NovelToon NovelToon
Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Supernatural / Contest / Balas Dendam / Eksplorasi-misteri dan gaib / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Reo Ruari Onsiwasi

Season 1

Mampu melihat arwah dan mampu melihat hari akhir seseorang. Mampukah anak-anak Dion dan Lina menanggungnya dan mampukah mereka menghapuskan kutukan yang diwariskan dalam keluarga mereka.

"Mareka membakar kami sekeluarga hidup-hidup, sebagai hukuman atas kejahatan yang tidak pernah kami lakukan. Jika kamu ingin keluargamu lepas dari kutukan maka carilah orang yang mewarisi darah keturunan keluargaku. Kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan nanti." ucap wanita cantik itu pada Te Apoyo.


Season 2

Hal istimewa apa yang dimiliki setiap 'Keturunan ke-7'?
Apakah setiap 'Keturunan ke-7' memiliki keistimewaan?
Apakah sumpah dari generasi terdahulu bisa dihapus?

"Setiap orang adalah 'Keturunan ke-7' dan juga 'Generasi Pertama' takdirmu tidak lepas dari pendahulumu, dan takdir keturunanmu tidak lepas dari perilakumu."

"Aku rela dibenci oleh seluruh dunia. Tapi aku tidak akan sanggup jika sampai dibenci olehmu Esperanza."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reo Ruari Onsiwasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memangnya Kalian Tidak Lihat?

Saat suaminya mulai memejamkan mata Lina mencari gunting besi kecil yang ia taruh di dalam laci. Lalu dengan peniti ia sematkan di pakaiannya. Dan setelah itu ia bisa tidur dengan tenang.

Keesokan hari Lina menceritakan mimpinya ke pada Ros. Ia juga menceritakan kalau suaminya melarang menyematkan gunting tersebut di baju yang ia pakai, karena menurut suaminya bahaya.

Ros kemudian menyarankan Lina agar menyematkan gunting kecil itu di tempat yang tidak terlihat. Boleh di kantung baju juga boleh di saku celana. Bahkan bisa juga di sematkan di tali bra.

Mendengar penuturan Ros, ia pun memilih menyematkan gunting kecil itu di dalam kantung bajunya.

"Bagaimana sekarang, apa masih kelihatan?"

"Tidak nyonya," jawab Ros. Setelah mengamati kantong nyonyanya yang terlihat berisi, namun tidak akan ada yang tau kalau itu adalah gunting.

"Ok baguslah kalau begitu." kata Lina.

Sejak hari itu Lina selalu memakai pakaian yang berkantung untuk menyimpan gunting kecil itu. Lina tidak mau berdebat dengan suaminya soal gunting.

Hari terapi berikutnya Lina sudah dinyatakan sembuh. Karena itu suaminya pun merasa lega. Lina merasahasiakan kejadian tetang anak kecil yang ada di tepi kolam. Dan juga tidak menceritakan mimpinya.

Saat menuju rumah, mereka singgah ke sebuah pertamina untuk mengisi bahan bakar. Iseng Lina keluar dari mobil dan masuk ke toko swalayan yang ada di situ.

"Hiks...hiks... ibu aku mau bola...ibu...aku mau bola..."

Lina mendengar suara tangis di balik lemari, saat ia melihat ada anak kecil, yang duduk memeluk lututnya dan menangis, dengan posisi membelakangi Lina.

"Di mana ibu anak ini?" batin Lina. "Kenapa tega biarin anaknya menangis di pojok sendirian sih."

Lalu ia mencoba menegur anak itu. Ketika ia mendekat suaminya datang.

"Hei sayang...sedang apa kau di sini?" tanya Dion yang kecarian saat kembali ke mobil istrinya tidak ada.

"Ini...sayang...kasihan dia."

"Dia siapa?"

"Tidak tau, dari tadi dia menangis."

Dion tidak melihat siapa pun di situ. Dengan cepat ia menarik tangan Lina dan membawanya keluar, tanpa bilang apa pun.

Sampai di dalam mobil ternyata Lina masih kepikiran pada anak itu.

"Kasihan ya anak itu, kok ibunya tega ya meninggalkan dia sendiri di sana." kata Lina.

Dion cuma diam dan menghidupkan mesin. Di tengah perjalanan Lina terus saja mengoceh tentang anak itu. Tapi Dion tidak menanggapinya sepatah kata pun.

"Sayang...kok dari tadi diam saja?"

Dion tidak menggubris teguran Lina, ia melajukan mobilnya dengan tenang. Namun pikirannya tidak tenang. Dan karena Dion tidak menjawab sepatah kata pun Lina akhirnya bungkam.

Sampai di rumah Dion segera menarik tangan Lina menuju kamar mereka. Dia menatap istrinya lekat-lekat. "Katakan ada apa?" tanya Lina karena merasa heran akan tinggkah suaminya.

"Kau melihat sesuatu di sudut swalayan tadi?"

