NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34

Bab 34

Pagi datang tanpa rasa pagi.

Alya duduk di kursi ICU dengan mata kering. Tubuhnya lelah, tetapi pikirannya terlalu bising untuk tidur. Di balik kaca, Eyang Laras terbaring dengan mesin yang berbunyi teratur. Setiap bunyi seperti pinjaman waktu.

Raka keluar dari ruang perawatan luka dengan perban di pelipis. Dinda duduk di ujung lorong, memegang bros Maya seperti benda itu bisa berubah menjadi ibunya.

Arman berdiri di depan komputer perawat. Ia membaca hasil lab berkali-kali.

"Obatnya campuran midazolam, obat tidur dosis tinggi, dan satu senyawa penghambat napas," katanya saat Alya mendekat.

"Sari?"

"Cara pencampurannya seperti orang medis. Tapi kita perlu bukti."

Rafi datang membawa kopi yang tidak diminum siapa pun. Ia meletakkan satu di samping Alya.

"Polisi menyisir rumah Santoso," katanya. "Fajar sudah tidak ada. Paviliun kosong. Ada lorong ke garasi belakang."

"Jaka?"

"Hilang."

"Sari?"

"Juga."

Alya tertawa pendek tanpa senang. "Mereka selalu hilang."

Arman menutup laptop. "Tidak selalu. Orang yang memakai akses obat rumah sakit meninggalkan jejak."

Ia menunjukkan layar. Ada nama dokter muda yang memberi otorisasi keluar obat: dr. Kurniawan.

"Dia bawahan saya," kata Arman. "Tadi pagi tidak masuk. Ponsel mati."

Raka mendekat. "Dibayar?"

"Atau dipaksa."

"Kalau dipaksa, dia pasti masih hidup," kata Rafi. "Kalau dibayar, mungkin sudah dibuang."

Alya menatapnya.

Rafi menyesal sedikit, tapi tidak menarik kalimat itu.

Pintu lift terbuka. Komisaris Ardi keluar bersama dua petugas. Wajahnya berat.

"Kami temukan dr. Kurniawan," katanya.

Arman langsung berdiri tegak.

"Di mana?"

"Di mobilnya, parkiran apartemen Kalibata. Meninggal. Dugaan awal bunuh diri, tapi posisi luka tidak masuk akal."

Arman memukul meja dengan telapak tangan. Perawat di dekatnya terkejut.

"Mereka membersihkan jejak," katanya.

Alya memejamkan mata sebentar. Satu orang lagi mati karena rahasia kelahirannya. Tidak. Bukan karena dia. Karena orang-orang itu memilih kejahatan sejak lama.

Dari ruang ICU, monitor berbunyi berubah. Satu perawat berlari masuk. Arman langsung menyusul.

Alya berdiri.

"Apa yang terjadi?"

Tidak ada yang menjawab.

Dokter jaga masuk, perawat membawa alat. Suara monitor makin cepat, lalu turun. Raka meraih bahu Alya. Baskara yang baru datang dari mushala rumah sakit berhenti di tengah lorong, sajadah kecil masih di tangan.

Dinda berdiri perlahan.

Menit berikutnya bergerak seperti mimpi buruk yang tidak mau selesai. Arman memberi instruksi, dokter jaga melakukan kompresi, perawat menyebut angka tekanan darah. Alya melihat semua itu dari balik kaca, merasa seperti anak kecil yang tidak bisa membuka pintu.

Rafi berdiri di sampingnya.

"Alya."

Ia mendengar namanya, tetapi tidak menoleh.

Arman berhenti bergerak.

Dokter jaga melihat jam.

Suara monitor menjadi garis panjang.

Baskara jatuh terduduk.

Raka mengumpat dengan suara pecah.

Dinda menangis keras untuk pertama kalinya.

Alya tidak menangis. Ia hanya menatap tangan Eyang yang terbaring di atas selimut. Tangan itu kemarin masih hangat. Tangan itu pernah menggenggamnya di kebun dan berkata, "Kalau semua orang membuat rumah terasa sempit, datang ke Eyang."

Pintu ICU terbuka.

Arman keluar dengan masker masih di wajah. Matanya merah.

"Maaf," katanya.

Tidak ada kata yang cukup besar untuk ruangan itu.

Alya masuk perlahan. Ia berdiri di samping ranjang. Wajah Eyang terlihat damai, seolah hanya tidur setelah terlalu banyak menunggu.

"Eyang," bisik Alya.

Tidak ada jawaban.

Ia merapikan ujung selimut, gerakan kecil yang tidak berguna tetapi satu-satunya yang bisa dilakukan tangannya.

"Alya," suara Baskara terdengar dari belakang. "Papa..."

