"Lo tau Asam Sulfat? Tapi, itu belum cukup buat lelehin hati lo yang beku. Tapi, gue juga gak bakal Nyerah semudah itu"
~ Arfenik Arkasa
Arfen, si Bocah Sains sang badboy ahlinya PHP, Pemecah rekor murid terlambat setiap hari. Paling enggak bisa patuh sama peraturan.
Arfen yang gak bisa nurut peraturan terlalu hobi mengganggu Lathifa si gadis Hukum yang identik dengan peraturan dari kelas IPS Satu.
Siapa yang sangka, Gangguan iseng Arfen setiap harinya berakibat jatuhnya ia terlalu dalam pada cinta nya Lathifa.
Mampukah Arfen menaklukan Hati beku Lathifa? Apakah Lathifa si gadis hukum mau menerima sang BadBoy?
Ingin tau kisah nya?
Cek yuk ^^
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rini IR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
***
Untuk jadwal up Author usahakan untuk semaksimal mungkin yah. ^^ Makanya, biar Author semangat. Ayo dong like, komen, dan jangan lupa Vote nya. Karna itu semua penting ^^
***
"Kenapa Thif?! Kenapa lo mau dekat sama dia! Tapi, sama gue enggak!!! "
"terus lo sendiri? Lo enggak sadar diri. Kenapa lo marah? Bukan nya lo suka nya ke Raisa? Lo bilang gitu kan ke Thifa?? "
Zefan tertegun. Matanya membulat. Bukan orang lain, tapi ia melihat bayangan dirinya sendiri yang berbicara.
"Gue marah cuma karna gue khawatir ke Thifa. Soal Cinta, gue emang cinta ke Raisa." sahut Zefan, pola pikirnya sudah aneh. Ia jelas - jelas tau bahwa itu adalah bayangan nya. Tapi, dia masih saja menyahuti nya.
"Yakin karna khawatir, enggak ada yang lain nya. Coba lo bayangin, gimana perasaan lo waktu Thifa kontak fisik sama cowok lain? "
"Gue marah! Gue benci! Rasanya gue pengen hajar siapapun dia!! Pokok nya Thifa enggak boleh kontak fisik dengan laki-laki manapun, kecuali gue. Hati gue Rasanya panas!! "
"Terus lo bayangin, waktu Raisa kontak fisik dengan cowok lain? "
"Gue marah, Gue gak suka. Tapi, gue juga gak bisa ngelarang dia buat dekat sama siapapun. Itu hak, kami belum pacaran. "
"Trus, kenapa sama Thifa, lo macem orang kesetanan. Bukan nya lo hanya sahabat nya dia? "
Zefan terdiam, ia terus mengingat kenangan nya bersama Raisa dan Thifa.
"Bukan nya, ini tanda nya lo emang suka sama Thifa? Lebih dari sahabat?!"
"Diem lo!! " Zefan mencoba memukul bayangan nya sendiri, tapi bayangan itu malah menghilang seketika.
"Apa gue beneran cinta yah sama Thifa? Terus, gue ke Raisa namanya apa? " gumam cowok jangkung itu.
***
"Thifa, ada es kelapa. Beli, yuk" seru Arfen, ingin membelokkan mobil nya.
"Ogah, entar bisa terlambat ke sekolah. Jalan aja Fen" tolak Thifa. Bagaimana bisa gadis hukum itu berhenti untuk minum es kelapa, di pagi hari. Dimana dirinya harus bersekolah.
"Yah udah sih, terlambat satu kali aja. Apa rugi nya coba? "
"Mau gue tampol apa tabok? "
"Maunya elo jadi binik gue. Gimana? Atau kita ke KUA sekarang aja? "
Thifa melirik intens cowok tengil di sebelah nya ini. Yang dilirik malah dengan manis nya menampilkan cengiran tak berdosa nya.
***
Bel istirahat sudah berbunyi sekitar Sebelas menit yang lalu. Seperti biasa, dan hal yang lumrah. Anak kelas IPS satu yang ke Kantin. Namun, Thifa Cs memilih menetap di kelas. Bukan karna tak ingin makan.
Mereka memilih mengerjakan tugas MTK untuk di periksa besok. Ini semua sih idenya Anggi. Yang malas mengerjakan tugas waktu di rumah, Apalagi Tugas MTK. Bahkan, belum melihat soal nya saja, Anggi sudah pening sendiri. Rasanya beban kehidupan mendarat di kepalanya, sangat berat. Setidak nya kan, jika di kerjakan di Sekolah, Anggi mendapat bantuan Thifa.
"Anggi, nih buat sekali aja yah. Lo seterusnya enggak boleh ngeluh sama MTK. Soal nya MTK itu sederhana, asal lo tau rumus dan caranya, lo bakal dapat jawaban nya. MTK ilmu pasti, jadi enggak bisa di karang - karangin. Jadi, Lo jangan takut gitu lah sama MTK. " saran Thifa, ia memulai menjawab beberapa soal di hadapan nya.
"Iyah iyah, Jangan ngomel bisa gak. Nambah tingkat kepusingan gue nih. " kesal Anggi.
"Mel, lo Ruqyahin lah nih sahabat lo yang satu ini. Sadarin dia, betapa penting nya MTK itu. " Seru Thifa menatap Melia. Melia hanya diam, fokus matanya mengarah ke pintu.
Tukhhhh
Anggi dengan iseng nya menepuk pelan kepala Melia dengan pulpen.
Melia terkesiap seketika.
"Nungguin gebetan lo? Si Fandri? Sadar euy sadar."
"Apa sih Nggi! Rese! Ngacauin lamunan indah gue aja. Rese! Lo iri yah gak ada gebetan. Udah lah, noh sama si Hasan aja, " Geram Melia, masih mengelus bagian kepala yang di totok Anggi.
"Ihh.. Apa lo bawa - bawa si Hasan. Ogah gue! Seriusan! Ogah! " ronta Anggi, seketiak badan nya bergidik.
Tawa Thifa pecah begitu saja. Di ikuti dengan cengiran polos, Melia Dan Anggi.
---
Sudah hampir Tujuh belas menit, ketiga orang itu mengerjakan tugas nya. Hanya tinggal beberapa nomor lagi yang belum selesai.
"Shhtt! Cewek Cantik! Cewek!! Heyy Cecan gue sayang!!" bisikan ini berasal dari arah jendela. Yang terlontar dari cowok, yah Arfen bersama Tiga Sahabat nya.
Thifa begitu konsentrasi dengan soal yang ada di hadapan nya, hingga ia tak menggubris bisikan - bisikan aneh, dari jendela belakang sana.
Merasa bisikan nya tak di gubris, Arfen memilih untuk memanggil Gadis kesayangan nya itu.
"Euy, Cewek pendek tapi gue sayang. Lo kok hobi banget sih ngacangin gue. Calon suami nih." Arfen dengan santai nya, lompat masuk dari jendela yang memang tinggi nya hanya semeter lebih dari lantai. Di ikuti dengan tiga sahabat nya.
"Ar-Fen?! Lo ngapain?! " pekik Thifa agak terbatan
"Tadi sih niat nya mau lompat pagar, beli minuman seger. Eh pas noleh kemari, ada cewek cantik yang bikin ngiler. yah gue ke sini aja lah. " sahut Arfen santai, merangkul manis gadis nya itu.
***
Nexttt??
Lanjuuuttt??