Cerita untuk 17+ ya..
Chika terpaksa harus menerima sebuah perjodohan dari orangtuanya. Perjodohan yang membuat Chika menolaknya mentah-mentah, bagaimana tidak? Dia harus menerima pernikahan tanpa cinta dari kakak pacarnya sendiri.
Kok bisa? Chika berpacaran dengan Ardi tapi dinikahkan dengan kakaknya Ardi yang bernama Bara. Seperti apa kelanjutan pernikahan tanpa cinta dari perjodohan ini? Mampukah Bara menakhlukan hati Chika? Lanjut baca Kak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rena Risma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Keesokan harinya setelah kejadian itu, Raina datang lagi. Dia tanpa malu memohon padaku, agar mengizinkan Bara menikahinya. Ingin rasanya aku menjambak rambutnya, untuk menyadarkan dia kalau di dunia ini, tidak ada satupun wanita yang rela berbagi suami.
"Chika, aku mohon. Izinkan Bara menikah denganku. Anak dalam kandunganku tidak bersalah," ucap Raina.
Air mataku kembali mengalir membasahi pipiku, menatap wanita itu dengan penuh kebencian.
"Lakukan saja apa yang kau inginkan! Kau ingin menikahi suamiku? Menikahlah, jika Bara mau menikah denganmu. Terserah!" ucapku.
"Bara harus mau menikahi ku, karena ada bayi kami, didalam perutku. Mana mungkin Bara tega membiarkan, bayi ini lahir tanpa seorang Ayah!" kata Raina sambil menatap kearah Bara.
Bara hanya diam, tangannya menggenggam erat tanganku. Ada kebimbangan dari sorot matanya, rasa iba pada anak yang ada didalam kandungan Raina.
Raina mengeluarkan kertas yang menyatakan dia benar-benar positif hamil. Tapi bagaimana bisa? Aku bingung menjelaskan semuanya. Begitupun Ibu, terlihat jelas Ibu begitu kesal dengan wanita licik yang memanfaatkan anak laki-lakinya.
"Mas, kau harus menikahi ku besok!" ucap Raina.
"Apa?" Bara kaget.
"Iya, besok. Aku mau kau menikahi ku secepatnya. Kalau tidak, aku akan menyebarkan foto-foto kita di Media Sosial agar klien-klien mu tahu, seperti apa dirimu!" ancam Raina.
Aku diam, aku hanya bisa pasrah dengan semuanya. Sebenarnya sangat sakit, benar-benar menyakitkan berada diposisi ku saat ini. Tapi aku bisa apa? Raina bahkan punya banyak cara untuk menutup mulutku.
Bara menatapku penuh kesedihan, dia masih menggenggam tanganku erat, meminta jawaban tepat yang harus dia ambil. Aku membuang pandangan, mana mungkin aku merelakan suamiku menikah lagi. Apalagi dengan wanita licik seperti Raina.
Saat suasana tegang dan mulai terasa panas, aku angkat bicara. Mataku menatap kearah suamiku, sambil menghela nafas.
"Nikahi dia. Aku izinkan Mas!" ucapku.
"Apa? Tidak, aku tidak mau!" ucap Bara menolak.
"Tapi kita bisa apa? Raina hamil dan dia mengancam, dia akan menyebarkan foto-foto mu bersamanya."
"Tapi aku tidak mau menikahinya!" tolak Bara.
"Apa kau pikir aku rela berbagi suami dengannya?" ucapku.
"Sayang, coba kau pikirkan lagi. Aku tidak ingin menikahi Raina," ucap Bara kesal.
Aku tak menjawab, aku memilih pergi meninggalkan mereka. Aku berjalan menuju taman yang tak jauh dari rumah itu. Rasanya kepalaku pusing, dadaku sakit, jika terus memikirkan tentang pernikahan suamiku. Seperti wanita tidak waras, aku rela dimadu. Bukankah lebih baik berpisah saja sekalian!
Aku duduk di kursi taman, mataku menatap tak tentu arah. Air mata terus membasahi pipiku tiada henti. Aku terkejut, tiba-tiba saja Ardi datang. Dia memberikan sapu tangannya untukku.
"Kenapa? Apa yang Kakakku lakukan, sampai kau menangis seperti ini?" tanya Ardi.
Aku tidak menjawab, tapi air mataku semakin deras. Melihat reaksiku, Ardi sontak memeluk tubuhku. Dia mengusap punggungku lembut.
"Ceritakan padaku, apa yang terjadi? Apa yang dilakukan Kak Bara sampai kau menangis begini?" tanyanya.
Aku mengusap air mataku, melepaskan pelukan hangat yang diberikan Ardi ditubuh ku. Ardi semakin bingung dengan semua kebisuan ku. Ardi mengantarku pulang, dia terlihat begitu khawatir dengan kondisiku.
"Aku mau istirahat dikamar," ucapku.
