Penantian selama dua tahun gadis itu akhirnya terwujud. Dia berhasil menikah dengan sang pujaan hati.
Tapi pernikahan mereka harus diuji oleh sesuatu yang sangat krusial. Bukan orang ketiga, bukan juga soal financial.
" Laaah kok nggak bisa berdiri sih kak?" kata si gadis.
" Ya mana ku tahu kalau dia lemes gitu," jawab si pria kebingungan juga.
Malam pertama yang diharapkan terpaksa ditunda atau lebih tepatnya gagal karena sang pria tidak mampu membuat miliknya bertugas sebagaimana mestinya.
" Bagaimana cara membuat itu berdiri," pikir si gadis.
" Apa aku harus melepaskannya karena ketidakmampuanku?" batin si pria.
Bagaimana dua anak manusia ini mengarungi pernikahannya? Akankah mereka berhasil mengatasi ujian berat itu?
Atau menyerah dan memilih saling melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suamiku Impoten! 26
Malam itu juga kehebohan terjadi. Semua anggota keluarga Joyodiningrat tentu bingung dan kaget dengan foto-foto di media sosial yang menandai mereka. Terlebih caption yang dituliskan membuat semuanya marah kepada Akhza.
" Malam panas yang kami habiskan bersama. Tuan Akhza, kamu tentu tidak lupa bahkan. Aku bahkan samapi sekarang masih mengingatnya, aku harap apa yang Anda berikan akan berbuah manis dalam rahimku."
Meledak sudah kemarahan Rama dan Sita. Terutama Sita, bagaimana tidak, ia tahu rasa sakit dan hancurnya diselingkuhi oleh suaminya dulu sebelum bersama Rama.
" Ini tidak bisa dibiarin. Panggil Akhza segera! Mommy nggak nyangka anak itu berbuat seperti itu!" Sita berteriak marah.
" Mom, tunggu dulu jangan gegabah. Aku yakin Kak Akhza tidak seperti yang mommy pikirkan. Lagian Kak Akhza sedang di kota K bukan? Dia berangkat bersama Billy. Percayalah mom, Abra yakin ini semua tidak benar. Kita tunggu, dan dengarkan penjelasan Kak Akhza."
Abra berusaha untuk menenangkan Sita. Ia tahu ibu nya itu sangat tidak mentolerir yang namanya perselingkuhan. Sedangkan Rama, pria paruh baya itu langsung berdiri dan meraih kunci mobil.
" Ayo ke rumah Teo. Pasti Airin saat ini tengah sangat sedih," ujar Rama.
" Biar Abra saja yang nyetir Yah. Ayah sedang dalam keadaan marah," tukas Abra sembari meminta kunci mobil yang digenggam erat oleh Rama.
Lain halnya dengan Kai, putra sulung Sita dan kakak pertama Akhza itu hanya terkekeh geli melihat foto-foto tersebut. Jika diperhatikan lebih detail dan seksama jelas itu bukan Akhza. Akan tetapi sebuah pertanyaan timbul, mengapa Akhza membiarkan hal tersebut. Orang yang emosi dan tidak berpikir jernih pasti langsung akan menjudge Akhza benar-benar melakukan hal itu.
" Apa yang sedang kamu mainkan Za? Tapi ini sungguh menarik, lakukan saja yang menurutmu benar asalkan kamu bisa menyelesaikannya," gumam Kai lirih di ruang kerjanya yang berada di dalam rumah pribadinya.
Reaksi terkejut juga ditampilkan oleh Teo tapi tidak dengan Airin. Airin ingat pesan Akhza sebelum berangkat ke kota K bahwa jika ada berita buruk tentangnya maka jangan percaya. Ia harus menunggu penjelasan sang suami. Maka dari itu Airin begitu santai saat melihat foto itu. Bahkan komentar-komentar negatif dari banyak orang sama sekali tidak membuatnya berpikiran buruk terhadap sang suami.
Saat ini yang Airin lakukan melihat kembali foto-foto tersebut lalu memperbesar gambarnya. Ia menarik sudut bibirnya, tersenyum sinis. " Haiss, penipuan."
Tok tok tok
Airin segera keluar dari kamar, dilihatnya kedua mertuanya itu datang. Sang papa rupanya sudah membuka pintu terlebih dulu. Kini mereka duduk di ruang tamu dengan suasana yang sedikit tegang.
Airin langsung menyambut Sita dan Rama. Ia mencium tangan kedua mertuanya dengan hikmat. Namun Sita heran, Airin tampak biasa saja. Bahkan tidak sedih atau menangis pun tidak.
