Saat Larisa ketahuan hamil, pihak keluarga syok dan juga tak menyangka.
Larisa dituntut untuk jujur siapa pria yang sudah menghamilinya sampai mencuat satu nama pria yang tak lain saudara sepupunya sendiri.
Setelah menikah hubungan Bassta dan Larisa semakin ricuh, jauh dari rukun dan tenteram. Bassta juga sudah memilih perempuan lain yang jauh di atas Larisa yakni Jema, tetapi Jema belum tahu bahwa pria yang dia cintai sudah beristri.
Dalam niat yang begitu besar, Larisa ingin mengubah rumah tangga hambarnya menjadi rumah tangga yang harmonis. Sementara Bassta sudah mengatur dan meniatkan perpisahan setelah bayi yang dikandung Larisa lahir.
Terombang-ambing dalam rasa kecewa dan juga bimbang atas perasaannya, Larisa dihadapkan pada sosok pria yang berusaha dia lupakan tetapi malah mendadak muncul dan mengaku ingin bertanggung jawab.
Lantas, apakah Larisa akan kembali ke pelukan pria berinisial J atau bertahan dengan Bassta yang mulai menyadari ketulusannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tetap Penasaran
Arif tersenyum sementara Novia diam dengan raut wajah tak ramah. Mata wanita itu menyorot tajam, sudut bibirnya yang bergincu merah menyala naik sedikit, membuat sebuah simpulan sinis.
“Larisa mengurus Bassta dengan baik,” ujar Arif, begitu senang melihat kebersamaan Bassta dan Larisa yang tengah menikmati makan malam mereka berduaan.
“Mereka hanya berpura-pura,” balas Novia yakin.
Arif menoleh, menatap jengkel.
“Cukup, Novia. Kamu ini kenapa, sih? Bukannya senang anak mendapatkan istri yang baik macam Larisa, malah terus ngomel-ngomel nggak jelas!” hardiknya dan Novia menatap penuh emosi, ditimpali tidak akan ada gunanya, jadi dia memilih memutar tubuh kemudian melenggang pergi dari sebelah suaminya.
Tak lama Arif menyusul dengan tangan terkepal kuat. Ia tak paham mengapa istrinya begitu tak menyukai Larisa. Apa salah perempuan itu?
“Mama sama Papa udah pergi?” tanya Bassta di dapur, Larisa di seberangnya mengangguk kecil.
Bassta mendesah lega, meluruskan punggungnya yang begitu tegang sejak tadi. Dia berhenti menikmati makanan buatan Larisa dan Larisa terpaku menatapnya.
“Kenapa? Makanannya nggak enak?” tanya Larisa.
Bassta menggeleng kecil. “Aku nggak suka makanan buatan kamu.”
Larisa tertawa tertahan.
“Masa? Tapi kamu udah ngabisin masakan aku cukup banyak. Kalau suka ya nggak apa-apa, aku malah seneng, kok.” Larisa berbicara begitu riang dan Bassta mendelik sebal.
“Dari mana kamu punya kepercayaan diri seperti itu, Ris?” ledek Bassta dengan suara pelan dan Larisa tidak menimpalinya.
Setelah Larisa selesai dengan makan malamnya. Ia membereskan meja, saat Larisa bangkit dan berbalik, Bassta menyendok makanannya yang masih tersisa. Melihat bayangan dari kaca lemari di hadapannya membuat Larisa sontak berbalik dan Bassta diam dengan mulut penuh. Alisnya yang naik turun, seolah mempertanyakan dengan senyuman aneh yang dibuat Larisa.
Larisa menggeleng, berbalik kembali dan terkekeh pelan.
“Aku tahu masakan aku enak. Nyesel kan kamu sok-sok nolak?” gumam Larisa dalam hati, dia sangat senang malam ini.
Setelah selesai, keduanya meninggalkan dapur. Dan sesampainya di kamar Bassta, keduanya saling melirik kecil karena bingung. Tidak mungkinkan keduanya tidur satu kasur lagi?
“Kamu tidur di kamar kamu sana,” usir Bassta sewot dan Larisa menggeleng kuat-kuat.
“Bisa jadi Mama kamu iseng tengah malam. Mastiin kita tidur sekamar atau enggak,” kata Larisa dan Bassta termenung sejenak, benar juga.
“Ya udah kamu tidur di lantai.” Tangannya menunjuk lantai tak beralas. Larisa menggeleng, tidak mau.
“Aku lagi hamil, Bass. Tega kamu?” Larisa memegang perutnya, tak disangka bayinya menendang dan membuat Larisa tersenyum lebar dengan kedua mata berbinar. Bassta kaget melihat ekspresi wajah istrinya.
