Selamat membaca!!!
Kisah Duda Kere[N] Vs Gadis Somplak™
Namanya Chika, gadis dengan hobi nyleneh dari gadis seusianya. Dia suka memancing bersama teman-temannya, bahkan sering ikut kontes dan selalu juara satu dengan hadiah jutaan rupiah.
Dia gadis yang anti dengan duda, apalagi duren alias duda keren. Menurutnya, duda adalah status yang menyeramkan baginya, statment Chika tentang duda adalah pria dewasa yang kurang belaian dari seorang wanita.
Tapi nasib berkata lain, Chika mendapatkan kesialan bertubi saat harus menerima perjodohan online yang sangat merugikan dirinya.
Kedua orang tuanya, telah menentukan nasibnya yang harus berjodoh dengan duren!
Astaga! kek mana tuh?
Apa Chika mau ya nikah sama duda? secara dia tuh anti gitu?
Penasaran?
Yuk baca novel baruku ini, jangan lupa like, komen, fav dan vote.
Mari ber-haha hihi dengan neng othor 😂😂😎
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Om Duda vs Kang Badboy
Dari kejauhan, Dante melihat sang istri sedang mengobrol dengan seorang pria. Dante penasaran dengan siapa Chika berbicara, dari penglihatannya, nampak sang istri merasa tertekan saat berada di depan pria tersebut. Alhasil, karena terlalu fokus dengan sang isteri, dia mengacuhkan sang sahabat. Gerald yang sedari tadi membicarakan tunangannya, tidak mendapatkan respon yang memuaskan dari sahabat. Dia merasa kesal karena pandangan matanya berada di tempat lain padahal dirinya sedang mengajak Dante berbicara.
"Dan? kau lihat apa?" tanya Gerald penasaran, dia menatap wajah sahabat dan menelisik siapa yang sedang sang sahabat pandang.
Saat menemukan jawabannya, Gerald langsung menggodanya.
"Oh, ini yang namanya cemburu buta? melihat istri berbicara dengan orang lain saja melotot nya sampai mata mau keluar! inikah cinta? membuat orang menjadi merana!" ledek Gerald. Namun, sang sahabat bahkan tidak menoleh sama sekali. Dante masih fokus kepada orang yang sedang berbicara dengan Chika.
"Ge, aku akan segera kembali!" ucap Dante sembari melangkahkan kaki menuju Chika berada.
"Hey Dan? Kau mau ke mana? usahakan jangan berkelahi! Dia baru saja menjadi isterimu belum genap 24 jam, jangan memberikan kesan yang buruk! oke?" pekik Gerald membuat semua mata semua tamu undangan tertuju padanya.
Dante tidak menggubris ucapan sang sahabat, dia lebih fokus dengan Chika.
Jarak dirinya dengan Chika, serta sang pria misterius semakin dekat. Saat berjarak lagi, Dante kemudian menarik tangan jika dan membawanya pergi, namun pria yang ada di depannya, menghentikan langkah om duda.
"Tunggu! aku belum selesai bicara, jika kau memang mencintainya, biarkan aku menyelesaikan urusan ku dengan Chika," ucap sang pria dengan emosional.
Dante masih keras kepala, dia ingin membawa paksa Chika ikut bersamanya.
"Gio! lebih baik kau segera pulang, aku merasa kehadiranmu di sini akan membawa banyak masalah." Chika berusaha keras mengatakan hal ini, rasanya sangat berat saat cinta pertamanya begitu lembut berbicara dengannya, namun sayangnya dirinya sudah bersuami. Takdir Tuhan untuk nya tak seindah harapan.
Dante yang semula gigih ingin membawa Chika pergi, tiba-tiba melepaskan genggaman tangannya.
"Oh, kau ternyata pria itu! si badboy," celetuk Dante dengan senyum sarkasnya.
"Jika aku tahu dari awal, seharusnya tidak mengganggu kalian.!"
Dante bersikap seolah-olah sangat mencintai Chika, terasa sekali aroma cemburu yang menggebu.
Gio menatap wajah Dante, dia memperhatikan dengan seksama wajah yang familiar itu.
"Bukannya kau teman Gerald?" tanya Gio dengan melibatkan tangan di dada, dia merasa jika pria yang ingin membawa Chika pergi adalah mempelai pria, terlihat jelas dari pakaian yang ia kenakan. Namun yang membuatnya heran, setahu Gio, Chika tidak memiliki teman pria. Dunianya hanya memancing, itu yang selalu Chika katakan padanya. Seminggu belakangan ini mereka dekat, Chika mendapatkan angin segar, dia begitu bersemangat untuk menjadi kekasih Gio.
"Iya, aku tidak mengenalmu, Gio yang kutahu adalah..." Belum sempat Dante melanjutkan ucapannya, Chika menarik lengan sang suami menjauh dari Gio.
