sabar, Ilyas lekas bangun membuka pintu.

“Iya Mba,” kata Ilyas begitu pintu terbuka.

Mata Naura melirik ke dalam, sebelum bersuara, “Andik masih belum balik?” tanyanya cemas.

“Belum Mba, kayaknya itu anak lupa yang mau pulang

mentang-mentang lagi sama cewek,” jawab Ilyas yang juga kesal menunggu

kepulangan Andik.

“Ya begitulah orang lagi kasmaran, Kamu nanti juga gitu! Nanti kalo balik suruh dia miscall aku ya!” seru Naura.

“Iya Mba!” sahut Ilyas singkat.

Naura menyuruhnya kembali menutup pintu, ia berbalik badan hendak kembali ke kamar namun tiba-tiba ia teringat dengan Hanis yang juga tidak nampak sedari tadi. Urung kaki Naura berlalu dari sana, kembali ia berbalik badan dan melangkah ke depan kamar Hanis. Ia mengetuk pintu pelan, tetapi tidak ada respon dari dalam.

“Kayaknya itu anak emang belum balik,” gumam Naura. Sekali lagi ia mengetuk pintu, lalu berdiri beberapa saat untuk menunggu pintu terbuka. Tetap tidak ada tanda-tanda pintu dibuka Naura pun memutar gagang pintu. Pelan-pelan ia mendorong daun pintu separuh saja,Naura mengintip ke dalam. Saat menyadari kamar itu sepi, didorongnya pintu itu lebih lebar lagi.

“Masih rapi, artinya dia nggak balik tadi siang!” gumam  Naura.

Segera ia keluar dari kamar Hanis dan berjalan ke kamar sebelah, mengetuk pintu itu untuk yang kedua kalinya. Ilyas kala itu lagi menggarap sesuatu di laptop di atas kasur. Cepat-cepat ia turun dan membuka pintu lagi.

“Iya Mba ada apa?” tanya Ilyas penasaran.

“Itu ... Hanis kok belum balik juga? Coba Kamu telepon dia gih sekarang, khawatir aku!”  jawab Naura sekaligus memerintah Ilyas.

Secepatnya Ilyas berbalik, mengambil ponsel yang tergeletak di dekat laptop. Disambarnya ponsel itu dan mencari nomor kontak Hanis di riwayat panggilan. Panggilan terhubung, tapi belum diangkat olehnya. Ilyas berjalan menghampiri Naura yang berdiri di depan pintu menunggu.

“Hallo, Assalamualaikum.”

“Waalaikumussalam, Nis kamu dimana kok belum balik?” seru Ilyas begitu tersambung.

“Oh lagi di luar Kak, sama teman-teman!” sahut Hanis

dengan ringannya berbohong, padahal mereka yang di rumah tidak tenang pikirannya.

Tangan Naura menyambar ponsel yang menempel di telinga Ilyas, menyela pembicaraan mereka berdua karena tak sabar ingin tahu dimana wanita muda itu berada kini.

“Hanis, ada dimana?” tanyanya.

“Masih di luar Kak, sama teman!” jawab Hanis masih sama.

"Jam berapa Kamu pulang?” tanya Naura lagi.

“Iya Kak, habis ini saya balik!” jawab Hanis.

“Ok cepat pulang, jangan sampek Andik tahu bisa-bisa Kamu dimakan sama dia!” tegur Naura, mengingatkan.

“Iya Kak, saya balik sekarang!” sahut Hanis, lalu menutup panggilan telepon.

Hanis merasa bersalah, ia mendekat ke Andik yang duduk di dekatnya. Tangannya menarik baju Andik, berucap dengan nada rendah.

“Kakak, ayo balik....” pintanya.

“Oh, ayo!” seru Andik. Kemudian dengan langkah kaki cepat mereka berjalan menuju parkiran motor.

