NovelToon NovelToon
CANDUNYA SANG CASANOVA, MALIKAKU

CANDUNYA SANG CASANOVA, MALIKAKU

Status: tamat
Genre:Pernikahan rahasia / Pembantu / CEO / Romantis / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:566.9k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

Sean, seorang Casanova yang mencintai kebebasan. Sean memiliki standar tinggi untuk setiap wanita yang ditidurinya. Namun, ia harus terikat pernikahan untuk sebuah warisan dari orang tuanya. Nanda Ayunda seorang gadis yatim piatu, berkulit hitam manis, dan menutup tubuhnya dengan jilbab, terpaksa menyanggupi tuntutan Sean karena ulah licik dari sang Casanova.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Sean mengeluarkan dompetnya, menarik beberapa lembar uang merah dan meletakkannya di atas meja. Duduk bersimpuh di depan gadis berkulit hitam yang malah terkejut dengan tindakannya. Kembali menarik dekat tangan Nanda meski gadis itu sempat menolak.

Membuka telapak tangan, terlihat jelas luka kulit yang terkelupas di sana-sini, juga kulit sawo matang itu kini berubah memerah. Dada Sean terasa berdesir, diam-diam rasa bersalah menyusup di sana.

Pelan dan telaten Sean mengoleskan salep dingin di ruas-ruas tangan Nanda yang lecet. Nanda bahkan sempat menahan nafasnya oleh tindakan Sean yang diluar dugaannya itu.

"Kenapa dia melakukan ini? Kapan ia sadar dengan luka ditanganku? Kapan ia membeli salep luka?" Nanda bernomolog dalam hati, karena ia tau di rumah tak ada salep jenis ini, juga tak melihat Sean masuk ke apotek atau sejenisnya.

"Maaf," ucap Sean mengalir begitu saja tanpa berhenti merawat tangan Nanda. Mau beralasan seperti apa memang ia sudah Setega itu pada istrinya.

"Untuk apa?" Lirih Nanda berucap.

Sean mengangkat kepalanya, menatap manik mata Nanda yang mengunci pandangannya. Mengalirkan getaran aneh di dada, saat mata beradu. Lidah Sean terasa sulit bergerak, sekedar membuat alasan pembenaran atas sikapnya. Ia tak bisa. Hanya kebisuan yang menciptakan keheningan diantara kedua insan itu.

Dering panggilan di gawai Nanda menyapa, memecah keheningan yang seketika memciptakan rasa canggung. Sean memutus pandangan, dan salah tingkah sendiri sampai akhirnya menutup salep dan meletakan di meja. Berbeda dengan Nanda yang langsung mengeluarkan gawai dari tas slempangnya.

"Assalamualaikum, Mas."

Reflek Sean menatap Nanda. Panggilan dari Irham.

"Iya, Nanda udah sampai di rumah," Nanda menyahuti, beranjak bersamaan dengan Sean yang berdiri.

Mata beradu lagi, sedekat itu, meski tubuh Nanda begitu pendek untuk Sean yang tinggi. Tangan lentik Nanda menyentuh dada Sean, seperti mendapat sengatan yang menjalar ke sekujur tubuh, dan berakhir memacu jantung Sean lebih cepat.

"Iya, Nanda langsung istirahat kok," ucap Nanda menggeser tubuh Sean yang tiba-tiba menjadi sangat ringan. Atau mungkin, tangan lentik itu yang berhasil menghipnotis tubuh Sean hingga dengan mudahnya menurut, bergeser sendiri.

"Enggak, Mas."

Suara Nanda melemah dan jauh. Sampai, suara pintu kamar yang menutup menyadarkan Sean dari kekosongan.

Tersenyum kecut, "dia hanya gadis biasa, kenapa aku jadi begini?"

Sementara itu, di kediaman Rahardian.

"Sayang, kapan rencana ke Surabaya?"

"Kenapa?" Resda menyahuti sambil mengecek grafik saham, dengan berselonjor di atas ranjang kamar.

"Kamu lupa apa pura-pura lupa sih?" protes mama Gea setengah kesal, mengeser duduknya dari depan meja rias menghadap sang suami.

Resda terkekeh dengan kekesalan istrinya,"Ingat kok, ingat."

Wajah Gea masih ditekuk.

"Sabar dulu lah, kita masih harus atur waktu luang. Jangan buru-buru, nanti jadinya tak baik." Resda mencoba menenangkan tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya. Itu membuat Gea makin kesal.

"Mau berapa lama lagi?"

"Aku tunggu waktu kunjungan ke kantor cabang dulu. Dua atau tiga hari sebelumnya kita berkunjung ke rumah Sean, selesaikan dulu yang di sini."

