Dean tidak pernah berpikir dia akan hidup. Setelah dua kali terkena hujaman peluru, dan tubuhnya yang terbentur bertubi-tubi di lereng tebing. Dia yakin, pas dirinya terjun ke laut Dia pasti mati!
Siapa sangka, tubuhnya masih kuat terbawa arusnya ombak, dan terdampar di tepian pantai. Meski begitu, dia masih berpikir...
Dia pasti, akan mati!
Wanita itu.... Yah... Bisa dibilang malaikat penyelamat hidupnya. Dengan sepasang kakinya yang indah bertelanjang kaki berlari kecil di atas pasir menghampirinya. Menemukan tubuhnya yang malang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26 Menjaga Jarak
Kenapa Dean melihat bibirnya? Apa ada maksud lain padanya? Atau ini bukan ajang balas budi? Melainkan punya niat terselubung? Namun jujur, dia sendiri cemas akan dirinya. Karena ada getaran-getaran lain di hatinya, dan itu sangat mengganggunya. Oh, Tuhan... Tolong redam rasa itu.
Nina lekas memiringkan tubuhnya. Dari tadi dia sulit sekali tidur. Takut sekali terjadi sesuatu diantara mereka. Kalau dia nggak menginginkan rasa itu muncul, jangan sampai juga Dean merasakannya. Karena rasa itu, rasa yang susah dikendalikan oleh orang pintar sekalipun. Semua orang pasti tidak berdaya dengan yang namanya ‘cinta.’
Inilah yang ditakutkannya. Kebersamaan diantara 2 insan berbeda jenis kelamin bisa menimbulkan benih-benih lain. Apa lagi dia sudah lama sekali hatinya tidak disinggahi pria. Kehidupan pribadinya pun seorang diri. Sedangkan Dean, entahlah... Takutnya tadinya ingin balas budi malah timbul perasaan suka.
Kalau itu sampai terjadi. Maka kejadian 3 tahun lalu terulang lagi. Pria yang dulu ditolongnya, yang kapalnya karam tidak jauh dari pulau ini. Semua Abk kapal pria itu dia yang menolongnya. Saat itu kapal itu tenggelam, dan semua penumpang terapung-apung dan terdampar di pulau ini.
Warga sini yang menemukan, dan membuat tenda darurat untuk mereka. Lalu memanggilnya untuk memegang kendali atas pengobatan mereka. Usai semua sembuh. Layaknya cerita dalam dongeng, si penyelamat dan si terselamat. Tuan muda itu dan ia saling jatuh cinta.
Nina mendesah, memejamkan matanya. Ya! Apa yang digelisahkannya masih belum pasti. Sebaiknya jangan terlalu khawatir. Biar begitu memang dia harus tetap menjaga jarak.
**********
Matahari belum mengeluarkan sinarnya. Suasana gelap masih menyelimuti pulau Elvaros. Dinginnya udara disertai embun-embun pagi terasa menggigit tulang.
Dengan mata masih terpejam, Nina menarik selimutnya. Tapi seketika dia terjaga karena didengarnya suara orang menyapu. Dengan raut wajah emosi, lekas dia bangkit. Berjalan ke jendela, menarik hordeng kasar.
“Hei! Apa yang kau lakukan?!” umpatnya.
Yang ditegurnya tersentak, menolehkan kepalanya. “Oh! Kau sudah bangun?”
“Tentu saja aku terbangun, kau membuat keberisikan di luar.”
“Aku kan lagi mengerjai tugas.”
“Di sini bukan barak tentara. Kau tidak diwajibkan bangun pagi-pagi buta!”
“Maaf, jika aku mengganggu. Yah... Anggap saja, pegawai kau ini rajin sekali.”
“Jelas aku terganggu, sebaiknya nanti saja kau bersihkan.”
“Sesaat lagi Matahari terbit. Buat apa kau tidur lagi. Lebih baik kau bangun saja.”
“Enak saja, jam istirahatku jadi terpotong. Lagi pula, siapa di sini yang berkuasa? Aku boss kau! Kau harus ikuti perintahku!”
