Joshua Adrian Waldgrave patah hati mengetahui calon istrinya mencintai pria lain dan jatuh terpuruk dalam kesedihan. Ia lebih memilih menghilang selamanya dari kehidupan wanita yang dicintainya dan menutup pintu hatinya untuk wanita lain. Setelah bertahun-tahun tidak mendengar kabarnya, mantan tunangannya meninggal, karena kecelakaan.
Sementara itu ditempat lain seorang gadis bisu dan memiliki cacat di wajahnya menyimpan dendam selama bertahun-tahun terhadap orang-orang yang telah menghancurkan kehidupan keluarganya. Jalinan takdir mempertemukannya dengan Joshua yang mengharuskan pria itu terikat kepadanya, karena janjinya kepada seseorang di masa lalu yang tidak dapat ia tolak. Janji yang mengharuskannya menjaga gadis itu seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Jeanette
Miya berjalan mondar-mandir di kamarnya menunggu kedatangan Fabian. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tapi Fabian belum juga datang padahal ia menyuruhnya untuk pulang lebih cepat. Miya duduk di sofa dan matanya melihat setiap pergerakan jarum jam . Waktu terasa berjalan begitu lambat baginya. Ia kembali berdiri melongkok keluar jendela untuk mengecek apakah mobil Fabian telah datang, tapi ia harus menelan kekecewaan lagi. Miya mendesah. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubunginya sekali lagi, tapi ponsel Fabian tidak aktif dan Miya menjadi semakin kesal.
Miya kembali duduk di sofa kembali mengambil buku harian Jeanette. Dielus-elusnya buku itu. Ia memutuskan untuk mencari barang-barang Jeanette berharap wanita itu akan memberikan petunjuk tentang sprema yang ia curi dan semuanya terungkap dalam buku hariannya.
Pintu terbuka dan Fabian berdiri di ambang pintu dengan wajah lelah dan cemas. Ia cepat-cepat menghampiri Miya dan langsung memeluknya., kemudian menangkup wajah istrinya dengan tatapan penuh kecemasan. "Sayang, apa yang terjadi? Apa kamu baik-baik saja?''
"Aku baik-baik saja, jadi kamu tidak perlu mencemaskanku."
"Syukurlah,''katanya dengan lega. "Maaf tadi jalanan sangat macet. Jadi apa yang terjadi kenapa kau menyuruhku untuk cepat-cepat pulang?''
Fabian membimbing Miya untuk kembali duduk di sofa dan Miya langsung menyerahkan buku harian Jeanette kepada Fabian. Fabian menatap bingung kepada istrinya.''Apa ini?''
"Itu adalah buku harian Jeanette. Aku telah menyuruh seseorang mencari barang-barangnya di gudang lantai atas dan menemukan buku ini. Selama ini aku masih penasaran bagaimana Jeanette mendapatan donor ** dan aku berharap Jeanette akan memberitahu kita. Miya kemudian membuka halaman tentang pengakuan Jeanette dan menyuruh Fabian untuk membacanya.
Aku terpaksa mencuri sprema di rumah sakit demi mendapatkan pria yang aku cintai dan aku mengambil sprema dari seorang pria bernama Thomas Maximillian Waldgrave. Aku menyuruh John yang melakukannya dengan menyamar sebagai salah satu petugas. Tentu saja pria itu akan melakukan apa saja untukku, karena John sangat mencintaiku. Aku hanya memanfaatkan saja. Aku tidak peduli sprema milik siapa ini yang penting aku bisa hamil dan menganggap anak ini adalah anak Fabian, tapi tidak disangka aku bertemu dengan anak dari Thomas di kastil Baskerville. Joshua Adrian Waldgrave ternyata adalah kakaknya Raina, tapi aku tidak berniat mengatakan hal ini kepada siapa pun. Satu hal lagi yang sebenarnya Raina memiliki saudara kembar dan aku membuangnya ke panti asuhan St. Monica. Aku terpaksa membuangnya, karena aku cuma butuh seorang anak.
Setelah Fabian selesai membaca, mereka saling bertatapan satu sama lain.
🎵🎵🎵
Joshua kecil menggandeng tangan ibunya. Mereka berdua sedang berjalan-jalan ditaman bunga dihalaman belakang rumahnya, lalu mereka duduk di bangku taman didekat air mancur. Saat itu musim semi dan udara sangat hangat. Joshua duduk sambil memeluk ibunya, merasakan kehangatannya.''Aku sayang ibu,''bisiknya.
"Ibu juga sayang padamu."
Tangan mungilnya mengelus perut ibunya yang sudah membesar.''Aku juga sayang adikku."Ibunya hanya tersenyum, lalu mengecup puncak kepalanya.
"Kamu akan menjadi kakak yang sangat baik untuk Alliandra."
"Tentu saja. Aku akan menjadi kakak yang baik."
"Nanti setelah adikmu lahir kau harus menjaganya dengan baik kalau ibu sudah tidak ada lagi." Joshua langsung melepaskan pelukannya dan menatap ibunya dengan cemas.
"Kenapa ibu berkata seperti itu ? Ibu tidak akan pergi kemana-mana. Ibu akan selalu disampingku,''kata Joshua yang hendak akan menangis. Raut wajah ibunya terlihat sendu. Kedua tangannya menangkup wajah mungil Joshua .''Ibu akan selalu berada bersamamu dimana pun ibu berada. Kamu harus berjanji kepada ibu kalau kamu akan selalu menjaga adikmu."Joshua menganggukkan kepalanya. Ibunya mengecup dahinya dan kembali memeluknya. Joshua semakin menenggelamkan kedalam pelukan ibunya. Apa pun yang terjadi ia tidak ingin kehilangan ibunya. Tapi takdir berkata lain, Joshua harus kehilangan ibu dan adiknya keesokan harinya.