Sepanjang jalan mereka berdua memikirkan cara bagaimana keduanya tidak ketahuan oleh Naura dan Ilyas. Hingga sampai di pertigaan depan gang menuju perumahan barulah otak Andik mulai encer. Andik memutuskan menepi beberapa meter dari depan rumah Hasan, kemudian menyuruh Hanis turun dari motor. Dengan patuh Hanis turun,

melepas helm dan menyerahkan pada Andik.

“Kamu masuk duluan gih sana!” perintah Andik.

“Iya Kak,” sahut Hanis.

Sebenarnya Hanis agak cemas hatinya, cara Naura bertanya serta nada suaranya tadi jelas tidak senang. Sambil berjalan menuju rumah Hasan otak Hanis terus berputar mencari alasan yang tepat sehingga tidak memancing kemarahan Naura. Tangan kanannya ragu-ragu terangkat ke arah pagar tembok untuk didekatkan pada sensor. Pintu pagar terbuka seketika itu, dada Hanis semakin berdegup kencang. Langkahnya teramat berat dan takut saat melewati halaman rumah, apalagi saat sudah mencapai teras.

“Sudah dikunci belum ya?!” gumamnya.

Meski ragu Hanis menyentuh gagang pintu, dengan pelan mencoba memutar gagang pintu itu. Jantung Hanis bertambah gugup manakala ternyata pintu masih belum terkunci. Didorongnya pintu itu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Cukup berhasil, setidaknya suara nyaris tidak terdengar tapi saat langkahnya sudah mencapai ujung ruang tamu dan hendak melangkah ke ruang keluarga ia kaget melihat Naura duduk di kursi, Ilyas juga berada di sana.

“Assalamualaikum....” Hanis menguluk salam dengan suara terlampau rendah, kentara jika ia gugup.

Baik Naura, ataupun Ilyas menjawab salamnya seketika. Mereka juga memandang Hanis penuh tanya meski tidak memperlihatkan kemarahan mereka. Masih dengan suara tenang Naura memanggil Hanis, meminta wanita itu duduk bergabung.

“Sudah makan malam?” tanya Naura, menirukan gaya Hasan yang tidak pernah langsung menegur.

“Sudah, kak....” Hanis bertambah gugup.

“Mba khawatir belum makan, makan sama teman-temannya ya tadi?!” sambung Naura mulai mengintrogasi.

“Iya Kak,” sahut Hanis singkat.

“Pasti seru ... emang kalo lagi kumpul sama teman bisa lupa waktu, soalnya ada aja yang dibuat bercandaan!” seru Naura menyindir.

“Iya benar Mba, apa lagi yang lama nggak ketemu,” sambung Ilyas menambahkan.

“Itu dia, apalagi cewek yang dibahas itu banyak ... mulai dari ini ... itu ... berganti si ini ... lalu si itu, nggak ada habisnya!” lanjut Naura menyindir.

Hanis semakin tak nyaman dibuatnya, namun apalah daya ia memang salah karena tidak mengabari mereka sebelum pergi. Ia tidak menyahut, hanya diam menundukkan wajahnya, apalagi memprotes.

“Lain kali kalo mau keluar lama setidaknya chat mba atau yang lain ya ... biar nggak kepikiran! Untuk Andik belum datang, kalo sampai dia datang terus tahu Kamu jam segini baru pulang ... murkalah itu anak!” tegur Naura.

“Pada dasarnya mba nggak akan melarang, toh mba juga pernah muda dan hidup bebas ... tapi bagaimanapu usahakan memberitahu....” imbuh Naura.

“Iya Nis, kalo kita dikabari setidaknya kita nggak khawatir ... kalo ada apa-apa kita juga bisa sigap,” sambung Ilyas.

“Anak cewek di luar sampek malam itu bahaya, terkecuali kamu punya pegangan buat membela diri,” tambah Ilyas.

“Hanis, jangan tersinggung ya?! Kita bukannya apa-apa, hanya cemas saja!” lanjut Naura.

Di luar Andik yang memang sengaja menunggu jedah waktu dengan sabar kini sudah melewati halaman rumah, memarkir motor segera mungkin.

