Kisah cinta Dokter cantik dan seorang Pengacara tampan yang dingin. Dipersatukan oleh perjodohan. Dipertemukan oleh takdir cinta keduanya.
Akankah mereka berdua pada akhirnya bersenyawa? 💕💕💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RieyruNa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Ayesh berpamitan kepada Hyorin untuk pergi keluar sebentar, ada sesuatu yang harus Ayesh urus.
"Rin kamu istirahatlah, aku pergi dulu sebentar ya, jangan lupa makan tinggal ambil saja sendiri di dapur, " ucap Ayesh sembari mengenakan jaket.
"Mas mau pergi kemana?"
"Aku ada urusan sama Doni sebentar, kamu disini saja jangan pergi kemana-mana ya!" perintah Ayesh sembari mengelus pucuk kepala Hyorin dengan lembut.
Hyorin mengangguk dan membiarkan pemuda itu pergi meninggalkannya sendirian.
Ayesh memacu kendaraannya menuju ke rumah Doni setelah sebelumnya Ayesh menghubungi Doni melalui ponsel.
Ayesh disambut oleh Doni yang sudah rapi dengan setelan baju casualnya siap untuk pergi ketika Ayesh tiba di halaman rumahnya.
"Ayo masuk Don!" perintah Ayesh tanpa turun dari mobilnya.
Doni masuk ke dalam mobil Ayesh.
"Kita mau kemana dulu Yesh?" tanya Doni begitu ia duduk di samping Ayesh.
"Kita akan ke rumah Ayah, aku sudah menceritakan kondisinya sama Ayah setelah itu kita persiapkan segala sesuatunya, jangan lupa yang bisa kamu handle via telfon lakukan sekarang saja Don."
Doni sibuk dengan panggilan telfonnya menghandle beberapa hal atas perintah Ayesh.
"Bagaimana dengan kondisi Dokter Orin sekarang?" tanya Doni begitu selesai dengan ponselnya.
"Dia baik-baik saja, tapi hati dan pikirannya sepertinya tidak terlalu baik. Meskipun aku yakin dia gadis yang tangguh."
Ayesh dan Doni sampai di rumah orang tua Ayesh. Mereka berdua memasuki rumah setelah mengucapkan salam.
"Kamu akhirnya datang juga Nak, bagaimana kondisi Orin sekarang?" tanya Ayah Ayesh begitu melihat putranya datang.
"Orin baik-baik saja Yah, sekarang dia ada di Apartemen Ayesh."
"Syukurlah kalau Orin baik-baik saja," Ibu Ayesh mengucapakan rasa syukur begitu muncul dari arah dapur sambil membawakan minum untuk mereka.
Ayesh sebelumnya sudah menceritakan apa yang terjadi kepada Hyorin melalui sambungan telefon kepada kedua orang tuanya dan juga Doni. Sehingga mereka sudah paham dengan apa yang terjadi pada Hyorin hari ini.
"Apakah Ayah Hyorin sudah tahu hal ini Yesh? tanya Ayah Ayesh.
"Om Mahardika tidak perlu tahu soal ini Yah, Ayesh sudah berjanji kepada Orin untuk tidak menceritakan hal ini kepada Ayahnya."
"Baiklah Nak kalau begitu bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja Nak," usul Ayah Ayesh.
"Kalian minumlah dulu, jangan terburu-buru." Ibu Ayesh menimpali.
"Don kamu sudah atur semuanya kan?" Ayah Ayesh bertanya kepada Doni.
"Sudah Om, tinggal beberapa hal saja yang akan aku urus bersama Ayesh."
"Ibu jangan lupa besok pagi-pagi sekali ke Apartemen Ayesh ya,"
"Tenang saja Nak, serahkan saja sama Ibu."
Mereka akhirnya pergi meninggalkan rumah orang tua Ayesh.
****
Sepeninggal Ayesh dari Apartemen, Hyorin yang merasa bosan berada di ruang depan kemudian masuk ke dalam kamar Ayesh, melihat pantulan dirinya di cermin. Tampak ada luka membiru di sudut bibirnya yang mulai terasa perih.
Hyorin memutuskan untuk masuk ke dalam kamar mandi merilekskan otot-ototnya yang terasa kaku dan lelah.
Sekitar Lima Belas menit Hyorin keluar dari kamar mandi. Hyorin terlihat lebih segar setelah mandi. Dia melihat jam yang ada di dinding kamar yang menunjukkan pukul Tujuh malam, namun Ayesh tak kunjung kembali.
