Di wilayah Ragonves, sebuah wilayah besar di barat Kerajaan Dirvente, dua keluarga bangsawan paling berpengaruh telah terikat dalam permusuhan selama ratusan tahun. Keluarga Vincentes dan Keluarga Sienta saling menumpahkan darah demi harga diri, kekuasaan, dan dendam yang tak pernah padam.
Demi mengakhiri konflik yang berkepanjangan, kedua keluarga akhirnya menyepakati sebuah perjanjian damai. Sebagai simbol perdamaian, Grey Vincentes, pewaris Keluarga Vincentes, dipertunangkan dengan Keilla Sienta, putri kebanggaan Keluarga Sienta.
Bagi Grey, pertunangan itu adalah impian yang telah lama ia perjuangkan. Ia mencintai Keilla dan percaya bahwa hubungan mereka dapat menghapus kebencian kedua keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Surat di Balik Keheningan
Di ruang tamu kastil Ragonves, suasana terasa hening dan kaku. Udara dingin menyelimuti ruangan, seolah-olah setiap sudut dinding memancarkan aura ketegangan yang tak terlihat. Para bangsawan duduk dengan postur tegap, berbincang dengan suara pelan, sementara para pelayan bergerak tanpa suara seperti bayangan.
Keluarga Sienta mendominasi ruangan dengan kehadiran mereka yang dingin. Kenta duduk di kursi utama dengan wajah batu, matanya menatap kosong ke arah pintu utama. Belinda di sampingnya, anggun dan tenang, namun matanya tetap waspada. Keilla duduk di sisi ibunya, sesekali melirik ke arah Alarga yang berdiri di dekat jendela dengan senyum ramah.
Clarisa duduk di sudut ruangan, sendirian, dengan buku di tangannya yang tidak pernah ia buka. Matanya menatap kosong ke halaman, namun pikirannya ada di tempat lain.
Suasana masih hening. Keluarga Vincentes belum tiba. Beberapa bangsawan mulai gelisah, bertanya-tanya mengapa keluarga besar itu terlambat.
Namun, tiba-tiba...
"Permisi, Nyonya."
Seorang pelayan muda berjalan mendekati Belinda dengan langkah hati-hati. Ia membungkuk hormat, tangannya membawa dua amplop kecil berwarna krem.
"Saya disuruh seseorang untuk mengirimkan surat ini kepada Anda," ucap pelayan itu dengan suara pelan.
Belinda mengangkat alisnya, tetapi tidak menunjukkan ekspresi lain. "Terima kasih," ucapnya singkat, mengambil surat itu dengan jari-jari rampingnya.
"Ini juga ada untuk Nona Clarisa," tambah pelayan itu, memberikan amplop kedua kepada gadis pirang yang masih duduk di sudut.
Clarisa mengangguk pelan. "Baik."
Pelayan itu membungkuk sekali lagi, lalu berbalik dan pergi dengan langkah cepat.
Keilla dan Alarga saling berpandangan. Ada kebingungan di mata mereka.
"Siapa yang mengirim surat?" bisik Alarga pelan.
Keilla menggeleng. "Aku tidak tahu. Ibu jarang menerima surat di acara seperti ini."
Kenta yang duduk di kejauhan hanya melirik sekilas, lalu kembali menatap kosong ke depan.
"Kuharap aku tak punya celah berdamai dengan keluarga itu," pikirnya dingin. "Lebih baik mereka tidak datang sama sekali."
Namun, perhatian semua orang tertuju pada Belinda yang perlahan membuka amplopnya. Ia mengeluarkan selembar kertas tipis dengan tulisan tangan rapi. Matanya bergerak membaca setiap kata.
Lalu, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya terjadi.
Belinda Helrena tersenyum.
Bukan senyum sopan atau senyum palsu yang biasa ia tunjukkan di depan umum. Ini adalah senyum tulus—kecil, hampir tidak terlihat, tetapi cukup jelas bagi siapa pun yang memperhatikan.
Keilla terbelalak. Matanya membulat.
"Apa? Ibu tersenyum?" gumamnya dalam hati, tidak percaya. "Aku tidak pernah melihat ibu tersenyum seperti itu. Siapa yang menulis surat itu?"
Alarga mencondongkan tubuh ke dekat Keilla. "Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu," jawab Keilla pelan, masih menatap ibunya dengan heran. "Ini aneh. Ibu tidak pernah tersenyum. Aku bahkan tidak yakin dia punya otot untuk tersenyum."
Belinda melipat surat itu dengan hati-hati dan menyimpannya di saku gaunnya. Ekspresinya kembali datar, tetapi di sudut matanya masih ada kilatan puas yang sulit disembunyikan.
