Setelah kejadian kecelakaan kerja di laboratorium miliknya saat sedang meneliti sebuah obat untuk wabah penyakit yang sedang menyerang hampir setengah penduduk bumi, Alena terbangun di suatu tempat yang asing. Segala sesuatunya terlihat kuno menurut dirinya, apalagi peralatan di rumah sakit pernah dia lihat sebelumnya di sebuah museum.
Memiliki nama yang sama, tetapi nasib yang jauh berbeda. Segala ingatan tentang pemilik tubuh masuk begitu saja. Namun jiwa Alena yang lain tidak akan membiarkan dirinya tertindas begitu saja. Ini saatnya menjadi kuat dan membalaskan perlakuan buruk mereka terutama membuat sang suami bertekuk lutut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamu istriku, aku bisa melakukan banyak hal
Plak
Plak
Dengan kedua mata yang membola, Alena menatap wajah Althaf dengan begitu murka. Kelima orang yang berada di kamar Althaf nampak tercengang dan tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Pak Ma, Dokter Alex, Gilbert, Zaldo dan Maya semua terdiam, seolah terkena ilmu sihir. Sambil memeganginya pipinya yang terasa sakit dan panas, Althaf menatap tajam. Tak menyangka Alena berani melakukan itu, terutama tenaganya yang begitu kuat saat menampar Althaf.
“ALENA CHANDRARINI!!!!” Suaranya menggelegar memecah kesunyian saat ini, napasnya memburu seakan ingin melahap wanita di depannya saat ini.
“Apa kau sudah gila Al, bisa pecah telingaku!!” balas Alena tak kalah kesal.
Lagi-lagi kelima orang itu dibuat heran seheran-herannya, bahkan Gilbert dan Zaldo saling berpandangan seolah tak percaya dengan apa yang mereka lihat.
“Kamu berani membentakku!!”
Althaf ingin mencengkram leher Alena namun di tepis kasar oleh Alena. Meskipun sadarkan diri, Alena sudah di buat kesal dan direndahkan harga dirinya. Bagaimana tidak, Althaf masuk begitu saja dan langsung menyerang serta mencium Althaf dengan brutal. Sontak hal tersebut membuat Alena begitu kesal dan terjadilah adegan pertama saat Alena menampar Althaf dua kali di pipinya.
“Kalau iya emang kenapa? Salah? Kau yang gila breng-sek!! Dasar pria mes-um. Kalau berani sini, pukul Al, pukul! Mungkin kalau aku mati baru kamu waras!!!” umpat Alena meluapkan kekesalannya.
Dibentak seperti itu, mendadak Althaf menciut bahkan emosinya mencair begitu saja. Selain karena rasa terkejutnya, Althaf pun merasa tertohok dengan ucapan Alena. Seharusnya dia tak mengikuti nafsunya dan lebih memperhatikan kondisi Alena.
“Maaf,” cicit Althaf lirih, tangannya berusaha menggenggam tangan Alena. Tapi sayang, istri pertamanya itu masih merajuk dan menepis tangan Althaf.
“Maaf, maaf, kalau semua orang setelah membuat kesalahan dengan mudahnya meminta maaf penjara kosong,” sahut Alena dengan ketus.
Wajahnya bahkan dipalingkan ke arah lain, enggan melihat ekspresi Althaf yang memelas. Dia masih merasa kesal dengan Althaf yang berlaku seenaknya meskipun dia sendiri menyukai ciuman itu.
Althaf yang kebingungan harus bersikap bagaimana mulai menyorot matanya Zaldo yang sedari tadi cekikikan melihat pria itu tak ubahnya seperti kucing kepergok mencuri. Althaf yang masih tidak terima karena Zaldo telah beraninya mencium bibir milik istri kesayangannya itu.
“Kenapa diem?” Alena keheranan melihat pria itu tak berbicara kembali, inginnya terus dibujuk sampai hatinya luluh.
Namun sayangnya Althaf pria yang memiliki sifat arogan tak akan seperti itu. Meskipun dia salah tentu akan mencari pembenaran untuk dirinya.
“Aaaalllttthhaaaaafffff!!!” teriak Alena.
“Hah, iya apa??” Althaf celingak-celinguk, baru saja perang dingin dengan Zaldo
“Jelaskan padaku kenapa tadi Mas bertindak brutal seperti tadi? Apa Mas sama sekali tidak punya malu dilihat oleh banyak orang?” cecar Alena, wajahnya sedikit memerah saat mengingat kejadian itu dilihat oleh orang lain
“Tidak, kenapa harus malu. Kamu istriku, aku bisa melakukan banyak hal. Apakah kamu lupa, bahkan aku sering menciummu, mencumbuimu di depan para pelayan?” sahut Althaf disertai kedipan mata yang penuh arti.
