NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sinar matahari pucat siang itu gagal menembus lebatnya pohon pinus yang diselimuti salju tebal.

Dari fajar menyingsing hingga menjelang tengah hari, Elliot dan pasukan elit Orion menyisir setiap jengkal hutan perbatasan tanpa jeda.

Tidak ada waktu untuk lelah, tidak ada ruang untuk istirahat. Napas mereka mengepul putih di udara yang membeku, seirama dengan derap kuku kuda yang memecah kesunyian hutan.

Sir Oric, dengan jubah militer yang basah oleh embun es, mempercepat kudanya untuk menyejajarkan diri dengan sang duke.

Jenderal itu menatap ke ujung lembah, di mana deretan pilar batu es raksasa berdiri tegak—tanda batas alami yang memisahkan wilayah Orion dengan tanah kekuasaan suku Avarian yang berbahaya.

"Your Grace, kita hanya bisa sampai di depan sana. Lewat dari garis itu, kita sudah memasuki wilayah suku Avarian."

Sorot mata Elliot sedang dibakar kecemasan, ia menatap lurus melewati batas batu es tersebut. Tanpa keraguan sedikit pun, ia menarik tali kekang kudanya.

"Aku tak peduli!"

Sebelum Oric sempat mengeluarkan bantahan atau peringatan lanjutan, Elliot sudah lebih dulu memacu kudanya menembus batas terlarang itu, menerobos masuk ke dalam kabut tebal wilayah Avarian demi mencari wanita yang kini menguasai seluruh jiwanya.

"Sialan! Duke gila itu benar-benar nekat!" umpat Sir Oric tertahan di tengah gigil udara dingin. Jenderal itu tidak punya pilihan selain menarik tali kekangnya lebih kencang, memberi isyarat kepada pasukannya. "Kalian semua, ikuti! Jangan biarkan tuan kalian bertindak sendirian!" teriaknya panik

Elliot dan pasukan elit Orion menyisir setiap jengkal hutan wilayah Avarian tanpa jeda. Hingga mereka berhasil keluar dari lebatnya hutan pinus.

Ssshhh—Thas!

Sebuah panah bermata baja melesat tanpa suara dari kejauhan, mengincar langsung ke arah dada Elliot.

Tanpa panik, insting tempur Elliot merespons dalam sepersekian detik. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat, ia menghunus pedang dari sarungnya dan menepis panah tersebut.

Kring!

Panah itu terpental jauh dan menancap di tumpukan salju. Belum sempat Elliot menurunkan pedangnya, tanah di depan mereka bergetar pelan.

Dari balik kabut es dan gugusan batu raksasa, sesosok wanita melangkah maju dengan berani. Di belakangnya, puluhan prajurit Avarian berbadan kekar berdiri berjajar membawa tombak, ditemani oleh belasan serigala bermata keemasan yang menggeram rendah.

Wanita itu tersenyum licik, menyunggingkan senyum kemenangan yang membuat darah Elliot mendidih seketika.

Elliot menyipitkan mata, menatap tajam wanita asing di hadapannya. Sebagai penguasa wilayah perbatasan, ia sangat hafal struktur dan petinggi suku Avarian, namun ia belum pernah melihat wajah wanita asing dihadapannya.

"Siapa kau?" bentak Elliot dingin, ujung pedangnya mengarah lurus pada wanita itu. "Di mana istriku?"

Hilda terkekeh pelan, suaranya menggema tegas di udara dingin. "Sambutan yang sangat buruk untuk seseorang yang baru saja masuk ke sarang serigala, Tuan Duke."

Ia melangkah maju satu langkah, memperlihatkan rambut perak panjang yang dikepang rapi dan jubah bulu megah yang menandakan status tingginya.

"Kenalkan, aku Hilda," ucapnya dengan dagu terangkat. "Pemimpin baru dari suku Avarian."

Melihat dahi Elliot yang berkerut kebingungan, Hilda tersenyum semakin lebar. "Mungkin yang kau cari adalah kepala suku tua yang dulu sering bernegosiasi dengan ayahmu... tapi sayangnya, pria tua keras kepala itu sudah lama terkubur dalam reruntuhan es."

