Keseharian Lana menjadi pendamping Tuan Buta untuk menjadi pengganti istrinya yang sering keluar dengan pria lain itu berbuah kebingungan. Itu terjadi ketika Tuan buta itu sembuh dari kebutaannya. Dia mengira selama ini istrinyalah yang mendampinginya. Keberadaan Lana lenyap seketika tanpa berbekas.
Apa yang akan terjadi ketika semua kebiasaan yang ia pikir adalah milik istrinya itu tidak nampak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 26. Membaca buku untuk Kinos.
Lana sempat ragu sejenak. Namun sebagai bawahan ia harus patuh. Kakinya berjalan menghampiri Kinos dengan buku tebal itu ditangannya.
"Duduklah," pinta Kinos saat menyadari Lana sudah ada didekatnya. Lana mengikuti instruksi. Ia duduk tidak jauh dari Kinos. Menjaga jarak yang cukup aman. ia tidak ingin terlalu dekat.
"Lalu?" tanya Lana tidak sabar. Dia lelah jika harus menerka-nerka. Namun tentu dengan nada bicara dibuat tenang.
"Bacakan buku itu untukku."
"Baca?" Lana terkejut. Ia melihat buku tebal ditangannya.
"Iya. Dokter bilang stimulasi suara itu penting untuk pemulihan ku. Dan daripada aku mendengar suara TV, aku lebih suka mendengar suaramu," perintah Kinos telak. Ia menyandarkan punggungnya, bersiap mendengarkan.
Lana tidak punya pilihan. Baginya, ini hanya bagian dari checklist pekerjaan hari ini agar gaji dari Nyonya Sonia tidak dipotong.
"Baiklah — " Lalu ia membuka halaman pertama.
Lana mulai membaca. Suaranya datar dan jelas, tipikal orang yang sedang menjalankan tugas. Ia tidak berusaha menjadi puitis. Baginya, kata-kata di buku ini hanyalah deretan kalimat yang harus diselesaikan sampai Kinos merasa puas.
Namun, karena Lana terbiasa membaca dengan teliti, kebiasaan dari mempelajari buku sekolah. Intonasinya tanpa sengaja menjadi sangat teratur dan mudah dipahami. Ia berhenti tepat pada tanda baca, tidak terburu-buru, memberikan ruang bagi Kinos untuk mencerna setiap kalimat.
"Kenapa kamu memilih intonasi seperti itu?" sela Kinos di tengah paragraf kedua.
Lana menghentikan bacaannya. Deg. Apa Kinos yakin kalau yang membaca sekarang adalah orang lain?
"Ada apa?"
"Dulu kalau ku suruh baca, kamu selalu membaca secepat kilat karena ingin cepat-cepat selesai. Tapi sekarang... kamu membaca seolah-olah kamu memang ingin aku mengerti isinya."
Selalu. Kinos selalu membandingkan dengan Sonia yang dulu. Ini wajar. Karena mereka berdua bukankah orang yang sama. Juga banyak hal yang terlalu berbeda antara dirinya dan wanita itu.
Lana terdiam sejenak. Ia tidak mungkin bilang bahwa ia terbiasa membaca pelan agar tidak perlu mengulang pelajaran karena tidak punya uang untuk ikut les. "Aku hanya tidak mau kamu kurang jelas saat mendengarnya. Bukankah kamu sangat tergantung pada suara?" Alasan logis.
Kinos terkekeh pelan. "Jawaban yang sangat jujur. Ya, itu masuk akal."
"Mau dilanjutkan?" tanya Lana, kembali ke mode profesionalnya.
"Silakan. Aku tidak keberatan mendengarkan suaramu itu sampai bab ini selesai." Kinos tersenyum dengan mata kosong.
Lana kembali menunduk ke arah buku. Ia melanjutkan membaca. Suaranya kembali mengisi kekosongan di antara rak-rak buku yang menjulang. Ia ingin tugas ini cepat selesai, tapi juga ingin menikmatinya. Apalagi dia memang awalnya suka membaca.
Pikiran Lana fokus pada setiap kata, mengabaikan fakta bahwa wajah Kinos tampak begitu rileks saat mendengarnya. Bagi Lana, ini nilai bonus dalam jam kerjanya. Ia bisa membaca dengan tenang sekaligus bekerja, dan itu dibayar.
Bagi Kinos, ini adalah momen paling tenang yang pernah ia rasakan bersama istrinya—atau setidaknya, wanita yang ia pikir adalah istrinya. Momen yang damai.