Ia juga mencemaskan Hanis di dalam sana. Instingnya mengatakan pastilah ia akan ditegur oleh Naura, bukan tidak terima melainkan merasa bersalah saja.

Sengaja Andik tidak bersuara, ia ingin tahu apakah hening saja di dalam atau tidak. Seperti dugaannya memang tidak bisa dipungkiri, apa yang dibisikkan hati banyak benarnya.

Sekedar membantu Hanis meloloskan diri dari situasi itu Andik dengan sengaja menguluk salam. Mereka berdua yang khawatir Andik akan mengomel seketika itu memberi isyarat supaya Hanis lekas kabur ke kamar. Sayangnya, Hanis malah kurang tanggap dan Andik muncul. Melihat ketegangan diantara Naura dan Ilyas tersentak dirinya, alhasil ia pun melakoni sebuah drama. Berlagak seolah curiga saat melihat ke Hanis. Dengan sendirinya Hanis juga memainkan peran dengan apik, ia tertunduk seketika.

“Jam segini kenapa masih berpenampilan secantik itu?!” seru Andik ditujukan pada Hanis.

Khawatir perang dunia pecah, Naura mengambil peran. Dengan sepenuh hati ia berusaha melindungi Hanis dari amukan Andik. Ia bergeser mendekat ke Hanis, menggenggam tangannya yang bertengger di atas paha.

“Emang kenapa? Tadi dia itu habis datang ke ultah temannya! Cewek itu punya banyak acara, nggak sama kayak cowok!” kata Naura.

Duh, hati Andik tersentuh dengan apa yang ditampilkan Naura. Ia sepenuhnya merasa bersalah, namun bagaimana lagi dia belum siap berkata yang sejujurnya. Andik memilih tidak meneruskan, setidaknya perkataannya tadi sudah cukup mengelabuhi mereka berdua.

“Sudah sana masuk kamar!” perintah Andik.

Hanis pamit pada Naura setelah wanita itu melepaskan genggaman tangannya. Saat Hanis tidak nampak lagi giliran Andik yang disidang oleh Naura.

Cepat wanita itu bangkit dari duduknya, menyambar tangan Andik dan menyeretnya ke kursi. Ilyas juga sudah siap dengan banyak pertanyaan di kepalanya. Tak sabar ia pun mendahului Naura.

“Darimana Kamu, Dik?!” tanyanya agak ketus.

Belum juga dijawab Ilyas menambahkan lagi,“ Ngasih contoh nggak bener ke Hanis! Anak itu Kamu tegur terus, giliran Kamu sekarang malah nggak kalah dari dia?!” sambungnya bertambah kesal.

“Kamu ini marah ke Andik karena dia pulang telat? Apa karena Kamu iri nggak keluar juga?” hardik Naura ke Ilyas.

Andik menahan tawanya, ia menunduk menyembunyikan seringainya agar tak ketahuan. Ilyas jelas tidak terima, begitu cepat Naura berbalik arah.

“Mba kok malah berada di kubunya Andik?!” protes Ilyas. Naura menyeringai, ingin rasanya ia tertawa namun ditahan.

“Habisnya suaramu itu menggebu-gebu tadi!” seru Naura.

“Kamu ngapain nunduk? Ketawa?.” Giliran Andik yang kena semprot, bahkan Naura memukul keras paha Andik dengan buku majalah yang terpampang di atas meja.

“Aww! Pelan-pelan mukulnya Mba!” kata Andik tidak terima, tangannya mengusap bekas pukulan yang masih terasa.

Giliran Ilyas yang tertunduk menahan tawa, dalam hati ia mengumpat, “Syukurin!.”

“Kalo pelan bukan mukul namanya tapi ngelus! Habis jalan sama siapa Kamu hah?! Nyaris saja lupa yang mau pulang!” hardik Naura memarahi Andik.

“Kan udah dibilangin sama cewek....” sahut Andik rendah.

