"Aku suamimu. Aku akan buat kamu jatuh cinta padaku." Kata Riza membuat Sang Istri menghentikan langkahnya.
Gadis itu membalikkan badan menatap Riza dengan wajah datar. "Jangan terlalu berharap banyak dalam pernikahan ini. Aku tidak mencintaimu." Kata Jihan penuh penekanan dan segera pergi.
"Ku mohon cintailah aku." Lirihnya menatap sendu kepergian Sang Istri. Cintanya tak terbalas. Namun Ia akan selalu berusaha untuk mendapatkan hati gadis yang dicintainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ist, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecantikan Sang Istri
Selamat idul Fitri bagi semua yang merayakan. Minal aidzin wal Faidzin mohon maaf lahir batin. Terimakasih sudah ikuti kisahnya. Terimakasih juga sudah tinggalkan like, comment dan Vote. Lanjut ya....
Riza menghampiri Istrinya kemudian langsung duduk sembari memeluk wanita itu. "Ada apa?" Tanya Jihan mendorong pelan tubuh suaminya namun dengan cepat Riza kembali ke posisi semula. "Temani aku ya Dek." Katanya mendongak menatap sang istri. "Kemana? Awas saja kalau suruh temani kamu ke pengajian lagi. Ogah aku di tanya tanya terus." Jawabnya kesal mengingat kejadian itu. "Enggak kok. Nggak ke pengajian lagi. Ini kan waktunya libur semester. Aku mau ziarah ke makam orang tua di kampung. Temani ya." Pintanya memohon. "Di kampung?" Jihan sembari mengernyitkan keningnya bingung. Riza mengangguk. "Kamu orang mana sih?" Wanita itu bertanya karena tidak tau asal usul sang suami. "Astaga Dek. Kebangetan kamu jadi istri. Kita sudah menikah dan kamu belum tau asal usul aku." Riza menggelengkan kepalanya. "Ya enggak lah. Mana tau. Kamu juga nggak cerita." Jawabnya membuat Sang suami menghembuskan napas pelan kemudian menceritakan daerah asal dan perjalanan hidupnya.
"Ya Dek..." Ia terus mengekori istrinya kesana kemari. Mark yang melihat tingkah keduanya hanya bisa menggelengkan kepala. Bukan hal biasa. Setiap hari tingkah Riza memang begitu. Namun Sepasang suami istri itu mampu menjadi hiburannya sehari hari. Apalagi kakaknya. Kalau sudah mengomel wanita itu tampak lucu dan menggemaskan. "Ya. Dek..." Riza ikut duduk bergabung bersama istri dan iparnya. "Haish....Iya iya...Capek aku dengerin kamu." Kesal Jihan. "Jangan peluk peluk." Cegah wanita itu sebelum suaminya mendekat. "Yah....Kok tidak boleh." Keluhnya dengan wajah sedih membuat Mark menahan tawanya. "Daripada kamu ngrencokin aku mulu. Kasih makan Chester sana." Perintah Jihan mampu membuat pria itu kesulitan. "Dek. Aku
..." Riza hendak menolak tapi sayang. "Kenapa? takut?" Tanya Jihan. "Bukan tapi...." Riza menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Yasudah sana. Makanannya ada di atas meja belakang." Kata Jihan dan suaminya segera bergegas. "Kakak. Kak Riza takut tuh. Tega banget..." Tegur Mark. "Biarin. Dari kemarin ngrencokin kakak mulu. Kan risih." Jawabnya membuat Mark hanya bisa tersenyum.
Riza sudah membawa daging steam. Pria itu masih berdiri agak jauh dari kandang Chester. Saat Ia mendekat serigala itu menampakkan gigi giginya yang tajam sambil menggeram membuat Riza bergidik ngeri. "Ya Allah lindungilah hambamu." Riza memohon sembari melangkah mendekat. "Astaga. Kamu belum kasih makan juga?" Jihan menghampiri suaminya diikuti Mark dari belakang. "Di begitu. Aku kan jadi ragu." Jawab Riza membuat Mark tertawa. "Ragu apa takut?" Jihan mengeluarkan hewan itu dari kandangnya. Perlahan Riza mulai melangkah mundur. "Nah Ches. Makananmu di bawa itu." Ucap Jihan membuat suaminya ketakutan. "Dek. Jangan begitu dong..." Ucapnya. "Kemarikan makannya." Perintah Jihan. "Iya." Riza melangkah ragu mendekati sang istri dan memberikan daging pada wanita itu.
Malam hari Riza dan Jihan sedang berkemas karena besok subuh akan berangkat ke Jogja. "Baju kamu yang mau dibawa yang mana?" Tanya Jihan pada suaminya. "Ya kaos ya celana panjang. Sarung sama baju Koko juga." Jawabnya. Jihan mengangguk kemudian segera memasukkan semua keperluan sang Suami. "Nah. Daripada kamu meluk aku Mulu bikin risih. Tolong ambilin kotak obat di laci meja." Katanya kesal pada sang suami. "Kenapa Dek? Kamu sakit?" Riza mulai panik kemudian menempelkan telapak tangannya di kening Sang Istri. "Nggak. Buat di perjalanan untuk jaga jaga kalau ada yang pusing." Jawab Jihan membuat Suaminya mengangguk paham.
Riza menghampiri istrinya yang sudah berbaring di ranjang. Pria itu memangku kaki Jihan dan memijit dengan nyaman. "Dek..." Panggilannya dengan lembut. "Hm." Jawab Jihan sudah memejamkan mata menikmati pijitan dari suaminya. "Sudah jangan pijit lagi. Aku mau tidur. Ngantuk." Kata Jihan membuat suaminya mengangguk. Pria itu ikut berbaring sambil memeluk istrinya. Ia mengamati wajah cantik itu dengan seksama. Wajah mulus tanpa cacat dengan hidung mancung dan mata indah. Alis Jihan tertata rapi, bulu mata lentik serta bibir pink Cherry yang semuanya alami. "Ini asli Dek?" Tanya Riza sambil meraba wajah istrinya membuat wanita itu kesal. "Asli. Kamu itu. Orang aku mau tidur di gangguin. Kalau tidak bisa tenang jangan tidur sama aku." Kesalnya sembari memunggungi sang suami. "Maaf." Ucap Riza ikut memejamkan mata sembari mengeratkan pelukan pada istrinya.