JANGAN DIBACA!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kisah Nyata 26
STOP PLAGIAT, HARGAI KERJA KERAS SAYA JUGA KELUARGA SAYA SELAKU PEMILIK KISAH.
Satu bulan yang dilalui Rena dan Dimas semakin menguatkan perasaan mereka berdua, yang selalu bertambah setiap hari juga detiknya. Aulia sudah kembali dari liburan bersama om dan tante nya, kini sudah kembali ke rumah yang mengurangi waktu Dimas bermanja dengan Rena.
"Papi, minggir Auli mau sama Mami," rengek Aulia yang baru kembali dari kamar untuk mandi sore bersama bi Lastri. Aulia terus menarik tangan Dimas yang tengah merebahkan kepala pada pangkuan Rena, menonton acara basket di ruang TV bersama.
"Papi, minggir cepat," rengek Aulia lagi, tidak dihiraukan oleh Dimas dan malah mengubah posisi yang tadi menghadap TV menjadi menghadap perut Rena, melingkarkan tangan di pinggang perempuan tengah duduk bersandar di sofa panjang depan TV.
"Papi...." suara cempreng Aulia mulai meninggi karena Dimas yang tetap tak bergeming. Rena pun melebarkan tangannya untuk meraih Aulia, namun tangan Rena malah ditarik oleh Dimas memecahkan tangis putrinya keras.
"Berisik Auli, papi mau nonton TV." tegur Dimas pelan sambil menutup telinga karena tangisan Aulia yang membuat telinganya sakit. Namun tangis Aulia semakin menjadi dan membuat Rena terpaksa mengangkat kepala suaminya dan meraih Aulia untuk duduk di pangkuannya.
"Udah sayang cup, ini kan sudah sama mami," ucap Rena sambil memeluk dan mengelus punggung bocah kecil berbaju pink tersebut.
Sementara Dimas yang duduk di sebelah Rena mulai menekuk wajahnya sebal, karena tadi istrinya langsung mengangkat kepalanya paksa.
"Mami engga boleh sama papi." seru Auli ditengah tangisnya.
"Enak aja, ini kan mami nya papi." protes Dimas meletakkan kepala di pundak Rena, namun dengan cepat di dorong oleh Aulia.
"Engga boleh, ini mami nya Auli!" teriak Aulia membuat telinga Dimas berbunyi karena suara keras melengking Auli tepat di dekat telinganya.
"Auli, engga boleh gitu sama papi ya. Papi kan orangtua Auli." lembut Rena menasehati Aulia yang berteriak jengkel ke pada papinya.
Aulia pun memeluk tubuh Rena kuat dengan meletakkan kepalanya di pundak Rena menatap tajam ke arah Dimas yang berada di sebelah kiri Rena.
"iya mami." sahut Aulia pelan, menjulurkan lidah pada papinya.
Bi Lastri dan bi Ijah yang menyaksikan pertengkaran Aulia dan Dimas merebutkan Rena, hanya bisa tertawa geli melihat tingkah Dimas tak mau kalah dari putrinya yang hanya berusia 5 tahunan itu. Dari arah dapur untuk menyiapkan makan malam, kedua asisten rumah tangg tersebut tertawa kecil sembari menggelengkan kepala.
Dimas hanya bisa diam sambil menonton acara pertandingan basket di layar TV dengan wajah masam.
"Mami, nanti Auli tidur sama mami ya setiap hari," pinta Auli manja sambil memainkan rambut Rena.
Dimas yang mendengar permintaan putrinya, langsung bereaksi keras untuk menentang keinginan Aulia.
"Engga boleh, kamu udah gede Auli. Engga boleh tidur sama orang tua!" seru Dimas tegas.
"Auli mau tidur sama mami, engga sama papi." jawab Aulia sebisanya.
"Ya kan itu juga kamar papi." jawab Dimas tidak mau kalah.
"Mami tidur sama Auli di kamar Auli aja, iya kan mi?" merayu Aulia dengan memeluk tubuh Rena.
"Enak aja kamu, engga boleh!" protes kembali Dimas tegas dengan wajah masam yang membuat Rena menghela nafas panjang.
"Mas, kamu sama anak kok kaya gitu sih? kan engga ada salahnya Auli tidur sama kita. Kan tempat tidur di kamar juga luas mas," ucap lembut Rena dengan meraih tangan Dimas dan menggenggamnya.
"Enggak! udah ya papi udah bilang engga dan papi engga suka di bantah!" tekan Dimas dengan mata tertuju pada layar tv.
"Papi jahat!" teriak Aulia.
"Auli, anak perempuan kok gitu kalau ngomong? Gini aja mami temani Auli dulu sampai Auli tidur, habis itu mami temani papi. Gimana? Setuju semua?" usul Rena yang dijawab cepat oleh Auli dan Dimas.
"Engga!" seru Dimas bersamaan dengan Aulia membuat Rena tertawa mendengar.
"Papi sama anak sama aja." gumam Rena tersenyum menggelengkan kepala.
"Oke, jadi gimana kalau kita buat adil aja? Jadi papi tidur sendiri, Auli tidur sendiri mami juga tidur sendiri di kamar tamu." seru Rena memberi usul.
"Engga mau!" lagi lagi Aulia dan Dimas menjawab cepat bersamaan, menggelengkan kembali kepala Rena sembari tersenyum.
"Auli, mau punya adik gak?" bisik Dimas pelan membuat Rena membulatkan matanya terkejut.
"Mau papi, Auli mau punya adek banyak." jawab Aulia polos.
"Nah, kalau Auli mau punya adik, Auli tidurnya sendiri biar mami sama papi cepat kasih adik buat Auli." ucap Dimas langsung di cubit perutnya oleh Rena.
"Mas ini sama anak kecil kok ngomongnya gitu?" protes Rena mengernyitkan kedua alis.
"Memang kalau papi sama mami bersama bisa punya adik banyak?" tanya Auli dengan tatapan polos.
"Bisa dong, kalau setiap hari Auli tidur sendiri bakal lebih cepat dapat adiknya, iya kan mi?" jelas Dimas dengan senyum genit ke arah Rena, memainkan kedua alis bersamaan.
"Maaas," seru Rena hanya di balas Dimas dengan mengangkat kedua bahunya dan tersenyum.
Disela perdebatan mereka, bi Lastri menghampiri dan memberitahukan jika makan malam sudah siap. Dimas, Rena dan Aulia pun beranjak untuk menuju ruang makan, dan mengambil posisi duduk mereka. Rena mulai mengambilkan Aulia serta suaminya makanan, lalu meletakkan di hadapan mereka berdua. Dilanjut dengan Rena yang mengambil untuk dirinya sendiri lalu makan bersama anak dan suaminya.
Msh puyeng dg Ceritanya dan tingkah Mc nya
Yg ada makan ATI.. Ujung2nya anakmu yg jd korban..
Baper bngt aq thor