Padahal katanya hanya pergi sebentar. Namun, Laki-laki itu sudah pergi sekitar Empat jam lebih dan belum juga kembali.
Hyorin yang tidak membawa baju ganti kemudian membuka lemari pakaian Ayesh dan mengambil kaos beserta celana pendek milik Ayesh. Hyorin yakin Ayesh tidak akan memarahinya meskipun dia meminjam bajunya tanpa izin.
Lelah menunggu Ayesh yang tak kunjung kembali Hyorin merangkak naik ke atas tempat tidur, tubuhnya sangat lelah dan terasa sakit dimana-mana.
Malam ini Hyorin tidak ingin pulang dan bahkan tidak ingin menghubungi Ayahnya sama sekali.
Hyorin merasa sangat kecewa terhadap Ayahnya sebab karena Ayahnyalah menghadirkan Tante Mirna dan Silvia ke dalam hidup mereka, bahkan Ayah seringkali lebih membela mereka dibandingkan dengan dirinya.
Hyorin merasa apa yang Kakaknya pernah sampaikan ada benarnya. Namun, kini dia harus mengadu kepada siapa sedangkan Kakaknya masih di luar Kota, Hyorin tidak ingin Kakaknya menjadi khawatir.
Sebenarnya bermalam di rumah seorang Laki-laki yang masih berstatus sebagai calon suami memanglah salah, bahkan Laki-laki inilah yang sangat saudara tirinya inginkan.
Akar masalahnya bermula dari penolakan Ayesh terhadap Silvia dan justru memilih dirinya di dalam sebuah perjodohan.
Hyorin menghembuskan nafasnya berat.
Hufftttttttttt....
Hyorin hendak memejamkan mata, namun ponselnya berdering. Dia melihat id caller di layar yang ternyata Ayahnya yang sedang tidak ingin ia temui bahkan untuk sekedar berbicara saja rasanya sangat malas justru menelfonnya.
Hyorin akhirnya memencet tombol berwarna hijau setelah panggilan kesekian kalinya.
"Orin kamu sekarang ada dimana? Kenapa jam segini belum pulang juga!" Ayah Hyorin sepertinya sangat marah.
"Aku di rumah teman Yah," jawab Hyorin.
"Silvia bilang kamu pergi dengan Ayesh, setelah mempermalukan Silvia di depan teman-temannya."
"Ayah aku tidak melakukakan apapun, tidak semua yang Silvia katakan itu benar," Hyorin berusaha menahan tangisnya.
"Ayah tidak mau tahu, kamu pulang sekarang dan minta maaf kepada Silvia!"
"Tapi Ayah aku tidak bersalah,"
Ayah Hyorin mematikan sambungan telfonnya begitu saja, saat mendengar ketukan di pintu depan.
Hyorin menangis sejadi-jadinya di kamar Ayesh, dia sangat kecewa terhadap Ayahnya sebab Ayah yang sangat disayanginya itu tidak mau mendengarkan penjelasan Hyorin dan lebih percaya dengan apa yang Silvia ucapkan.
****
Ayah Hyorin menuju ruang depan membukakan pintu untuk tamunya. Wajahnya dibuat sumringah begitu melihat siapa yang datang bertamu malam-malam.
"Akbar...mari silahkan masuk!" Ayah Hyorin memeluk sahabatnya dan mempersilahkan mereka masuk.
"Maaf Dika aku bertamu malam-malam tanpa mengabarimu dulu,"
"Kamu tidak perlu sungkan, rumahku terbuka Dua Puluh Empat jam untuk kalian."
"Terimakasih Dik,"
"Oh ya ada perlu apa kalian kemari?"
Ayah Ayesh tidak langsung menjawab, sebab tiba-tiba Silvia muncul dengan pakaian yang sangat kurang sopan tanpa malu. Dia berkilah membawakan minum untuk tamu Ayah tirinya, yang sebenarnya dia hanya ingin melihat Ayesh dari dekat dan berharap Ayesh berubah pikiran dan memilih dirinya.
Silvia merasa sangat kepo sebab Ayesh datang malam-malam bersama Ayahnya.
Silvia masuk ke ruang tengah dan menguping pembicaraan mereka.
"Begini Dik, sebelumnya dimana Nak Orin?" tanya Ayah Ayesh seolah tidak tahu dimana keberadaan Hyorin.
"Aku tidak tahu dimana anak itu sekarang, tadi siang dia sudah berbuat yang mengecewakan aku dan kini dia belum pulang,"
"Memangnya apa yang sudah Orin lakukan Dik?"
