Perusahaan keluarga nyaris bangkrut, keuangan menipis lantaran terbiasa hidup mewah.Nabila harus menerima takdir Siska menolak dijodohkan dengan pak tua mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. Demi keluarga dia rela berkorban, dia rela di gadaikan, dinikahkan dengan pak tua mesum ituh yang terkenal kaya raya. Namun ituh tidak menujukan dirinya, sebelum hari penikahan mereka tiba. Sosoknya yang misterius dan selali sembunyi di balik kamera,akhirnya terungkap saat ia menikahi Nabila dengan cara hormat. " Kk-kamu.... masih muda? " tanya Nabila dengan polosnya. " kamu kira saya sudah tua gituh? " Nabila menggeleng panik. " tapi kata kaka siska, kamu orang tua yang mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. "Ituh hanya rumor palsu tentang saya, kamu jangan percaya rumor sebelum kamu liat langsung sendiri buktinya. "Apakah Nabila yang selalu menderita bisa hidup bahagia setelah menikah dengan suaminya Devan? Ataukah Siska akan menjadi duri dalam penikahan Nabila dan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Nabila terkejut melihat Gavin diseret keluar dengan mudahnya oleh satpam. Wajahnya babak belur, dipenuhi darah segar yang menetes dari bibir, kening, dan pelipisnya. Pakaiannya yang acak-acakan bak terkena angin ****** beliung ditambah kondisinya yang lemah membuat Nabila langsung memikirkan keadaan suaminya.
Nabila berlari ke arah dapur, tapi sebelum benar-benar sampai Devan sudah keluar lebih dulu.
Devan mendapat beberapa luka lebam di wajahnya, sudut bibirnya koyak karena kini mengeluarkan darah segar dan dibiarkan mengalir begitu saja. Selain itu, pakaiannya yang selalu rapi kini terlihat berantakan. Nabila mendekati Devan dan langsung memapah suaminya dengan tubuh kecilnya. Dia takut kalau Devan tiba-tiba pingsan di sana.
"Ayo, aku antar ke kamar, Kak," katanya pelan, sembari mengajak Devan untuk lekas berjalan menuju kamarnya.
Devan tak bergerak, dia memandangi Nabila dengan dahi mengernyit tidak mengerti.
"Kakak pasti lemas, kan? Aku tahu, Kakak bukan orang yang suka berkelahi. Jadi, kalau Gavin yang badannya gede sampai begitu, Kakak pasti lebih parah lagi kondisinya."
Devan menatap Nabila seperti patung. Istrinya benar-benar tidak sadar? Apakah dia tidak bisa melihat kalau dirinya baik-baik saja?
Devan bahkan baru saja memberitahu ayah dan ibunya soal Gavin dan meminta mereka membatalkan semuanya sebelum terlambat. Benar, bajingan itu harus segera diempas sebelum menjadi virus mematikan yang akan menghancurkan keluarganya.
"Ayo, Kak!" Nabila berjalan, Benar-benar memapah Devan bak Orang Kesakitan.
Bukan pertama kali ini ia diremehkan. Fisiknya memang tidak terlihat sebagus Gavin yang rajin ke gym untuk membentuk otot-ototnya. Devan jarang melakukan itu. Dia lebih suka melatih pukulan dan tendangan kakinya secara langsung. Membentuk otot bisa perlahan dan bertahap, tapi kekuatan di balik otot-otot itu tidak bisa dia dapatkan secara instan.
Banyak lawan yang meremehkannya hanya karena Evan terlihat kurus dan menyedihkan.
Mereka tidak akan tahu sebelum memberikan perlawanan. Pukulan bahkan cengkeraman tangannya sudah cukup untuk bisa meremukkan tulang-tulang lawan.
"Nabila," panggilnya. Nabila menoleh.
"Iya?"
"Apa aku terlihat seperti orang Kesakitan?" tanyanya, memastikannya langsung pada istrinya yang kadang lemotnya bisa membuatnya ingin menjitaknya. Namun, dia tidak pernah bisa melakukan itu, karena takut kalau jitakannya akan lebih mematikan
daripada seharusnya.