"Apa kau yakin tidak apa-apa?" tanya Ardi.
Aku hanya mengangguk sambil berlalu meninggalkan Ardi. Aku masuk kedalam kamar, tapi aku tidak melihat Bara disana. Aku menatap Alghi yang baru datang bersama Ibu Bara.
"Nak, kenapa kau izinkan Bara menikah lagi?" ucap Ibu.
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Aku benar-benar bingung," ucapku.
"Ibu ingin sekali menceritakan semua pada Bara, tapi Ibu takut Bara shock. Andai saja Bara tahu, dia tidak bisa memiliki keturunan, mungkin pernikahan mereka besok bisa dibatalkan. Raina benar-benar wanita licik, Ibu tidak rela Bara menikahi wanita sepertinya," ucap Ibu.
"Sudahlah Bu. Aku bisa melewati semua ini bersama Bara. Ibu tidak usah mengkhawatirkannya ya!" ucapku.
Aku menggendong Alghi dan menidurkan Alghi diatas tempat tidur. Aku tidur disamping Alghi sampai aku dan Alghi terlelap dalam tidur.
****
Paginya aku bangun, menatap suamiku yang digiring keluar kamar untuk dirias. Pernikahan itu benar-benar akan terjadi hari ini. Aku tidak bisa melakukan apa-apa selain ikhlas.
Aku bahkan tidak ingin keluar dari kamarku, aku tidak sanggup membayangkan pernikahan yang akan dilakukan suamiku dengan wanita lain. Tapi aku mendengar keributan dari luar kamarku, seperti suara orang berkelahi.
Aku memindahkan Alghi yang masih terlelap kedalam keranjang bayinya. Aku keluar kamar, menatap Ardi memukuli Bara.
"Kau merebut Chika dari tanganku, aku coba untuk mengikhlaskannya. Tapi sekarang, kau mau menikahi wanita lain. Kau mau mempermainkan hati Chika? Apa tidak cukup kau mempermainkan hatiku?" teriak Ardi, setelah puas memukul wajah Bara.
"Ini bukan mau ku, Chika yang memintanya," ucap Bara.
"Chika yang memintanya? Apa Chika sebodoh itu, hingga mengizinkan suaminya menikah lagi? Aku melepaskan Chika agar kau buatnya bahagia, bukan untuk melukainya. Kalau kau sampai benar-benar menikahi wanita itu, aku akan bawa Chika pergi dari sini. Aku akan menikahi Chika bahkan tanpa restu Ayah dan Ibu sekalipun," ucap Ardi sambil meninggalkan Bara.
Aku menatap wajah Bara, dia terlihat begitu tampan dengan jas pengantin yang dikenakannya. Namun hari ini, aku harus merelakan suamiku menikah dengan wanita lain. Aku harus membagi suamiku, melihatnya bersama dengan Raina. Rasanya sakit, sakit sekali! Bahkan aku tidak sanggup menatap wajah suamiku.
Bara berjalan pelan mendekat kearah ku, dia mencium tanganku sambil meneteskan air mata. Aku bisa merasakan, bahwa ini juga berat untuknya, semua ini tidak mudah untuk kami.
Acara pernikahan akan segera dimulai, namun Bara tetap tidak ingin beranjak meninggalkanku. Sampai beberapa orang pria, menarik tubuh Bara melangsungkan akad nikah. Dan inilah awal kehancuran ku!
Tiba-tiba ponselku berbunyi, ada nomor tidak ku kenal menghubungi ku. Aku masuk kedalam kamar lalu mengangkat telepon itu.
"Halo," ucapku.
"Apa ini dengan saudara Chika?" tanya laki-laki diseberang telepon.
"Iya, saya Chika. Ada apa?"
"Aku Kenji, kekasih Raina. Apa benar, Raina akan menikah dengan suamimu?" tanyanya.
"Iya, akad nikahnya akan segera dimulai," ucapku.
"Kenapa kau membiarkan Raina menikahi suamimu?" tanyanya.
"Karena Raina hamil. Dia bilang, itu anak suamiku," ucapku.
"Lalu kau percaya?"
"Apa maksudmu?"
"Aku adalah Ayah dari anak yang dikandung Raina. Raina sering mabuk, bahkan mengigau menyebut nama Bara. Entah berapa kali Raina bernafsu melakukan itu bersamaku dengan mengira aku adalah Bara. Awalnya, Raina ingin menggugurkan janin yang ada di kandungannya. Namun aku mencegah perbuatan keji Raina itu. Sampai suatu malam, Raina memintaku menyusul ke hotel tempat dia menginap. Aku lihat Bara sudah tak sadarkan diri. Dia membuka bajunya dan baju Bara, lalu memintaku untuk memfotonya. Aku tidak tahu kalau ini cara liciknya mendapatkan Bara." kata laki-laki itu.
Aku tertegun mendengar semua ucapan laki-laki itu.