"Aku tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua putriku itu, Silvia bilang dia pergi bersama kamu Nak Ayesh setelah membuat Silvia malu di depan teman-temannya,"
"Benarkah begitu Yesh, kalian mempermalukan Silvia?" Ayah Ayesh yang sebetulnya sudah mengetahui kejadian sesungguhnya bertanya kepada Ayesh dengan berpura-pura kaget.
"Tidak Ayah, percayalah kami tidak berbuat apapun," Ayesh yang sudah paham dengan arah pembicaraan Ayahnya ikut ke dalam permainan.
"Lalu dimanakah Orin sekarang kenapa tidak bersama dengan kamu Nak?"
"Aku tadi mengantarnya ke rumah temannya Om, dia ingin kesana jadi aku mengikuti kemauannya,"
"Kamu jangan terlalu memanjakannya Nak,"
"Maafkan putriku Akbar, dia mungkin sudah mengecewakannmu," Sambung Ayah Hyorin kepada sahabatnya.
"Tidak Dika, aku justru kesini ingin membicarakan terkait pernikahan mereka,"
"Maksud kamu Akbar?" Ayah Hyorin menggernyitkan dahinya bingung.
Kemudian Ayah Ayesh dan Ayesh sendiri menyampaikan semua rencana yang telah mereka susun kepada Ayah Hyorin, tidak ketinggalan Doni pun ikut nimbrung dengan semua persiapan yang telah ia lakukan dalam waktu singkat.
Silvia yang masih duduk di ruang tengah merasa hatinya sangat hancur dengan kenyataan yang baru saja dia dengar. Dia kemudian tampak menelfon seseorang dan berbicara cukup lama dengan orang itu di halaman belakang.
Ayah Hyorin tersenyum kemudian berkata, "Apa ini tidak terlalu cepat Akbar, sedangkan aku sendiri tidak tahu dimana sekarang putriku berada,"
"Om tidak perlu khawatir terkait keberadaan Orin, akan Ayesh pastikan dia baik-baik saja."
"Iya Dika, asalkan kamu setuju kami akan atur semuanya dengan baik," Ayah Ayesh meyakinkan sahabat sekaligus calon besannya itu.
Ayah Hyorin mengangguk tanda setuju dengan semua yang sudah mereka rencanakan. Kemudian mereka pamit untuk pulang.
Ayesh mengantarkan Ayahnya terlebih dahulu kemudian bergegas menuju tempat tujuan berikutnya bersama Doni.
Setelah memperoleh apa yang mereka cari, Ayesh mengantarkan Doni pulang.
"Awas loe Yesh, jangan macam-macam dengan Dokter Orin sebelum halal," Doni memperingatkan Ayesh sekaligus menggoda pemuda itu sambil turun dari mobil Ayesh sambil tertawa meledek.
"Pikiran loe tuh yang kotor Don, Gue pamit ya Don. Ada yang menunggu gue di rumah, bye jomblo akut." Ayesh balik mengejek Doni.
"Huh sialan loe Yesh!"
Doni menendang ban mobil Ayesh kesal sebelum mobil itu melaju meninggalkan rumah Doni, kemudian Doni malah tertawa sendiri melihat kelakuan sahabatnya yang kini bagaikan gunung es mencair.
Ayesh bergegas pulang ke Apartemen sebab dia sudah berjam-jam meninggalkan Hyorin, padahal pamitnya hanya sebentar kepada gadis itu.
Ayesh memasuki Apartemen yang ruangannya sudah gelap. Ayesh kemudian menyalakan lampu dengan memencet saklar di dinding.
Ayesh menuju kamarnya dan melihat gadisnya tengah tertidur di atas ranjang empuk miliknya.
Ayesh mendekati Hyorin yang nampak tertidur sambil menangis. Sisa Air matanya masih terlihat jelas, menandakan gadis itu baru saja menangis hebat.
Tidak ingin menganggu Hyorin, Ayesh menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dengan aktivitas di kamar mandi, Ayesh mengambil selimut di lemari dan membawanya keluar dari kamar setelah sebelumnya meninggalkan jejak sayang di kening Hyorin.
Jangan lupa like, komen, vote dan jadikan favourite ya Kak, yuk terus dukung Author agar lebih semangat. 🔥🔥🔥
Terimakasih yang selalu setia mendukung Author, big thank's ya Kak 😘😘😘😘
tetap semangat thorr
klau jovvanka menyakiti Orin?