NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gadis Misterius dan Kedai Pinggir Jalan

Meninggalkan Jombang berarti meninggalkan masa lalu yang penuh dengan penghinaan. Bagi Ling Chen, kota kecil itu hanyalah pemberhentian singkat untuk memulihkan sedikit fondasi kekuatannya.

Tujuan sebenarnya kini membentang jauh di depan—Ibukota Kekaisaran, tempat di mana rahasia segel giok ibunya dan puncak kultivasi dunia ini berada.

Sudah tiga hari Ling Chen melakukan perjalanan melintasi perbatasan wilayah utara.

Alih-alih menunggangi kereta kuda mewah seperti para tuan muda sekte, ia memilih berjalan kaki menyusuri jalan tanah yang membelah hutan bambu.

Di sampingnya, Serigala Perak Langit kini telah mengecilkan ukuran tubuhnya menjadi seukuran anjing serigala biasa agar tidak terlalu menarik perhatian penduduk desa.

Sementara itu, Kuro, si makhluk berbulu hitam legam, dengan nyaman bertengger di atas kepala Ling Chen, sesekali mendengkur halus sambil menikmati semilir angin.

"Kuro, jika kau terus bertingkah seperti topi bulu di kepalaku, aku akan melemparmu ke sungai," gumam Ling Chen dengan nada malas.

Kuro hanya membuka satu mata emasnya, mengepakkan sayap kecilnya sekali, lalu mengeluarkan suara "Kyuu~" yang terdengar seperti ejekan, sebelum kembali memejamkan mata.

Ling Chen hanya bisa menggelengkan kepala. Siapa yang akan percaya bahwa makhluk manja ini adalah Shadow Void Beast yang ditakuti di zaman kuno?

Matahari siang itu mulai terasa menyengat kulit. Di ujung jalan hutan bambu, sebuah kedai teh sederhana berpaku kayu dengan atap jerami tampak berdiri di pinggir jalan tol kuno.

Bau aroma bakpao kukus dan teh melati menguar ke udara, membuat perut manusiawi tubuh fana Ling Chen mengeluarkan suara keroncongan halus.

"Mari kita istirahat sejenak," ucap Ling Chen pada dirinya sendiri.

Kedai itu tampak cukup ramai oleh para pedagang keliling dan beberapa pendekar pengembara yang membawa senjata di punggung mereka.

Ling Chen memilih meja di sudut yang paling sepi, dekat dengan jendela kayu yang terbuka.

"Pelayan, bawakan satu teko teh melati hangat dan dua porsi bakpao daging," puji Ling Chen saat seorang pelayan paruh baya mendekat.

"Baik, Tuan Muda! Mohon tunggu sebentar," jawab pelayan itu ramah, meskipun matanya sempat melirik heran ke arah serigala perak yang duduk tenang di bawah kaki Ling Chen.

Saat Ling Chen sedang menikmati tehnya yang baru datang, perhatian seluruh pengunjung kedai mendadak teralihkan oleh suara derap langkah kaki kuda yang terburu-buru dari arah luar. Tak lama kemudian, pintu kedai digeser dengan kasar.

Sesosok gadis muda dengan pakaian ringkas berwarna merah marun melangkah masuk dengan napas terengah-engah.

Wajahnya yang cantik tampak kotor oleh debu perjalanan, dan ada tetesan darah segar yang merembes dari lengan baju kanannya.

Matanya yang bulat besar menyapu seluruh isi kedai dengan tatapan waspada dan penuh ketakutan.

Di tangannya, gadis itu mendekap erat sebuah gulungan kulit tua yang tampak sangat kuno.

"Tolong... adakah yang bisa membantuku?" bisik gadis itu dengan suara bergetar, menatap para pendekar yang ada di dalam kedai.

Namun, alih-alih membantu, para pendekar di kedai itu justru memalingkan wajah mereka.

Di dunia kultivasi, mencampuri urusan orang asing yang terluka sama saja dengan mengundang masalah besar ke diri sendiri. Terlebih lagi, melihat luka pedang di lengan gadis itu, semua orang tahu dia sedang dikejar oleh musuh yang berbahaya.

Gadis itu menggigit bibir bawahnya, merasa putus asa. Saat ia hendak berbalik untuk keluar, langkah kakinya goyah. Tubuhnya ambruk ke arah meja Ling Chen.

PRANG!

Cangkir teh Ling Chen tersenggol dan pecah di lantai. Gadis itu jatuh terduduk tepat di samping kaki Ling Chen, gulungan kulit di tangannya terlepas dan menggelinding ke dekat sepatu Ling Chen.

Ling Chen tidak bergerak. Ia hanya menatap gulungan kulit kuno tersebut.

Indra kaisarnya yang tajam mendeteksi sesuatu yang menarik—ada riak energi ruang yang sangat tipis memancar dari kulit tua itu. Itu bukan peta biasa, melainkan peta kunci menuju sebuah Situs Warisan Kuno tingkat tinggi.

"Maaf... aku tidak sengaja..." ucap gadis itu dengan wajah pucat, mencoba meraih kembali gulungannya dengan tangan yang gemetar.

Sebelum tangannya menyentuh gulungan itu, sesosok bayangan hitam melesat masuk ke dalam kedai dari jendela.

SRET!

Sebuah belati beracun meluncur memotong udara, tertancap tepat di meja kayu tempat Ling Chen duduk, hanya berjarak beberapa sentimeter dari jemari si gadis.

"Mu Rong'er! Kau pikir kau bisa lari dari Sekte Tengkorak Hitam setelah mencuri peta warisan leluhur kami?!" sebuah suara serak dan dingin bergema dari luar kedai.

