Arina Volans dipaksa menikah dengan Jenderal Orion Wezen, pria yang seharusnya menjadi suami adik tirinya. Di mata semua orang, Arina hanyalah wanita pendiam dan berwajah dingin yang tak pernah diinginkan siapa pun.
Namun, di balik wajah tanpa ekspresinya, Arina menyimpan rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun. Saat malam tiba, ia menjalankan rencana-rencana berbahaya yang bahkan tak mampu ditebak oleh Orion.
Ketika identitas Arina perlahan terungkap, sebuah rahasia yang telah terkubur selama puluhan tahun mulai mengguncang kerajaan dan menyeret mereka ke dalam pusaran konspirasi, pengkhianatan, dan perang.
Mampukah seorang jenderal mempercayai istri yang paling misterius di seluruh kerajaan?
*
Cerita murni karangan penulis dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Keesokan sorenya, Arina mengenakan gaun lengan panjang berwarna ungu yang senada dengan rambutnya. Rambut panjangnya disanggul rapi, sementara beberapa helai anak rambut dibiarkan menjuntai lembut di kedua sisi pipinya.
Pesta teh kali ini diadakan di Taman Bintang Putih.
Setelah turun dari kereta kuda, seorang pelayan istana langsung mengantarnya menuju taman tersebut.
Begitu melangkah melewati gerbang batu pualam putih, Arina sejenak menghentikan langkahnya.
Inikah Taman Bintang Putih?
Pandangannya menyapu hamparan taman yang begitu luas. Jalan setapak dari marmer putih membelah taman hingga menuju sebuah air mancur megah di bagian tengah. Di atasnya berdiri patung bintang putih kebiruan berujung delapan, lambang kebesaran keluarga kerajaan Elarion, Fomalhaut.
"Pantas saja taman ini disebut sebagai salah satu tempat terindah di istana," gumam Arina pelan sambil terus melangkah.
Cahaya matahari sore memantul pada kristal-kristal yang menghiasi patung itu, menciptakan kilauan lembut yang menyerupai gugusan bintang di langit malam.
Di sepanjang jalan, berbagai bunga langka bermekaran dalam balutan warna putih, biru, dan ungu. Aroma lavender perak, mawar salju, serta lili langit bercampur menjadi satu, memenuhi udara dengan wangi yang menenangkan.
Tak jauh dari air mancur, beberapa gazebo marmer berdiri mengelilingi taman. Tirai sutra tipis berwarna biru muda melambai perlahan tertiup angin, sementara meja-meja bundar telah ditata dengan teko porselen, cangkir kristal, dan aneka kudapan yang tersusun begitu rapi.
Taman itu sudah ramai.
Para lady bangsawan mengenakan gaun-gaun mewah berwarna cerah. Tawa mereka bersahut-sahutan, berpadu dengan denting halus cangkir teh yang saling bersentuhan. Sebagian berjalan santai menyusuri taman sambil berbincang, sementara yang lain berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, saling bertukar pujian dan gosip terbaru dari ibu kota.
Saat Arina melangkah lebih jauh, beberapa percakapan perlahan terhenti.
Tatapan mereka mulai beralih kepadanya. Penasaran, heran, dan yang paling banyak tatapan meremehkan.
Berbagai emosi itu terlihat jelas di mata para wanita bangsawan tersebut.
Mereka mengenalnya.
Lebih tepatnya, mereka mengenal nama yang kini disandangnya.
Arina Volans. Istri Jenderal Orion Wezen.
Wanita yang cukup bodoh hingga bersedia menikahi pria paling ditakuti di seluruh Elarion.
Namun, di antara tatapan-tatapan itu, beberapa lady muda memandangnya dengan permusuhan yang tidak berusaha mereka sembunyikan. Mereka adalah para pengagum Orion yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa jenderal kesayangan mereka telah menikah.
Arina tidak menghiraukan satu pun tatapan itu. Langkahnya tetap tenang dan anggun, seolah keberadaan orang-orang di sekelilingnya sama sekali tidak mampu mengusik pikirannya.
Baginya, taman ini jauh lebih menarik daripada para tamu yang memenuhinya.
Matanya kembali mengamati setiap sudut Taman Bintang Putih.
