NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!

---

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kejutan yang Menghancurkan

Hari Rabu, Pukul 15.30

Di perempatan lampu merah dekat sekolah, Rasya sudah menunggu dengan motornya. Lima menit kemudian, Sasha datang membawa ransel besar yang isinya tidak jelas.

“Kamu bawa apa saja, Sha?” tanyaku.

“Bekal. Takut nanti kelaparan,” jawabnya santai.

Rasya hanya menggelengkan kepala.

“Ayo naik,” ajakku.

Sasha duduk di bagian depan boncengan, sedangkan aku duduk di belakangnya—posisi yang agak tidak nyaman karena tubuh Sasha yang kecil menjadi semacam bantal pemisah antara aku dan Rasya.

“Pegang erat-erat,” perintah Rasya sebelum menyalakan mesin.

Motor pun melaju meninggalkan tempat itu.

---

Ternyata Kayla tinggal di dalam kompleks perumahan elit di selatan Jakarta. Rumahnya sangat besar, dikelilingi pagar putih yang tinggi dan taman yang terawat rapi.

“Tidak terlihat seperti rumah penjahat,” komentar Sasha.

“Justru orang yang licik biasanya tinggal di tempat mewah seperti ini,” balas Rasya singkat.

Kami memarkir motor agak jauh, tepat di depan minimarket yang berada di seberang kompleks. Dari situ kami bisa melihat jelas pintu masuk rumah Kayla tanpa terlihat mencurigakan.

“Kita tunggu apa lagi?” tanya Sasha.

“Tunggu dia keluar,” jawabku.

“Bisa menunggu lama sekali.”

“Kita punya cukup waktu.”

Tak lama kemudian, seorang wanita—mungkin asisten rumah tangga—membukakan pintu pagar. Kayla keluar, mengenakan jaket tebal dan membawa sebuah amplop berwarna cokelat.

Amplop cokelat.

Aku dan Rasya saling bertatapan.

“Itu amplop yang sama—”

“Iya,” Rasya mengepalkan tangannya. “Amplop yang dulu aku bawa saat kamu meninggal di kehidupan sebelumnya.”

“Apa isinya?”

“Belum pasti. Tapi kemungkinan besar itu salinan bukti-bukti yang selama ini disimpan oleh Rio.”

Kayla berjalan menuju sebuah mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya. Ia masuk ke dalam, lalu mobil itu segera melaju pergi.

“Ikuti mereka,” perintahku.

Rasya menyalakan mesin motornya, lalu kami mengikuti mobil hitam itu dari jarak yang cukup aman agar tidak ketahuan.

---

Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah kafe di kawasan Kemang. Kayla turun sambil tetap memegang amplop cokelat itu, lalu masuk ke dalam kafe.

“Kita ikut masuk?” tanya Sasha.

“Aku dan Rasya yang masuk. Kamu jaga motor saja di sini.”

“Kenapa aku selalu disuruh jaga motor?” protesnya.

“Karena kamu bertubuh kecil dan mudah tersesat,” jawabku bercanda.

Sasha mendengus kesal, namun akhirnya menurut.

Aku dan Rasya masuk ke dalam kafe. Suasananya terasa hangat, diiringi alunan musik jazz yang pelan dan aroma kopi yang harum. Kami melihat Kayla duduk di meja pojok, berhadapan dengan seseorang.

Seseorang yang sangat aku kenal.

Bundaku?

Aku hampir menjatuhkan buku menu yang ada di tanganku.

“Kenapa?” bisik Rasya melihat reaksiku.

“Itu… itu ibuku,” jawabku dengan suara bergetar.

Bundaku—Dewi Lestari—duduk di seberang Kayla. Mereka berbicara dengan sangat serius, seolah-olah sudah saling mengenal sejak lama.

“Kita harus mendekat agar bisa mendengar pembicaraan mereka,” bisik Rasya lagi.

Kami memesan dua cangkir kopi, lalu duduk di meja yang tidak terlalu jauh—cukup dekat untuk mendengar percakapan jika kami memusatkan perhatian.

“Jadi, kamu adalah teman sekelas Nayla?” tanya Bunda memulai percakapan.

“Iya, Tante. Nayla orangnya sangat baik,” jawab Kayla dengan nada manis.

“Bunda senang mendengarnya. Nayla jarang sekali bercerita tentang teman-temannya di rumah.”

“Ah, Nayla memang pendiam, ya? Tapi aku mengerti. Setiap orang pasti punya rahasia masing-masing, bukan, Tante? Termasuk… Tante sendiri.”

Kata “rahasia” diucapkan dengan nada yang tidak biasa, membuatku merinding.

Bunda mengedipkan matanya bingung. “Rahasia? Nayla masih anak-anak, rahasia apa yang bisa dia miliki?”

Kayla tersenyum tipis. “Maksudku, rahasia masa lalu. Semua orang pasti punya masa lalu, kan? Termasuk Tante Dewi sendiri.”

Bunda terdiam seketika.

“Tante Dewi,” lanjut Kayla, “di kehidupan sebelumnya, Tante memiliki sebuah rahasia yang tidak pernah diceritakan kepada siapa pun. Tentang… ayah kandung Nayla.”

Darahku terasa berhenti mengalir.

Ayah kandung?

Wajah Bunda seketika berubah menjadi pucat pasi. “Kamu… kamu sebenarnya siapa?”

“Aku hanyalah orang yang mengetahui segalanya, Tante.” Kayla mendorong amplop cokelat itu ke arah Bunda. “Di dalam amplop ini terdapat bukti tentang siapa ayah kandung Nayla. Tentang apa yang terjadi lima belas tahun yang lalu. Tentang… sebuah pembunuhan yang tidak pernah terungkap ke publik.”

Dunia di sekitarku terasa berhenti berputar.

---

Aku menoleh ke arah Rasya. Wajahnya juga tampak pucat.

“Kita harus—”

“Aku mendengar semuanya,” potong Rasya pelan. “Tapi jangan bertindak gegara sekarang. Kita butuh informasi yang lebih lengkap.”

Namun aku tidak bisa menahan diri. Aku berdiri dari kursiku.

“Nayla, jangan—”

Aku sudah berjalan mendekati meja mereka.

“Bunda.”

Bunda menoleh, matanya membelalak kaget.

“Na-Nayla? Kamu… kamu ada di sini?”

“Aku datang bersama Rasya.” Aku menatap tajam ke arah Kayla. “Kayla, apa sebenarnya yang kamu inginkan?”

Kayla tersenyum—senyum penuh kemenangan.

“Akhirnya kamu datang juga, Nayla. Sebenarnya aku ingin kamu mendengar semuanya langsung dari mulut Tante Dewi. Tentang ayahmu. Tentang seorang pembunuh yang sampai saat ini masih bebas berkeliaran di luar sana.”

Aku mengepalkan tanganku erat-erat.

“Ayahku adalah Budi Santoso. Dia ayahku sejak aku lahir.”

“Bukan,” bisik Bunda dengan suara lemah.

Aku menoleh. “Bunda?”

Bunda menunduk dalam, air matanya mulai jatuh membasahi meja.

“Budi Santoso… bukan ayah kandungmu, Nayla.”

Dalam satu kalimat itu, rasanya seluruh duniaku hancur berkeping-keping.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!