Nabila memandangi suaminya sekali lagi, sebelum menganggukkan kepala. "Iya, kamu kelihatan seperti orang yang sedang menahan sakit, jadi aku ingin merawatmu sampai membaik. Boleh, ya?"
Devan mendesah pasrah. "Terserah, lakukan apa yang kamu mau." Devan pun menurut dituntun ke kamarnya. Dia sebenarnya ingin mengecek keadaan Mika lebih dulu, tapi untuk kali ini saja dia akan membiarkan adiknya itu larut akan penyesalannya.
Dia yang telah melakukannya, maka dia yang akan memanen akibat dari perbuatannya.
Nabila meminta Devan beristirahat di atas ranjang sedang ia berlari keluar, hendak mencari kotak P3K. Kalau di rumah Devan, Nabila bisa bertanya pada pelayan, tapi di sini, tidak ada siapa pun yang bisa dia tanyai selain Mika ataupun satpam.
Nabila jelas tidak bisa bertanya pada Mika, karena setelah menangis histeris tadi, adik iparnya memasuki sebuah ruangan yang ia yakini sebagai kamar adik iparnya. Nabila pun menuju dapur, hendak mencari baskom dan mengisinya dengan air hangat untuk membersihkan bekas darah di wajah suaminya. Namun, kondisi dapur rumah itu benar-benar hancur lebur.
"Apa yang mereka berdua lakukan tadi?" tanyanya, melangkah masuk dengan perlahan disusul satpam yang kini tengah menatapnya terkejut.
"Nona sedang apa di sini?" tanya salah satu dari dua satpam yang ia lihat sedang menggeret Gavin keluar tadi.
"Mau ambil baskom, Pak." Nabilaa menggigit bibir bawahnya sebelum bertanya, "Em, Bapak tahu kotak P3K di rumah ini biasa disimpan di mana? Atau handuk kecil bersih di rumah ini?"
Kedua satpam itu saling tatap sebelum menganggukkan kepala dan mulai mencari-cari apa yang diperlukan Nabila. Kotak P3K disimpan rapi di dapur, berada di lemari paling ujung kanan atas, lalu mereka menyerahkannya pada istri dari tuan
muda di rumah ini-begitulah kabar yang mereka dengar dari Devan semalam.
"Nona jangan di sini, ya. Tempat ini mau diberesin sebelum Nyonya pulang. Kalau Nyonya sampai tahu dapurnya berantakan, bisa-bisa beliau uring-uringan seharian."
Nabila yang tidak terlalu paham pun hanya bisa mengangguk. Dia yang sebelumnya ingin merebus air hangat untuk mengompres luka suaminya pun jadi urung dan memilih pamit dari sana. Dia kembali ke kamar, mengisi baskom dengan air dari kamar mandi, dan mulai mendekati suaminya yang sedang memejamkan mata.
Dicelupkannya handuk kecil berwarna putih itu ke dalam baskom, lalu ia usapkan ke wajah suaminya dengan perlahan untuk menghapus sisa-sisa darahnya. Devan tidak bereaksi, dia masih memejamkan mata dan Nabila ingin segera menyelesaikan pekerjaannya.
Walaupun Devan diam, tapi bukan berarti dia tidak kesakitan. Nabila bahkan menyakini ada rasa perih yang merayap dari luka-luka lebam yang kini mulai terlihat membiru di wajah tampan suaminya.
Nabila membuka kotak P3K, mengeluarkan antiseptik dan kapas, lalu mengoleskannya dengan hati-hati di luka-luka lebam di wajah Devan. Suaminya masih diam, dia tetap memejamkan mata sampai Nabila selesai melakukan tugasnya. "Apa dia tidur?" tanyanya pelan. Nabila baru saja berdiri, hendak menarik selimut menutupi tubuh suaminya saat Devan menangkap lengannya dan mulai menarik Nabia ke arahnya. Mata yang sejak tadi tertutup rapat kini terbuka lebar.
