Demi pengobatan sang ibu, Bella rela menjadi simpanan Steven, CEO PT. Graha Sanatama. Namun, jodoh dan maut di tangan Tuhan. Sang ibu tetap tak dapat diselamatkan.
Setelah ibunya meninggal, Bella melepaskan diri dari Steven. Namun, takdir kembali mempertemukan mereka ketika Bella diperkenalkan kepada keluarga Axel, kekasih barunya. Tanpa di sangka ternyata pria itu adalah adiknya Steven.
Steven cemburu melihat kemesraan Axel dan Bella. Dia nekat merebut kembali Bella dari adiknya itu.
Apakah takdir tetap mempersatukan Bella dan Steven, sedangkan ada hati lain di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Enam
Steven membeli banyak makanan sebelum kembali ke rumah tempat Bella saat ini berada. Dia sudah tak sabar ingin melihat senyum wanita itu saat memakan semua kue kesukaannya ini.
Sebelum sampai ke rumah, dia juga membelikan es krim. Jam telah menunjukan pukul sembilan malam saat Steven sampai. Dia langsung keluar dari mobil.
Han yang membukakan pintu, tak menyangka jika sang atasan langsung kembali dari kota. Bukankah pria itu mengatakan akan menginap dulu.
"Bapak pulang juga hari ini, aku pikir besok," ucap Han.
"Memangnya kenapa kalau aku pulang hari ini?" tanya Steven. Dia bukannya menjawab ucapan Han tapi justru bertanya.
"Nggak kenapa-napa, Pak. Saya juga cuma tanya saja," ucap Han selanjutnya.
"Apa Bella sudah tidur?" tanya Steven selanjutnya.
"Sepertinya sudah, Pak. Seharian ini ibu tak ada keluar rumah,"jawab Han.
Steven lalu menyerahkan semua makanan yang dia beli ke Han untuk di simpan ke kulkas. Dia langsung masuk ke kamar utama yang berada tak jauh dari ruang keluarga.
Saat membuka pintu, dia langsung melihat sang istri yang telah tertidur dengan pulas nya. Steven mendekati dan mengecup pelan takut membangunkan.
Setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Barulah Steven ikut berbaring. Memeluk sang istri dengan lembut.
"Sayang, mulai hari ini aku janji akan berusaha bersikap manis. Aku ingin kamu memandangku sebagai suamimu, bukan sebagai teman ranjang saja," bisik Steven.
**
Pagi-pagi sekali Bella terbangun dan melihat ke samping sudah ada suaminya itu. Padahal Steven mengatakan akan menginap di kota. Bella tersenyum. Dia lalu berkeinginan membuat sarapan di hari pertamanya sebagai seorang istri.
Bella segera bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke dapur dengan mengenakan piyama yang nyaman dan rambutnya masih terurai. Dia membuka pintu dapur dan langsung terkena aroma kopi segar yang menggoda dari mesin kopi otomatis.
Begitu Bella berdiri di depan mesin kopi, di kejauhan dia mendengar suara. Steven akhirnya mulai bangun dan Bella tahu ini adalah momen yang sempurna untuk membuat kejutan pagi ini.
Steven yang masih mengantuk mengernyitkan keningnya, dia tak melihat sang istri. Tapi terdengar suara sedikit ribut di luar kamar. Dia penasaran dan ingin melihatnya. Pria itu bangun dan langsung menuju dapur.
"Wah, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Steven sambil mengucek matanya.
Bella tersenyum penuh semangat saat melihat Steven hadir di hadapannya.
"Aku ingin membuat sarapan istimewa untukmu hari ini, Bang. Duduklah dan nikmatilah," jawab Bella sambil menunjuk ke arah kursi di meja makan.
Steven tersenyum dan mengangguk, mereguk kehangatan dan kebaikan hatinya yang terpancar dari Bella pagi itu. Dia duduk di kursi dan menatap Bella dengan penuh kekaguman. Selama menikah dengan Nicky tak pernah wanita itu memasak untuknya.
