Genre : Fantasy, Action, Adventure,Tragedy, Mistery
Monster berkeliaran di seluruh dunia, makhluk Astral membuat manusia resah, dan kutukan para Dewa mengakibatkan banyak kemalangan yang dialami oleh seseorang.
Hunter, seorang yang dilatih khusus untuk memburu monster dan mengatasi fenomena supranatural yang terjadi di dunia ini.
Zolta namanya, seorang Hunter yang disewa oleh seorang Baron untuk membasmi makhluk yang baru-baru ini sedang meneror penduduk desa.
Dalam perburuannya itu, dia menemukan sebuah serpihan batu misterius yang mana akan membawanya terhadap pengungkapan misteri tentang asal-usul penyebaran monster dan kejadian supranatural lainnya di Benua Rutenia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gehrman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[Arc 2] Mimpi dan Realita part 4
Zolta sedang duduk di ruangan yang diperuntukan untuk tamu khusus. Di hadapannya, seorang wanita berambut coklat seusia dengannya mengenakan seragam militer terlihat sedang mengamatinya.
Dia adalah Agatha von Verdina—keponakan dari Count Wagner von Wihelbach, pewaris Kota Yeren setelah Arthur. Agatha adalah seorang Ksatria dari unit Reconnaissance yang berfungsi sebagai penjelajah.
"Apa yang ingin kau bicarakan denganku, Hunter?" kata Agatha dengan suara tegas.
"Mengenai kejadian yang menimpa sepupu Anda—Arthur, apa Anda mengetahui sesuatu tentang masalah ini?" tanya Zolta ingin mengetahui respon Agatha.
Setelah menanyai hal itu, ekspresi Agatha berubah menjadi suram. Dia kemudian menghela nafas lalu mulai berbicara, "Arthur, dia selalu dekat denganku."
Dia kemudian mengambil sebuah mainan Ksatria dari laci mejanya. "Kami sering bermain bersama dan dia selalu memintaku untuk menceritakan pengalamanku menjadi seorang Ksatria."
Dia kemudian menjelaskan bagaimana awal mula Arthur bermimpi menjadi seorang Ksatria adalah karena melihat aksi Agatha sebelumnya yang memberantas para kriminal.
"Aku juga mengajari Arthur tentang beberapa Kode seorang Ksatria seperti Honor, Courage dan Loyalty."
Kode seorang Ksatria merupakan sebuah sikap yang mesti dimiliki oleh para Ksatria agar mereka tetap konsisten dengan sumpah yang mereka deklarasikan ketika akan menjadi seorang Ksatria.
Honor, seorang Ksatria harus menjaga kehormatannya agar citra masyarakat yang menjadi objek perlindungan para Ksatria selalu mempercayai mereka, percaya bahwa mereka adalah penegak keadilan agar masyarakat selalu mempunyai harapan kepada para Ksatria.
Courage, Ksatria harus memiliki kualitas untuk menghadapi berbagai macam penderitaan dan kesusahan walaupun dengan segala rasa takut. Percaya bahwa yang mereka ingin lindungi adalah alasan yang kuat untuk tidak menyerah terus maju menghadapi segala rintangan.
Loyalty, Ksatria tidak pernah mengkhianati objek perlindungannya. Bagaimanapun kondisi yang ia alami, bagaimanapun penderitaan yang ia dapat, seorang Ksatria harus selalu melindungi dan mengutamakan kebaikan yang lebih besar daripada mengutamakan perasaan pribadinya.
Tanpa memegang teguh kode ini seorang Ksatria akan kehilangan arah dan tujuan, membuat mereka rapuh dan pastinya dapat dengan mudah dihancurkan oleh lawan mereka.
Inilah yang terjadi oleh Maria, ketika dia kehilangan akalnya saat melihat tubuh Lawrence yang hancur. Dia menjadi gila dan kehilangan arah, lupa akan dirinya sendiri hingga membuatnya mati di tangan Zolta.
"Itulah mengapa Arthur terlihat bijak, berani dan baik sedari kecil, dia selalu menjunjung tinggi filosofi Ksatria dan memenuhi hatinya dengan sikap-sikap itu," kata Agatha yang menjelaskan pribadi Arthur.
Setelah mendengar penjelasan dari Agatha, Zolta sama sekali tidak merasakan perilaku yang mencurigakan dari wanita itu. Bahkan wajahnya yang sedih ketika membicarakan tentang Arthur terlihat natural.
"Baiklah, terima kasih atas waktu yang Anda telah berikan, Lady Agatha."
Setelah mendapatkan informasi yang ia harapkan dari pertemuan ini, Zolta kemudian pergi pamit untuk menemui Patriark Boshevik—salah satu tamu kehormatan yang hadir secara tidak resmi kemari.
Sebas kemudian membawa Zolta menuju bagian utara kediaman Count Wagner. Terlihat area ini dihiasi dengan patung-patung dan dekorasi lainnya untuk mempercantik tempat ini.
Tak lama kemudian, Zolta dan Sebas melihat seorang pria paruh baya sedang memperhatikan sebuah patung. Dilihat dari dekat, patung itu mirip dengan Lady Adelia—Istri Count Wagner.
"Maaf menggangu waktu Anda, Patriark Boshevik," kata Sebas menyapa Sang Patriark. "Apakah kami dapat meminta waktu Anda sebentar?" tanya Sebas dengan sopan.
Patriark Boshevik kemudian berbalik menghadap mereka berdua lalu merespon, "ah, tentu saja. Apa yang kalian perlukan dariku?"
Zolta kemudian mendekati Patriark Boshevik, dia yang memiliki urusan dengan pria paruh baya itu.
