Elena, seorang wanita cantik berkulit putih dengan lesung dipipi kanan dan kirinya. Ia adalah seorang ibu dengan sepasang anak kembar, Cantika dan Brian.
Pernikahan Elena dan suaminya bukanlah pernikahan berlandaskan cinta. Mereka menikah karena desakan dari Ana, ibu dari suaminya.
Elena menahan diri selama tiga tahun dengan pernikahannya, Elena memikirkan kedua anaknya jika ia bercerai dengan suaminya.
Suatu hari, Elena murka dengan perilaku Rendra, suaminya. Ia pun mengajukan cerai kepada Rendra. Rendra yang tak mencintai Elena pun akhirnya menyetujui untuk bercerai.
Apakah perceraian Elena akan berjalan lancar? Bagaimana Elena menjalani kehidupannya sebagai single mom? Ayo, simak kisahnya! 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INRUMIDITAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak direstui
Di sisi lain, Elena sedang berada di dalam sebuah mobil, yang pemiliknya adalah Gilang. Ketika ia sedang menunggu sebuah taksi, mobil Gilang berhenti tepat di depannya, Gilang pun ingin mengantarkannya pulang.
Di dalam mobil, mereka berbincang-bincang. "Sendirian aja makan siangnya, Len?" tanya Gilang.
Elena terdiam sejenak. "Emm ... iya," jawab Elena berbohong. Ia tidak ingin Gilang naik darah , saat mengetahui jika dirinya makan siang bersama Alan.
"Kasus penipuannya, apa sudah ada titik terang? Apakah pemilik toko sudah di temukan?"
"Belum, Kak. Sudah lah, aku akan melanjutkan lagi usahaku. Menunggu sesuatu yang tidak pasti itu menguras energi, mending lanjutkan yang ada saja."
Mendengar perkataan Elena membuat Gilang tersenyum. Memang hebat kamu, kakak bangga sama kamu, Len. "Ngomong-ngomong , kenapa kamu enggak bawa mobil sendiri?" tanya Gilang.
"Mobilku sedang bermasalah," jawab Elena bohong.
Duh, mungkin dari awal aku nggak seharusnya berbohong. Kalau gini , bakal ada kebohongan-kebohongan lain yang muncul, batin Elena menyesali kebohongannya.
"Bermasalah? Aku tengok ya, nanti aku kirim orang bengkel ke rumah kamu."
"Eh, enggak usah Kak ... mobilnya sudah masuk bengkel kok."
"Beneran?"
"I-iya Kak, tentu saja."
*
*
*
Di sisi lain, Alan sedang berada di dalam kamarnya, ia sedang menghubungi nomor Elena. "Kok nggak aktif ya? Kenapa ya?" Setelah melakukan panggilan yang tak terjawab itu, Alan mengirim pesan terus menerus kepada Elena.
"Semoga tidak terjadi apa-apa sama kamu, Len," gumam Alan.
Karena haus, Alan beranjak dari ranjang tempat ia duduk, ia berjalan keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Saat melewati ruang keluarga, ia melihat mamanya yang sedang duduk di sana sambil memegang tablet-nya. Nama mamanya adalah Lani.
"Lagi apa, Ma?" Alan mendekati mamanya, dan mengintip layar tablet milik mamanya.
"Lagi ... sesuatu."
"Oh iya, Ma, aku mau nunjukin foto perempuan yang aku sukai." Alan mengambil ponsel di saku bajunya, ia mencari-cari foto-foto Elena yang disimpan di ponselnya.
"Nggak boleh ada perempuan lain, kamu sudah ada perjodohan dengan Sesilia sejak dulu!" Lani mendengus kesal.
"Tapi, Ma, aku nggak suka sama Sesilia." Alan berdiri, lalu berjalan menuju dapur.
"Dasar, anak ini," ucap Lani sambil memandangi kepergian anak laki-lakinya.
Setelah minum, Alan kembali ke kamarnya, ia mencari jalan lain agar tidak di omeli mamanya. Sesampainya di kamar, ia berbaring di atas kasur empuknya, ia melihat foto Elena di layar ponselnya. Ia senyum-senyum sendiri, lalu mencium layar ponsel yang masih nampak foto Elena.
"Aku bakal perjuangin cinta aku ke Elena, aku nggak mau sama Sesilia."
*
*
*
Sore hari, Elena dan keluarganya sedang menikmati beberapa makanan yang dibelikan oleh Gilang, Gilang pun baru pulang satu jam lalu dari rumah Elena.
"Hmm, enak Ma ini," ucap Cantika sambil memakan beberapa cookies yang ia genggam.
"Enak ya? Makan lah, Sayang."
"Len, kamu kok bisa bareng Gilang? Kamu nggak bawa mobil?" tanya Clarissa.
"Emm, iya Ma, pengen aja sesekali naik angkutan umum," jawab Elena.
"Begitu ...."
