Karena penghianatan pacar dan sahabatnya, Zianna memutuskan untuk pindah sekolah. Namun siapa sangka kepindahannya ke SMA Galaxy malah mempertemukan dirinya dengan seorang cowok bernama Heaven. Hingga suatu ketika, keadaan tiba-tiba tidak berpihak padanya. Cowok dingin itu menyatakan perasaan padanya dengan cara yang sangat memaksa.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" tanya Zia mencoba bernegosiasi.
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
"Apa aja?" tanya Zia.
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
Follow IG Author : @smiling_srn27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Smiling27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26. TIDAK BOLEH PERGI
"Eh ada tamu nih!" Nanda tersenyum lebar menyambut kedatangan dua cewek dan kedua sahabatnya. "Selamat datang di markas Clopster, Bu bos!" sambutnya pada Zia.
Zia yang baru masuk ke dalam markas Clopster hanya mengernyit tidak mengerti, mendengar sapaan yang diucapkan cowok yang tengah melempar senyum manis padanya itu. Zia sama sekali tidak menganggap dirinya bos di dalam rumah asing ini. "Bu bos?!" tanyanya bingung.
"Yakan lo ceweknya Pak bos!" Nanda melirik pada Heaven agar Zia paham dengan maksudnya.
"Nggak usah sok imut! Pake senyum senyum segala!" tegur Heaven tidak suka melihat Nanda tersenyum pada Zia.
"Wuih sensi amat sih Heav, pms lo? Apa lo lagi kena sindrom?"
"Sindrom pala lo! Sejak kapan gue punya sindrom?"
"Ya siapa tahu aja lo kena Couvade Sindrom!" Nanda terkekeh lalu berlari menjauh sebelum terkena amukan singa.
Seketika Heaven mendelik mendengar ucapan sahabatnya yang tengil mirip tuyul itu. Rasanya ingin sekali ia menguburnya hidup-hidup, bisa bisanya Nanda mengatakan hal itu di hadapan cewek yang baru beberapa jam yang lalu menjadi pacarnya. Bagaimana jika Zia salah paham dan mengira dirinya telah menghamili seseorang. Heaven melirik Zia yang hanya diam saja dengan raut wajah biasa, cewek itu cukup pintar untuk menyembunyikan keterkejutannya.
"Lo hamilin cewek Heav?" Agam yang sudah tidak tahan ikut menimpali ucapan Nanda, sebelum semuanya kadaluarsa. "Ck ck ck parah lo!" decak Agam sebelum meninggalkan ketiga orang yang berdiri dalam keadaan cengo itu.
"Hah? Kak Heaven...."
Zia tidak mampu melanjutkan pertanyaannya, sedikit ragu dengan apa yang di katakan Nanda dan Agam. Tapi apa salahnya memastikan, Zia sendiri tidak mengenal cowok seperti apa Heaven ini. Handa pun hanya diam saja, menunggu jawaban apa yang akan dikatakan Heaven. Meskipun sedikitnya Handa tidak percaya dengan ucapan kedua cowok receh itu, apalagi mengetahui mereka adalah dua cowok yang hobinya bercanda.
"Temen laknat, nggak usah di dengerin! Ayo masuk!"
Tidak ingin menjelaskan sesuatu yang tidak penting, Heaven langsung mengiring Zia dan Handa masuk ke dalam markas agar Handa lebih cepat mengobati lukanya. Di dalam sana Zia dapat melihat ada beberapa anak Clopster yang masih nongkrong. Ada yang bermain game, rebahan, bahkan ada yang sedang merokok. Maklum lah, anak jaman sekarang.
Inilah yang paling Zia tidak suka dari Heaven, pergaulannya terlalu bebas dan suka semena mena. Tapi mau bagaimana lagi, Zia hanya menurut sambil menuntun Handa untuk duduk di sofa. Menunjukkan senyum tipis saat semua orang menyapanya. Bukannya apa, Zia hanya mencoba menghargai orang lain.
"Boleh minta p3k nggak?" pinta Zia setelah beberapa detik duduk di sofa bersama Handa.
"Itu!" Heaven menunjuk pada Agam yang datang membawa kotak berwarna putih dengan tanda plus merah di tengahnya.
