Warning!! 21+
Jangan tanyakan tentang etika, norma dan agama. Karena ini pure hanya sebuah cerita halusinasi yang bertujuan untuk menghibur. Harap bijaklah dalam membaca!
❣️❣️❣️❣️❣️❣️
Bagaimana perasaanmu? Jika kamu diculik dan disekap oleh pria yang tak di kenal? Menyeramkan bukan?
Tapi bagaimana, jika orang yang menculikmu adalah seorang pria muda, tampan dan kaya? Bahkan, memperlakukanmu seperti ratu. Karena dia telah jatuh cinta pada gadis yang diculiknya dan telah direnggut kehormatannya.
Hal itulah yang terjadi pada seorang gadis yang bernama Rhibie Amoura. Gadis sebatang kara yang menjalani hidup bersama sahabat-sahabatnya.
Bagaimana pula perjuangan sahabat-sahabat Rhibie untuk mencari keberadaan gadis itu, setelah sang Maha Dewi menghilang secara tiba-tiba?
Please, dukungannya ya!...🙏😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oryn HR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehamilan Rhibie
Rhibie menatap wajahnya di cermin. Lalu menatap tespack di tangannya berulang kali. Apa yang di rasakannya saat ini? Haruskah dia bahagia dengan kehamilan ini? Jika benar begitu, lantas apa yang membuatnya bahagia? Benarkah dia harus bahagia dengan kehamilan di luar nikah? Dan janin yang dikandungnya, jelas sekali bukanlah hasil hubungan yang di harapkannya.
"Sayang, apa kamu sudah selesai?" Eldanno mengetuk pintu toilet. Karena Rhibie tak kunjung keluar. Padahal dirinya dan bidan Rossa sudah lama menunggu.
Ceklek...
Rhibie membuka pintu toilet dengan ekspresi wajah yang tak bisa diartikan. Kemudian dia menyerahkan hasil testpack bergaris dua-nya pada Eldanno.
"Sayang, kamu beneran hamil? Bidan, istri saya hamil 'kan?" Eldanno bertingkah seperti bocah. Lalu dengan antusias, dia menyerahkan hasil testpack-nya pada Bidan Rossa.
"Selamat ya, kalian akan segera menjadi orang tua!" Ucap Bidan Rossa sambil tersenyum. Lalu dia menyuruh Rhibie berbaring untuk memeriksa kandungannya.
Setelah beberapa saat, kemudian dia menulis hasil diagnosis-nya untuk di pelajari kedua pasangan itu.
"Usia kandungannya sudah memasuki lima minggu. Ini usia kandungan ya, bukan usia janin! Semua di hitung dari hari terakhir nona Rhibie datang bulan" Tutur Bidan Rossa menjelaskan.
Rhibie hanya menyimaknya dengan malas. Berbanding terbalik dengan sikap Eldanno yang justru begitu antusias menyimak setiap keterangan yang diberikan dari Bidan Rossa. Tak henti-hentinya pria itu menghujani Rhibie dengan kecupan. Padahal Bidan Rossa masih nangkring disana.
"Iya, Bidan! Jangan khawatir, aku tidak akan meragukan istriku. Saat aku bertemu dengannya, dia masih virgin" Bangga Eldanno, tak tahu malu. Dan kembali mengecup rambut Rhibie.
Bidan Rossa hanya tersenyum maklum.
"Tapi, ada satu hal yang harus kalian waspadai! Kondisi janin yang anda kandung sangat lemah. Tapi maaf sebelumnya, jika saya salah prediksi. Apa anda pernah mengonsumsi alkohol dan rokok? Soalnya, ini sangat berpengaruh pada kandungan anda!" Ucap Bidan Rossa membuat Rhibie dan Eldanno serempak terkejut.
"Iya, Bu Bidan. Saya pernah mengonsumsinya" Sahut Rhibie terang-terangan.
Eldanno menatap Rhibie yang ia sandarkan di dekapannya.
"Waktu aku marah sama kamu! Dan aku melakukannya hanya sekali!" Ucap Rhibie, seolah mengerti dengan arti dari tatapan Eldanno yang menatapnya lekat.
"Tolong jangan di ulangi lagi, Nona! Ini sangat berbahaya bagi kesehatan dan janin anda. Untuk Tuan Eldanno, tolong jaga istrinya dengan baik! Yang terpenting jaga mentalnya, jangan sampai dia mengalami setres dan emosi yang berlebih. Saya akan menuliskan resep vitamin dan penguat janin!" Pesan Bidan Rossa.
