Awan tidak pernah menyangka kalau gadis yang akan di jodohkan dengannya itu adalah Senja kekasihnya sendiri. Kedua orang tua mereka sudah sepakat dan akan segera menikahkan mereka. Tapi suatu konflik telah terjadi karena kebohongan orang tua Awan yang mengaku kalau dirinya orang kaya. Pak Agung telah mengetahui kalau Awan bukan anak orang kaya seperti yang di harapkan nya.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Akankah hubungan mereka bisa berlanjut ke jenjang pernikahan setelah hal tersebut terjadi?
Mari ikuti ceritanya dalam Pernikahan Tanpa Restu.
👉 Selamat membaca semoga suka 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristina dinata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senja merasa Cemburu
Mama Andin merasa sungkan menerima bantuan dari Jingga ia tidak menyangka kalau Jingga sebaik itu. "Makasih Nak, harus dengan cara apa ibu membalasnya? Ibu tidak punya uang untuk menggantinya Nak," lirih Mama Andin.
"Ibu gak harus menggantinya kok aku iklas karena aku sangat mencintai Bang Awan Buk. Aku tidak tega melihatnya sakit," ucap Jingga kecoplosan.
"Jingga kamu?" Mama Andin kaget.
Ya ampun kok aku bisa kecoplosan gini batin Jingga sambil menggigit bibirnya merasa malu kini Mama Andin telah mengetahui perasaannya yang telah lama ia pendam itu.
Terlanjur ketahuan yah sudahlah akui saja ini lebih baik terus terang dari pada aku akan menyesal di kemudian hari, ucap Jingga membatin.
Tante Andin sudah mengetahui perasaanku pasti ia akan membujuk Awan untuk berbaik hati padaku kita bisa seperti dulu lagi. Jodoh mah, gak akan kemana aku yakin dengan membantu Awan aku akan bisa mendapatkan hati Awan. Jingga tersenyum sendirinya. Mama Andin jadi terdiam sibuk memperhatikan Jingga yang tampak aneh senyum-senyum dari tadi.
"Jingga ...!" seru Mama Andin di telinganya.
"Astaga Tante ngagetin aja!" ucap Jingga terperanjat.
"Kamu kenapa bengong?" tanya Mama Andin.
"Hehe ... tidak apa-apa kok Tan, sebenarnya sejak dulu aku sudah mencintai Bang Awan Buk, tapi Bang Awan selalu mengabaikan perasaan Jingga. Ia hanya menganggap Jingga sebagai sahabat aku pun tidak keberatan dengan hal itu. Tapi lama-lama perasaan Jingga terus menyiksa. Jingga gak kuat harus menahan perasaan Jingga hingga suatu saat Awan pun mengetahuinya. Dan Bang Awan menjauhi Jingga Buk. Tapi Tuhan itu maha adil kini Ia mempertemukan kami kembali dengan musibah ini. Jingga benar-benar tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Bang Awan setelah sekian lama tidak bertemu, Jingga bahagia banget Tante," ... ucap Jingga semangat.
Mama Andin menarik napas panjang mendengar ucapan Jingga ia tidak menyangka ternyata Jingga mencintai Awan.
Aduh, bagaimana ini? mau di kemanain Senja? batin Mama Andin jadi bingung.
"Ma ...!" panggil Pak Alam tiba-tiba pada Mama Andin.
"Iy-iya, Ayah ngagetin aja! kok tiba-tiba datang langsung teriak gitu sih," ujar Mama Andin kesal.
"Mama ngapain di sini? berkali-kali Ayah panggil kok gak denger makanya Ayah teriak. Ayah kira Mama budek."
"Ayah bikin kesal aja emang ads apa sampe teriak-teriak?
Itu si Awan ya manggil Mama gak tau mau ngapain.
"Kenapa harus Mama, kenapa Ayah tidak mau bantuin Awan apa kamu tidak melihat Mama lagi ngobrol sama Jingga?" Mama Andin mengeluh.
"Awan perlunya sama Mama bukan sama Ayah."
"Hem, ya sudah Mama ke sana dulu. Jingga kamu mau ikut atau di sini saja?"
"Mau ikut Tante." Jingga segera berdiri
"Ayo kita temui Awan," ajak Mama Andin.
Keduanya berjalan menuju ruangan Awan. Awan langsung kaget kenapa ada Jingga di situ.
"Hai apa kabar," ucap Jingga sambil tersenyum kearah Awan.
Awan membetulkan posisinya. "Jingga sejak kapan kamu datang?" tanya Awan.
"Sebenarnya aku ada sit sini sejak tadi pagi Bang, tapi aku ngobrol sama Tante dulu di luar."
"Oh ngobrolin apa?" tanya Awan kepo.
"Ada deh, mau tau saja. Bang Awan dari dulu masih suka kepo ya Tante ...," ledek Jingga.
"Hem gak kepo juga sih," cibir Awan menoleh ke arah lain tidak suka mendengar ledekan Jingga.
Jingga ada di sini bagaimana caranya aku bilang ke Senja? tanya Awan dalam hatinya. Ia jadi bingung sendiri kehadiran Jingga pasti akan membuat Senja kesal apalagi Jingga sikapnya sok perhatian gitu dengan dirinya pastilah Senja akan sakit hati di buatnya.
Hal yang ditakutkan Awan telah terjadi Senja datang menemuinya di saat itu. Jingga masih berada di ruangannya. Tentu saja Senja kesal bukan nya melepas rindu dengan Awan malah sakit hati yang didapat Senja. apalagi setelah melihat Jingga berlaga mesra dengan Awan saat itu membuat Senja kesal dan merasa cemburu. Ia pun segera pergi dari tempat itu. Jingga terseyum penuh kemenangan sedangkan Awan cuma bisa memendam sakit hatinya pada Jingga karna sudah menjebak nya saat itu. Awan beranjak mau menyusul Senja tapi di tahan Jingga.
Bang Awan jangan banyak gerak dulu itu lukanya masih berdarah. Biarin saja gadis itu lagian dia baperan banget sih, kita kan gak lagi ngapain-ngapain dasar gadis aneh. Udahlah Bang gak usah kejar dianya juga udah menghilang." Awan tatap bersikeras untuk bangun ia membentak Jingga yang mencoba menghalangi. Jingga terdiam dan langsung menangis.
Semua ini gara-gara kamu Jingga Senja kira bermesraan. Lagian kamu kenapa begitu dekat tadi. Awan mencetus memarahi Jingga. Ia berusaha berlari pelan mencari Senja yang sudah menghilang. "Senja ... Senja ... dimana kamu? ini tidak seperti yang kamu lihat Sayang. Aku gak lagi ngapain-ngapain dengan Jingga percayalah aku mencintai kamu Senja, jangan tinggalkan aku, aku mau di rawat sama kamu," Lirih Awan berjalan tartatih-tatih sambil melihat di sekeliling tempat.
ijin follow yaa, follback thor
PaMud mampir