“Nanti terbayar dengan jam tidur siang kau. Kau bisa istirahat, sudah ada aku di sini, bukan?”
“Yang benar saja! Kenapa kau mengaturku? Tidak bisa! Sebaiknya kau bersihkan nanti. Aku masih mau istirahat. Lagian, kau sudah membersihkan peternakan, belum?”
“Aku sudah membersihkan, karena itu aku beralih ke sini.”
Karena tidur-tidur ayam alias percuma tidurnya tidak nyenyak. Pria itu akhirnya jadi mengerjai tugas. Wanita itu pun sama semalam kurang tidur. Makanya dia jadi marah.
“Kalau begitu, kau di sana saja dulu. Nanti setelah Matahari terbit kau baru balik lagi ke sini.”
“Tanggung, Nina... Lagi pula kau pun sudah bangun.”
“Bagiku tiap menit sangat berarti. Jika belum saatnya, aku tidak mau bangun.”
“Kehidupan itu sebaiknya dimulai sebelum Matahari terbit. Kau orang kesehatan, bukan? Pasti tahu, bagaimana bagusnya udara pagi begini.”
“Kau ini mau aku pecat ya? Kenapa kau terus membantahku? Jangan bicara kesehatan, aku lebih tahu dari pada kau!”
“Aku hanya mengingatkan, siapa tahu kau lupa.”
“Kau ini...”
“Ya, ya, baiklah. Padahal aku ingin kau hari ini bugar menjalani aktifitas. Karena Matahari itu sumber kehidupan...”
Memotong. “Untuk tetap semangat menjalani kehidupan." Mencibir. "Cih! Perkataan basi!" Mendongakkan kepala. Bergaya menyindir. “Hei, kawan... Lihatlah, Matahari tersenyum berseri-seri.”
Dean tersenyum. Memang perkataan yang klasik semua orang pun tahu. Yah... Namanya juga usaha biar tetap bisa menyapu.
“Bagiku, pagi, siang, sore dan malam sama saja,” sambung Nina.
Meski raut wajahnya sesuai dengan perkataannya. Namun dalam hatinya terluka. Jika bicara itu, tentu jadi mengingatkannya akan kesendiriannya. Tiap waktu baginya sama saja. Selalu diisi dengan kekosongan dirinya.
“Jelas beda!” sanggah Dean.
“Apa?”
“Pagi itu cerah, siang itu panas, sore itu sejuk, malam itu gelap." Dean ngeloyor pergi.
“Dasar kau...!"
Pria itu tidak ke peternakan. Kembali duduk di bale hingga menanti Matahari terbit. Karena langit masih gelap, suasana belum terang, dan dia tidak ada disekitaran wanita itu. Dia tak mau orang yang diincarnya mengambil kesempatan ini. Tadi pun saat dia membersihkan peternakan buru-buru. Tentu dia harus tetap waspada.
30 menit berlalu, Matahari sudah keluar dari balik awan. Dean mengerjakan tugas. Nina sendiri sudah bangun dan sedang sibuk di dapur. Setelah urusan Dean selesai, dia duduk di ayunan. Tak lama Nina keluar membawa nampan, meletakkan di antara tubuh mereka.
“Kita sarapan di sini.”
“Oke."
“Pagi ini, aku buat sarapan simple. Hanya telor dan susu. Ayo, kita makan.”
“Terima kasih.”
Mereka menyantap hidangan sambil melihat-lihat sekitaran.
“Aku sudah lama tidak duduk di sini. Melihat kau suka di sini, aku jadi ingin," ujar Nina.
Merespon lain. "Nina, pagar bunga ini siapa yang buat?”
Melirik. “Kau tidak perlu tahu."
Turut melirik. “Kenapa?”
“Aku nggak ingin kau tahu tentangku. Karena aku pun tidak ingin tahu tentang kau.”
Heran. “Kenapa, Nina?”
“Kenapa apanya?”
Dean lupa, kalau dia harus memilah kata biar nggak terlihat ada kepentingan terselubung di sini.
“Maksudku, dalam bersosialisasi kan hal lumrah jika kita ada basa-basi. Lagian, aku tidak bertanya hal pribadi, aku tahu batasanku. Aku hanya bertanya tentang pagar ini saja.”