Rhibie hanya menaikkan kedua alisnya, malas. Namun tidak dengan Eldanno, dia sangat memperhatikan semua yang di jelaskan oleh Bidan Rossa dengan seksama.
Setelah semua urusannya selesai, Bidan Rossa segera pamit undur diri. Berulang kali dia mengulang pesannya untuk kedua calon orang tua itu.
Rhibie mengusap perutnya yang masih rata. Kini benih Eldanno telah bersemayam dalam rahimnya. Dia hanya perlu menunggu sembilan bulan untuk bisa terbebas dari jeratan Eldanno. Benarkah dia benar-benar ingin segera berlari menemui kebebasannya? Semoga saja dirinya tidak plin-plan!
"Bie, sekarang kamu mandi, setelah itu kita sarapan!Kamu juga harus minum vitaminmu!" Pesan Eldanno dan ikut mengusap perut Rhibie. Lalu mengecupnya dengan rasa sayang.
"Tapi aku mau sarapannya di bawah! Kamu 'kan udah janji, mau ngizinin aku keluar kamar!" Pinta Rhibie menagih janji.
"Jangan khawatir, aku tidak akan lupa! Tapi kamu harus mandi dulu, sisa semalam belum di bersihin!" Goda Eldanno setengah berbisik.
"Tapi aku mandinya mau bareng kamu!" Kembali, penyakit manja Rhibie kumat lagi.
"Aku mau telpon Axelle dulu, agar mereka memperketat penjagaan. Antisipasi biar kamu gak kabur. Kamu ke kamar mandi duluan ya, nanti aku nyusul!" Ucap Eldanno lembut. Dia tak ingin mengatakan, jika dua sahabat Rhibie ada di rumah mereka sejak dua minggu yang lalu. Biarlah ini akan menjadi kejutan untuk Rhibie.
Rhibie mengerucutkan bibirnya, dia begitu muak dengan kata-kata Eldanno. Seolah dirinya buronan yang harus dijaga ketat. Dengan malas, Rhibie beranjak dari pelukan Eldanno menuju kamar mandi. Sedang Eldanno berjalan menuju balkon untuk menelepon orang di bawah. Dia tak ingin Rhibie mendengar topik pembicaraannya.
"Hallo, Dann! Ada apa?" Sapa Axelle lewat telepon.
"Xell, Rhibie bentar lagi ke bawah. Otomatis dia akan bertemu sahabatnya. Jessie ada gak, atau Joanna mungkin? Gue ingin bicara!"
Axelle menyunggingkan senyumnya. Entah kenapa, dia ikut merasa bahagia dengan kabar yang di sampaikan oleh Eldanno.
"Hei cewek-cewek, kemarilah! Ada kabar baik untuk kalian!" Ucap Axelle seraya melambai pada dua gadis yang baru selesai bersih-bersih di rumah mereka.
"Ada apa?" Jessie menyahut dengan gontai. Diikuti langkah Joanna disampingnya.
"Bentar lagi, Rhibie keluar dari kamarnya. Apa kalian ingin menyiapkan sesuatu?" Ucap Axelle. Dia lupa, kalau Eldanno tengah menunggunya di telepon.
"Apa?? Benarkah??" Teriak kedua gadis itu kompak. Wajah mereka begitu berseri dengan kabar baik dari Axelle.
Dengan cepat, Axelle mengangguk.
"Kalau begitu, kita buat sayur asem jagung bayam dan ikan teri. Rhibie sangat menyukainya!" Seru Joanna bersemangat.
"Let's go!!" Sambut Jessie tak kalah antusias seraya mengepalkan tangannya di udara.
"Eh, tunggu sebentar! Eldan mau ngomong sama kalian!" Tahan Axelle yang hampir lupa dengan orang yang tengah menunggunya di telepon.
"Lo aja, Jess! Gue mau masak duluan, takutnya gak keburu!" Perintah Joanna. Dan langsung meluncur menuju dapur. Tanpa memperdulikan kesediaan Jessie, saking semangatnya.
Dengan terpaksa, Jessie mengambil ponsel milik Axelle yang masih terhubung dengan Eldanno.