"Kenapa kau diam? Hentikan pernikahan mereka," ucap laki-laki itu.
"Kau saja. Jelaskan pada mereka semua tentang kelicikan Raina. Aku sudah tahu dari awal, suamiku bukan Ayah dari anak yang dikandung Raina. Tapi aku bisa apa? Aku tidak punya bukti," ucapku.
"Aku akan dijalan menuju rumah kalian, usahakan jangan biarkan mereka menikah sebelum aku datang," ucap laki-laki itu sambil menutup teleponnya.
Ternyata suamiku bukan Ayah dari anak yang dikandung Raina. Hatiku lega rasanya, sekarang aku harus mencegah pernikahan mereka.
Aku berjalan keluar kamar, lalu mendekat kearah tempat ijab kabul. Aku sengaja mendekat kearah Ardi, aku pasang wajah sedih agar Ardi menatap kearah ku.
"Bawa aku pergi dari sini. Aku tidak sanggup menyaksikan pernikahan ini," ucapku.
Ardi mengusap air mataku, lalu mengajakku keluar rumah. Bara yang akan mengucapkan ijab qobul, tiba-tiba menghentikan pernikahan itu. Dia berlari mengejar ku yang akan pergi bersama Ardi.
"Chika, kau mau kemana?" Bara menarik tanganku kuat.
"Aku mau pergi sebentar bersama Ardi, aku tidak sanggup melihat pernikahan ini," ucapku mengulur-ulur waktu.
Mudah-mudahan Kenji kekasih Raina segera datang. Aku bingung, harus bagaimana mencegah pernikahan ini.
"Aku tidak akan pernah mengizinkan kau jalan-jalan bersama Ardi. Aku tidak ingin perasaan cintamu kembali. Aku tidak mau kehilanganmu sayang, aku tidak akan melepaskan mu." ucap Bara.
"Heh, kau berbicara seperti seorang laki-laki baik dan sangat mencintai istrimu. Padahal kau sendiri akan menikah dengan wanita lain hari ini," ucap Ardi.
"Nak, apa yang kau lakukan? Kau mau buat keributan disini?" ucap Ibu sambil menuntunku duduk disampingnya. Bara pun kembali ketempat ijab qobul.
Ya ampun, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan untuk mencegah pernikahan ini? Aku sudah kehabisan ide, aku sudah tidak bisa berpikir. Ya Tuhan, selamatkan pernikahanku.
Saat semua fokus menatap kearah Bara, suasana hening. Bara mengucapkan kalimat ijab qobul, tiba-tiba...
"Hentikan pernikahan ini!" teriak Kenji.
Bara berdiri, menatap tajam kearah laki-laki itu. Sementara Raina mulai gelisah menatap kehadiran Kenji.
"Mau apa kau?" tanya Raina sambil mendekat kearah Kenji.
"Mau menghentikan ambisi gilamu untuk menghancurkan pernikahan Bara dan Chika. Kenapa? Kau terkejut?" ucap Kenji.
"Kau..." Raina terlihat geram.
"Bara, kau tidak usah menikahi wanita ini, karena janin yang ada diperut Raina itu anakku, bukan anakmu. Raina hanya ingin menjebak mu, agar kau mau menikah dengannya."
"Cukup. Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan!" ucap Raina marah.
"Aku tidak bicara omong kosong, ini kenyataan! Kau yang menyuruhku, menaruh obat tidur dalam minuman Bara. Kau juga yang sengaja melepaskan semua pakaianmu, lalu memintaku untuk memfotonya bersama Bara. Bara tidak salah, tapi kau yang menjijikkan seperti ular," ucap Kenji.
Ibu Bara mendekat, tangannya sudah gatal ingin memberi hadiah pada wanita itu.
Plak...
"Wanita tidak tahu malu! Kau hamil dengan pacarmu, lalu meminta anakku yang bertanggung jawab. Apa kau wanita tidak waras? Harusnya wajahmu aku cakar agar kau kapok," ucap Ibu masih dengan wajah marah.
Bara mendekat kearah ku, lalu memeluk tubuhku.
"Kau tidak salah Mas. Raina ternyata sudah merencanakan ini semua untuk memisahkan kita," ucapku.
"Dan sekarang kau percaya? Aku tidak akan pernah mengkhianati cinta kita," bisik Bara sambil mengecup keningku.
Ya, permainan Raina berakhir! Aku dan Bara berhasil memenangkannya. Kini aku mengerti, sebuah ikatan pernikahan harus didasari oleh kepercayaan. Karena cinta yang dilandasi kepercayaan, akan lebih kuat dan kokoh.
Aku doublle Up Kak, untuk para Author kece dan Pembaca setia. Tinggalkan Like atau Jempol juga Vote untuk dukungan kalian.
Terimakasih.💕
Pokoknya aku ga mau .............................
Tapi Kalo Ganteng, Baik, keren 👍👍👍 Aku mau 😂😂😂