Kedekatan yang telah terjalin semenjak masih belia harus berbanding terbalik kala sebuah ikatan memaksa mereka untuk bersatu.
Surinala Jarumilind, gadis berparas ayu bertatapan sendu. Salah mengartikan sikap manis seorang pria yang telah lama mengisi hari-harinya.
Bara Dewandaru, pria berparas tampan, berperawakan gagah dan bermulut manis yang di gandrungi banyak wanita.
Mau tau kelanjutannya, baca dan ikuti perjalanan rumah tangga mereka yang penuh dengan intrik dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mitta pinnochio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memintal hasrat
Bara menggeram tertahan. Ia memegang erat pinggul mungil yang tak terhalang serat. Sorotnya berkilat penuh nafsu. Ia mencecap segala asa akan hasratnya yang tengah meluap. Di hentakkan dengan kasar ereksinya melewati celah kecil yang begitu membuatnya terlena.
Ia menghentak gadis di bawahnya tanpa ampun. Sementara gadis itu, Nala hanya mampu menangis dalam diam, pasrah akan segala yang di lakukan suaminya. Bara menjilati dan menyesap setiap inci dalam tubuhnya. Ia bahkan meremas dengan kuat gumpalan sintal yang terasa kenyal dengan telapak besarnya.
"Yess!"
"Ahhh ... shittt!"
Peluh mengalir di sekujur tubuh kekarnya. Ia mengangkat tubuh mungil yang tak berdaya tepat di atas pangkuannya. Sedangkan Nala hanya diam, tertunduk sendu dan meratapi akan nasibnya.
"Lihat aku," ucapnya serak seraya menggerakkan tubuh mungil di atas pangkuannya.
Nala terlihat acuh dan tak sudi menatap balik, sorot berkilat nafsu yang kini memperlakukannya begitu beringas.
"Kenapa tidak mau menatapku? Bukankah ini yang kamu mau. Haahh! Kau istriku dan aku mempunyai hak untuk memperlakukanmu semauku." Bara berucap dengan nada dalam dan serak seraya menyeringai dingin.
Dengan gerakan spontan, ia meremas dengan begitu keras gumpalan sintal di pinggul gadis itu, hingga sang empunya melenguh kesakitan.
"Ahhh .... sakit."
Nala seolah tak mampu lagi. Ia terus menangis merasakan nyeri di pusat tubuhnya serta beberapa bagian lain. Sebab Bara tak segan-segan melayangkan pukulan di beberapa bagian tubuhnya dan berlaku begitu kasar. Dalam hati ia merutuki nasibnya yang begitu pilu. Namun, mau bagaimana lagi. Nasi telah menjadi bubur dan Nala sudah terlanjur menikah dengan pria itu.
Bagaimanapun Bara memperlakukannya. Nala adalah istrinya. Pria itu memiliki hak penuh atas dirinya.
Malam kelam yang penuh ironi menjadi saksi bisu akan keberingasan seorang Bara yang merenggut keperawanan istrinya.
*
*
*
Mega berlarian dengan derai air mata di koridor rumah sakit. Ia menangis meraung sembari berteriak, memanggil sesiapa petugas rumah sakit yang tengah terjaga. Hingga langkahnya sampai di bangsal koridor sebelahnya. Mega baru bertemu salah satu suster yang berlari tergopoh ke arahnya.
"Iya, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?"
Mega mengangguk dengan air mata yang mengucur deras. "Besan saya sus. Besan saya badannya dingin. Dia gak respons sama sekali saya ajak ngomong," ucapnya terbata sarat akan ketakutan yang begitu kentara sembari berlari kembali ke ruangannya.
Sampai di ruangan pasien, seketika suster itu langsung memeriksa keadaan Arum yang tengah terbujur diam di atas ranjangnya. Namun, saat ekor matanya melirik alat Elektrokardiogram disisinya. Wajahnya langsung berubah pias. Dengan gerakan tergesa ia langsung mengambil alih pergelangan tangannya dan memeriksa nadinya dan tanda vital lainnya. Benar saja apa yang ia duga. Sang pasien telah meninggal belum lama.
Dengan pundak lesu, ia berbalik menatap Mega yang sedari tadi melihatnya dengan penuh rasa gelisah.
"Mohon maaf Ibu. Pasien sudah meninggal dunia sekitar 20 menit yang lalu," ujarnya sendu seraya menatap penuh prihatin ke arah kerabat pasien tersebut.
Sontak, Mega langsung jatuh terduduk, menutup wajahnya dengan tangannya seraya menangis pilu. Bersamaan dengan itu, Bagas beserta Bima masuk kedalam ruangan dengan tergesa. Dan ketika melihat itu, keduanya langsung terdiam, mendesah sesal penuh penyesalan.
*
*
*
Bara menggeliat dalam tidurnya, kemudian ia bangun dengan rasa segar sarat akan dahaga yang telah terpuaskan. Sorotnya mengedar, menatap sekitar tepat dimana ia sekarang berada. Sebuah ruangan kecil dengan banyak tumpukan barang disisinya namun, telah di tata dan terasa nyaman untuk di tempati.
Hingga ia baru sadar, jika ia tengah terlelap dikamar Nala. Sontak, sorotnya menatap ke samping melihat sisi tempat tidurnya yang telah kosong. Ia baru teringat jika semalaman penuh, dirinya menggagahi Nala dengan begitu beringasnya.
Bara beranjak berdiri, tanpa rasa malu ia bergegas kembali ke dalam kamarnya sendiri tanpa sehelai benangpun. Di dalam kamarnya, ia memeriksa ponselnya, melihat kabar dari kekasihnya yang semalaman ini membuatnya gelisah dan frustasi di buatnya. Sampai sebuah pesan dari ibunya, membuat sorotnya sedikit membola terkejut.
Nala terduduk di bawah guyuran air seraya memeluk tubuhnya sendiri. Terhitung sudah 1 jam lamanya ia berada di bawah guyuran air hingga kulit tubuhnya nampak putih pucat tertimpa air. Bibir yang merah jambu, tampak bergetar, pucat dan berwarna sedikit kebiruan. Gadis itu terus menangis dan tak kunjung mereda.
Sudut bibirnya nampak terluka, leher serta pergelangan tangannya tampak memar kebiruan. Bara menggagahinya begitu brutal. Pria itu bahkan beberapa kali melayangkan pukulan dan berlaku terlalu keras pada tubuh mungilnya.
Tiba saja ia sedikit terkesiap ketika sebuah ketukan pintu mengambil alih tangisnya. Nala berhenti namun masih dengan tangis yang sedikit tersisa.
"Keluar, Bunda kamu meninggal!"
gamPaR aja banG baRa nya biaR gak kuraNg ajaR saMa oRtu😡😡😡