Satu jam kemudian, terdengar suara adzan maghrib, Elena dan keluarganya pun melaksanakan ibadah sholat maghrib berjama'ah. Satu jam setelah itu, terdengar bel pintu rumah yang berbunyi.
"Siapa itu?" gumam Elena.
Elena berjalan untuk membuka pintu utama. "Lucky," ucap Elena setelah melihat seseorang di balik pintu.
"Lucky, kamu kok bisa tahu rumahku?" tanya Elena heran.
"Iya dong, tapi tahu dari mananya ... rahasia ya. Ini aku nggak disuruh masuk ke dalam rumah?"
"Oh iya, silakan masuk."
Lucky duduk di ruang tamu. Beberapa saat kemudian, datanglah Cantika. "Eh, ini ... ini bukannya Om ganteng yang pas liburan ke Sumba itu ya?" Cantika melihat dari sisi kanan dan kiri tubuh Lucky.
"Kamu masih ingat, Sayang? Iya, ini Om Lucky yang waktu itu liburan juga di Sumba."
"Om Lucky ya? Aku lupa namanya, he-he maaf. Ngomong-ngomong, kok Om Lucky bisa tahu rumah Cantika?"
"Rahasia, pokoknya Om Lucky pengen ketemu sama Cantika, Om kangen. Oh iya, ini Om bawa sesuatu buat kamu." Lucky mengeluarkan sepasang boneka yang lucu.
"Wah ... bagus, Om. Wah ada sepasang, aku suka. Terima kasih banyak lo, besok-besok lagi ya," ucap Cantika sambil memeluk sepasang boneka di tangannya.
"Siapa yang datang, Cantika?" tanya Clarissa, ia berjalan berdampingan dengan Henry.
"Om Lucky, Nek," jawab Cantika tanpa menoleh ke arah Clarissa, ia masih sibuk dengan kedua bonekanya.
"Saya teman sekolah Elena dulu, Tante," ucap Lucky.
"Begitu, Ngomong-ngomong ... dimana Elena-nya?" Clarissa melihat keadaan sekelilingnya.
"Aku di sini , Ma," ucap Elena, ia datang dengan membawa nampan berisi lima gelas air minum, ia juga membawa beberapa wadah berisi camilan.
"Jadi ngerepotin nih, Len," ucap Lucky.
"Enggak kok, sudah ada. Oh iya, rumah kamu ada di mana sekarang, Lucky?" tanya Elena.
"Rumahku itu deket sama toko kamu lo, Len," jawab Lucky.
"Ah masa sih? Yang bener kamu, aku aja nggak pernah ketemu sama kamu."
"Iya, aku ini kan pilot, aku jarang di rumah, paling cuma ada pembantu yang menghuni rumah. Rumah yang dekat toko kamu itu rumah pribadi yang baru satu tahun ini aku beli," jelas Lucky.
"Begitu ya, bisa kebetulan ya dekat sama tokoku."
"Mungkin kita jodoh, Len."
"Eh, apaan sih."
"Siapa Ma ... yang datang?" Brian berjalan menuju ruang tamu.
Orang ini, bukannya yang ada di Sumba itu ya? Kok bisa ada di sini sih? Mau deketin mama lagi *past*i, batin Brian sambil melihat sekilas ke arah Lucky.
Brian duduk di samping Lucky. "Apa kabar, Om?" tanya Brian.
"Kabar Om baik, nama kamu siapa? Maaf, Om lupa."
"Namaku Brian, Om. Gimana sih Om, katanya mau deketin mama, tapi nama anaknya saja tidak tahu," bisik Brian di dekat Lucky.
"He-he, maaf ya ... Om bener-bener lupa, mulai saat ini bakalan Om ingat-ingat deh."
"Hmm, bagus."
"Brian sama Om Lucky bisik-bisik apa?" tanya Clarissa.
"Urusan laki-laki, Nek," jawab Brian.
Anak ini, sok dewasa banget, batin Elena mendengar ucapan anak laki-lakinya. "Brian mau camilan tidak?" Elena menyodorkan beberapa camilan ke arah Brian.
"Boleh, Ma." Brian beranjak dari tempat duduknya, dan mengambil beberapa camilan yang berada di tangan mamanya.
Elena, keluarganya, dan Lucky saling berbincang. Sesekali terdengar sendau gurau di sela-sela perbincangan serius mereka. "Nak Lucky, kamu ke sini hanya ingin bersilaturahmi kah? Atau ada maksud lain?" tanya Clarissa kepo.
"Iya, Tante, sebenarnya saya ada maksud lain," jawab Lucky.
☠️⃝🖌️M⃤
Perjuangan Ucup mampir
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
☠️⃝🖌️M⃤
sabar ya elena 😬 semoga Joe segera sadar
coba diselipin kejadian apa di bbrapa moment biar lebih kelihatan nyata ceritanya
kok bisa rukyah nya gagal?
☠️⃝🖌️M⃤