Pria, 30 tahun. keturunan gelap dari pewaris utama klan, terpaksa menikah untuk memangkas opini keluarga tentang kehidupannya dan demi kesepakatan-kesepakatan lainnya demi menjaga kehormatan klan.
"Bagian mana dari tubuhku yang membuatmu tak pernah berselera untuk menyentuhnya," protes Dorrota sambil menanggalkan seluruh pakaiannya.
"Aku bukannya tak berselera, tapi..."
"Jadi benar kabar yang kudengar, kamu memiliki wanita lain. Ah, bukan! tapi Pria lain!"
"Aku tidak peduli apapun yang kamu pikirkan, kesepakatan tetaplah kesepakatan. Ingat batasanmu!" ucap tegas Math Male meninggalkan Dorrota yang terisak dalam kemarahan dan kekecewaannya.
mampukah Dorrota mengambil hati Math Male?
ataukah Math Male akan menemukan hati yang lainnya?
.......
Hallo reader, karya ini hanya berdasarkan imajinasi author sepenuhnya. jika ada kesamaan nama tokoh, latar atau kejadian, hanya merupakan kebetulan yang tidak disengaja.
selamat membaca,
Salam, author Yoshua,
Semoga Semua Bebahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 26
Sebelumnya, saat Math berjalan di lobi, Kallida memperhatikannya hingga Math memasuki kamar Dorrota. Timbullah rasa kesal dan iri di dalam hati Kallida.
"Tak akan kubiarkan gadis Codi itu mendapatkan tempat istimewa di sini." Kallida meremas kepalan tangannya.
Kallida mempercepat langkahnya, menuju ke kamar Usstica, membuka pintunya dengan kasar. "Di malam pengantin, kamu kenapa sendirian?" Kallida bertanya dengan tidak sabar.
Usstica mendeka"Memangnya harus dengan siapa, Ibu?" Usstica mengalungkan lengannya, sedikit bermanja dan bergelayut pada ibunya yang tiba-tiba datang berkacak pinggang.
Kallida menghela napas dengan kasar, "Apakah Math tidak mengunjungimu?" Kallida mengusap lembut kepala putrinya.
"Kakak harus istirahat, Ibu. Hari-hari ini sepertinya sangat melelahkan untuknya."
"Tidak bisa seperti itu! Kamu jangan mudah mengalah dengan wanita Codi itu! Ibu tidak akan merelakan penerus pada orang lain lagi."
Usstica menuntun ibunya agar duduk dengan nyaman di ranjang Usstica, "Ibu ini bicara apa? Sudah bersyukur kakak mau membersihkan namaku untuk anak yang aku kandung. Aku tidak akan menuntut apapun lagi pada Kak Math."
Kallida mendengus kesal, memutar manik mata dengan kesal, "Usstica, kamu itu putri ibu, kamulah yang akan melahirkan pewaris selanjutnya, jadi jangan bersikap bodoh!"
"Ibu, apa maksud ibu?"
"Kamu terlalu naif seperti ayahmu! Kamu tidak pernah mengerti bagaimana hidup ini akan menginjak mu jika kamu tidak memiliki status apapun, jangan melawan ibu! Ingat dan lakukan semua yang ibu perintahkan!"
Kallida beranjak menuju dapur kecil Usstica, lalu membuat secangkir teh untuk putrinya, hanya saja ada yang tak benar dari yang dilakukan Kallida kali ini, ia mengambil sebuah bungkusan kecil dari sisi pinggang pengikat gaunnya, dan mencampurkannya pada teh yang ia buat.
"Ibu, jangan berburuk sangka pada Kak Math, dia melakukan itu semua karena sangat menghormati ibu, percayalah dia akan melindungi kita seperti apapun keadaan kita nantinya!" teriak Usstica meluruskan kedua kakinya di atas ranjang.
"Kamu tidak pernah tahu apa kata orang-orang yang membenci keluarga kita, semua karena ulah bodoh ayahmu! Semua penghinaan mereka harus kita balas Usstica, jangan mengikuti ayahmu yang pengecut! Kamu harus menjaga baik-baik penerus yang ada dalam darahmu saat ini. Jika kamu menyayangi ibu, lakukan saja semua yang ibu katakan, dan jangan membantah!"
"Ibu, Kak Math memiliki putri Codi sebagai permaisuri, dan aku tidak ...."
"Minumlah teh ini, dan istirahatlah." Kallida memotong ucapan Usstica, menyerahkan gelas teh yang dibuatnya tadi, "Jika kamu menolak keinginan ibu, maka kamu tidak akan bisa melihat ibu lagi, ibu tidak akan membiarkan gadis Codi itu melahirkan pewaris. Hanya cucu dari darah dagingku yang akan menjadi pewaris selanjutnya."
Usstica terperangah dengan ucapan sang ibu, ia tidak pernah menyangka akan pemikiran sang ibu. Usstica merasa terjebak diantara jurang dengan tebing yang begitu curam. Ia tidak akan mengkhianati cinta ibunya, namun ia juga sangat menghormati kakak tirinya. Usstica menenggak pelan teh yang diberikan sang ibu, tentu tanpa memiliki sedikitpun rasa curiga.
"Kenapa teh buatan Ibu rasanya sedikit berbeda? Seperti ada aroma aneh tercium," batin Usstica namun tetap menelan teh yang terlanjur penuh di rongga mulutnya. "Ah, ternyata seperti ini efek seorang wanita hamil muda, begitu peka dengan bau yang mungkin sebenarnya setiap hari sudah biasa." Usstica sepertinya menemukan jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.
"Tapi Bu, kenapa kak Math tidak boleh memiliki keturunan dari Dorrota? Memangnya apa yang akan Ibu lakukan?"
...****************...
To be continue...
Makasih juga buat bang yosh,keren novelnya, walaupun kadang2 bikin pengen demo wkwk 🤣 semangat terus bang,ditunggu karya2 selanjutnya 😄 jangan bikin yang sad ending Mulu bang hehe
tapi masih kurang sebenarnya... masih belum sebanding sama kejahatan yang dilakukan Kallida 😣