Sebenarnya Heaven tidak ingin membawa Zia ke markas, karena di markas banyak berkumpul anak-anak Clopster. Heaven tidak ingin Zia dilihat teman-temannya dengan tatapan haus, jika boleh dikatakan Heaven ingin sekali mencolok mata semua cowok yang masih menatap Zia saat ini. Tapi mau bagaimana lagi, yang bisa di lakukan hanyalah menatap tajam untuk memperingatkan para sahabatnya itu agar tidak lagi menatap Zia. Karena Zia sudah menjadi miliknya dan hanya akan menjadi miliknya.
Agam meletakkan kotak p3k itu di meja, lalu mendudukkan dirinya di sofa tanpa mengucapkan sepatah katapun. Saat Zia hendak mengambilnya, secara tiba-tiba tangannya di tarik oleh Heaven, hingga tidak terasa Zia sudah duduk di samping Heaven dengan tubuh yang terkunci oleh tangan kekarnya.
"Ngapain sih Kak? Gue mau obatin Handa. Lepasin!"
Zia mencoba menyingkirkan tangan Heaven yang masih merengkuh tubuhnya posesif, ia tidak suka dengan posisinya sekarang. Namun Heaven sama sekali tidak peduli dengan berontakan itu, tangannya masih memeluk Zia dengan erat. Cowok itu hanya ingin menegaskan pada teman-temannya kalau Zia itu miliknya, dengan begitu mereka tidak akan berani lagi curi-curi pandang pada pacarnya.
"Ssttt... Diem, gue ngantuk!"
Heaven menyandarkan kepalanya di pundak Zia, membuat semua orang memekik heboh. Baru kali ini mereka melihat sisi lain dari Heaven, tidak menyangka cowok itu bisa bersikap semanis itu pada seorang cewek. Tapi tidak dengan Zia yang merasa risih dan Handa yang memutar bola matanya jengah sekaligus ingin muntah.
"Kalo ngantuk tidur, di kamar. Bukan nemplok di sini!" Zia mengguncang pundak mencoba menyingkirkan kepala Heaven dari pundaknya, tapi tahu sendiri bagaimana kerasnya kepala cowok itu. Bahkan keras kepalanya sudah mengalahkan kerasnya batu permata, mana mungkin ia menyingkir begitu saja.
"Nyesel gue diajak ke sini!" beo Handa. Cewek itu hendak mengobati lukanya sendiri, tapi tiba-tiba Agam merebut kembali kotaknya.
"Mau ngapain lo?" Handa melotot lebar saat Agam beranjak duduk di sampingnya sambil membuka kotak p3k. Sudah Handa duga sebelumnya, Heaven sengaja mencegah Zia agar Agam yang akhirnya mengobati lukanya.
"Nggak usah, gue bisa sendiri!" tolak Handa saat Agam hendak memegang tangannya.
"Bisa diem nggak?" Ucapan Agam yang disertai tatapan tajam berhasil membuat Handa terdiam.
Bukan karena takut, Handa sendiri tidak mengerti mengapa bisa terjadi seperti itu jika Agam yang berbicara. Terkadang Agam memang terlihat konyol jika sedang bercanda, tapi di mata Handa akan terlihat mengerikan seperti singa jika sedang dalam keadaan serius. Seperti saat ini contohnya. Itulah kenapa Handa begitu menyukainya, cowok humoris yang tampan itu.
"Muka lo serem Gam!" Nanda terkekeh melihat keterdiaman Handa, kemudian pergi bergabung dengan teman lainnya yang sedang bermain game.
"Kenzo ke mana?" tanya Heaven tidak melihat sahabatnya yang satu itu.
"Udah balik duluan, katanya Vincie sama Vanes minta ditemenin jalan-jalan!" jawab Nanda.
Semua anak Clopster memang tahu adiknya Kenzo yang super menggemaskan itu, karena beberapa kali Kenzo mengajak keduanya main di markas. Tentu saja itu tanpa sepengetahuan Mama nya, agar tidak mendapatkan omelan sepanjang hidup. Bahkan kedua anak kembar itu sudah sangat akrab dengan Heaven dan teman-temannya, tanpa takut sedikitpun melihat wajah dingin yang sebagian dari mereka miliki.
