Seorang penulis novel bernama Bagas sedang bertemu dengan titik jenuh nya. Kehidupan nyata terasa sangat membosankan bagi nya, sehingga hanya dunia imajinasi lah yang bisa membuat nya bahagia. Hingga suatu ketika, ia mendapatkan sebuah masalah yang membuat nya sulit untuk kembali ke dunia imajinasi. Novel pun terpaksa berhenti di tengah jalan. Hingga pada suatu hari, sebelum tidur ia berdoa pada tuhan.
"Semoga mimpi malam ini, lebih indah dari kehidupan nyata" kata Bagas.
Semenjak saat itu, ia masuk kesebuah dunia yang asing bagi nya. Setiap ia tertidur di dunia nyata, ia terbangun di dunia tersebut, begitu juga sebaliknya. Hingga semua itu menjadi mimpi yang nyata bagi nya.
Apakah yang ia temukan di dunia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Banda Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyerangan
Dharma di berikan ramuan khusus oleh Ki Sanjaya, untuk menetralisir racun yang ada di dalam tubuh nya. Bagas dan teman-teman melingkar, berdiskusi tentang langkah apa yang harus mereka ambil selanjutnya.
"Aku yakin ini pasti ulah prajurit kerajaan," kata Jaka yakin.
"Bahaya kalau kerajaan sudah turun tangan." Brata berpikir keras.
"Teman-teman, kita harus cepat mencari pewaris pusaka lain nya," kata Bagas.
"Jika prajurit kerajaan ke sini bagaimana?" tanya Brata.
"Kita bagi tugas, sebagian mengikuti melaksanakan tugas. Sisa nya menjaga disini," jelas Bagas.
"Tidak, tidak. Jika mereka datang dengan jumlah pasukan yang sedikit mungkin masih bisa di lawan. Bagaimana jika pasukan nya banyak?" bantah Jaka.
"Atau kita semua pergi dari tempat ini dulu, cari tempat persembunyian yang aman," usul Brata.
"Nah iya kak, setelah itu baru kita melaksanakan tugas." Anna setuju dengan usulan Brata.
"Kalo menurut ku ...." Alvin angkat bicara, semua memperhatikan nya.
"Kita lanjutin sarapan dulu aja kali ya," lanjut Alvin.
"Hadehhh ...." Bersamaan.
"Vin, tolong jangan becanda dulu," tegur Bagas.
"Iya Vin, kalo mau makan mah, makan aja," timpal Tiara.
"Iya maap." Alvin menundukkan kepala.
"Bentar-bentar ... kalau anggota kerajaan tau, berarti Adilaga juga tau."
"Jelas itu," sahut Brata.
"Kalau kita mau cari tempat persembunyian, mau di mana?"
"Hutan terlarang," kata Brata.
"Kenapa terlarang?" sahut Alvin.
"Alvin ..." Bersamaan melihat ke arah Alvin.
"Mereka tidak akan berani masuk ke sana"
"Kenapa?" tanya Bagas.
"Legenda mengatakan hutan itu di jaga oleh naga"
"Jadi kau belum pernah kesana?"
"Belum ... tapi kurasa kita bisa berlindung di sana"
Mereka pun berpikir sejenak, Alvin menepuk-nepuk pundak Bagas.
"Gas, Bagas."
"Ntar dulu Vin, gue lagi mikir ini," jawab Bagas.
"Kalian yakin di sana aman?" tanya Bagas.
"Ya tidak juga sih, tapi setidaknya prajurit kerajaan tidak akan berani masuk ke sana. Soal nya dahulu kala prajurit kerajaan Jantaka pernah kesana dan mereka menghilangkan," jelas Brata.
"Jak—Jaka," bisik Alvin memanggil Jaka.
"Ya sudah, kapan kita ke sana?" tanya Jaka, tidak menggubris Alvin.
"Kalo bisa secepatnya kak, aku yakin prajurit kerajaan akan mencari kita," sahut Anna.