“Ya, dari pembahasan itu pembicaraan kita akan jadi melebar. Aku tak mau dari pagar, kau akan menanyakan hal-hal lain.”
“Jadi, kita hanya sebatas balas budi dan menerima budi?”
“Iya.”
“Pegawai dan atasan?”
“Iya.”
“Kalau begitu, sungguh menyedihkannya aku.”
Mengerutkan kening. “Maksud kau?”
“Kau hanya menganggap aku layaknya robot. Manusia itu diciptakan bisa bicara agar bisa berinteraksi dengan sesama.”
“Kalau begitu, aku type manusia yang menganggap lawan bicaraku seperti itu.” Nina berdiri.
Dia nggak mau pembicaraan ini jadi berkepanjangan. Takut nanti dia tidak bisa mengontrol diri. Orang kalau sudah keasyikan ngobrol suka lupa diri.
“Nanti bila kau sudah selesai, tolong bawa nampan itu ke dapur. Dan 30 menit lagi kau bantu aku menanam tanaman baru," lanjutnya berjalan.
Ada apa dengan wanita ini? Kenapa selalu memberi sekat padaku?
Beberapa menit kemudian, Dean mambawa nampan menyusul masuk rumah. Dilihatnya Nina lagi sibuk di kamar. Usai mencuci piring, karena masih ada waktu, dia keluar menuju peternakan.
Haruskah dia agresif? Sepertinya nggak perlu pelan-pelan lagi. Karena bila Nina terus begitu, yang ada waktunya habis meladeni sikap acuhnya. Ya! Sebaiknya dia lebih menonjolkan sifat pejantannya.
Namun sejujurnya dia pun ingin tahu, apa sebab musabab Nina begitu. Karena dilihatnya Nina seperti sengaja begitu.
Setibanya di peternakan, Dean jalan ke kandang dan membuka pintu. Rocky yang sedang minum menoleh atas kehadirannya.
“Rocky, kau sedang minum?”
“Hiiik...”
“Ah, andai kamu manusia, aku pasti akan bertanya semua hal tentang nonamu. Aku merasa ada yang tak beres dengan nonamu. Nonamu seperti sengaja membentengi kehidupan pribadinya.”
Rocky mengerjapkan matanya. Dean mendelik.
“Apa kamu tahu sesuatu?”
Kuda itu 3 tahun lalu sangat disayang sekali dengan Nina. Setelah beberapa bulan tuan aslinya pergi, Nina berubah. Seperti melampiaskan kekesalannya ke kuda itu. Akibat si tuan aslinya tidak kembali.
Dean semakin terbeliak. Karena Rocky tidak menjawab malah menampilkan wajah murung.
“Ya! Kamu pasti tahu, hanya sayang kamu tidak bisa bicara. Lagian, sangat aneh dia seperti itu padamu. Pasti dulu kalian baik-baik saja, bukan? Tapi aku pun jadi berpikir, apa masalahnya ada kaitannya denganmu?”
“Hik,” balas Rocky lemah.
Dean mendesah panjang. Memang bila dipikir-pikir seorang majikan berubah sikap pasti ada alasannya. Misteri ini harus dipecahkannya. Tapi pasalnya apa yang harus dilakukannya. Kalau dia bertanya ke orang-orang sini, mereka saja pada tidak ramah padanya. Haish... Ya sudah, lebih baik dia fokus mengakurkan sang majikan dan peliharaannya ini. Ya! Begitu saja.
“Jika aku bisa membuat kalian berdamai. Apa kamu mau, Rocky?”
Rocky membelokkan mata, seperti tersirat bahwa menginginkannya.
“Aku akan memulainya agar kalian perlahan-lahan membuka hati. Beberapa hari lagi aku dan Nina membutuhkan tenagamu. Kami mau mengangkut hasil kebun di hutan. Kemarin aku lupa bicara ini padamu. Bagaimana, Rocky? Apa kamu bersedia?”
“Hik,” balas Rocky singkat.
Tersenyum. "Kuda pintar..."
terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️
setelah greget baca dewi dan mas kris