Heaven mengangguk mengerti, sedetik kemudian ia kembali mengedarkan pandangannya. "Kalo Gala? Di mana?"
"Kenapa?" Belum sempat Nanda menjawab, Gala sudah muncul dari balik pintu belakang. Wajahnya tetap datar saat melihat ada Zia dan Handa di sana. Dengan cuek ia duduk di sofa yang masih kosong, lalu sibuk kembali dengan ponselnya. Dasar manusia pekerja, cowok itu selalu memakai ponsel untuk menyelesaikan pekerjaan kantornya di mana pun dan kapan pun.
"Aw ssshh... Lo bisa nggak sih pelan-pelan aja. Kasar banget jadi cowok!" protes Handa saat merasakan sesuatu yang perih menjalar di area lukanya.
"Ini udah pelan Handa! Lo nya aja yang cengeng!" desis Agam kembali mengobati luka di siku Handa.
"Gue nggak cengeng!" protes Handa lagi. "Lagian kenapa sih harus lo yang ngobatin gue!" Handa sengaja menyindir Heaven yang sedang sibuk menyandar sambil memainkan rambut Zia di sofa sebelah.
"Kalo ada Agam kenapa harus cewek gue?" ucap Heaven yang tahu maksud Handa.
"Ish... baru juga pacaran udah pelit gitu. Gimana ntar kalo udah nikah?" cibir Handa.
Nggak bakal gue biarin Anna temenan sama cewek absurd kayak lo.
Tidak lagi berniat menjawab, Heaven mengambil ponselnya dengan kepala yang masih menyandar pada bahu. Baru saja terdengar bunyi pesan masuk di ponselnya. Zia yang sedang kesal sedikit melirik Heaven yang tengah membaca pesan grup dari Gala, raut wajah cowok itu terlihat berubah setelah selesai membacanya.
"Mau ke mana?" Zia mencegah Heaven yang tiba-tiba berdiri dengan menarik ujung bajunya.
"Gue mau pergi sebentar!" Heaven mengambil jaket lalu memakainya.
"Nggak boleh!" Zia masih memegang ujung baju Heaven. Tidak dipungkiri ia sempat membaca isi pesan tadi. Bukan khawatir, Zia hanya tidak suka dengan keributan apa lagi pertengkaran. Zia tahu Heaven hendak bertemu dengan seseorang yang Zia yakini adalah musuh Heaven.
Bukan hanya Heaven, semua orang pun heran dengan Zia yang tiba-tiba melarang Heaven pergi. Heaven bisa menebak kalau Zia telah membaca pesan dari Gala tadi.
"Bu bos udah bucin kayaknya, makanya nggak mau di tinggal pergi!" ledek Nanda yang sudah memakai jaketnya.
Sambil tersenyum tipis, Heaven memegang kedua bahu Zia. Hendak meyakinkan cewek itu untuk mengizinkan dirinya pergi. "Gue ada urusan, cuma bentar! Ok?"
"Ya udah pergi aja sana, biar gue pulang sekarang!" Zia beranjak dari duduknya, hendak pergi meninggalkan markas, jika Heaven benar-benar pergi sekarang.
"Nggak, lo di sini aja. Gue anterin lo setelah pulang nanti!" ucap Heaven sambil berlalu menuju pintu keluar, di ikuti yang lainnya.
"Nggak mau! Gue mau pulang sekarang!" Zia lalu berjalan mendahului Heaven menuju pintu keluar.
Belum sempat mencapai pintu, tangan Zia sudah lebih dulu di cekal oleh Heaven. Cowok itu tidak akan membiarkan Zia pulang sendirian, di saat situasi segenting ini. Zia yang terkejut dengan cengkraman itu langsung mengalihkan pandangannya, menatap Heaven tidak kalah tajam.
"Lepas, gue mau pulang!" Zia memberontak mencoba melepaskan cengkraman tangan Heaven.
"PULANG SAMA GUE NANTI!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.
"MAU PULANG SEKARANG!"
*********
...Jangan lupa tinggalkan jejak. Like, Favorit, Vote dan Komentar kalian sangat penting bagi Author....
...Mohon dukungannya ya!...