Velicia, seorang wanita yang sedang hamil delapan bulan, dipermalukan dan disiksa oleh suaminya sendiri. Michael adalah Bos Mafia yang lebih mempercayai wanita lain bernama Sania, dibanding istrinya sendiri.
Dituduh tanpa bukti dan dipaksa berlutut di depan wanita yang membencinya, Velicia akhirnya menyadari bahwa cinta yang ia perjuangkan selama dua tahun hanyalah ilusi.
Namun Michael tidak tahu satu hal, Velicia bukan wanita biasa. Di balik diam dan lukanya, ia menyimpan identitas tersembunyi sebagai bagian dari dunia mafia yang jauh lebih gelap dari keluarga Kensington.
Saat Michael akhirnya menyesal, akankah Velicia memaafkannya dan kembali padanya? Atau memilih pria lain yang datang di waktu yang tepat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 4.
Kini sudah satu minggu sejak Velicia meninggalkan mansion Kensington. Dalam satu minggu itu, Michael hampir tidak pernah pulang sebelum tengah malam. Organisasinya sedang bermasalah, dan masalah yang datang silih berganti tanpa memberinya kesempatan bernapas.
Di ruang rapat utama, suasana kembali tegang.
"Tuan, pihak pelabuhan timur resmi menghentikan kerja sama."
Michael mengangkat kepala, ia memijit pelipisnya yang terasa nyeri. "Bagaimana dengan pelabuhan selatan?"
"Menolak bertemu."
"Bandara kargo?"
"Masih belum memberikan jawaban."
Michael menekan pelipisnya, biasanya urusan seperti ini tidak pernah serumit sekarang. Satu telepon sudah cukup, satu perintah darinya semaunya selesai. Namun sekarang, semua pintu seperti tertutup bersamaan. Dan yang paling mengganggunya adalah tidak ada musuh yang terlihat. Tidak ada serangan terbuka, hanya jaringan yang perlahan berhenti bekerja. Seolah-olah seseorang sedang mencabut akar pohon organisasi miliknya, sedikit demi sedikit.
"Tuan." Seorang bawahan masuk tergesa-gesa. "Kita kehilangan dua investor lagi."
Michael langsung berdiri. "Apa?!!"
"Mereka menjual seluruh sahamnya dan menarik dana."
"Alasannya?!"
"Tidak ada."
BRAK!
Meja rapat bergetar ketika tinju Michael menghantam permukaannya. Semua orang menunduk ketakutan, tak seorang pun berani bicara.
Sementara itu, di mansion Kensington. Sania duduk sendirian di ruang keluarga. Wajahnya muram, karena sudah tiga hari Michael tidak makan malam bersamanya. Bahkan, Michael tidak menemaninya memeriksa kandungan. Pesan-pesannya sering dibalas beberapa jam kemudian.
Situasi itu membuatnya tidak nyaman, sebab selama ini perhatian Michael selalu tertuju padanya. Namun sekarang berbeda, pikiran pria itu dipenuhi masalah lain. Dan Sania tidak menyukainya.
Saat mendengar suara langkah kaki, wajahnya langsung berbinar.
"Michael!"
Namun ekspresinya kembali membeku, yang datang ternyata bukan Michael melainkan kepala pelayan.
"Nyonya Sania, Tuan Michael mengatakan beliau akan pulang larut malam."
Lagi?
Sania mengepalkan tangannya. "Dia bekerja setiap hari."
Kepala pelayan memilih diam, karena semua orang di mansion tahu. Bos mereka sedang berada dalam tekanan besar.
Malam itu...
Michael akhirnya pulang menjelang pukul satu dini hari. Saat masuk ke kamar utama, ia langsung melepas jasnya. Tubuhnya terasa lelah, pikirannya lebih lelah lagi. Dia berjalan menuju kamar mandi, tapi langkahnya berhenti. Tidak ada handuk yang sudah disiapkan, dan tak ada pakaian tidur yang sudah digantung rapi.
Kini tidak ada apa-apa, Michael terdiam beberapa saat. Ia menyadari jika Velicia memang tidak pernah ikut campur urusan organisasinya, tapi wanita itu selalu mengurus hidupnya. Hal-hal kecil yang tidak pernah dia perhatikan, sesuatu tentang wanita itu yang selama ini dia anggap biasa. Sampai... semuanya kini hilang.
...*****...
Di apartemen pribadinya, Velicia baru selesai membaca laporan. Pria berjas hitam yang selalu mendampinginya berdiri di depan meja.
"Nona."
Velicia mengangkat kepala. "Ada apa?"
"Organisasi Kensington kehilangan dua investor lagi."
Velicia mengangguk pelan, dia tidak terkejut.
"Itu baru awal."
Pria itu tersenyum tipis. "Anda benar-benar tidak berniat memberi ampun?"
Velicia menutup dokumen di depannya.
"Apa Michael memberiku ampun saat memaksaku berlutut?"
Pria itu langsung diam, jawabannya sudah jelas.