"Jangan."

Baskara berhenti.

Alya menoleh. Matanya kering, tetapi wajahnya membuat Baskara mundur satu langkah.

"Jangan minta maaf sekarang. Simpan untuk nanti, saat kita tahu siapa yang membuka pintu rumah Eyang untuk pembunuh itu."

Baskara seperti ditampar.

Raka berkata, "Penjaga rumah Eyang sudah diperiksa. Katanya kurir membawa paket teh dari nama toko langganan."

Rafi mengangkat ponsel. "Toko itu menerima pesanan lewat aplikasi. Akun baru. Pembayaran dari dompet digital yang terhubung ke rekening atas nama Yayasan Bunga Selatan."

"Camellia?" tanya Ardi.

"Cabang lain."

Alya menatap jasad Eyang.

"Mereka ingin kita melihat tanda bunga itu."

Rafi mengangguk. "Ancaman."

"Bukan," kata Alya. "Kesombongan."

Pemakaman dilakukan sore itu. Langit mendung, tanah basah, dan orang-orang datang dengan wajah yang merasa berhak berduka. Tetangga, kolega lama Baskara, staf yayasan, beberapa pemegang saham. Banyak yang berbisik ketika melihat Alya berdiri di barisan keluarga.

Dinda berdiri jauh di belakang. Tidak ada yang mengusirnya. Tidak ada juga yang mengajaknya mendekat.

Setelah doa selesai, seorang pria tua mendekati Alya. Rambutnya putih, tubuhnya kurus, pakaiannya sederhana.

"Kamu anak Nadira?"

Alya menatapnya. "Iya."

"Saya Harjo. Dulu sopir Bu Nadira."

Baskara menoleh cepat. "Pak Harjo?"

Pria itu mengangguk singkat, tetapi matanya tetap pada Alya.

"Bu Laras pernah menitip pesan. Kalau beliau pergi sebelum bisa bicara, saya harus memberi ini."

Ia menyerahkan amplop cokelat kecil.

Rafi langsung memperhatikan sekeliling.

Alya membuka amplop itu. Di dalamnya ada foto lama: Nadira sedang berdiri di depan gedung tua dengan papan nama Rumah Pelita. Di sampingnya ada perempuan muda berseragam perawat.

Sari.

Di belakang mereka, terlihat seorang pria berkacamata, sebagian wajahnya tertutup bayangan.

Alya membalik foto.

Tulisan tangan Eyang Laras ada di sana.

Jangan percaya kematian yang tampak wajar. Nadira menemukan kamar nomor 13.

Alya membaca kalimat itu dua kali.

"Kamar nomor 13?" tanya Raka.

Pak Harjo menunduk. "Di Rumah Pelita lama. Tempat anak-anak yang tidak pernah dicatat namanya."

Arman memucat. "Anak-anak?"

"Bayi, Dok," jawab Pak Harjo. "Bayi-bayi dari perempuan yang dibuat diam."

Rafi mengambil foto itu dengan izin Alya, lalu memindainya cepat.

Di kejauhan, sebuah motor berhenti terlalu lama di pinggir jalan. Pengendaranya memakai helm hitam. Saat Rafi menoleh, motor itu langsung pergi.

"Kita harus pindah," katanya.

Alya memasukkan foto ke amplop. Ia berbalik memandang makam Eyang sekali lagi.

Dinda tiba-tiba mendekat dan berlutut di depan makam. "Maaf, Eyang."

Raka hendak menariknya, tetapi Alya mengangkat tangan.

Dinda menangis sampai bahunya gemetar. "Aku tahu aku terlambat. Aku selalu terlambat. Tapi aku akan bantu Alya. Aku akan cari Mama. Aku akan bilang semuanya."

Alya menatapnya lama.

"Kalau kamu masih menyembunyikan satu hal saja," kata Alya pelan, "aku akan anggap kamu memilih Fajar."

Dinda mengangguk sambil menangis.

Ponsel Rafi bergetar. Ia membaca pesan, lalu wajahnya berubah.

"Apa?" tanya Alya.

"Nira menemukan satu nama di kontak lama Jaka. Dia tidak menyimpannya sebagai orang. Dia menyimpannya sebagai tempat."

"Tempat apa?"

Rafi menunjukkan layar.

Kamar 13.

Di bawahnya ada koordinat.

Koordinat itu bukan Rumah Pelita lama.

Itu sebuah klinik bersalin kecil di pinggiran Bekasi, yang sudah tutup sejak dua puluh tahun lalu.

Alya menutup amplop di tangannya.

Di tanah basah makam Eyang, ia membuat janji tanpa suara.

Tidak akan ada kematian wajar lagi untuk menutup kejahatan mereka.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!