---
Di Sudut Ruangan - Balik Tirai
"Bagaimana?" bisik Vega dengan senyum puas. "Kata-kataku selalu ampuh membuat wanita mana pun pasti akan terkena bujuk rayuku. Lihat saja, Nyonya Belinda yang sedingin es pun tersenyum."
Barteil mendengus. "Itu hanya keberuntungan saja. Kau tidak mungkin bisa menaklukkan wanita seperti itu hanya dengan surat."
Vega menatap Barteil dengan tatapan tajam. "Keberuntungan? Kau pikir aku tidak punya pengalaman? Aku sudah bertahun-tahun mempelajari seni merayu wanita, Barteil. Aku tahu kata-kata apa yang membuat mereka meleleh."
"Kau hanya beruntung Nyonya Belinda sedang dalam suasana hati yang baik," sanggah Barteil, meskipun di dalam hatinya ia mulai mengakui bahwa Vega memang memiliki bakat.
Vega tersenyum kecut. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang penting, target pertamaku berhasil."
Namun, perhatian mereka segera beralih ke sudut lain ruangan.
Clarisa, dengan ekspresi datar, membuka amplopnya. Ia membaca surat itu selama beberapa detik. Wajahnya tidak berubah—tetap tenang dan dingin.
Lalu, tanpa ekspresi, ia merobek kertas itu menjadi dua, lalu menjadi empat, lalu menjadi delapan.
Ia melemparkan potongan-potongan kertas itu ke atas meja di sampingnya, lalu kembali membaca bukunya.
"Membuang waktu saja," ucapnya pelan, nyaris tidak terdengar.
Barteil yang melihat dari kejauhan hampir pingsan. Matanya membelalak, wajahnya pucat.
"Tidak... bagaimana mungkin Nona Clarisa tidak tersenyum?" gumamnya, suaranya bergetar karena kecewa. "Aku sudah menulis puisi terbaik yang pernah aku buat! Aku menghabiskan tiga malam untuk itu!"
"Inilah mengapa pengalaman tidak pernah berbohong," kata Vega sambil menepuk pundak Barteil dengan gaya sok bijak. "Kau lihat? Tidak semua wanita bisa ditaklukkan dengan puisi murahan."
Barteil menatap Vega dengan mata menyala. "Tapi aku penasaran, apa yang kau tulis di surat itu? Apa rahasiamu?"
Vega tersenyum misterius. "Aku hanya menulis puisi kehidupan."
"Puisi kehidupan?" Barteil mengerutkan kening. "Apa bedanya dengan puisi cinta?"
Vega menepuk dahinya dengan frustrasi. "Dasar bodoh. Puisi kehidupan itu tentang perjalanan, tentang makna, tentang hal-hal yang dalam. Puisi cinta itu terlalu klise dan membosankan. Wanita seperti Nyonya Belinda sudah bosan dengan kata-kata cinta murahan. Dia butuh sesuatu yang lebih... dewasa."
Barteil terdiam, mencerna kata-kata Vega. Lalu wajahnya berubah masam.
"Jadi... itu penyebab Nona Clarisa merobek suratku? Karena aku menulis puisi kehidupan dan bukan puisi cinta?"
"Tentu saja," jawab Vega enteng. "Kau mengirim puisi kehidupan ke gadis muda seperti Nona Clarisa? Dia ingin mendengar kata-kata manis, bukan kata-kata bijak. Kurasa kau perlu kuajari cara melumpuhkan banyak wanita."
Barteil mendengus kesal. "Untuk apa aku harus belajar darimu? Kau kan jomblo. Jadi jangan mengajariku tentang percintaan."
Vega hampir menendang Barteil, tetapi segera mengurungkan niatnya setelah sadar mereka berada di dalam kastil yang penuh prajurit.
"Baiklah," desisnya pelan, "kita fokus mengawasi mereka. Dan satu lagi..." ia menatap Barteil dengan tatapan mengancam, "...jangan buat kesalahan lagi, atau kau kukirim ke medan perang."
Barteil menelan ludahnya. "Aku janji," ucapnya cepat. "Tapi tolong, jangan jadikan aku prajurit perang. Aku lebih baik jadi pelayan seumur hidup daripada bertempur."
Vega hanya tersenyum sinis. "Terserah kau."
Mereka kembali mengalihkan perhatian ke ruang tamu.
Belinda masih duduk dengan anggun, sesekali menyentuh saku gaunnya tempat surat itu tersimpan. Di sudut lain, Clarisa tetap membaca bukunya, tidak peduli dengan siapa pun di sekitarnya.
Kenta masih diam, menunggu kedatangan keluarga Vincentes.
Dan di antara semua itu, Keilla menatap ibunya dengan tatapan penuh curiga.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" pikirnya gelisah. "Ada sesuatu yang tidak beres."
Di balik tirai, Vega tersenyum kecil. Rencananya mulai berjalan.