Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.
Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.
Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.
Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.
Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?
Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?
Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
Keesokan harinya, tepat di jam tiga sore, aku menyuruh mas Ryu pulang. Alasannya karena aku tak enak hati dengan Naina. Apalagi sosok Jani di sini sudah berhasil membuat pria yang berprofesi sebagai dokter itu mengucap janji suci di hadapan penghulu. Jelas sekali julukan pelakor tertanam pada diriku. Andai saja Jani adalah wanita lain, sementara Naina mengetahui pernikahan siri suaminya, aku yakin kisah ini akan viral di jagad maya.
"Aku pulang, ya!" Pamit mas Ryu.
"Hmm.. Hati-hati" Kataku mengecup punggung tangannya.
Baru sehari menjadi istrinya, mas Ryu sudah mengajarkan banyak hal baik pada Jani. Dia juga memintaku untuk menutup aurat, dan menjaga sholat lima waktu. Sungguh imam yang baik sebenarnya, tapi ah sudahlah.
Pria itu mengecup keningku sebelum pergi.
Setelah mas Ryu benar-benar keluar dari rumah, aku langsung mengunci pintunya kemudian bergegas memakai baju yang biasa Naina kenakan. Ku biarkan make up tetap bertahan di wajahku. Aku bisa menghapusnya saat di taxi nanti, yang terpenting sekarang aku harus segera tiba di rumah sebelum mas Ryu.
Siap dengan style ku ala Naina, aku mengecek kelistrikan dan juga dapur. Ketika semua sudah ku padamkan, buru-buru aku keluar.
Ku kunci pintunya, lalu melangkah menuju lift. Selagi menunggu lift datang, aku menulis pesan untuk ku kirimkan ke nomor mas Ryu.
[Kapan pulang, mas?]
Pesan pertama terkirim, sudah centang dua, tapi masih abu-abu.
[Kalau pulang, tolong mampir ke supermarket beli tepung panir, tepung terigu, margarin, dan gula halus]
[Terimakasih]
Pesan itu ku kirim dari nomor Naina. Dengan begini aku pasti akan sampai di rumah lebih dulu sebab perjalanan mas Ryu akan terpotong untuk membeli barang-barang yang ku pesam.
Tak kurang dari dua menit lift pun datang, aku masuk sambil terus menatap layar ponsel yang tahu-tahu centang dua sudah berubah warna. Itu tandanya mas Ryu sudah membaca chatku.
Sampai di lantai dasar, langkahku lebar menuju arena pemberhentian taxi, dimana taxi yang ku pesan sudah standby di sana.
"Ke perumahan Seloka indah ya pak!" Ucapku setelah masuk ke dalam taxi.
"Baik mbak"
"Kalau bisa cepat sedikit pak"
"Siap mbak" Sahutnya lagi.
Mobil melaju meninggalkan kawasan apartemen, sembari menunggu perjalanan sampai di rumah bunda, aku menghapus make up di wajahku.
Selang lima belas menit, taxi yang ku naiki pun sampai. Ada perasaan cemas menyelimutiku sebenarnya , tapi sebisa mungkin ku tepis supaya bunda enggak curiga.
Pelan ku geser pintu gerbang yang tak terkunci, saat sudah terbuka aku melihat ada bunda dan ayah tengah duduk santai di teras rumah sambil menikmati secangkir teh.
Ku lirik area tempat dimana biasa mobil mas Ryu terparkir.
Kosong...
Itu artinya mas Ryu belum pulang.
Reflek ku hela napas lega. Sekarang giliran mencari jawaban untuk menghadapi pertanyaan bunda. Aku yakin bunda dan ayah pasti heran dan bertanya-tanya kenapa aku pulang sendiri.
"Assalamu'alaikum" Ucapku sopan.
"Wa'alaikumsalam" Keduanya menjawab secara kompak.
bersamaan dengan aku mengecup tangan bunda, beliau bertanya.
"Kok pulang sendiri? Ryu mana?"
Nah kan, tepat dugaanku.
"Dia pergi lagi bun, katanya ada urusan pekerjaan" Jawabku yang kali ini ganti mengecup tangan ayah.
"Terus kamu pulang sendiri?" Tanya bunda lagi masih dengan tatapan penuh menyelidik.
"Enggak. Tadi di antar sampai depan gerbang"
"Ooh, kirain"
Aku tersenyum meresponnya.
"Aku masuk dulu ya bun, ayah"
"Iya, masuk sana" Jawab bunda, sementara ayah hanya mengangguk sebelum kemudian kembali menunduk membaca koran.
Lagi-lagi semua berjalan sesuai rencanaku.