Velicia menatap keluar jendela, lampu kota terlihat seperti lautan cahaya. Dulu ia menggunakan pengaruh keluarganya untuk membuka jalan bagi Michael. Kini, dia membalikkan keadaan. Dan efeknya sudah mulai terlihat, karena Michael tidak pernah sadar bahwa sebagian besar pintu yang terbuka selama ini bukan karena hasil pria itu sendiri. Melainkan karena dia lah yang diam-diam memegang gagang pintu tersebut dari belakang... demi kesuksesan pria itu.
Pagi berikutnya...
Michael menerima laporan yang membuat wajahnya semakin gelap.
"Tuan, keluarga mafia Morcante menolak undangan pertemuan."
Michael mengangkat kepalanya dengan wajah tegang. "Itu tidak mungkin."
Morcante adalah sekutu lama keluarganya, hubungan mereka sudah terjalin bertahun-tahun.
"Mereka mengirim pesan."
"Apa isinya?"
Bawahan itu menelan ludah. "'Untuk sementara, kami tidak ingin terlibat dalam urusan keluarga Kensington.'"
Michael langsung berdiri, kursinya bergeser keras. Ini benar-benar bukan lagi masalah bisnis biasa, seseorang sedang membuat keluarganya dijauhi. Dan orang itu memiliki pengaruh besar, sangat besar.
Siang hari.
Sania datang ke kantor Michael tanpa pemberitahuan. Begitu masuk, ia melihat pria itu sedang memeriksa tumpukan dokumen. Lingkar hitam mulai terlihat di bawah matanya.
"Michael."
Pria itu hanya mengangguk sekilas. "Ada apa?"
"Aku merindukanmu." Sania tersenyum manis.
"Aku sedang sibuk." Michael masih membaca laporan, dia sama sekali tak melirik ke arah wanita itu.
Sania membeku, biasanya Michael akan langsung memeluknya. Pria itu akan meninggalkan pekerjaan untuk menemaninya, tapi kali ini tidak. Pria itu bahkan tidak mengangkat kepala untuk sekedar menatap dirinya.
"Michael..."
"Ada masalah?"
"Tidak."
"Kalau begitu aku harus menyelesaikan ini."
Sania menggigit bibir bawahnya, ia pun memaksakan senyum di wajahnya meski dadanya terasa sesak. "Kalau begitu... aku pergi dulu."
"Hm." Hanya itu jawaban Michael.
Tidak ada usaha dari pria itu untuk menahannya, bahkan tidak ada ucapan agar Sania berhati-hati di jalan seperti biasanya. Jemari Sania mengepal di samping tubuhnya, tapi dia tetap mempertahankan senyum manisnya sebelum berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Pintu tertutup pelan di belakangnya.
Begitu berada di koridor, senyum itu langsung lenyap. Wajah Sania berubah buruk, tatapannya mengeras dan rahangnya mengatup kuat.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" gumamnya pelan.
Beberapa hari terakhir semuanya terasa aneh, Michael semakin sulit ditemui. Dan sekarang, pria itu bahkan terlihat tidak peduli saat dirinya datang langsung ke kantor. Pria itu bukan Michael yang selama ini dikenalnya.
Sania melangkah menuju lift dengan perasaan gelisah yang semakin besar. Saat pintu lift terbuka, ia masuk sambil mengeluarkan ponselnya. Dengan cepat ia menekan nomor seseorang, tak lama kemudian panggilannya tersambung.
"Ada apa?" suara di seberang terdengar hati-hati.
"Aku ingin tahu apa yang terjadi pada Michael."
"Hah?"
"Periksa semuanya. Bisnisnya, keluarganya, siapa saja yang berhubungan dengannya akhir-akhir ini."
"Sania, apa ada masalah?"
Wanita itu menatap pantulan dirinya di dinding lift. "Ada."
Pintu lift perlahan menutup, sorot mata Sania berubah dingin. "Instingku mengatakan, seseorang sedang menghancurkan Michael."
Dan yang lebih membuatnya gelisah, Michael tampaknya bahkan tidak menyadarinya. Atau mungkin, pria itu sudah menyadarinya tetapi tidak mampu menghentikannya.
Setelah Sania pergi, Michael kembali menatap laporan yang memenuhi mejanya. Namun konsentrasinya buyar, entah kenapa dia malah teringat pada Velicia. Dia teringat bagaimana wanita itu selalu menunggu kepulangannya, selalu memastikan ia makan. Selalu mengingatkan jadwalnya dan selalu ada di sisinya, bahkan saat dia mengabaikan wanita itu.
Michael menghela napas kasar.
Kenapa ia memikirkan itu semua?
Velicia hanya istrinya yang terpaksa dia nikahi, tidak lebih. Namun suara lain di dalam kepalanya mulai bertanya. Kalau memang hanya itu, kenapa hidupnya terasa kosong sejak wanita itu pergi?
apa g nyesek tuh Michael 🤣🤣🤣🤣🤣🤣