“HAH… APPP—” Alena menutup mulutnya tak percaya, mulai terngiang-ngiang kejadian masa lalu si pemilik tubuh.
Lintasan kejadian yang diucapkan oleh Althaf sungguh di luar batas logikanya, wajahnya memerah menahan malu. Tak menyangka banyak hal yang dilalui oleh si pemilik tubuh, terutama Althaf yang seenaknya mempermalukan dirinya dihadapan orang lain. Namun saat ini, Alena tak akan membiarkan hal itu terjadi kembali.
“Aku ingin istirahat.” Alena membalikkan tubuhnya dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
Hembusan napas berat, Althaf pun hanya memandangi istrinya yang tengah merajuk itu.
“Tuan, ini.” Gilbert memberikan tab yang telah dia otak atik sebelumnya. Dia memperlihatkan rekaman CCTV di samping rumah saat Alena tengah berada disana.
Dengan serius Althaf melihat keseluruhan rekaman tersebut untuk mencari tahu bagaimana kejadian yang menyebabkan Alena bisa tercebur ke kolam renang dan tenggelam.
Napasnya memburu saat melihat adegan dimana Diyah menendang kursi yang diduduki Alena yang menyebabkan Alena terjatuh. Namun tiba-tiba saat Alena tengah berusaha untuk bangun, muncul seseorang dari arah samping dan mendorong tubuh Alena hingga tercebur ke dalam kolam renang.
“Dimana Diyah???” geram Althaf, nyaris tab itu menjadi pusat pelampiasan emosi Althaf.
Pak Ma dan Maya saling berpandangan, mereka seolah tahu apa yang akan dilakukan oleh Althaf.
“Nyonya Diyah pergi Tu-tuan,” jawab Maya gugup, Althaf mendesis kesal.
“Gilbert, tangkap pelayan tidak tahu diri ini dan bawa ke ruangan isolasi. Ikat jangan sampai kabut. Utus beberapa orang untuk mencari keberadaan Diyah, bawa dia pulang hidup atau mati!!!”
Usai memberikan perintah, Althaf pergi keluar begitu saja. Tak mungkin dia melampiaskan emosinya di dekat Alena. Pak Ma, Maya dan Zaldo pun mengikuti Althaf. Setelah orang -orang itu pergi, Alena bangun dan berusaha untuk duduk, namun karena masih lemas diapun mengalami kesusahan.
“Terimakasih,” ucap Alena pelan, dokter Alex rupanya masih berada di kamar dan membantu Alena untuk bersandar.
“Jangan terlalu banyak gerak, hati-hati dengan infusan ini. Tunggu sampai cairannya habis maka boleh dilepas.”
Alena hanya mengangguk, terlalu canggung berinteraksi dengan dokter Alex.
Alena mengambil tab yang dilemparkan Althaf ke sisi ranjang sebelahnya. Dia pun melihat rekaman CCTV, bagaimanapun Alena juga ingin mengetahui siapa pelaku yang ingin mengambil nyawanya. Meskipun tak wajah pelaku tidak begitu jelas, namun dari seragam yang dikenakannya jelas dia adalah salah seorang pelayan di rumah ini.
Karena bosan, Alena membuka beberapa aplikasi di tab tersebut. Sayangnya tidak ada aplikasi game atau hal menarik lainnya. Namun beberapa file dokumen membuat Alena penasaran, ingin mengetahui pekerjaan apa yang sedang dikerjakan oleh suaminya itu. Barang kali ada informasi penting yang bisa Alena ketahui.
Tring
Tring
Saat Alena tengah serius membaca, terlihat pop up pesan email masuk. Rasa ingin tahu yang begitu besar membuat Alena berani membukanya. Alena tak takut jika nanti Althaf akan marah karena telah lancang membuka-buka data penting. Meskipun balasan email itu memakai bahasa Rusia, tetapi Alena mengerti dan paham apa maksud dari email tersebut.
“Apa perusahaan Althaf sedang mengalami krisis?” gumamnya usai membaca email balasan.
Diapun menjadi semakin penasaran dan mencari informasi lebih jauh di email perusahaan tersebut. Hingga akhirnya Alena menemukan sesuatu.
...⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐⭐...
lah suaminya ngga ada fungsinya.
aturan Alena Ama Gilbert aja.
ada y CEO kaya gitu.
bikin bumerang aja
yg ada tuh laki entar nyuruh Lena buat cerai.