Sebelum Elliot sempat membalas ucapan Hilda, seorang prajurit bertubuh tegap dan berwajah garang melangkah maju dari barisan belakang.

"Mau apa kalian lancang memasuki wilayah kami!"

Elliot tidak bergeming. Dari atas pelana kuda perangnya, pria itu menatap tajam ke arah kerumunan suku Avarian dengan aura dingin yang mematikan. Matanya menyapu setiap sudut barisan musuh sebelum kembali tertuju pada sang pemimpin wanita.

"Aku tidak datang untuk berperang," ucap Elliot dengan suara berat yang penuh tekanan. "Aku mencari istriku. Seorang wanita berambut pirang yang mengenakan jubah merah."

Mendengar deskripsi itu, tawa keras langsung meledak dari bibir Hilda. Suara tawa itu memantul di antara dinding tebing es, terdengar begitu meremehkan sekaligus mengerikan di telinga pasukan Orion.

Hilda mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat kepada salah satu anak buahnya. "Bawa ke mari."

Prajurit bertubuh besar di sampingnya melangkah maju, melemparkan sebuah benda bermaterial tebal yang ternoda serpihan salju.

Bruk!

Benda itu jatuh tepat di depan kuda Elliot.

Manik gelap sang duke langsung membelalak lebar. Napasnya tercekat di tenggorokan. Benda yang terkapar di atas salju itu adalah jubah merah berbulu tebal milik Davira—jubah yang sama yang dikenakan wanita itu saat terakhir kali ia melihatnya sebelum menghilang.

Hilda menyunggingkan senyum kemenangan, menatap Elliot dengan kilatan mata penuh perhitungan.

"Luar biasa..." seru Hilda dengan nada penuh sindiran, melangkah mendekat sambil melipat tangan di depan dada. "...baru saja kami berencana mengirim pesan untuk datang menagih bayaran. Siapa sangka, sang Duke yang terhormat malah datang mengantar diri sendiri demi menukar nyawa istrimu."

Darah Elliot mendidih seketika. Urat-urat di pelipis dan tangannya menegang hebat. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya atau jumlah pasukan musuh yang mengepung, Elliot menghunus pedangnya tinggi-tinggi. Ia langsung menghentak perut kudanya, berniat menerobos ke depan dan menebas siapa saja yang berani menyentuh Davira.

"Keparat kau!" geram Elliot dengan suara menggelegar penuh murka, siap menyerbu barisan depan suku Avarian seorang diri.

Namun, sebelum kuda Elliot melompat lebih jauh, Sir Oric bergerak sangat cepat. Jenderal berpengalaman itu memacu kudanya memotong jalur sang duke, lalu mencengkeram kuat lengan zirah Elliot sambil berteriak penuh urgensi.

"Your Grace, tahan diri Anda!" seru Oric dengan napas memburu, berusaha menahan amarah atasannya. "Jika Anda menyerang sekarang di tengah kepungan mereka, itu sama saja bunuh diri! Dan Nyonya Davira... dia pasti akan mati jika kita bertindak gegabah!"

Sentakan dan suara tegas Oric berhasil menahan laju kuda Elliot di ambang batas kemarahannya. Pria itu menghentikan kudanya secara paksa, napasnya memburu kencang dengan dada naik-turun menahan emosi yang nyaris meledakkan kepalanya.

Elliot menatap tajam penuh kebencian kepada Hilda yang masih berdiri dengan senyum sinis di atas salju, menikmati betapa mudahnya mengguncang ketenangan sang duke.

"Apa yang kalian inginkan!" bentak Elliot, suaranya menggelegar menembus angin dingin lembah, sarat dengan ancaman kematian bagi siapa pun yang berani mempermainkannya.

Hilda tersenyum penuh kemenangan, sangat menikmati pemandangan seorang penguasa besar yang kini terpaksa melunak demi keselamatan istrinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
smoga Elliot cepat datang sebelum semuanya terlambat. 😭
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
tawaran menggiurkan tapi… dia salah 🤣 Elliot bukan Liam yg suka sama cewek murahan 😏
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!