"Mau ke mana?" tanyanya pelan.
"Mau narik selimut, biar Kakak bisa istirahat."
"Oh," Devan hanya bergumam pelan, "sini, Na."
Nabila mengernyitkan dahi, tapi ia tetap mendekatkan wajahnya dengan wajah suaminya. Dia berpikir Devan ingin mengatakan sesuatu padanya.
"Kenapa, Kak?"
"Cium aku," bisiknya yang sukses membuat Nabila menganga.
"Hah?"
"Kenapa? Kamu tidak mau menciumku?" tanya Devan, nadanya agak tersinggung sekarang.
"Kakak kan lagi sakit, aku ... aku.....
"Kamu tidak mau menciumku, karena luka-luka ini terlihat mengerikan menurutmu, ya?" tanya Devan, mencoba memastikan pikirannya soal Nabila yang kini terlihat enggan.
"Bu-bukan begitu, aish!" Nabila berteriak frustrasi. "Kakak mau dicium di mana?"
"Terserah kamu," balas Devan datar.
Nabila menelan ludah susah payah. Sudut bibir Devan koyak, dia tidak berani menciumnya di sana, selain malu, juga karena dia takut memperparah luka suaminya. Pipi Devan pun dipenuhi lebam, dia harus hati-hati kalau mau mendaratkan ciuman di sana. Kening Devan tidak terlalu terluka, tapi pelipisnya cukup mengerikan untuk dilihat mata.
Nabila benar-benar takut melakukannya. Dia takut melukai suaminya. Dengan hati-hati, dia mendekatkan wajahnya ke pipi Devan, mencari titik teraman agar luka Devan tidak terkena ciumannya. Hanya kecupan pelan, tidak begitu menempel, karena Devan bahkan nyaris tidak bisa merasakannya.
Pria itu mendekap tubuh istrinya dengan kedua tangan. Memeluk erat sebelum menarik Nabila untuk ikut dengannya di atas ranjang, jatuh menimpa tubuhnya dan Devan membalik posisi mereka dengan cepat.
"Kamu nyium apa? Nggak ada rasanya sama sekali."
Nabila memajukan bibirnya. "Aku takut lukamu semakin par--ah."
Nabila menelan kalimatnya kembali saat Devan mendaratkan ciuman di bibirnya. Ciuman itu tidak pelan seperti biasa, ritmenya agak keras dan menggebu, ******* bibir Devan pun terkesan bahwa suaminya sedang terburu-buru.
"Kak, lukamu!" peringat Nabila, saat Devan melepaskan ciuman mereka.
"Tidak masalah, aku baik-baik saja."
Nabila baru saja protes saat ciuman itu kembali mendatangi bibirnya. Devan terus menciumnya seperti itu sampai bermenit-menit waktu berlalu, seperti pria itu tidak bisa berhenti, padahal dia melakukannya sambil menahan sakit di sudut bibirnya.
"Kak!"
"Diamlah dan nikmati ciumanku," geram Devan yang kini terlihat kesal bukan main. Dia bangkit dan duduk di atas ranjang, bersebelahan dengan Deva yang juga ikut bangun dan duduk di sebelahnya.
"Kakak kenapa?" tanya Nabila polos.
Devan menjambak rambutnya frustrasi. Entah bagaimana keadaannya bisa begini.
Nafsunya tiba-tiba tersulut dan dia menginginkan istrinya saat itu juga. Devan tidak bisa berhenti, tapi dia harus berhenti sebelum ia lepas kendali. Sudah cukup tadi pagi saat ia memberikan sebuah kecupan singkat di bibir istrinya, dia malah mendapati dirinya mencupang leher Nabila.
Semuanya, dia lakukan dengan sadar, dia lakukan karena dia memang menginginkannya. Namun, dia juga tahu kalau Nabila belum siap melakukannya.
