NovelToon NovelToon
GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

GAIRAH TERLARANG SANG PENGUASA

Status: tamat
Genre:Romansa / Kaya Raya / Roman-Angst Mafia / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: wilia

Latizia adalah wanita yang bersuami. Parasnya yang cantik dan nyaris sempurna melekat tapi tak bisa merubah kenyataan rumah tangganya.

Ia harus menerima kepahitan saat melihat suaminya bercinta dengan wanita lain di kamarnya sendiri.

Tibalah suatu malam Latizia tak sengaja menyaksikan hubungan panas kakak iparnya bersama istri pria itu.

"Kau pasti juga ingin merasakannya, bukan?!" Desis sesosok pria bertubuh kekar tinggi yang tengah membekapnya dalam kegelapan.

Sejak saat itu Latizia terlibat hubungan terlarang dengan kakak iparnya yang bahkan lebih bengis dari sang suami. Pria itu menekankan jika hubungan mereka hanya sekedar saling memuaskan dan terlepas dari masalah apapun, pria itu tak ingin ikut campur.

Bagaimana nasib Latizia selanjutnya?! Mampukah ia terus bertahan dengan hubungan terlarang dirinya dengan pria bangsawan itu?!

......

Tinggalin like, komen and subscribe-nya ya say..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

A..apa aku membunuhnya?

Rencananya mereka akan turun gunung tadi malam. Tapi, karna salju akan turun deras dan badai selalu datang saat malam, akhirnya kakek Teans memilih untuk turun di pagi hari saat mentari masih bersembunyi di ufuk timur.

Latizia hanya menurut. Ia dengan pakaian tebalnya berjalan di belakang Milano yang membiarkan kakek Teans dan Zehen berjalan lebih dulu sementara ia memeggang tangan Latizia di belakang.

Jalan yang mereka lewati tak sama dengan jalur mendaki kemaren. Kakek Teans tahu jika tak aman melewati jalur umum seperti itu.

"Hati-hati, jalannya memang licin!" Ucap kakek Teans berpeggangan pada tali yang ada di kiri kanan mereka.

Latizia tak menjadi beban. Walau harus ada dalam genggaman tangan Milano, dirinya lincah ada di belakang pria itu.

"Perhatikan langkahmu! Jika jatuh aku tak akan jadi pahlawan di pagi hari," Tegas Milano tahu jika Latizia cukup ceroboh.

Darren yang melihat tuannya seperti sangat menjaga Latizia walau dengan cara kasar seperti itu hanya bisa mengulum senyum seraya membawa ransel di belakang Latizia.

"Jika di lihat-lihat mereka berdua itu cocok," Batin Darren agak malu mengakuinya.

Di pertengahan perjalanan untuk turun ke bawah. Tiba-tiba saja terdengar suara orang-orang yang sepertinya ada di sekitar hutan ini.

"Kau menemukannya?"

"Tidak, mereka tak melewati jalur utama."

Suara percakapan dua pria dari balik hutan membuat langkah mereka terhenti. Kakek Teans menoleh pada Milano yang mengeratkan genggamannya pada Latizia.

"Kita harus cepat sebelum mereka menemukan putri!"

"Aku ingin bertemu dengannya," Jawab Latizia tegas dan serius. Kakek Teans menggeleng dengan penuh penolakan.

"Putri! Jika kau ingin menjelaskan pada mereka, sekarang bukan waktu yang tepat."

"Yah, apa yang di katakan Guru itu benar. Putri dalam bahaya besar," Timpal Zehen menatap lembut Latizia yang akhirnya diam.

Hal inilah yang selalu menganggu pikirannya sedari tadi karna tak tenang membiarkan aliran dendam terus membara.

"Sepertinya mereka melewati jalur lain!!"

Suara seruan pria lagi. Milano tak bisa lagi melanjutkan turun ke bawah hingga dengan sigap ia berjalan menarik Latizia masuk ke dalam hutan di samping mereka.

Mau tak mau yang lainnya juga ikut mendekati asal suara itu. Mereka mengendap melihat dari balik pepohonan dan semak-semak rimbun yang tertimbun salju.

"Orang-orang Garalden?" Tanya Zehen melihat ada 5 pria tanpa penutup wajah tengah berkeliaran di sekitar sini.

"Mereka orang Garalden yang ingin membunuh putri?"

"Tidak," Jawab Latizia tahu jika itu bukan dari kerajaanya. Perawakan mereka sama sekali tak menunjukan hawa dari wilayahnya dan lebih pada tatapan sangar, haus dan serakah.

"Mereka dari Madison!" Tegas Milano datar menatap tajam para kelompok bersenjata itu.