Jumlah pengawal yang berjaga. Letak setiap pintu keluar. Gazebo-gazebo yang cukup terpencil untuk mengadakan percakapan rahasia. Jalur menuju istana utama. Hingga balkon lantai dua yang menghadap langsung ke seluruh taman.
Semua itu terekam jelas dalam ingatannya hanya dalam hitungan detik.
Kau memilih tempat yang bagus untuk sebuah pertemuan, Putri Vega, batin Arina.
"Terima kasih telah menghadiri undanganku, Lady Wezen."
Suara lembut itu membuat Arina mengalihkan pandangannya.
Putri Vega berjalan menghampirinya dengan senyum ramah. Sang putri mengenakan gaun putih panjang berhias sulaman benang emas, dipadukan dengan mahkota sederhana bertatahkan batu safir yang membuat penampilannya tampak anggun tanpa terkesan berlebihan.
Di sampingnya berdiri seorang wanita yang tak kalah cantik.
Wanita itu memiliki mata berwarna jingga dan rambut cokelat yang langsung mengingatkan Arina pada seseorang.
Tidak mungkin...
Apa dia adik Arcturus?
"Saya yang seharusnya berterima kasih karena Yang Mulia Putri telah mengundang saya ke pesta ini," balas Arina sambil memberikan senyum tipis, senyum yang begitu jarang menghiasi wajahnya.
"Oh, benar." Putri Vega tersenyum hangat. "Perkenalkan, ini sahabat dekatku, Lady Theta Persei Bootes."
Jadi benar.
Wanita itu memang adik Arcturus.
Arina baru mengetahui bahwa Theta ternyata memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Putri Vega.
"Saya tidak menyangka akan bertemu Lady Theta di sini."
Tatapan Arina sekilas jatuh ke arah perut Theta. Kilatan samar melintas di matanya, namun begitu cepat hingga tak seorang pun menyadarinya.
"Theta, kau mengenalnya?" tanya Putri Vega penasaran.
Theta mengangguk pelan.
"Ya, Yang Mulia. Lady Wezen adalah kakak dari istri kakakku." Theta tersenyum sopan, tetapi sedikit kaku.
"Baiklah, semuanya." Putri Vega menggenggam lembut tangan Arina, lalu menatap para lady bangsawan yang hadir. "Mulai hari ini, Lady Wezen resmi menjadi anggota Majelis Bintang Putih."
Suasana taman mendadak hening.
"Yang Mulia, saya rasa dia tidak memiliki keahlian apa pun."
Suara itu berasal dari seorang lady bergaun merah. Wajahnya cantik, tetapi sorot matanya tajam dan penuh kesombongan. Ia memandang Arina dengan tatapan merendahkan.
"Lady Zosma, kurasa kehadiran Lady Wezen justru menguntungkanmu." Kali ini, seorang wanita berambut putih kebiruan angkat bicara. "Selama ini kaulah yang berada di peringkat paling bawah karena tidak memiliki keahlian yang menonjol."
Wanita itu adalah Lady Sheratan Arietis, putri Menteri Kehakiman sekaligus salah satu lady paling berpengaruh di Elarion.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa Lady Zosma dan Lady Sheratan selalu berselisih setiap kali bertemu.
Lady Zosma mendengus pelan. "Kurasa aku masih lebih unggul darimu dalam satu hal, dan itu sudah cukup untuk membuatmu kalah."
Lady Sheratan hanya tersenyum tipis, seolah tidak menganggap ucapan itu sebagai ancaman.
"Kita akan segera mengetahuinya."
"Sudah cukup." Putri Vega mengangkat tangan, menghentikan keduanya sebelum pertengkaran mereka memanas. "Daripada terus berdebat, bukankah lebih baik kita melihat sendiri apakah Lady Wezen memang memiliki kemampuan yang layak?"
Para lady bangsawan lainnya saling bertukar pandang, lalu mengangguk setuju.
Tak lama kemudian, mereka mulai berkumpul mengelilingi Arina.
Rasa penasaran memenuhi wajah masing-masing.
Mereka ingin melihat sendiri apakah istri Jenderal Orion Wezen benar-benar pantas menjadi anggota Majelis Bintang Putih, atau hanya diterima karena status suaminya.
...***...
...Like, komen dan vote...