Teror pemburu kepala semakin merajalela! Beberapa warga kembali ditemukan meninggal dalam kondisi yang sangat mengenaskan.
Setelah dilakukan penyelidikan lebih mendalam, ternyata semuanya berkaitan dengan masalalu yang kelam.
Max, selaku detektif yang bertugas, berusaha menguak segala tabir kebenaran. Bahkan, orang tercintanya turut menjadi korban.
Bersama dengan para tim terpercaya, Max berusaha meringkus pelaku. Semua penuh akan misteri, penuh akan teka-teki.
Dapatkah Max dan para anggotanya menguak segala kebenaran dan menangkap telak sang pelaku? Atau ... mereka justru malah akan menjadi korban selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dae_Hwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TPK26
"Apa katamu?!" Urat-urat di leher Max menegang. "Di ruangan ku, ada kamera tersembunyi dan juga alat penyadap suara?! Mustahil, —bagaimana mungkin?!"
Pagi itu, Bella datang lebih awal untuk memeriksa semua kecurigaan nya. Meskipun dua mata-mata sudah diringkus, akan tetapi, ia merasa semua aktivitas mereka dalam penyelidikan kasus ini seolah-olah masih ada yang mengawasi. Semua pergerakan mereka seolah terbaca.
Dan benar saja, setelah sembunyi-sembunyi menggunakan alat canggih yang tertanam di ponselnya, Bella menemukan tiga titik yang mencurigakan. Tiga titik yang berkedip-kedip di layar ponsel berlatar merah miliknya.
"Benar." Bella mengangguk, "aku sudah memeriksanya sendiri. Dan, aku sengaja tidak mencabut alat-alat itu agar dalang di balik layar ini tidak curiga. —Jadi, untuk mendiskusikan penyelidikan selanjutnya, apa kalian keberatan jika hari ini kita mulai bekerja di apartemen ku ini?"
Max dan Clara saling beradu tatap, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Bella.
"Ah, jadi karena itu ... kau menyuruh kami mengenakan pakaian, ponsel, dan juga kendaraan yang kau sediakan langsung? —Kau juga pasti curiga kalau ada penyadap suara yang tertanam di ponsel kami, betul kan?" tebak Clara.
"Kau memang pintar, Clara." Bella mengacungkan dua jempol.
"Tapi, apa kau tidak curiga padaku, Bell? Bisa saja aku juga termasuk mata-mata yang meletakkan alat-alat itu di ruangan Max," ucap Clara. Max langsung menoleh ke arahnya.
Bella tertawa kencang. "Sebelum aku memulai bersama kalian, aku sudah terlebih dahulu memeriksa latar belakang mu, Clara. Bagaimana ya, kau sudah masuk dalam zona hijau ku, ‘tuh!"
Clara tersenyum tipis, menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. ‘Dia bener-bener keren!’ pujinya di dalam hati.
Setelah Max menyetujui saran Bella, Edwin menyiapkan segala hal untuk keperluan penyelidikan.
Mereka fokus saling berdiskusi, masing-masing menyampaikan pendapat mereka.
"Kecuali Anna, hampir semua jasad para korban memiliki memar di bagian leher ya," gumam Bella.
"Benar, aku sedikit kesulitan untuk menentukan jenis memar itu karena beberapa daging di area leher korban tak lagi utuh. Tapi, menurutku, itu memar terkena hantaman benda tumpul seperti memar yang ada di area tubuh lainnya," sahut Clara.
Bella menggeleng. "Kali ini kau salah, Clara. Memar itu bukan disebabkan oleh benda tumpul. Melainkan bekas memar akibat suntikan bius lokal. Sepertinya, anestesi yang diberikan sangat tinggi. —Dan uniknya, semua suntikan itu selalu ia tujukan pada leher saja."
"Bius ya ...." Clara bersandar di badan sofa, melipat kedua tangannya di depan dada.
"Itulah sebabnya tidak ada tanda-tanda pertahanan diri pada setiap korban, ternyata mereka di bius saat akan dieksekusi ...," gumam Max.
Pembicaraan mereka terhenti sesaat ketika Edwin masuk ke ruangan itu membawa 3 cup kopi panas dan beberapa cookies sebagai menu camilan untuk menemani mereka selagi sibuk bekerja.
Untuk beberapa menit suasana mendadak hening karena Edwin turut berdiri di sana sambil menatap lurus kertas-kertas yang berserakan di meja hingga di atas lantai.
Pria itu menghela napas singkat. "Selagi di ruangan kerja kalian dulu, kalian selalu membahas Haven Home bukan? —Kalau begitu, mulai lah dari sana."
"Maksudnya?" Clara menyipit, masih tak mengerti.
"Datanglah ke Haven Home. Di sana, pasti dia sudah menyiapkan beberapa bukti untuk memancing kalian sampai lengah dan masuk dalam jerat nya. Kemudian, kalian pun akan berakhir sebagai korban," kata Edwin.
Kening Max berkerut. "Maksud Anda, kami harus mati sia-sia untuk mendapatkan beberapa bukti itu."