Mama Gea mendesah kesal. Resda tersenyum, menuruni ranjang setelah meletakkan gawainya.

"Aku sudah mengecek data karyawan di cabang Surabaya. Memang ada nama Nanda Ayunda di sana."

"Benarkah? Kenapa Sean membiarkan Nanda bekerja?"

"Entahlah, tapi, datanya sesuai. Itu memang menantu kita. Dan ada banyak kejutan yang menanti di sana," ujar Resda tersenyum misterius.

"Apa yang kamu dapatkan, Sayang?"

Resda mengangkat bahu, tanpa kata lagi berbalik kembali ke pembaringan.

"Kamu merencanakan sesuatu?" selidik Mama Gea.

"Cepat kemari, babby. Kita tidur!" Serunya pada Gea mengalihkan pembicaraan, sembari menepuk ruang di sisi.

Gea memutar mata malas, tau jika suaminya itu masih ingin main rahasia padanya.

"Aku masih harus mengoles krim," sahut Gea kembali membetulkan posisi duduknya menghadap meja rias. Mencolek krim malam dan mengoleskan di pipi.

"Kamu tetap cantik tanpa itu sayang. Ayolah," bujuk Resda yang sudah mulai menguap.

"Tidak bisa. Kamu lelaki, dan disekelilingmu penuh wanita muda dan cantik. Jika aku tidak mempercantik diri bisa saja kamu tergoda."

Resda tergelak, "Hahahah, tidak mungkin sayang. Aku hanya mencintaimu."

"Aku tidak percaya padamu, kau mantan Casanova," ketus Gea membungkam Resda.

Resda diam dalam pikirannya, tak bisa memungkiri seperti apa dirinya dulu. Beranjak dari ranjang dan mendekat. Tanpa aba-aba mengangkat tubuh Gea hingga memekik kaget.

"Resda!"

"Aku masih kuat, sayang. Dibilangin ayo tidur. Malah bandel," omel lelaki itu berjalan ke arah ranjang.

Belum sempat menurunkan tubuh Gea, ia sudah memekik memegangi punggungnya.

"Aduuh!"

Sedangkan Gea terjatuh tepat di bibir ranjang. Ia pun ikut memekik kesakitan.

"Aaauuhh, sakit Res!"

"Maaf, babby. Punggungku sakit," rintih Resda masih memegangi punggung dan berjalan tertatih duduk di bibir ranjang.

"Makanya, jangan banyak gaya. Sudah tua juga..."

"Aadduuhh, punggungku..."

"Syukurin!" omel Gea, namun ia juga mengaduh duduk di samping sang suami."Aduhh, tubuhku sakit terpentok bibir ranjang."

Lalu keduanya terkekeh-kekeh setelah sempat berdu pandang.

"Kamu sih!" Gea memukul lengan Resda.

Tiba-tiba hening, namun mata saling mengunci.

"Sayang, masalah Sean, serahkan padaku. Aku tau apa yang harus dilakukan. Kamu hanya perlu mendukungku saja," cetus Resda memeluk bahu istrinya.

Mama Gea mengangguk setuju,"Baiklah."

1
Yunita Asep
serru banget ceritnya buaaguus.. deh trimksh thor, sehat dan suxes slalu I LOVE YOU..
Cinta_manis: sama2. makasih kak, udah baca sampai bab akhir😍🙏
total 1 replies
Yunita Asep
syukurin.. penyakit mematikan... kamu Rendra...
Yunita Asep
lanjuutt..
Yunita Asep
boleh dong.., ayo tengok biar Nanda tk sedih lagi...
Yunita Asep
mega, ya thorr...
Yunita Asep
serruu..! lanjut thorr..
Yunita Asep
kalo di dunia nyata mna ad kya gitu, ih... nyebelin...
Yunita Asep
lanjut thorr...
Yunita Asep
kalau benar Nanda menemui clarisa, dia sangat bodoh, lanjut thorr...
Yunita Asep
lanjuuttt...
Yunita Asep
keseldeh bcnya...
Yunita Asep
masa iya sih hitam banget... thorr...
Cinta_manis: /Facepalm/
total 1 replies
Yunita Asep
ketauan aj deh gk PP.. lanjut thorr...
Yunita Asep
lanjut thorr serru ceritnya...
Cinta_manis: hehehe, terima kasih Kak
total 1 replies
Yunita Asep
item banget kah thorr.. Nanda?...
Yunita Asep
Nanda pakai pembersih muka dong biar agak putian gitu...
Yunita Asep
huh.. ktanya bukan seleranya... dasar.. pria...
Yunita Asep
syukurin...
Yunita Asep
betul.. betul.. betuulll..,
Yunita Asep
lanjuutt...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!