"Hallo, Pak Eldanno! Ini Jessie!" Sapa Jessie ragu-ragu.
"Hallo, Jess! Kamu udah tau 'kan, Rhibie akan bertemu kalian hari ini?"
"Iya, Pak!"
"Saya punya satu permintaan pada kalian! Untuk sementara waktu, tolong rahasiakan dulu tentang kematian Sandra!"
"Tapi, Pak! Kami gak bisa..."
"Jess, dengarkan aku! Saat ini, Rhibie sedang mengandung. Dan kandungannya sangat lemah, kita harus sama-sama menjaga emosinya. Aku harap, kalian mau menjaga bayi kami untuk tetap bertahan!" Pinta Eldanno penuh harap.
"Tapi, Pak....?"
"El, cepetan!! Aku gak mau mandi sendiri!!" Teriak Rhibie dari kamar mandi, hingga suaranya terdengar sampai ke telinga Jessie lewat telepon.
"Rhibie...." Gumam Jessie bergetar, tak kuasa menahan haru. Air matanya hampir menetes.
"Iya Sayang, bentar lagi!" Sahut Eldanno seraya menjauhkan telponnya. Namun suaranya masih dapat di dengar jelas oleh Jessie. Membuat air mata gadis itu, akhirnya menetes juga.
Sesayang itukah Pak Eldanno pada Rhibie? Hingga membuat Rhibie yang begitu kuat dan tegar, berubah menjadi sosok yang sangat manja...
Batin Jessie di tengah rasa harunya.
"Jess, kalian mau 'kan mengabulkan permintaanku? Tolong, demi bayi kami!" Ulang Eldanno.
"Iya, Pak! Akan ku lakukan" Suara Jessie berat. Dan panggilan pun di akhiri.
Jessie menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil menangis. Perasaannya begitu bercampur aduk. Ada rasa suka yang menggelayut di hatinya. Dia akan segera bertemu dengan Rhibie. Sahabat yang dirindukannya. Namun ada sedikit luka yang menganga diantara kebahagiaan itu. Rhibie hamil? Sang pelindung itu di sekap dan di perkosa berhari-hari, hingga membuatnya hamil. Permainan takdir apa untuk manusia sebaik Rhibie? Dosa apa yang dilakukan gadis itu, hingga Tuhan memberikan nasib seburuk ini pada Rhibie.
"Jess, kok nangis?" Sapa Axelle.
"Rhibie hamil, Kak!"
"Benarkah?? Wow, Eldan sangat luar biasa!" Seru Axelle ikut bahagia.
"Kok, Kak Axelle seneng banget kayaknya? Rhibie hamil diluar nikah! Dan yang paling menyakitkan, dia hamil karena diperkosa. Bukan hamil atas dasar cinta!"
"Siapa bilang, Rhibie hamil tanpa menikah? Mereka juga saling mencintai!" Bantah Axelle.
"Maksudnya??"
"Ghal, rekaman bukti cinta mereka masih ada 'kan?" Seru Axelle pada Baghal yang melintas, hendak menuju dapur.
Tanpa menyahut, pria itu langsung menyerahkan ponselnya. Dimana di dalamnya terdapat rekaman suara Rhibie beberapa waktu lalu dan video ketika Eldanno mengucapkan ijab qobul-nya untuk Rhibie. Axelle langsung memamerkannya pada Jessie.
"Masak apaan tuh, ijo-ijo?" Tanya Baghal pada Joanna yang sibuk sendiri di dapur.
"Ini masakan spesial buat Rhibie. Rhibie 'kan bentar lagi mau kesini!" Sahut Joanna bersemangat.
"Kok masaknya daun-daunan?"
"Tapi ini kesukaan Rhibie!" Sahut Joanna masih berusaha sabar.
"Kenapa Rhibie gak di lepas aja sekalian di kebun bareng kambing?" Ledek Baghal.
"KAU!!!" Joanna menghentakkan pisaunya, geram. Dengan mata yang melotot ke arah Baghal.
"Aww!!" Seketika, Joanna mengerang kesakitan akibat jarinya teriris pisaunya sendiri.
"Makanya, kalau masak jangan marah-marah!" Ledek Baghal lagi dan berlalu.
Dengan geram, Joanna melemparkan jagung ke arah Baghal. Dan mengenai punggung lebar pria itu.
Dipecat, dipecat sekalian! Bodo amat!