Saat itu ia dan ibunya kembali berjalan-jalan di taman belakang seperti biasanya. Ibunya duduk di bangku taman sambil mengawasi Joshua bermain . Sesekali Jossalyn tersenyum kepada Joshua saat anak itu menoleh ke arahnya. Tidak ada lima menit, Jossalyn tidak memperhatikan Joshua, anak itu telah hilang dari pandangannya. Rasa cemas mengelayuti hatinya. Ia berjalan mengelilingi taman sambil memanggil namanya. Jossalyn terlihat lega setelah melihat Joshua sedang bermain ayunan . Joshua tersenyum kepada ibunya. "Aku ada disini,'' teriaknya.Jossalyn hendak akan menghampiri Joshua ketika ia melihat tali ayunan akan terputus. "Joshua, talinya akan putus,''teriak ibunya. Joshua langsung melihat ke atas dan tali itu akan segera putus. Joshua terlihat sangat ketakutan.
"Ibu akan segera kesana."
Joshua melihat ibunya berjalan terburu-buru ke arahnya dan satu detik kemudian ibunya terjatuh tersandung pembatas tembok bunga. Jossalyn merintih kesakitan. "Ibuuuuu....''teriaknya. Air mata sudah membasahi wajahnya. Tanpa mempedulikan rasa takutnya, Joshua langsung melompat dari ayunan dan terjatuh. Joshua berusaha bangun untuk membantu ibunya tidak mempedulikan luka lecet di tangan dan di kakinya.Genangan darah disekeliling ibunya membuat Joshua merasa semakin ketakutan. Ia berlutut disamping ibunya sambil terisak menangis.'' Tolooooonggg!!!!''Joshua berteriak sekuat tenaga berharap ada orang yang mendengarnya.''Ibu bertahanlah! Ini salahku. Andai saja...''
Perkataannya terpotong oleh panggilan ibunya."Joshua...''. Tangan Jossalyn menyentuh wajahnya .''Jangan menangis!Ini bukan salahmu." Jossalyn terlihat semakin lemah.''Tidak bu, ini salahku. Ibu harus bertahan demi aku dan juga ayah."
"Maafkan ibu!''
Air mata terus mengalir di wajahnya.''Aku ingin ibu terus berada bersamaku, jadi aku kumohon bertahanlah. Aku akan memanggil bantuan."
"Ibu sangat bangga memiliki anak sepertimu. Ibu sangat menyayangimu." Tidak lama kemudian Jossalyn tidak sadarkan diri.
"Ibu...ibuuuuu....''teriaknya sambil mengguncang-guncang tubuh ibunya.''Tolooooongggg!!!''
Tidak lama kemudian muncul Emma. Pelayan itu terlihat syok dan menutup mulutnya.''Aku akan segera memanggil bantuan''kata Josepina dengan panik. Joshua terus menangis di samping ibunya dengan memeluk tubuhnya. "Kalau ibu menyayangiku, ibu jangan tinggalkan aku." Joshua akhirnya pingsan di samping ibunya.
Joshua membuka matanya. Ayahnya menatapnya cemas.''Syukurlah, kamu sudah sadar." Wajah ayahnya sekarang terlihat lega. Seakan teringat sesuatu, Joshua bangun dan melihat ke sekelilingnya. Ia berada di kamarnya sendiri dan pakaiannya sudah diganti . Kaki dan tangannya dipenuhi oleh perban.''Ibu...dimana ibu?''
Joshua menyibakkan selimutnya dan segera turun dari tempat tidur, tapi ayahnya menahannya.''Kamu harus istirahat."
"Aku ingin bertemu dengan ibu."
"Tidak sekarang."
Joshua memandang ayahnya dengan tatapan curiga.''Ibu baik-baik saja, kan?''
Ayahnya hanya diam dan wajahnya terlihat sedih.
"Apa yang terjadi dengan ibu?''
Ayahnya masih diam dan tidak mau bicara membuat Joshua merasa kesal.
"Ayaaaaahhh...''teriaknya.
Ayahnya mendekati Joshua dan kedua tangannya memegang bahu Joshua."Joshua, dengarkan ayah baik-baik! Ibumu sudah meninggal." Joshua menjauhkan diri dari ayahnya."Tidak...tidak...ibu tidak mungkin meninggal. Pasti ayah bohong, kan?''
Joshua mulai kembali terisak menangis. Ayahnya memejamkan mata, lalu menghembuskan napas panjang.
"Ayah tidak bohong. Adikmu juga meninggal. Dokter tidak bisa menyelematkan mereka berdua''.
"Tidaaaakkkk....''teriaknya, lalu pandangannya berubah gelap dan Joshua kembali pingsan dalam pelukan ayahnya.
Suara deringan ponselnya mengejutkan Joshua. Ia terbangun dengan tubuh berkeringat. Di luar hari sudah mulai gelap. Ia mengambil ponselnya di nakas dan melihat nama Fabian di layar ponselnya. "Halo!''
"Aku dan Miya akan ke rumahmu besok pagi. Ada yang ingin kami bicarakan denganmu."
"Baiklah. Sepertinya ini hal yang sangat penting sampai kalian berdua datang kesini."
"Ini memang sangat penting. Sampai jumpa besok."
Fabian langsung memutuskan sambungan teleponnya membuat Joshua terheran-heran dan merasa penasaran yang ingin mereka bicarakan dengannya. [ ]