"Temen-temen ...." bisik Alvin, namun ia tidak di gubris sama sekali.
"Tapi ... Apa kalian yakin mereka tau keberadaan kita sekarang?" Tiara mulai bicara.
"Dharma saja datang dalam keadaan seperti itu, dan jika kalian lihat luka nya masih baru. Aku yakin di perjalanan ke sini dia melawan beberapa prajurit kerajaan,"
"Iya benar, ada kemung—" Belum Brata berbicara Alvin pun memotong pembicaraan.
"Teman-teman ...!!!" Teriak Alvin.
"Apa!!" Bersamaan melihat ke arah Alvin.
"It—itu." Alvin menunjuk ke arah prajurit kerajaan yang dari tadi sudah melihat mereka diskusi.
Mereka langsung memasang kuda-kuda.
"Kenapa lo baru bilang sih?" kata Bagas.
"Ya kalian, gak mau dengerin gue," kata Alvin kesal.
Prajurit kerajaan pun tertawa, kemudian seorang punggawa kerajaan datang mendekat. Dengan sigap mereka mengeluarkan pusaka nya masing-masing.
"Eeiiitts ... sabar, sabar." kata punggawa kerajaan tersebut.
"Perkenalkan ... Saya Andaka, kalian bisa memanggil ku panglima Daka," lanjut nya.
"Mau apa kalian?" tanya Bagas.
"Kami ada urusan dengan Dharma, dia telah melanggar hukum kerajaan dan membunuh prajurit kami serta Bara," jelas Daka.
"Seorang panglima seperti mu ... turun tangan hanya untuk mengejar satu orang,"
"Iya, bawa pasukan lagi," hina Alvin.
"Tentu saja, kami baru tau dia memegang pusaka Ganjur."
"Aku tidak sebodoh itu, mana mungkin aku sendiri yang menangkap nya, sedang ia memegang pusaka legenda,"
"Pergi kalian!!" teriak Alvin.
Secara diam-diam Ki Sanjaya kabur dari pintu belakang membawa Dharma.
"Prajurit ... Periksa!" Daka memerintahkan prajuritnya untuk mengecek rumah Ki Sanjaya.
Para pendekar terlihat cemas, namun ternyata prajurit tidak menemukan siapa-siapa di dalam.
"Lapor panglima, tidak ada siapapun di dalam,"
"Hahaha, tidak ada kan. Mau apa lagi kalian?" tanya Alvin.
"Hmmm ... Kalian kira aku bodoh"
"Kau, kau dan kau." Menunjuk Jaka, Brata dan Anna, "Kalian adalah keturunan Gardapati, Gada itu milik nya kan?"
"Tapi kau tidak tau siapa aku kan?" kata Alvin.
"Iya, tidak tau. Dan tidak penting." Panglima itu menghela nafas, "Tangkap mereka!!!"
Anna berlari membawa Tiara.
"Alvin, ikutin mereka," perintah Bagas.
"Iya Gas," Alvin berlari menyusul nya.
"Hey!!! Kejar mereka!" Perintah Daka.
Bagas mengeluarkan pedang pusaka nya, Brata bersiap dengan gada besi nya, begitu juga dengan Jaka sudah siap dengan pedang nya.
Mereka melawan prajurit kerajaan, Daka hanya santai melihat mereka bertarung dari kejauhan. Dengan pusaka nya, Brata memukul prajurit tersebut hingga terpental.
Bagas pun bisa dengan mudah menghancurkan perisai mereka dengan pusaka nya. Pedang Jaka yang sangat tajam mampu memotong tangan prajurit yang menyerangnya.
Melihat prajurit nya kewalahan melawan tiga pendekar, Daka mengeluarkan pedang nya.
"Mereka bisa saja melawan prajurit ku, tetapi tidak dengan ini." Daka melompat menyerang Bagas.