"Mbak Naina sudah pulang?" Tiba-tiba bik Titik muncul di hadapanku, kami berpapasan di ruang tengah.
"Sudah bik"
"Mas Ryunya mana?" dia melirik ke arah belakang punggungku, sepertinya sepasang netranya menelisik mencari sosok mas Ryu.
"Dia ada urusan pekerjaan bik, jadi tadi langsung pergi lagi"
"Oh" Sahutnya paham.
"Aku masuk dulu ya, bik"
"Iya mbak"
Aku kembali melanjutkan langkah, berjalan ke arah tangga dan menaiki anak tangga satu demi satu.
Sejauh ini permainan masih ada dalam kendaliku, aku berharap semua akan tetap seperti ini sampai aku benar-benar bisa membuat mas Ryu tergila-gila padaku dan aku bisa hamil anaknya. Di sinilah aku akan mengakhiri permainanku nanti. Aku ingin tahu jika Jani adalah Naina, dan sedang hamil darah dagingnya, apakah dia akan tetap dengan pendiriannya, yaitu menolak ku, atau terpaksa menerimaku. Jika tetap menolak, akan ku putuskan aku mundur dari bahtera rumah tangga ini.
"Bik, itu mau di bawa ke ayah?" Setelah berganti pakaian aku kembali turun, aku melihat bik Titik membawa nampan berisi varian donat di atas piring.
"Iya, mbak"
"Biar aku yang bawa"
"Okay, mbak Naina" Bik Titik menyerahkan nampan ke tanganku.
Aku melangkah menuju teras, menunggu mas Ryu pulang supaya aku bisa tahu pertanyaan bunda setelah mas Ryu sampai.
"Cemilannya, yah!" Ku letakkan piring di atas meja.
"Makasih, nak"
"Sama-sama yah" Balasku lalu ikut duduk.
"Gimana kemarin me timenya, Na?" Tanya bunda, tangannya terulur meraih satu donat.
"Lancar, bun"
"Harus sering-sering tuh, me time berdua kalau Ryu nggak ke rumah sakit. Jangan di rumah aja, iya kan yah" Bunda menoleh ke samping kiri dimana ada ayah.
"Hmm" Sahut ayah singkat.
"Insya Allah, bun. Tergantung mas Ryu, biasanya dia kan capek"
"Halah capek banyak-banyak nggak jadi masalah Naina, nanti kalau sudah punya anak, pulang kerja begitu lihat anak langsung capeknya hilang. Kaya Sagara tuh, pulang dari kampus bukannya istirahat tapi malah pegang anak, main sama anak sampai berjam-jam"
"Anak itu nggak macam-macam sama kamu kan, Na?' kali ini pertanyaan menyimpang itu keluar dari mulut ayah.
Sepasang netraku otomatis beralih menatap ayah Bima yang juga sedang menatapku. Pertanyaan yang jujur membuatku tertegun.
"Macam-macam gimana yah?"
"Dia sudah benar-benar ikhlas menerimamu, kan?" Selidiknya.
"Insya Allah sudah, yah. Pelan-pelan"
"Kalau macam-macam langsung bilang ke ayah, jangan di pendam sendiri, ya"
"Iya, yah"
Bersamaan dengan jawabanku, mobil mas Ryu tiba-tiba masuk. Tak ada satpam, tapi dia bisa membuka gerbang tanpa harus turun dari mobil.
"Nah, itu dia pulang" Cicit bunda membuatku menoleh ke belakang sebab aku duduk di kursi dengan membelakangi pintu gerbang.
Jantungku sudah pasti berontak setiap kali berurusan dengan pria tegas itu.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam" Mas Ryu langsung melakukan apa yang ku lakukan ke ayah bunda saat baru datang tadi.
"Sudah selesai urusan pekerjaannya?" Pertanyaan bunda membuat dadaku berdenyut geli.
"Sudah, bun" Jawab mas Ryu. Kemudian menyodorkan tas plastik di tangannya padaku.
"Ini pesananmu" Katanya. Nadanya terdengar cuek di telingaku, tapi semoga tidak di telinga ayah bunda.
"Apa itu, Ry?" Pandangan bunda lekat menatap kresek berwarna biru yang kini sudah berada di tanganku.
"Pesanan Naina" Jawab mas Ryu. "Aku masuk dulu bun"
"Ya"
"Aku juga masuk bun, mau bantu bik Titik masak" Selaku cepat, yang di iyakan langsung dengan anggukan kepala oleh bunda.
Untuk kesekian kalinya aku aman. Semua masih baik-baik saja.
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi