Masih tahap revisi bertahap, jika menemui POV 1 maka itu belum bisa Author revisi, terimakasih.
Velicia, gadis manis yang baik hati. Setelah mengalami pengkianatan dan perselingkuhan antara teman dan pacarnya, kini dia menjadi gadis yang dingin dan selalu menjauhkan diri dari orang lain.
Bagaimana kisah perjalanan hidup Velicia selanjutnya? Akankah dia mendapatkan cinta yang tulus untuknya? Akankah hatinya yang beku bisa mencair?
Cover from google edited by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Aku akhirnya bertemu dengan Yuki, dan sudah berada dalam rumahnya, tapi satu hal yang membuatku merasa aneh, kenapa Dean juga ikut masuk dan dia duduk berhadapan denganku.
"Yuki, kenapa dia ikut duduk," bisikku pada Yuki, dilanjut dengan meminum minuman yang dibuat oleh Yuki.
"Aku kakaknya," jawab Dean yang mendengar bisikan ku, dan itu membuat ku terkejut dan hampir membuatku menyemburkan air di mulutku.
"Kakak?" Tanyaku terkejut sembari menoleh ke arah Yuki, Yuki hanya mengangguk dengan senyum diwajahnya.
Ahh aku tidak percaya kenapa semua serba kebetulan.
"Kakak kau tidak datang berkunjung lama, kemana saja?" Tanya Yuki.
"Kita magang," jawab Dean.
"Aku tidak tanya kakak, aku tanya kak Cia," ucap Yuki melirik kakaknya itu.
"Kan sama saja, toh kita satu perusahaan," saut Dean.
"Kakak bilang tidak mengenal kak Cia, sekarang bilang satu perusahaan," Yuki protes.
"Kamu bilangnya Cia, kakak taunya Velicia,"
"Ah, kenapa kalian malah berdebat?" aku akhirnya bicara, melihat mereka berdua ini seperti melihat diriku dulu dengan Davin.
"Ah iya kak Cia, maaf ya," Yuki akhirnya berhenti.
"Oke, ini akhir pekan bagaimana jika kita jalan jalan," ajak ku pada Yuki.
"Boleh, kak Dean ikut ya," Yuki spontan mengajak kakaknya itu.
"Oke," Dean mengiyakan saja.
"Kenapa kau mengajaknya," aku pun protes, aku ingin mengajak Yuki tapi Yuki malah mengajak Dean.
"Ga pa pa kak, anggap saja dia bodyguard kita hehehehe," bisik Yuki sembari tertawa kecil.
"Aku ganti baju dulu," Yuki bangkit dari duduknya dan pergi kedalam.
Mau bagaimana lagi sudah terlanjur ditawari, mau tidak mau aku juga menerimanya, aku meminum minumanku lagi, dan aku sedikit melirik kearah Dean yang sepertinya masih saja menatapku, membuatku merasa aneh.
Kami pun pergi ke Taman hiburan sesuai permintaan Yuki, karena dia tidak berkata kalo dia tidak pernah pergi kesana.
Di sana Yuki menaiki banyak wahana bermain, aku dan Dean hanya menuruti apa yang ingin Yuki lakukan, hingga tak terasa kami hampir menaiki semua wahana disana.
"Aku lelah," ucap Yuki yang langsung duduk disebuah bangku disana.
"Apa kau puas?" Tanyaku dengan senyum di wajahku.
"Seratus persen puas," Yuki mengacungkan jempolnya.
"Mana kak Dean?" Tanya Yuki yang tidak melihat kakaknya.
"Dia bilang ingin membeli minuman," jawabku, karena dia pamitnya seperti itu.
"Oh,"
Selang beberapa menit Dean datang dengan sekantong plastik minuman dan gula kapas ditangannya, dia memberikan gula kapas itu padaku dan Yuki.
"Terimakasih," ucapku seraya menerima gula kapas itu, dan lagi lagi dia memasang senyum itu.
"Kakak, aku mau ke toilet, bisa pegangin ini," Yuki buru memberikan gula kapas miliknya padaku dan berlari kearah toilet umum.
Aku dan Dean pun menunggunya disana, sesekali aku memakan gula kapas itu, itu memang manis dan aku lupa kapan terakhir kali aku makan makanan manis ini, ini membuatku merasa sesuatu yang beda menghampiri hatiku.
"Ada sesuatu di pipimu," ucap Dean yang memperhatikanku.
"Apa?" Aku mencoba menyentuhnya dengan punggung tanganku karena kedua tanganku menggenggam gulali.
Dean menghentikan tanganku, lalu tangan kanannya nampak menyentuh pipiku dan membersihkan yang ada disana, entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang bahkan aku tidak tau apa itu.
"Gula kapas menempel disana," ucap Dean, dia meraih tangan kananku dan memakan gula kapas milikku, aku sedikit terkejut kenapa dia mau makan makanan yang sama denganku, dia hampir membuatku gila dengan sikapnya ini.
"Kau, kenapa makan milikku?" Tanyaku yang entah kenapa menjadi agak gagap karenanya.
"Tidak apa apa, ini memang manis," Dean mengusap gula kapas bibirnya sendiri dengan jarinya, kemudian dia memalingkan wajahnya setelah memakan gula kapas itu, bisa terlihat dia menahan senyumannya dan dia berusaha menyembunyikan nya dari Velicia.
Aku tidak percaya dia melakukan itu, aku memandangi gula kapas milikku, ah masa bodoh dia menggigitnya, aku memakan gula kapas milikku karena aku menyukai gula kapas yang manis ini.
Setelah seharian bermain kami pun kembali, Dean yang mengemudikan mobilnya, Yuki tertidur di kursi belakang, aku duduk di kursi depan, Dean merapatkan mobil ku di bahu jalan dekat rumah mereka.
"Terimakasih," ucap Dean.
"Untuk apa?" Tanyaku dengan nada datar.
"Sejak awal Yuki tidak memiliki banyak teman dan sering sekali patah semangat, tapi sejak bertemu dengan mu, dia menjadi lebih baik," ucapan Dean penuh dengan keseriusan.
"Aku berteman dengannya karena dia gadis yang baik, jadi tidak perlu berterimkasih," ucapku.
"Oke aku akan membangunkannya," Dean melepas seatbelt nya dan turun dari mobil, aku pun turun untuk berganti posisi ke kursi pengemudi.
Aku melihat Yuki yang masih mengantuk, dia melambaikan tangannya kearahku sembari dituntut Dean, aku pun hanya bisa membalas lambaian tangannya.