"Patriark, bagaimana Anda melihat hubungan Keluarga Count Wagner selama menjadi teman lama beliau?" kata Zolta yang kali ini memberi pertanyaan yang berbeda dengan yang ia berikan kepada Agatha.
"Well... Aku tidak tahu apakah Aku harus memberitahukan hal ini padamu tanpa sepengetahuan Count Wagner," kata Patriark yang terlihat ragu. "Apakah kau sedang menyelidiki kenapa Nak Arthur melakukan hal itu?" tanya Patriark merujuk pada tindakan Arthur yang membuat dirinya sendiri terjebak di alam mimpi.
"Begitukah? Apa ini ada kaitannya mengenai ciri fisik Arthur yang sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan Count Wagner maupun Lady Adelia?" kata Zolta mengungkapkan kecurigaannya selama ini.
Mendengar kata-kata Zolta, terlihat ekspresi Sebas dan Patriark Boshevik berubah menjadi suram. Sepertinya ada alasan mengapa mereka bereaksi seperti itu.
"Well... Kurasa Sebas yang lebih berhak memberitahukan hal ini padamu, Hunter," kata Patriark yang tidak ingin melangkah kepada urusan keluarga orang lain.
Zolta kemudian melihat Sebas yang tertunduk, dia kemudian mengangkat kepalanya kembali lalu berkata, "ini terjadi ketika Tuan muda lahir..."
Sepuluh tahun yang lalu, Arthur terlahir dengan rambut pirang berbeda dengan ibunya yang berambut hitam dan Ayahnya yang berambut coklat pekat.
Anggota keluarga dan para pelayan yang menyaksikan ini kemudian menaruh curiga terhadap Lady Adelia. Walaupun dia dikenal baik dan dermawan oleh para pelayan dan warga kota Yeren, tapi kejadian ini membuat rumor buruk yang menyebar di kota.
"Tapi tidak lama rumor itu menyebar, Count Wagner melakukan pengumuman di balai kota bahwa Arthur adalah anak sah dan pewaris tunggalnya," kata Sebas yang memiliki ekspresi yang campur aduk. "Setelah itu, rumor buruk tentang Lady Adelia tidak muncul kembali."
Setelah mendengar cerita Sebas, pikiran Zolta dipenuhi dengan banyak dugaan. Tapi, dia akan menyimpannya saat melakukan konfrontasi dengan Count Wagner dan Lady Adelia.
"Apapun kebenaran yang akan kau ketahui nanti, Hunter. Ketahuilah Count Wagner adalah orang yang paling baik dan bijak yang pernah kukenal," kata Patriark Boshevik. "Dia selalu melakukan sesuatunya pasti mendahulukan kepentingan orang banyak terlebih dahulu."
Dari perkataan Patriark Boshevik, sepertinya masalah ini jauh lebih dalam daripada yang diceritakan oleh Sebas, pikir Zolta.
Zolta kemudian merogoh saku bajunya teringat akan sebuah kancing yang ia temukan di taman. "Patriark Bolshevik, Apa Anda mengetahui kancing apa ini?" tanya Zolta.
Patriark kemudian mengambil kancing tersebut dari tangan Zolta lalu menganalisanya.
"Hm... Kurasa aku sedikit mengenalinya," kata Patriark terlihat mengingat-ingat sesuatu. "Kurasa ini adalah kancing dari pakaian yang sering istriku kenakan, pakaian ini cukup populer di kalangan wanita kelas atas."
Patriark kemudian memberikan kembali kancingnya kepada Zolta.
"Jika tidak ada lagi yang ini kau tanyakan, Aku ingin pamit terlebih dahulu. Ada beberapa urusan yang harus kuselesaikan hari ini," kata Patriark yang kemudian meninggalkan Zolta dan Sebas.
Mendengar penjelasan Patriark Boshevik membuat Zolta mendapatakan sedikit petunjuk mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, dia masih tidak mengerti, apa alasan Arthur ingin terjebak di dunia mimpi pada malam kemarin.
"Tuan Sebas, dapatkah Anda memberitahu Count Wagner dan Lady Adelia untuk berbicara denganku?" tanya Zolta, dia ingin mengkonfirmasi sesuatu dengan mereka.
"Baiklah, Hunter. Aku akan memberitahukan Count Wagner dan Lady Adelia segera."
.
.
.
Di kamar Arthur, Zolta sedang duduk berhadapan dengan Count Wagner dan Lady Adelia. Dilihat dari perspektif Zolta, mereka lebih logis menjadi Ayah dan anak karena usia mereka yang cukup jauh.
"Kau sudah mengetahui alasan mengapa Arthur mengurung dirinya sendiri di dunia mimpi, Hunter?" tanya Count Wagner yang terlihat tidak sabar ingin segera menolong anaknya itu.
Zolta kemudian menaruh kancing baju yang ia temukan di taman di meja. Melihat ini, Count Wagner terlihat kebingungan. Sebaliknya, wajah dari Lady Adelia terlihat tegang.
"Pertama-tama, bisakah kalian menceritakan tentang kebenaran dari hubungan kalian berdua?" tanya Zolta yang ingin mendengar langsung kebenaran dari kedua orang yang ada di hadapannya.
Mendengar pertanyaan Zolta mereka berdua kemudian tertunduk seperti malu karena telah melakukan sebuah kejahatan. Akan tetapi, kebenaran ini diperlukan untuk dapat membangunkan kembali Arthur dari tidurnya.
"Baiklah, Hunter. Kami akan menceritakan segalanya padamu," kata Count Wagner yang terlihat membulatkan tekadnya.