NovelToon NovelToon
Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Bertahan Sakit Berpisah Sulit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Romansa
Popularitas:60.9k
Nilai: 5
Nama Author: megatron

Mengapa harus Likta yang mengandung calon penerus keluarganya?

Seumur hidup, Tiarnan tidak pernah terlena oleh sentuhan wanita. Akan tetapi, sejak pertemuan pertama dengan Likta, benteng pertahanannya goyah. Hancur lebur oleh tutur laku wanita yang menyebabkan adik perempuan Tiarnan mengakhiri nyawa. Alih-alih membalaskan dendam, Tiarnan dan Likta malah tidur seranjang.


Akankah rumah tangga Tiarnan dan Likta bahagia setelah buah hatinya lahir ke dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 026: Di antara Tanya, Arfid, dan Likta

Seratus. Tidak! Kali ini Likta memiliki keyakinan seribu persen bahwa keluarga sekelas Tiarnan memiliki kekuasaan dan kendali besar. Dan, tidak takut menggunakan keistimewaan itu untuk merebut buah hati yang mendiami rahimnya setelah lahir. Akan tetapi, dia bertekad kuat mempertahankan hak-haknya sebagai seorang ibu.

Dari dahulu, Likta memimpikan keluarga yang utuh, dia tidak sanggup membayangkan anaknya kelak mendapat pengasuhan dari orang lain. Sejarah tidak boleh terulang kembali, cukup sampai pada nasibnya saja. Besar tanpa pengasuhan kedua orang tua. Lagipula, dia tidak yakin bahwa Violacea akan mencintai anaknya dengan sepenuh hati.

Likta meringis menahan nyeri, keringat dingin mulai merambati pelipis. Mana bisa seperti ini, dia haruslah kuat, demi bayinya. Habis menarik napas banyak-banyak, dia mengangkat dagu, mata beloknya seakan-akan mengobarkan semangat.

Mereka boleh berencana menjauhkan Likta dari sang buah hati nanti, tetapi ikatan batin yang terbentuk sejak masa kehamilan tidak mungkin bisa terputus begitu mudah. Dalam surat perjanjian tidak tertulis bahwa dia dilarang menemui anaknya, pun di sana tidak menyebutkan perihal ibu pengganti. Jadi, besar kemungkinan Tiarnan belum mengetahui rencana besar sang ayah.

Likta menghela napas panjang sekali lagi sebelum berjalan menuju kamar, bukan, dia harus ke ruang sebelah dulu untuk membereskan sisa buah dan segelas susu. Dia mendorong pintu perpustakaan pribadi itu perlahan, lalu menoleh ke arah meja tempatnya tadi duduk. Sudah tidak ada kekacauan di sana, meja itu bersih mengilap.

Dan, sebaiknya Likta berhenti khawatir. Perutnya masih melilit, dia tidak boleh seperti ini, dirinya berkewajiban menjaga sosok mungil yang mulai bertumbuh. Teringat kembali perkataan dokter mengenai bahaya kram perut bagi ibu hamil. Dia tidak siap kehilangan seseoran dalam hidupnya, tak mau lagi menjadi penyebab hilangnya sebuah nyawa.

Sedikit limbung Likta berjalan menyusuri anak tangga. Dia berhenti sebentar untuk menghilangkan pengap. Begitu sampai kamar, dia mengarah ke kamar mandi. Berendam dengan air hangat sepertinya bagus untuk merilekskan tubuh juga pikiran.

Seluruh kain yang melekat di badan telah Likta tanggalkan, lalu penuh kehati-hatian masuk ke bak berukuran tiga kali orang dewasa. Dia menenggelamkan diri ke dalam air hangat beraroma segar, sebagai besar tubuhnya terendam sebatas dada.

Karena ingin membuat pening di kepala hilang Likta membasuh rambut juga. Memakai sampo yang sama dengan aroma suaminya, tetapi sesuatu seolah-olah menyentak, mengingat betapa Tiarnan membenci kedekatan tadi pagi.

Ketika tanpa sadar Likta menikmati harum sang suami sehabis mandi, dia sadar betul itu bukan kemauannya, ada perasaan aneh yang mendorong keinginan Likta untuk sesering mungkin berada di sekitar Tiarnan.

Tangan Likta membelai perut penuh cinta kasih, senyum getir tersungging di bibirnya. “Ibu sudah enggak sabar menantikanmu, Sayang.” Dia pun jatuh tertidur dalam buaian kantuk.

Entah sudah berapa lama Likta memejamkan mata, dari balik jendela kaca langit pekat telah merangkul buana. Kehangatan senja berganti kelembutan cahaya rembulan, bintang mulai menujukan eksistensinya.

Tiarnan baru tiba dan murung ketika di dalam kamar tidak menemukan keberadaan Likta, dia kembali turun ke lantai satu untuk bertanya kepada salah satu pengurus rumah.

“Nov, kamu tau Likta di mana?”

Kening Nov berkerut sebelum menjawab, “Tadi ada di perpustakaan.”

Haruskah Tiarnan memastikan Likta benar-benar ada di sana, tetapi apa yang akan dia katakan ketika sang istri menanyakan kehadirannya yang tiba-tiba?

“Saya bisa panggilkan kalau Mas Tiarnan mau,” usul Nov yang ternyata belum beranjak.

“Tidak perlu,” tolak Tiarnan sembari melambaikan tangan, kemudian mengarah ke perpustakaan. Dia membuka ruangan itu dengan cepat, terlalu lama jauh dari Likta membuat separuh kewarasan sirna.