“Iya cewek itu siapa namanya? Orang mana?” cerca Naura.

“Anaknya siapa?” sambung Ilyas.

“Maaf Mba ... aku masuk kamar aja ya!” seru Andik.

Kemudian, ia bangun dari kursi berjalan meninggalkan Naura dan Ilyas yang menunggu jawabannya.

“Kamu nggak mau berbagi kebahagian sama kita?!” ujar Naura menghentikan langkah Andik.

Andik menoleh, memberikan senyuman paling manis yang ia punya. Kemudian menyahuti, “Kalo sudah tiba waktunya pastilah aku berbagi, ok?!.” Tidak lupa Andik mengedipkan sebelah mata, membuat mulut Naura menganga.

“Oh my God! Anak itu!” ucapnya, kemudian menutup mulut dengan satu tangan.

1
Susy Hermaningshih
Hiii ... mba Rachma belum lanjut menulis lagi yaaa ... Swlemiga di thn baru ini mulai semangat lg utk menulis, ibu tunggu lanjutan ttg Naura n Hasan nya ... Semangat mba Rachma😍
Susy Hermaningshih
Hiii ...thor ...msh berlanjutkah cerita bagus ini???, Semoga masih ya nanggung soalnya ...
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Yosephine Nidya Ayu Puspajati
Thor itu trs Hasan pisah sama Salma gimana ceritanya? tau² Hasan sudah sendiri saja
Neni Lontong Naura Niken
kok lama banget jeda nya kak. di tunggu nih lanjutan Hasan dan Naura nya
Sukar Miyati
Beneran nangis dibuatnya.
Sukar Miyati
Ayo semangat...
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
Rahmania: terimakasih,, sya sudah vakum menulis...
total 1 replies
Jusmiati
Thor sy jadi bingung, wanita kan memiliki masah Iddah selama 4 bulan, kok langsung dinikahkan begitu aja sih...
Jusmiati
ini Salma kok mau-maunya menikah, apa gunanya nikah sama lelaki yg enggak cinta sama kita, yg ada makan hati dong nantinya...
Jusmiati
jadi ikut ngiler deh dgn rujak nya 🤤🤤🤤
Jusmiati
pak Malik menikah beda akidah ya Thor...🤔🤔🤔🤔
Endang Werdiningsih
maaf ga lanjut baca ya.....
Endang Werdiningsih
hati bisa berbagi buat orang tua ke anak"a,,,antar anak aja bisa ada rasa saling cemburu,,, jgn buat naura jd menyek" demi berbakti kpd suami merelakan hasan berbagi tubuh.... jgn pernahenyakiti hati satu wanita demi kebahagiiaan wanita lain... karena tdk akan ada satu manusiapun yg bisa adil dimuka bumi ini.. jika hasan mau menikahi salma lepaskan naura,,, jika terjadi poligami,,, maaf lsg stop baca novel ini...
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
Endang Werdiningsih
jika semua bisa jujur dr hati terdalam,,,tdk ada yg nama'a rela berbagi suami....
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
Endang Werdiningsih
naura rubahlah cara berbelanjamu,,, walau dimanfaatkan buat berbagi tp setidak'a hargai perjuangan hasan buat mengumpulkan uang....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura
Muda MACMUDAH
thor biar angga balik ama lusi aja thor kasian lusi😞😞
Endang Werdiningsih
tinggal pilih ilyas,,, maria apa ira...... kalo matia terkendala keyakinan ga ya,,,, kalau terkendala ya jgn atuh ya ilyas
Endang Werdiningsih
ilyas sama ira saja,,,, lucu mereka berdua.... ga jadi dukung ilyas sama indah. 😀
Endang Werdiningsih
ga pernah respect sama lisa.... biar angga sama lusi,,, ilyas sama indah...
Muda MACMUDAH
ceritanya gimana ni thor katanya saudara kok bs berciuman thor🙏🙏🙏
Sugiono Sugiono
kok g lanjut2 ya??????
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!