“Kenapa?” tanya Bassta penasaran.
“Bayinya menendang.” Larisa tersenyum dan Bassta diam. “Mungkin bayiku senang karena kita tidur sekamar.” Larisa menyambung dan Bassta menoyor kepalanya.
Larisa mengaduh, memegang kepalanya.
“Jangan bawa-bawa dia sebagai alasan. Kamu aja yang kepingin,” kata Bassta dan Larisa tersenyum kecil.
Bassta merebahkan diri di atas kasur, Larisa duduk di tepi ranjang sembari memeluk lututnya. Bassta diam-diam melirik dan melihat Larisa termenung entah memikirkan apa.
“Jangan ngajakin debat lagi. Tidur!” Perintah Bassta, dia miringkan tubuhnya ke kiri, membelakangi Larisa yang kini menatap punggungnya.
“Aku nggak bisa tidur di lantai. AC kamu dingin banget,” keluh Larisa seraya mempererat pelukan pada lututnya.
Bassta mengerjapkan mata sejenak kemudian membalik tubuhnya.
“Terus? Nggak usah aneh-aneh, aku nggak mau tidur seranjang sama kamu.” Bassta begitu sewot dan melemparkan bantal kepada Larisa.
Larisa menerima dan diam lagi. Bassta juga diam, terpaku menatap langit-langit kamarnya.
Tok.. tok
Tiba-tiba suara ketukan pintu membuat keduanya tersentak, saling menatap tegang.
“Jangan-jangan Mama kamu,” ucap Larisa.
Bassta melompat dari tempat tidur dan melangkah mendekati pintu.
“Siapa?” tanya Bassta dengan telinga dia tempelkan pula pada pintu kamarnya.
“Ini Mama!” balas Novia dari luar.
Bassta langsung menoleh menatap Larisa. Larisa mengusap rambutnya dan keduanya kelabakan.
“Buka, Bass!” seru Novia keras.
“Bass—“ Larisa memekik karena Bassta menarik tangannya.
“Cepetan bangun,” bisik Bassta sambil melotot.
“Ya pelan-pelan. Aku, kan, lagi hamil.” Larisa cemberut dan Bassta mendengus.
“Dasar lelet!” maki Bassta jengkel kemudian menggendong Larisa, memindahkan wanita itu ke atas kasur.
Larisa terbengong-bengong melihat reaksi Bassta yang begitu panik dengan kedatangan Novia.
“Kamu pura-pura tidur aja,” titah Bassta dan Larisa mengangguk.
Larisa merebahkan diri, Bassta menarik selimut, menyelimuti tubuhnya kemudian Larisa memiringkan tubuhnya.
“Bass!” seru Novia kembali, tak sabaran.
Bassta mengusap wajahnya kasar, dia membuka kunci, pintu pun terbuka dan menampilkan raut muka sangar Novia.
“Lama banget kamu, lagi ngapain?” protes Novia.
Bassta diam, bingung harus menjawab apa kemudian Novia menarik tangannya karena ingin melihat ke dalam kamar. Novia terpaku saat melihat sosok Larisa di atas kasur anaknya. Apa yang diadukan Vivian sangat berbeda dengan apa yang dia lihat sekarang.
“Larisa udah tidur,” ucap Bassta.
Novia memandangnya.
“Mama cuman mau nganterin air minum buat kamu,” kata Novia beralasan, sebenarnya dia ingin memastikan aduan Vivian saja.
Bassta tersenyum, menerima botol minum dari tangan ibunya kemudian berterima kasih.
Novia diam, matanya terus menatap punggung Larisa yang kini sedang mendengarkan percakapan Bassta dengan ibu mertuanya itu.
“Udah, ya, Ma. Aku ngantuk mau tidur,” kata Bassta dan Novia mengangguk kikuk.
Pintu pun tertutup rapat. Novia melangkah pergi sembari sesekali menoleh ke pintu kamar tersebut. Meski dia jelas melihat Larisa ada di kamar Bassta, tetap saja dia tidak percaya bahwa Bassta benar-benar kesemsem dengan anak dari adiknya itu.
Novia merasa perlu bertanya kepada Asih esok. Dia akan mendesak Asih untuk jujur tentang keseharian Bassta dengan Larisa selama berumah tangga. Novia masih saja penasaran, entah dia berusaha untuk memisahkan keduanya saking tidak maunya memiliki menantu seperti Larisa dan berbesan dengan Fitria.
semoga sehat2 ya
masih setia menunggu kabarmu