Chika merasa sudah tidak memiliki kesepakatan bersama dengan cinta pertamanya, mengatakan hal yang sebenarnya justru akan mempersulit keadaan. Dia berniat ingin mengubur dalam-dalam perasaan cintanya terhadap Gio.
Sang duda yang tidak mengerti dengan sikap sang isteri kemudian protes.
"Harusnya aku yang menarik tanganmu tadi, aku sudah memberikan kesempatan! mengapa tidak kau ambil kesempatan itu? kebetulan dia ada didekatmu, katakan saja seperti apa yang sebelumnya kau sampaikan kepadaku jika kau mencintainya," ledek Dante yang senang memperkeruh suasana, meskipun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku ingin melupakannya!" ucap Chika lirih, butir bening yang perlahan menetes di pipinya mewakili rasa yang ada di hatinya.
"Kau menangis?" Dante menatap wajah Chika. Dia melihat dengan jelas kesedihan di mata gadis itu.
"Menurutmu? apa aku terlihat sedang berpura-pura? sudahlah jangan membahas sesuatu yang telah berlalu. Aku sudah malas membahasnya, resepsi ini saja sudah membosankan apalagi bertemu dengan pria yang menyebalkan itu." Chika mengatakan hal yang tidak sesuai dengan kata hatinya, tapi apa mau dikata jika kenyataannya dia sudah menjalin ikatan dengan sang duda. Tidak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan cinta Gio.
"Kau bisa melakukannya, aku mendukung setiap keputusan yang keluar dari mulutnya." Sang duda bersikap seolah-olah pria dewasa yang bijaksana.
Masalahnya tidak sesederhana itu, saat Chika mengungkapkan perasaan cintanya kepada Gio, ada banyak orang yang kecewa dan terluka. Terutama kedua orang tuanya, Chika sangat tidak menyukai saat kedua orangtuanya merasa malu dan sedih karena dirinya sifat yang egois, semisal lebih mementingkan hubungannya daripada kebahagiaan kedua orang tuanya.
Chika sudah memikirkan matang-matang tentang apa yang sudah ia putuskan, sang gadis akan tetap bersama Dante sampai 6 bulan kedepan. Setelahnya, Tuhan yang akan memutuskannya. Dia sudah lelah menjalani kehidupan yang penuh dengan kekecewaan, penantian tanpa arah yang jelas. Dia ingin mengakhiri ketidakmampuan menahan setiap perasaan di dalam dadanya yang sangat besar kepada cinta pertamanya.
Sosok Gio, pria yang membuat hatinya remuk redam akan segera hilang dari jiwanya, dari setiap hembus nafasnya.
"Apa kau tidak berniat memberiku tisu atau sejenisnya? dari tadi kau hanya melihatku? air mata ku menetes dengan derasnya, membuat make up di wajahku menjadi luntur," ucap Chika yang tak memahami tatapan mata Dante yang begitu dalam kepadanya.
"Kita hadapi bersama, aku akan membantumu mengungkapkan apa yang membuatmu sesak. Kali ini, kalau menurutlah padaku!" Om duda lihat itu sedang bercanda, tiba-tiba saja Dante mengusap airmata Chika yang jatuh dengan tangannya, sentuhannya begitu lembut, tidak seperti biasanya.
Perlahan, Dante menggandeng tangan Chika, dia membawanya menghadapi permasalahan pelik yang seharusnya berakhir.
Seakan sedang menunggu pasangan pengantin itu kembali, Gio masih berada di tempat yang sama.
"Akhirnya kalian kembali juga," ucap Gio. Dia menatap wajah Chika yang berbeda dari sebelumnya.
"Apakah kau menangis?" imbuh Gio , dia penasaran dengan penyebab jatuhnya airmata Chika.
"Dia menangis karena dirimu! dia mencintaimu dengan segenap hatinya. Tetapi kau justru menghianatinya dengan menjalin hubungan dengan banyak gadis tepat di depan wajahnya. Segalanya telah dia lakukan untukmu, tetapi kau samasekali tidak pernah melihat ketulusan di dalam hatinya juga matanya. Oh ya, perkenalkan aku adalah suaminya sekarang. Aku masa depannya dan kau masa lalunya, jangan dekati dia lagi. Jika kau tidak ingin berurusan denganku,"
Deg!
Jantung Chika seakan berhenti berdetak, Dante benar-benar melakukannya.
Pria yang sudah menjadi suaminya itu, mengungkapkan sesuatu yang tak mampu ia sampaikan kepada Gio.
Semuanya menjadi tidak terkendali, wajah Gio merah padam. Dia terlihat sangat marah.
"Chika! kau ikut denganku!"
Gio menarik paksa tangan Chika, seperti ingin membawa gadis itu kabur dari pernikahannya.