Terjadi pertarungan sengit antara mereka berdua. Karena kelincahan Daka dalam menggunakan pedang nya, lengan kiri Bagas terkena sayatan pedang tersebut. Ia pun di tendang hingga tergeletak tak berdaya. Darah berceceran dimana-mana. Daka mendekati Bagas hendak menusuk nya.
Brata mengeluarkan jurus pamungkas, ia memukulkan gada besi itu ke tanah sehingga terjadi goncangan. Daka terjatuh, kemudian ia kembali berdiri.
"Mati kau!!!" teriak Daka, hendak menusuk Bagas.
"Bagas!! awas!!" teriak Jaka dan Brata.
Aaaaakkkkhhhhhh!!!
Anak panah menembus dada Daka sehingga ia terjatuh. Alvin kembali memanah nya berkali-kali hingga menembus leher nya.
Bagas berdiri, ia memejamkan mata nya. Pedang itu bergetar. Tak lama kemudian, Bagas bergerak dengan sangat cepat, dalam sekejap mata para prajurit kerajaan berjatuhan satu persatu.
Dan terakhir ia memenggal kepala Daka. Brata, Jaka dan Alvin terkejut melihat nya. Setelah itu Bagas langsung terjatuh.
"Bagas!" Alvin menghampiri nya.
Jaka dan Brata pun mendekat, Jaka bertanya pada Brata.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aman," jawab Brata
"Kita harus cepat mengobati Bagas," kata Alvin.
"Iya, Anna dan Tiara mana?" tanya Jaka.
"Aman, mereka sudah bertemu Ki Sanjaya." Alvin menggendong Bagas.
"Berat banget sih lo" lanjut Alvin.
***
Mereka beranjak menemui Ki Sanjaya dan yang lain di hutan.
"Dia kenapa?" tanya Anna terlihat khawatir.
"Tadi setelah mengeluarkan jurus, ia langsung terjatuh," jelas Alvin. Membaringkan Bagas di samping Dharma.
"Bagas ...." Tiara terlihat khawatir.
"Dia terlalu banyak mengeluarkan tenaga, butuh istirahat," kata Ki Sanjaya.
"Anna cari tanaman obat di sekitar sini," perintah Ki Sanjaya.
"Siap Ki," kata Anna. Kemudian ia melaksanakan perintah.
Hari mulai gelap, Bagas dan Dharma masih belum sadarkan diri. Anna dan Brata membuat api. Sedangkan Jaka dan Alvin mengecek keadaan rumah sambil mengambil beberapa benda berharga yang tertinggal.
"Tenang, mereka baik-baik saja. Kita doakan saja mereka cepat sadar," kata Ki Sanjaya menenangkan Tiara yang sangat khawatir.
"Bagaimana Ki? sebaiknya kita mengungsi kemana?" tanya Brata.
"Jika panglima mereka sudah mati, ada kemungkinan berita itu akan sampai ke telinga Adilaga."
Ki Sanjaya diam sejenak kemudian berkata.
"Saya tau di mana tempat yang aman untuk kita," kata Ki Sanjaya.
***
jangan lupa mampir.../Coffee//Coffee/
Kutunggu kedatanganmu.
Terima kasih
Agak bingung ngembacanya karena terlalu rapat.
...dan next up date 👍👍👍
btw, Ki Candra kok bingung 😅 sebelumnya tanya dulu Ki.. di pimpin siapa ✌️
ayam bakarnya satu ya Thor 😂😂✌️✌️
Bara! kenapa kamu jadi anak durhaka 😳 gara-gara pusaka sampe nusuk jantung Ki Candra😳
astaghfirullah 😥 cerita si Alvin ternyata 😭
next like mantap👍🏻 sambungan jejak Penduduk bunian..
saling mendukung thor
Mampir dicerita ku kak "Bunga Magnolia"
Semangat 💪💪up lagi thor
Aku mendukungmu 👍👍
Lagi seru"nya.
Tapi asli Thor, kata"nya keren habis....
terus ikuti karya aku ya thor
makasih😊