" Kamu baik-baik saja nak," tanya Sita kepada menantunya tersebut.
" Baik mom, Airin baik-baik saja. Mommy tidak perlu khawatir. Lagian itu bukan Kak Akhza kok. Coba aja dilihat lagi, zoom aja mom biar jelas."
Rama dan Sita saling pandang, pun dengan Teo. Mereka melakukan apa yang Airin minta. Sebuah hembusan nafas dilakukan ketiganya saat mereka takin itu bukan Akhza.
" Lagian caption nya ngaco. Hoax banget itu, mana bisa begitu."
Ucapan Airin membuat Sita berpikir kembali. Sepertinya Airin terlewat tenang menghadapi masalah ini. Dimana hal tersebut malah membuat Sita curiga. Sita kemudian menarik Airin dan membawanya ke dapur. Dengan alasan ingin membuat minum.
" Airin, sebenarnya ada apa? Oke, mommy tahu kamu begitu percaya dengan suamimu. Tapi meskipun begitu sebagai wanita pasti awalnya kita akan terkejut bukan dengan beredarnya foto-foto itu ditambah caption yang menurut mommy vulgar. Tapi sepertinya kamu biasa saja."
Airin sedikit terhenyak, ia tidak tahu bahwa ibu mertuanya itu begitu teliti dalma sesuatu. Bagaimanapun Sita mantan advokat, dia lumayan tajam cara menganalisa. Dan bagi Sita, ada yang tidak beres dengan menantunya atau mungkin tidka beres dengan pernikahan putra dna menantunya tersebut.
" Katakan nak, tidak apa-apa," imbuh Sita.
" Airin jelas tidak percaya dengan keterangan itu. Bahkan kalau ada yang mengaku hamil pun Airin tidak akan percaya. Karena ... Karen aKak Akhza belum mampu melakukanya. Maka dari itu Airin sangat santai menanggapi hal tersebut."
Sita membulatkan matanya. Tidak perlu kalimat penjelas, apa yang dikatakan Airin, Sita sungguh paham. Tubuh Sita terhuyung dna jatuh di kursi.
" Please mom, rahasiakan ini. Kak Akhza sedang berusaha untuk bisa."
" Jadi sampai saat ini kamu masih perawan? Milik Akhza sama sekali tidak bisa berdiri. Ya Allah, mengapa begini?"
Sita tergugu, Airin langsung meraih tangan kedua tangan Sita lalu menggenggamnya erat. Airin pun menjelaskan keadaan Akhza sekarang dan sejauh mana mereka berhubungan. Bukan membuka aib ranjang tapi Airin hanya takut Sita terlalu kepikiran. Karena jelas yang dipikirkan ibu mertuanya itu tidak seperti kenyataannya.
" Jadi punya Akhza masih bisa berdiri kan?"
Airin mengangguk dan Sita menghembuskan nafasnya lega. Mungkin Akhza tidak benar-benar mengalami disfungsi ereksi.
" Dokter juga mengatakan begitu mom. Kak Akhza tidak benar-benar impoten. Itu mungkin hanya keran faktor psikologi. Kami akan sama-sama berusaha. Dan Airin akan menunggu Kak Akhza."
Sita langsung meraih tubuh Airin dan membawanya ke dalam pelukannya. Wanita paruh baya itu juga menciumi pucuk kepala sang menantu. Airin sungguh wanita yang baik dan Akhza beruntung mendapatkan Airin sebagai istrinya.
" Terimakasih nak, terimakasih sayang sudah mau menunggu anak mommy. Terimakasih sudah memaklumi anak mommy. Tapi, ini tetap tidak bisa dirahasiakan. Ayah dan Papa mu harus tahu."
" Tapi~"
Kalimat Airin terpotong, tatapan mata Sita mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja meskipun Rama dan Teo tahu. Airin mengangguk didalam pelukan Sita. Ia tahu rasa cinta yang dia miliki untuk Akhza itu cukup besar, bahkan dia terima jika Akhza tidak bisa memberinya nafkah batin.
Akan tetapi apa yang ada di dalam foto mengenai Akhza itu membuat seseorang semakin senang. Ia menjadi memliki sebuah kunci lagi untuk memisahkan Airin dari sang suami.
" Bagus, sangat bagus. Sepertinya Tuhan memang sedang memihak kepadaku."
TBC
terimakasih untuk tulisan indah mu thor