Namun, kepanikan menyerang Tiarnan ketika tidak menemukan orang yang dicari. “Ke mana dia? Di kamar tidak ada, di sini sepucuk kepala pun tidak terlihat.”

Tiarnan keluar dari perpustakaan dengan tergesa-gesa, hampir menabrak pengurus rumah paruh baya.

“Astaga, pelan-pelan Mas Tiarnan.”

“Bi Mur, Likta di mana?”

“Tadi, sih, dipanggil Pak Frits.”

“Dipanggil papa?”

“Iya, mungkin masih di sana.”

Dalam hati Tiarnan bertanya-tanya, ada urusan apa ayahnya memanggil Likta? Dia tidak ingin membuang-buang waktu, bagaimana jika terjadi percekcokan sengit? Akan tetapi, dirinya percaya bahwa sang istri tidak mungkin berani membantah apa pun yang terlontar dari bibir ayahnya.

Tidak seperti biasanya, Tiarnan masuk tanpa mengetuk pintu. “Lik—”

“Ada apa, Tiarnan? Kamu mencari Likta?”

“Ya, Bi Mur bilang, Papa memanggilnya.”

“Benar, tapi kami bicara beberapa jam yang lalu.”

Pipi Tiarnan spontan menggembung, kebiasaan ketika sedang dirundung bingung.

“Ada apa?”

“Dia enggak ada di mana-mana, Pa.”

Air muka Frits tampak kaku, perasaannya menjadi tidak menentu, apakah Likta pergi dari rumah? Anak mantunya pasti sakit hati karena ucapannya. Alah, bisa saja ini hanya permainan sang menantu yang ingin mendapatkan simpati. Di kala merenung, dirinya tidak menyadari tatapan menyelidik Tiarnan.

“Apa Papa mengatakan sesuatu sampai menyinggungnya?” tanya Tiarnan berbalut curiga, “Dia mengalami kram perut akhir-akhir ini, dan Riza mengatakan itu berbahaya bagi kehamilan. Tiarnan harap, Papa tidak menambah beban pikirannya. Ingat, dia sedang mengandung calon penerus keluarga ini.”

“Ya.” Frits tercekat, tenggorokannya terasa sakit untuk menelan saliva, lantas berkata, “Hanya sedikit informasi bahwa Violacea mengadakan syukuran tiga bulanan untuk anakmu.”

Tiarnan memicing, jelas bukan masalah ini saja, kan? Tentu ada maksud di balik sikap Violacea yang berubah 180°. Tersebab tadi pagi, kedua wanita itu tampak bersitegang, terutama Likta yang begitu terlihat tertekan. Bahkan Tiarnan tidak melihat istrinya menyakiti Violacea, dia sendiri bingung, bagaimana bisa sang model mendapat luka itu. “Papa yakin hanya membicarakan syukuran? Atau Papa langsung menegurnya karena mengakibatkan lengan Violacea terluka. Papa tidak lupakan, bahwa aku yang harus mengingatkan dia?”

“Ya, papa tidak menyinggung mengenai sikap kasar Likta terhadap Cea,” terang Frits.

“Perlu Papa tau, Likta tidak mungkin berbuat buruk kepada seseorang!” Nada bicara Tiarnan naik satu oktaf, perasaan ingin melindungi istrinya timbul ke permukaan. Wanita yang memperlakukan kucing begitu manis tidak mungkin tega menyakiti orang, kecuali—Tanya—semoga itu sebuah ketidaksengajaan.

Tiarnan secara diam-diam mencari tahu lebih detail terkait kematian dan kedekatan di antara Tanya, Arfid dan Likta.

“Sudah kamu cari ke seluruh rumah?” tegur Frits di tengah-tengah lamunan Tiarnan.

Kelopak mata Tiarnan berkedip dua kali dengan tempo cepat, dia teringat belum memeriksa kamar mandi. Boleh jadi Likta ada di sana, tetapi tadi saat masuk tidak terdengar gemercik air.

Tiarnan bersicepat meninggalkan ruang kerja sang ayah, dia menaiki dua anak tangga sekaligus ketika menuju ke kamar. “Likta!” teriaknya.

“Likta, apa kamu di dalam?” panggil Tiarnan. Dia mondar-mandir di depan pintu kamar mandi, seakan-akan itu bisa mengurangi gejolak rasa panik yang siap meledak. “Buka pintunya!”

1
Iza
/Facepalm/
Miu Nuha.
waahh.. perkembangan ceritanya sampe dari tahun ke tahun,, pasti hebat banget perjuangannya 🤗🤗 ,, semangat authorr...

ramainya moga nular juga di karya aku. bantu dukung ya di 'aku akan mencintaimu suamiku'
Mega: untuk mengumpulkan kata perkatanya lumayan sulit, Kak.
total 1 replies
Lia Mulyanti
kapan up date Author? ceritanya bagus ini...
Mega: Terima kasih sudah support tulisan recehku, Kak.
total 1 replies
Leonora
🐱
Leonora
menguras emosi
Leonora
amit-amit jngn smpe
Leonora
seddiiiihhh
Leonora
kecewa sedih
Leonora
setuju bri
Leonora
Nah lo
Leonora
Nah bnerkan
Leonora
Lucky adik Tiarnan?
Leonora
Fixs Seysan bukan suruhan Viola
Leonora
Tiarnan gak jelas gitu gak usah dipertahankan
Leonora
Diihhh
Leonora
Gk hbs fkri sama bapaknya
Mega
😁
litaacchikocchi
Komen judul: tpi ini novel /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Grin//Grin//Grin/
Mega: Yah begitulah, Terima kasih sudah mampir
total 1 replies
Leonora
wajib baca wajib baca
Lia Mulyanti
kapan up lagi Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!