Di tengah paragraf yang menjelaskan tentang detail arsitektur kota tua, buku yang ia pegang berisi itu memang, Lana merasa ada yang aneh. Suasana ruangan itu terlalu sunyi. Ia melirik sedikit dari balik pinggiran buku.
Kinos tidak lagi bersandar kaku. Kepalanya sedikit miring, dengan gurat wajah yang perlahan mengendur. Pria itu tampak seolah-olah beban di pundaknya baru saja diangkat. Senyum kecil yang tadi tersungging kini berubah menjadi ekspresi damai yang sulit dijelaskan. Lalu memejamkan mata.
Lana sesaat terpesona. Ia menikmati pemandangan pria tampan yang mungkin tidak akan terjadi lagi ketika kontrak ini usai.
Kinos mulai membuka mata. "Sonia?" tegur Kinos yang merasa sekitarnya sunyi. Rupanya pria ini bukan tidur.
"Ya?" Lana yang memang sedang menatap pria ini, terkejut.
"Kenapa berhenti?"
Lana menipiskan bibir menyadari kalau dia tidak melanjutkan membaca. Ia berdehem kecil. Menunjukkan suara seraknya.
"Kamu tidak apa-apa?" Nada suaranya terdengar khawatir.
"Tenggorokanku sedikit serak," jawab Lana jujur. Ia menutup buku itu pelan, menimbulkan bunyi puk yang ringan.
"Oh maaf, Sonia." Kinos jadi merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Hal semacam ini bukan suatu hal yang membuatmu jadi orang yang salah, Kinos." Lana heran pria ini sangat sensitif. Padahal hal seperti ini wajar. Lana terdengar kesal. Menurutnya Kinos berlebihan.
"Kamu marah?" tanya Kinos mengejutkan. Rupanya Lana lupa memakai filter.
"Tidak," potong Lana segera mengubah nada bicaranya. Aku kelepasan. Kinos tampak seperti manusia yang rapuh dan seakan mati saat ini juga jika menyakiti nyonya Sonia. Dia sangat mencintai istrinya. Hanya saja dia mencintai sendiri. Itu sangat melelahkan. "Aku ambil minum dulu."
"Di dapur?" tanya Kinos seperti tidak ingin ditinggal. Tubuhnya seakan ingin bangkit dari duduk.
"Enggak. Disini kan ada dispenser air." Lana melihat itu di pojok ruang baca. Tidak jauh dari meja Kinos.
"Oh benar. Aku lupa." Kinos menurunkan bahunya. Setelah tahu kalau Lana tidak akan pergi, ketegangannya menurun.
Lana berjalan menuju dispenser.
Terdengar suara air mengucur dari kran dispenser. Sangat lembut. Berbeda dengan kucuran air dari dispenser murah.
"Sepertinya sudah lama aku tidak bisa melihat bagaimana keadaan rumah sekarang." Ada rasa rindu yang dalam pada penglihatannya, di suara Kinos. Siapa pun pasti tidak ingin buta.
Lana menatap iba. Jika melihat kehidupan pria ini lagi, Lana merasa sama. Kinos pria tampan dan kaya tapi jadi buta. Mirisnya lagi, dia dibodohi istrinya di depannya dalam keadaan seperti sekarang.
"Kamu mau minum juga?" Ada rak kecil untuk gelas disebelah dispenser.
"Iya, tolong."
Lana mengambil gelas baru dan menekan tombol keran. Air mengucur ke dalam gelas. Lalu ia membawa gelas itu menuju ke Kinos. "Ini." Lana meletakkan gelas dalam tangan Kinos. Sesaat ia sadar kalau kulit mereka bersentuhan. Namun dia tetap melakukannya.
Sungguh tidak masuk akal kulit mereka tidak bersentuhan sama sekali. Jadi kemungkinan Kinos tahu kulit kasar milik Lana sangatlah besar.
Tidak tahu. Biarkan saja. Lana pasrah.
"Terima kasih." Kinos menerima gelasnya. Kulit mereka bersentuhan. Kinos sadar tangan itu terasa kasar lagi. Namun karena ia mulai lebih sering merasakan kulit Lana yang kasar daripada kulit Sonia yang halus, Kinos mencoba menganggap itu hal normal.
bikin penasaran dan dag Dig dug
q ga bs move on ama gara kak please gara zia ya kak mohon bgt dgn sangat🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