Tiga orang pria berpakaian hitam dengan topeng bergambar tengkorak melangkah masuk.

Aura yang memancar dari tubuh pemimpin mereka berada di Alam Pengumpulan Energi tahap puncak, hampir menyentuh Alam Fondasi. Bagi ukuran wilayah pinggiran seperti ini, mereka sudah termasuk ahli yang ditakuti.

Para pengunjung kedai yang lain seketika panik. Mereka segera meletakkan uang di meja dan lari berhamburan keluar lewat pintu belakang, tidak ingin terjebak dalam pertumpahan darah.

Dalam hitungan detik, kedai yang tadinya ramai kini menyisakan pelayan yang bersembunyi di bawah meja, si gadis bernama Mu Rong'er, tiga pembunuh, dan Ling Chen yang masih tenang mengunyah bakpaonya.

"Hei, Nak! Pergi dari sana jika kau tidak ingin mati bersama pelacur kecil ini!" bentak salah satu pembunuh bertopeng sambil mengarahkan pedangnya ke arah Ling Chen.

Ling Chen menelan potongan terakhir bakpaonya, lalu menyeka bibirnya dengan sapu tangan kecil. Ia bahkan tidak repot-repot menatap ketiga pembunuh tersebut.

"Kau telah memecahkan cangkir tehku," ucap Ling Chen datar, suaranya sangat tenang namun entah kenapa membuat suasana di dalam kedai mendadak terasa sedingin es.

Pemimpin pembunuh bertopeng itu mengerutkan kening di balik topengnya. Ia merasakan ada yang tidak beres dengan pemuda compang-camping di depannya ini.

"Jangan cari masalah, anak muda. Kami dari Sekte Tengkorak Hitam sedang menjalankan tugas. Serahkan gadis itu dan petanya, maka kami akan mengampuni nyawamu."

Mu Rong'er menatap Ling Chen dengan tatapan memohon.

"Tolong aku... jika mereka mendapatkan peta ini, mereka akan membuka gerbang iblis yang akan menghancurkan seluruh wilayah ini..."

Ling Chen berdiri dari kursinya. Ia mengambil gulungan kulit kuno di lantai, lalu memasukkannya ke dalam balik jubahnya dengan santai.

"Peta ini sekarang milikku," kata Ling Chen, menatap ketiga pembunuh itu dengan mata biru safirnya yang mulai berkilat.

"Sedangkan untuk kalian... karena telah mengganggu makan siangku dan merusak ketenanganku, bayarannya adalah tangan kanan kalian."

"LANCANG! Habisi dia!" raung sang pemimpin pembunuh.

Dua pembunuh di sampingnya melompat serentak, pedang mereka memancarkan aura hitam beracun yang mengarah langsung ke leher dan jantung Ling Chen.

Sring!

Tidak ada yang melihat bagaimana gerakan itu terjadi. Yang terdengar hanyalah satu petikan halus dari jari Ling Chen di udara.

SLASH! SLASH!

Dua bilah pedang hitam milik pembunuh itu patah menjadi tiga bagian. Detik berikutnya, kedua pembunuh itu berteriak histeris saat tangan kanan mereka terlepas dari bahu, menyemburkan darah segar yang membasahi lantai kedai.

Mereka jatuh berlutut sambil memegangi pundak mereka yang kosong.

Pemimpin pembunuh itu melangkah mundur dengan wajah penuh horor.

Mematahkan senjata dan memotong lengan bawah ahli Alam Pengumpulan Energi hanya dengan jentikan jari? Orang di depannya ini jelas adalah seorang master Alam Fondasi atau bahkan lebih tinggi!

"Kau... siapa kau sebenarnya?!" teriak sang pemimpin dengan suara gemetar, kehilangan seluruh keberaniannya.

"Kau tidak layak mengetahui namaku," ucap Ling Chen dingin.

Ia melangkah maju satu kali, dan tekanan mental yang tak kasat mata langsung menghantam dada sang pemimpin pembunuh hingga ia memuntahkan darah dan terhempas keluar dari kedai, menabrak pohon bambu hingga patah.

Mu Rong'er menyaksikan seluruh kejadian itu dengan mulut ternganga.

Pemuda yang awalnya ia kira hanyalah pengembara biasa, ternyata adalah seorang jenius tak tertandingi yang mampu menumbangkan para pengejar berbahaya dari Sekte Tengkorak Hitam tanpa perlu mencabut pedang di pinggangnya.

Ling Chen berbalik, menatap Mu Rong'er yang masih terduduk di lantai dengan sisa-sisa rasa syok.

"Berdirilah," ucap Ling Chen sambil melemparkan sebotol kecil obat luka luar yang ia racik di hutan ke pangkuan gadis itu.

"Obati lukamu. Setelah itu, kau akan menjelaskan padaku tentang peta yang kau bawa ini."

Mu Rong'er memegangi botol obat itu, merasakan kehangatan yang aneh di hatinya. Ia tahu, di dunia yang kejam ini, ia baru saja bertemu dengan takdirnya—seorang pemuda misterius yang memegang pedang hitam, yang akan membawanya menuju badai yang jauh lebih besar.

1
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
Nanik S
Kyuuuuu habis semua
Nanik S
Liontin Mu Rong bersonasi dengan batu peninggalan ibunya
Nanik S
Mu Rong... siapa gadis ini sebenarnya
Nanik S
Segel di Liontin Giok
Nanik S
Habis sudah harapan hidup Yan Ran wanita licik dan Munafik
Nanik S
Bantai semua Aliansi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!