Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaring Kelam di Balik Kabut
Rencana busuk yang ditenun oleh Rei di dalam gubuk tua perbatasan segera bergerak seperti ular yang merayap di bawah dedaunan kering. Tanpa membuang waktu hingga tenaganya pulih sepenuhnya, Rei memanfaatkan sisa-sisa jaring informannya yang masih setia di dalam benteng timur. Baginya, setiap detik yang berjalan adalah kesempatan bagi Hana untuk memperkuat posisinya di sisi Kai.
Tiga hari setelah malam kehancuran aula utama, suasana di benteng timur tampak menipu. Para pelayan mulai membersihkan puing-puing batu, sementara atmosfer ketenangan yang dibawa oleh hilangnya hawa panas naga membuat para penghuni benteng bernapas lega. Namun, di balik ketenangan itu, mata-mata Rei telah berhasil menyelundupkan sebuah pesan palsu yang ditujukan langsung kepada Hana.
Sore itu, kabut tipis mulai turun menyelimuti hutan bambu di perbatasan barat benteng. Hana berjalan seorang diri, langkah kakinya yang anggun memecah kesunyian dedaunan kering. Di tangannya, ia memegang selembar perkamen kecil, sebuah pesan yang mengatakan bahwa salah satu utusan kuil suci dari klannya terluka di batas hutan dan membutuhkan pertolongan spiritualnya. Sebagai seorang gadis suci, Hana tidak bisa mengabaikan panggilan tersebut, meskipun hatinya sempat diselimuti secercah keraguan.
"Kau terlalu mudah percaya pada tulisan di atas kertas, Adik Seperguruan."
Suara langkah kaki yang diseret pelan membuat Hana menghentikan langkahnya di tengah jalan setapak yang dikelilingi batang-batang bambu hijau. Dari balik kabut, Mai muncul dengan jubah merah kecokelatannya yang kini telah bersih, meski lengannya masih terbalut kain kasa. Senyum liarnya kembali menghias bibirnya, namun kali ini, tatapannya benar-benar dingin, memancarkan niat membunuh yang tak lagi disembunyikan.
Hana refleks mundur satu langkah, tangannya langsung bergerak ke arah sanggul rambutnya, bersiap menarik tusuk konde emasnya. "Mai... jadi pesan itu adalah jebakanmu?"
"Jebakanku? Oh, bukan," Mai terkekeh pelan, melangkah maju sambil memutar belati kecilnya dengan ritme yang lambat namun mematikan. "Aku hanya bagian dari eksekusi. Otak di balik semua ini adalah Rei. Kau tahu sendiri betapa wanitamu yang satu itu sangat membenci orang yang merusak rencana politiknya."
Sebelum Hana sempat membalas, desiran angin kencang berembus dari arah belakangnya. Rei melangkah keluar dari balik rimbunnya pohon bambu, memotong jalan pulang Hana menuju benteng. Di tangannya, Rei memegang sebuah busur panah pendek dengan ujung anak panah yang telah dilumuri cairan hitam pekat, racun pelumpuh saraf yang biasa digunakan untuk memburu binatang buas di pegunungan perbatasan.
"Kau melangkah terlalu jauh, Hana," ucap Rei dengan nada datar yang mengerikan. "Kau pikir dengan memenangkan hati Kai, kau bisa menguasai kekuatan Naga Merah itu sendirian untuk klan selatanmu? Kau adalah penghalang besar bagi masa depan benteng ini."
Hana menatap bergantian ke arah Mai dan Rei. Posisinya benar-benar terkepung di tengah hutan bambu yang sepi, jauh dari jangkauan para penjaga benteng. Namun, alih-alih menunjukkan ketakutan, Hana justru menegakkan bahunya, memancarkan pendar cahaya keemasan tipis dari pusaka di tangannya.
"Kalian benar-benar buta oleh keserakahan," sahut Hana, suaranya terdengar jernih namun sarat akan ketegasan. "Kekuatan yang kalian incar itu bukan sesuatu yang bisa kalian kendalikan dengan kelicikan. Jika kalian berniat membunuhku demi menguasai naga itu... kalian hanya akan mendatangkan kehancuran bagi diri kalian sendiri!"
"Kita lihat saja siapa yang akan hancur terlebih dahulu," potong Rei dingin.
Tanpa peringatan lebih lanjut, Rei menarik tali busurnya hingga maksimal, mengincar tepat ke arah dada Hana. Di sisi lain, Mai merendahkan tubuhnya, bersiap melesat maju untuk memastikan belatinya mengunci pergerakan sang gadis suci begitu anak panah dilepaskan. Jaring kelam telah sepenuhnya rapat, dan di tengah kabut hutan bambu yang kian pekat, nyawa Hana berada di ujung tanduk tanpa ada yang tahu.