Bella segera bergerak dengan sigap di dapur, mengambil bahan-bahan yang sudah dia persiapkan semalam untuk sarapan istimewa ini. Dia mulai menyiapkan pancake dengan hati-hati, mencampurkan tepung dengan telur, susu, dan remah-remah cokelat.
"Kamu mau kopi atau jus jeruk sebagai minuman pagimu, Bang?" tanya Bella sambil terus mengocok adonan pancake.
"Hmm, aku akan memilih kopi. Aromanya telah membangunkanku sepenuhnya," jawab Steven dengan senyum lebar.
Bella segera meracik secangkir kopi dan dengan ceria menempatkannya di depan Steven. Dia kemudian melanjutkan proses memasak pancake sambil bicara dengan Steven.
Setelah pancake selesai dimasak, Bella dengan penuh kehati-hatian meletakkannya di piring bersama dengan buah-buahan segar dan sedikit taburan gula bubuk di atasnya.
Dengan hati berdebar, Bella membawa hidangan lengkap ke meja makan. Dia merasa puas melihat ekspresi Steven yang terkesan dengan sarapan yang dia persiapkan. Momen ini adalah salah satu alasan mengapa Bella mencintai pagi hari.
Tanpa menunggu lama, Steven segera memotong pancake dan mencicipi hidangan yang Bella buat. Dia terkejut dengan rasanya yang sempurna.
"Ini luar biasa, Bella! Rasanya benar-benar istimewa," puji Steven dengan balasan senyum manis.
Bella tertawa bahagia mendengar pujian dari suaminya. Ini membuatnya semakin yakin bahwa sarapan pagi ini adalah keputusan yang tepat. Baru kali ini dia mendengar pujian dari pria itu. Mereka melanjutkan makan dengan penuh kehangatan, menuai momen romantis yang mereka rasakan satu sama lain.
Steven tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia karena akhirnya bisa merasakan yang namanya berumah tangga. Selama dengan Nicky dia tak pernah sarapan dengan masakan wanita itu.
Setelah sarapan selesai, Steven mengajak sang istri mandi. Setelah berpakaian rapi dia lalu membawa Bella untuk duduk di taman belakang rumah. Hari ini dia ingin menghabiskan waktunya seharian hanya berdua dengan wanita itu. Rasanya hidup Steven berubah setelah mendengar wanita itu mengandung anaknya.
Steven membawa kepala Bella untuk bersandar di bahunya. Dia lalu mengusap rambut sang istri.
"Aku sudah tak sabar ingin melihat wajah anakku," ucap Steven sambil mengusap perut Bella yang masih rata.
"Aku baru hamil enam minggu, Bang. Masih lama. Lagi pula kehamilan muda masih rentan dengan keguguran," ucap Bella pelan.
Dia takut memberikan banyak harapan pada pria itu. Jika hasil tak sesuai keinginan, dia takut nanti akan jadi kecewa bagi sang suami.
"Kau harus bisa menjaganya! Aku ingin anak aku lahir!" ucap Steven penuh penekanan.
Bella menarik napas dalam. Baru tadi saat sarapan dia bicara manis-manis, saat ini kembali menekannya.
Steven melihat perubahan wajah wanita itu. Dia lalu kembali mengecup pipi Bella.
"Aku bukannya marah denganmu, aku ingin kau menjaga anak kita. Aku sangat mengharapkan kehadiran anak dari dulu," ucap Steven akhirnya.
"Bang, aku masih takut dengan pernikahan ini. Bagaimana jika istrimu dan keluarga Abang tau, pasti dia akan sangat kecewa," ucap Bella.
Dia tak berani membayangkan apa reaksi Axel dan Mama Marni jika mengetahui dia dan Steven telah menikah.
Tiba-tiba keduanya dikejutkan dengan suara tepukan tangan. Dan lebih mengejutkan setelah tahu siapa yang datang itu.
"Ternyata pencuri kecil itu adalah kamu! Kejutan sekali, kau datang sebagai kekasih Axel tapi menikah dengan suamiku Steven," ucap Nicky dengan suara lantang.