"Itu yang dia mau dari kalian. Namun, aku memberitahu pendapat ini, agar kalian bisa keluar dari sana hidup-hidup. Pergilah ke Haven Home, masuklah dalam jebakannya dan berlakon lah layaknya artis papan atas. Dapatkan bukti-bukti yang ia siapkan untuk memancing kalian, dan keluar lah hidup-hidup dari sana. —Untuk mendapatkan ikan, tak selamanya harus menggunakan pancingan dan umpan. Terkadang, pemburu yang tak memiliki satupun alat memancing, bisa langsung terjun ke dalam air dan menangkap telak seekor ikan dengan kedua tangannya. —Jadi, maksudku ... masuklah dalam perangkapnya demi meringkusnya," papar Edwin panjang lebar.
Suasana kembali hening sejenak.
"Aku bisa melihat signal di dalam otak mu tengah loading berputar-putar. IQ mu berapa sih? Kau mengingatkan ku pada seseorang yang sangat menyebalkan." Edwin menatap tajam ke arah Max.
"Saya mengerti," sahut Clara. "Saya akan menjelaskan pada Max dengan cara saya nanti. Terimakasih untuk trik nya."
"Sayang, bisa kah kamu menyiapkan sesuatu untukku?" ucap Bella tiba-tiba.
Edwin menoleh, mata yang tadinya setajam pisau, kini membulat sempurna layaknya anak kucing yang ingin menyusu pada sang induk.
"Kamu perlu apa, Sayang?" tanyanya lembut.
"Aku memerlukan silikon yang tebal untuk digunakan di bagian leher. —Mahluk jadi-jadian itu, membius para korban di bagian leher. Untuk berjaga-jaga, kami bertiga harus menggunakannya. —Apa kamu bisa mendapatkan benda itu dalam waktu 24 jam?"
"Jangankan 24 jam, aku mampu mendapatkan benda yang kamu inginkan dalam waktu 1 jam saja. Asalkan ... kamu bersedia bernegosiasi denganku," Edwin tersenyum nakal.
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Bella, pura-pura tak mengerti.
"Malam panas nan bergelora, dengan napas yang menggebu-gebu. Aku ingin kau berteriak sekencang-kencangnya nanti malam."
Pembicaraan tak disangka-sangka itu sontak membuat wajah Clara bersemu merah. Max yang memperhatikan hal itu, langsung menutup telinga Clara dengan kedua tangannya.
"Selamat kan telinga suci mu dari dosa besar ini, Clara. Gadis polos seperti tidak boleh mendengarkan hal-hal vullgar seperti ini."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella mati-matian berusaha menjaga ekspresi saat telapak tangannya terasa perih akibat tergores bebatuan. Tubuhnya tengah diseret oleh sosok bertopeng, pelaku kejahatan yang sedang diburu nya.
Sosok dengan identitas yang masih belum diketahui itu, membawa Bella menuju ke tempat ia selalu mengeksekusi korbannya. Sebuah gudang tua di pinggiran kota, jauh dari jangkauan hingar-bingar manusia
Dengan susah payah, ia mengangkat tubuh Bella. Menghempaskan tubuh wanita cantik itu ke atas ranjang besi yang banyak genangan darah.
Bella masih setia dengan aktingnya yang luar biasa. Dengan kondisi mata terpejam, ia memusatkan konsentrasi nya.
'Ruangan ini, beraroma karat dan juga ... obat-obatan,' batinnya mulai berisik.
Ia kembali fokus. Derap langkah yang menjauh dari ranjangnya, membuat wanita itu bergerak cepat. Ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan lekas mengeluarkan botol kecil berisi air cabai dari mansetnya. Kemudian, ia kembali berlakon pingsan. Ia menunggu sampai sosok itu melepaskan topengnya.
Sosok itu mengoceh sendirian, mengumpat dan mengeluarkan semua yang ada di dalam pikiran nya. Tentu saja sikapnya itu diiringi dengan aksi kekerasan terhadap Bella. Setelah puas menganiaya Bella, sosok itu mulai mengarahkan pisaunya. Namun, ia kalah cepat. Bella terlebih dulu bertindak, menyemprotkan air cabai ke wajahnya yang tak lagi memakai topeng.
SPLASH!
Arrrggghhh!
Sosok itu menjerit sekuat tenaga, ia melangkah mundur dengan kedua mata terpejam.
"Selain gila, kau, benar-benar nggak tau sopan santun ya. Dasar mahluk mesum buruk rupa!" Bella lekas bangkit, berdiri dengan kedua kaki yang siaga.
"Ternyata benar dugaanku, orang itu kau ... Liam!" Gumam Bella penuh seringai, lalu berlari sekencang-kencangnya dan menerjang tubuh Liam hingga tersungkur.
*
*
*
Thor buat cerita agent agent gitu dunk Thor dgn ruang rahasia dll 🫰
Terima kasih banyak Kak, atas karya luar biasanya ini 🙏🥰🥰