Ucapannya tadi langsung mendapat tatapan bingung Latizia yang ada di depan Milano sementara pria itu ada di belakang.

"Aku rasa kau tak sepenting itu untuk di cari."

"Yah, tapi aku punya peliharaan," Jawab Milano dengan senyum yang sangat jijik.

Seketika Latizia membelo jengah. Pasti putri Veronica-lah yang sudah membuat ulah hingga Raja Barack mau memerintahkan orang untuk mencari mereka.

"Apa kita harus menyerangnya?" Tanya Zehen sudah muak melihat orang-orang Madison itu.

"Tak perlu. Jika di serang maka suruhan yang lain akan tahu kita disini. Itu semakin rumit dan sulit di tangani," Jawab Darren pengamat situasi.

"Buat saja pengalihan!"

"Otakmu cukup pintar," Sarkas Milano pada Latizia yang hanya menunjukan tatapan malas.

Ia kembali menurut saat Milano menariknya untuk segera turun di ikuti yang lain di belakang mereka.

"Aku bisa jalan sendiri!" Ketus Latizia menyentak tangannya dari genggaman Milano yang akhirnya membiarkan Latizia berjalan sendiri di depan.

Suara orang-orang suruhan Raja Barack tadi terdengar menjauh. Sepertinya mereka tak mengetahui keberadaan mereka disini dan hanya mengikuti kabar burung.

Guuuukk..

Suara anjing menggonggong dari arah kaki gunung. Latizia melihat jika ada banyak orang di bawah sana dengan anjing pelacak yang di sebar untuk mencari sesuatu.

"Orang-orang Madison ini memang punya banyak cara yang licik," Sindir Zehen di belakang Milano yang hanya diam berdiri tegap mendengarkan setiap keriuhan di bawah sana.

"Kita sudah tak bisa pergi lagi! Pasukan pelacak itu pasti menemukan kalian!" Ucap kakek Teans tak lagi punya rencana.

Latizia berpikir sejenak. Yang di cari disini adalah mereka berdua dan bukan kakek Teans.

"Begini saja. Kakek dan Zehen pergilah ke bawah bersama Darren. Bawa mereka kembali ke kediaman!"

"Bagaimana dengan putri?" Tanya Zehen cemas dan tampak khawatir.

Latizia menatap Milano dan begitu juga sebaliknya. Sedetik kemudian mereka saling membuang muka malas dan masam.

"Aku akan mengalihkan perhatian mereka bersama pria brandal tak berguna ini."

"Kau bilang apa?!" Geram Milano tapi Latizia buru-buru menariknya pergi masuk ke dalam hutan.

Zehen yang melihat itu sama sekali tak tenang. Ia berbalik segera membungkuk pada kakek Teans yang memandang santai kepergian keduanya.

"Guru! Biarkan aku menjaga putri!"

"Tak akan ada yang bisa menyentuhnya," Jawab kakek Teans tenang melanjutkan perjalanan.

Darren menatap datar wajah bingung Zehen dan berlalu melewati pria muda itu.

"Sebenarnya siapa pria arogan yang bersama putri?!" Gumamnya mengepal mau tak mau segera turun ke bawah.

Sementara di dalam hutan lebat dan dingin sana, Milano hanya menurut saat Latizia menariknya semakin menjauh dari jalan turun tadi.

Wanita ini ternyata cukup pandai menghindari kejaran pemburu tapi tak cukup pintar menyembunyikan jejak.

"Kau ingin berjalan berapa kilometer lagi?" Tanya Milano merasa tak berguna seperti ini.

"Setidaknya kita bisa menjauh dari mereka dulu!"

"Cih," Decih Milano menghentikan langkahnya hingga Latizia terhuyung ke belakang.

"Kauu.."

"Kau lihat jejak sebesar apa yang kau tinggalkan?!" Sarkas Milano memeggang pipi Latizia lalu mengarahkannya pada jejak kaki mereka yang tercetak di hamparan salju.

Sontak Latizia langsung berubah jengkel menatap muak Milano yang dengan santai berdiri di dekatnya.

"Jika kau sadar sedari tadi, kenapa tak mencari jalan lain, ha?!"

"Kau tak bertanya," Gumam Milano tak ada takutnya sama sekali dengan pemburuan kali ini.

"Ini semua karna-mu!!"

"Kenapa?"

"Jika bukan karna kau ikut denganku maka, pasti tak akan begini," Geram Latizia mendorong bahu kokoh Milano yang di baluti mantel.

"Baik, kita cari jalan sendiri!"

"Baik, SELAMAT TINGGAL!!" Tekan Latizia lalu melenggang pergi sesukanya. Ia menggerutu di setiap langkah menyimpan kekesalan itu menjauhi area Milano berdiri.