Sampai kapan dia harus menunggu? Devan tidak tahu, berapa lama lagi dia bisa meredam nafsunya sendiri. Padahal selama ini, dia tidak pernah tertarik pada wanita mana pun selain Riri, tantenya sendiri. Dia selalu menjaga dirinya, menjaga hati dan perasaannya agar tidak memberikannya pada wanita mana pun di luar sana.
Namun, hadirnya Nabila dan apa yang telah mereka lewati membuatnya berubah secara
semua pendiriannya. Satu kecupan membuatnya lemah akan nafsunya sendiri.
Devan benar-benar menginginkan haknya. Dia sudah terlalu tua untuk terus menunggu kapan hari yang tepat untuk melepas keperjakaannya.
Sialan! Bahkan dia tidak bisa menggoda Lilya agar larut dalam ciuman dan sentuhannya. Dia merasa ... sepertinya dia harus belajar banyak dari omnya, dari sepupunya, atau dari siapa pun yang punya banyak pengalaman dengan wanita.
Karena Devan benar-benar merasa tidak berguna. Dia benar bisa mencium Nabila, dia bisa menikmati semuanya, tapi Nabila tidak terlihat bisa terhanyut oleh ciuman itu dan membiarkan Devan mendapatkan haknya.
Nabila mendekati tubuh suaminya dan berkata dengan pelan, "Kakak mau?"
"Kalau iya, apa kamu mau memberikannya?" tanyanya, jujur sejujur-jujurnya karena dia sudah terlalu frustrasi untuk menunggu lebih lama lagi. Kalau Nabila mengizinkannya, Devan tidak akan ragu untuk melakukannya sekarang juga.
"Em ... bagaimana kalau kita tunggu sampai kakak sembuh dulu?" Devan mendelik ke arah istrinya dan membuat Nabila tergagap melihat penampilan wajah Devan yang menatapnya garang. "Dan lagi, kita sedang di rumah orang tua kakak, memangnya Kakak nggak malu kalau sampai mereka memergoki kita?"
Jadi, Nabila mengizinkannya? Masalahnya hanya tempat dan kondisi Devan saja?
"Kamu yakin mau memberikannya padaku?"
Nabila mengangguk ragu.
"Sejujurnya, aku sudah mempersiapkan diri saat Kakak menikahiku. Aku ... berterima kasih, karena Kakak mau menunggu selama ini demi sekolahku, tapi aku tidak apa-apa. Asalkan aku tidak hamil, aku tidak akan dikeluarkan dari sekolah, kan?"
Nabila menggigit bibirnya. Dia mengatakan itu bukan hanya untuk membuat suaminya senang, tapi juga dia ingin sekali-kali mengatakan pada suaminya tentang ketakutannya.
Nabila siap melakukannya, tapi kalau bisa, dia tidak mau meninggalkan sekolahnya. Dia ingin tetap lulus SMA. Devan pun memikirkan hal yang sama, jadi mungkin ... mereka bisa mengambil jalan tengah yang aman, kan?
Apalagi, Devan lebih pintar dan lebih dewasa darinya. Dia pasti tahu jalankeluar dari ketakutannya itu, kan?
"Baiklah, aku tidak akan membuatmu hamil dan dikeluarkan dari sekolah. Aku akan melakukannya, tapi tidak sekarang."
Liya menatap Devan yang kini tengah memejamkan mata, seperti menahan sesuatu di dalam dirinya. Nabila tahu, Devan pria normal, dia pasti menginginkan haknya, tapi dia juga tidak mau memaksa Lilya melakukannya.
"Terima kasih," balas Nabila yang kini tersenyum manis, kedua matanya bahkan sampai terpejam dan membuat Devan yang baru membuka mata terpesona melihatnya.
Dia cantik ... apa aku sudah pernah mengatakan itu padanya? batinnya, bertanya-tanya dan berusaha mengingat-ingat.
Apakah dia pernah memuji Nabila sebelumnya?
Bersambung...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari saya. 🤗
Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...