___---:...🐲🐲🐲...:---___
Sing!
Tali busur Rei terlepas dengan suara dengingan nyaring yang membelah keheningan hutan bambu. Anak panah beracun itu melesat lurus, memotong kabut dengan kecepatan yang hampir tak kasatmata, mengincar tepat ke arah jantung Hana. Di saat yang sama, Mai menjejakkan kakinya ke tanah dengan daya ledak tinggi, menerjang maju dari sudut kiri dengan belati yang siap menyapu ruang gerak Hana jika gadis itu mencoba menghindar.
Hana mengatupkan rahangnya. Di bawah tekanan maut yang datang dari dua arah, ia tidak melompat mundur. Tangan kanannya dengan cepat menarik tusuk konde emas dari sanggul rambutnya, membuat rambut perak panjangnya terurai bebas diterpa angin. Ia menghentakkan ujung pusaka itu ke tanah sembari merapalkan mantra perlindungan kuno kuil selatan.
TUK!
Sebuah dinding pendar keemasan murni setebal telapak tangan bangkit tepat satu jengkal di depan dadanya.
CRAAK!
Anak panah Rei menghantam dinding tersebut, pecah menjadi dua bagian dan meneteskan cairan racun hitamnya yang mendesis saat menyentuh energi suci Hana. Namun, hantaman itu begitu kuat hingga membuat pertahanan Hana retak. Tepat pada detik keretakan itu terjadi, Mai sudah berada di dekatnya. Belati Mai berputar turun, menebas pergelangan tangan Hana dengan kecepatan yang mengerikan.
"Terlalu lambat, Adik Seperguruan!" seru Mai dengan tawa liarnya.
Jleb!
Bukan suara belati yang menembus kulit yang terdengar, melainkan suara benturan keras logam yang tertahan oleh sesuatu yang membara. Sebuah cengkeraman tangan berkulit kokoh mendadak muncul dari balik kabut, menangkap pergelangan tangan Mai yang memegang belati tepat satu inci sebelum mengenai kulit Hana.
Hawa panas yang sangat pekat, namun terasa begitu akrab di indra penciuman Hana, mendadak memenuhi seluruh area hutan bambu. Kabut tipis di sekeliling mereka langsung menguap menjadi udara kering.
Hana terengah-engah, menatap sesosok pemuda yang kini berdiri di sampingnya dengan napas menderu. "Kai...?"
Kai tidak menoleh pada Hana, matanya yang hitam jernih kini menatap Mai dengan pandangan yang sangat menusuk. Meskipun Naga Merah telah pergi dari tubuhnya, insting bertarung dan sisa-sisa energi api yang telah menyatu dengan jiwanya selama belasan tahun membuat pergerakannya tetap tak tertandingi.
"Kau pikir aku akan membiarkanmu menyentuhnya lagi, Mai?" suara Kai terdengar rendah, bergetar oleh amarah yang tertahan.
Cengkeraman tangan Kai pada pergelangan tangan Mai mendadak memancarkan energi panas alami yang membuat Mai memekik kesakitan. Mai terpaksa melepaskan belatinya dan menggunakan kaki kirinya untuk menendang dada Kai demi membebaskan diri. Kai menangkis tendangan itu dengan lengan kirinya, mendorong Mai mundur hingga wanita liar itu terhuyung beberapa langkah ke belakang.
Rei yang berdiri di seberang jalan setapak melebarkan matanya, tangannya yang hendak mengambil anak panah kedua mendadak membeku. "Bagaimana bisa... Bagaimana kau bisa tahu kami berada di sini?!"
Kai melangkah maju, berdiri sepenuhnya di depan Hana, memosisikan dirinya sebagai perisai hidup. "Kau lupa bahwa ini adalah hutan perbatasan bentengku, Rei? Setiap hembusan angin yang membawa bau racun murah milikmu akan selalu sampai ke telingaku."
Kai mengepalkan kedua tangannya. Meskipun tidak ada lagi retakan merah menyala di kulitnya atau raungan naga yang mengguncang bumi, aura keberanian seorang pemimpin sejati terpancar kuat dari tubuhnya. Ia tahu mereka berdua belum menyadari bahwa naga itu sudah pergi, dan ia akan menggunakan ketidaktahuan itu untuk menghancurkan mereka.
"Kalian berdua telah melakukan kesalahan terbesar dengan memancingku keluar ke tempat ini," ucap Kai, suaranya bergema penuh wibawa di antara batang-batang bambu yang bergesek gundah. "Malam itu aku melepaskan kalian. Tapi hari ini... hutan ini akan menjadi tempat di mana kelicikan kalian akan terkubur selamanya."