Wajah tampan Milano yang tadi santai berubah serius. Ia melirik ke belakang dimana sudah terdengar gonggongan anjing dan suara langkah kaki yang mengejar.

"Ingin menemukanku?!" Gumam Milano menyeringai iblis. Ia bersiul panjang satu kali hingga suaranya yang seperti peluit menerbangkan burung-burung di sekitar hutan ini.

Tak berselang lama, salju yang tadi tenang mulai bergetar. Hewan-hewan yang ada di dalam hutan ini mulai berlarian turun ke bawah membuat Latizia yang tadi ada di depan bingung.

"Kenapa berguncang?! Hewan-hewan disekitar sini juga tampak panik!" Gumam Latizia berpeggangan ke pohon di sampingnya melihat ada rusa gunung dan banyak lagi burung-burung menyerbu turun seperti ketakutan.

Latizia yang tak tahu apapun mulai ikut merasa terancam. Ia menoleh ke belakang dimana tadi meninggalkan Milano sendirian.

"Pria itu pasti tak tahu cara hidup di hutan. Dia terbiasa makan enak di kerajaan akan sangat ketakutan melihat semua ini," Gumam Latizia mencemaskan Milano karna merasakan ada longsor salju sebentar lagi.

Tanpa menunggu lama, Latizia kembali berlari ke arah tempat ia dan Milano tadi berniat mencari pria itu.

"Pria brandaaal!!!" Panggilnya sesekali jatuh karna guncangan gunung yang cukup kuat.

Latizia berpeggangan ke pohon-pohon yang ada di sampingnya sampai terdengar auman singa yang begitu menggelegar menakuti binatang-binatang gunung yang semakin menggila.

"A..ada singa disini?!" Panik Latizia tak percaya. Ia segera berlari mencari Milano yang tak ada lagi di tempat tadi.

"Pria brandaaaal!!!"

Teriaknya setengah panik mencari ranting kayu yang bisa di jadikan senjata.

"Pria brandaaal!!!" Panggilnya lagi turun dari lereng mencari jejak Milano.

"Dia pasti ketakutan setengah mati," Gumam Latizia merasa bersalah. Ia tak sadar jika sosok yang sedari tadi ia cari tampak santai dan sangat tenang duduk di atas dahan pohon yang cukup besar mengamatinya dari atas.

Milano tersenyum licik melihat Latizia yang sesekali terguling karna kesulitan berjalan ditengah guncangan tanah dan salju itu.

Ia yang di kira ketakutan, justru tampak stabil duduk di atas dahan kayu seraya bersandar menekuk satu kakinya yang berselonjoran tenang.

"Nona depresi!" Gumam Milano menyeringai iblis. Ia sengaja membuat Latizia kebingungan dan panik setengah mati saat melihat ada darah yang berceceran di sekitar sini.

"T..tidak. A..apa aku telah membunuhnya?!" Cemas Latizia takut Milano terbunuh karna di makan binatang buas.

....

Vote and like sayang..

1
Netty Netty
bagus thorr, 👍👍👍
Netty Netty
latizia ceroboh
Ida Irwanto
kira2 siapa ya yg curi dengar
Ida Irwanto
sdh belah duren habis ini milano kecanduan dah dan tiap hari ada gempa dan banjir lokal🤣🤣🤣
Ida Irwanto
apa milano yg memainkan harmonikanya ya
Ida Irwanto
untuk yg blm perna baca cerita kak will coba dulu ya pasti nyandu baget ceritanya selalu menarik dan buat candu pembacanya semangat terus kak will👍💪💪💪
Khofifah Khofifah
fyi aq download apk noveltoon bln kmren pas baca kyk gk ada yg seru trus habis itu aq uninstall aq dipizo emng tau kak wil karya2nya...tp gtw klw dia juga nulis dinoveltoon ...pas tau akun noveltoon kak wil ini aq download lagi 😂 dn hello ini karyanya yg pertama yg aku baca 👌🏻😭 the best pokok e😂😉
Earlyta a.s Salsabila
good
Earlyta a.s Salsabila
Buruk
Betri Betmawati
aku Krang srek dengan peran wanita nya lemah bodoh,mau ja ditindas
Lia Pazliani
keren banget👍👍👍👍
jojo
Luar biasa
liya kurniawan
/Scare//Scare//Scare//Scare/
liya kurniawan
cerita nya tentang kerajaan. tp di cerita nya pakaian mreka pake jas, latizia pake hotpants,sama rok pendek. AQ jd susah bayangin nya. ko zaman kerjaan bgtu?
Avril
🤣🤣
Erna Na
hihihi
Lis Nawati
sangat keren
Murniyati
kerennnn mksh author
Murniyati
baguss
Murniyati
kasihan bumil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!