"Sesuatu? Anak kecil yang menangis itu sepertinya tidak mencuri." kata Lina.

"Kau melihat anak kecil di sana? Apa kamu tau, tidak ada siapa-siapa pun di sana tadi. Dan kamu bilang apa tadi? Anak itu menangis ya kalau tidak salah? Sayang...dia itu tidak ada." tutur Dion.

Lina memandang bola mata suaminta. "Iya benar, tidak ada siapa-siapa di sana." jawab suami Lina pada arti tatapan Lina.

"Besok kita pergi terapi sebelum bertambah parah." kata Dion

"Malam ini kamu harus cepat tidur, jangan sampai kamu kelelahan." bujuk Dion pada istrinya yang masih belum percaya dengan apa yang dikatakan suaminya sendiri.

Maka keesokan harinya Lina dibawa untuk menjalani terapi. Kali ini dengan metode yang berbeda. Lina disuruh duduk sendirian di ruangan dan ada cermin dua arah di sana.

Mulanya Lina hanya diam saja, tidak tau apa yang harus ia lakukan. Keadaan juga sepertinya aman. Tapi setela tiga puluh menit berlalu, Lina mulai bersikap aneh. Ia mulanyanya terlihat berdiri perlahan dengan tatapan matanya tertuju pada suatu arah.

Seperti sedang menghindari sesuatu, Lina mulai tampak gelisah. Saat itu entah kenapa tiba-tiba lampu yang ada di ruangan itu padam. Tentu Lina terkejut dan berteriak histeris. Bukan hanya Lina, Dion dan dokter juga ikut terkejut.

Lina berteriak-teriak dan meminta agar pintu dibukakan. Namun entah kenapa, sulit sekali membuka pintu itu. Dan saat mereka berhasil membuka pintu itu, Lina sudah tergeletak di lantai dalam keadaan pingsan.

Terapi pun dihentikan. Lina dibawa keluar ruangan itu. Saat di luar terlihat jari-jari tangan Lina berdarah. Banyak luka goresan kuku di tubuhnya sendiri, dan kelihatannya darah tersebut adalah darah Lina sendiri.Luka yang dihasilkan oleh kuku lentik Lina ternyata cukup dalam sehingga membuatnya berdarah. Dion mencoba menyadarkan Lina.

Dengan memerciki air ke wajah Lina dan meletakkan beberapa pewangi yang beraroma kuat di hidung Lina. Lina pun siuman. Kemudian Psikiater itu pun menulis data yang menurutnya penting tentang hari ini pada saat terapi. Dan ia memberi resep baru untuk Lina.

Sepulang dari tempat terapi Dion langsung membawa Lina ke tempat dokter pribadi keluarga Dion. Tujuannya untuk memeriksakan darah Lina. Dan dari hasil tes darah kandungan zat obat yang ia konsumsi akibat ketidak tahuan sudah berkurang banyak.

"Dengan obat yang bisa menetralkan darah maka istri bapak seharusnya sudah tidak terganggu lagi dari efek samping obat pembuat ilusi tersebut." kata dokter.

"Tapi kemarin dia masih melihat ilusi itu dokter, ia melihat dan mendengar anak kecil menangis di sudut swalayan. Padahal tidak ada siapa-siapa di sana." tutur Dion.

"Dan sepertinya dia semakin aneh, sekarang ia bahkan melukai dirinya sendiri." lanjut Dion.

Saat Dion dan dokter berbicara empat mata, Lina bersama dengan perawat untuk mengobati lukanya. Mulanya mereka saling berbincang basa-basi. Tentang sudah berapa lama menikah dan berapa lama pacaran. Seperti sebuah obrolan teman biasa.

Tapi kemudian obrolan terhenti ketika Lina diam mematung. Tatapannya menuju sebuah sudut tanpa berkedip. Dan tangannya menjadi dingin seketika.

"Bu, apa anda baik-baik saja, anda kelihatan pucat sekali."

Karena Lina tidak menjawab sepatah kata pun akhirnya perawat itu menepuk pundak Lina.

Hhgghh

Akibat tepukan di pundaknya Lina terkejut. lalu dengan napas lega ia menghembuskan napasnya yang sepertinya ia tahan dari tadi.

"Nyonya kenapa?" tanya perawat itu.

"Dia itu siapa?" tanya Lina.

"Dia siapa nyonya?" tanya perawat.

"Itu, perawat yang duduk di pojok itu," kata Lina berbisik dan menunjukkan yang ia maksut dengan kerlingan matanya.

Perawat itu mengikuti arah kerlingan mata Lina, dan memandang ke arah yang sama. Tidak ada siapa pun di situ.

"Lebih baik obati saja dia dulu," kata Lina.

Perawat itu tidak melihat siapa pun di sana, di ruangan itu hanya mereka berdua. Mendengar ucapan Lina bulu kuduknya jadi berdiri. Tangannya pun merinding.

"Apa mungkin ada setan siang hari?" batin perawat itu.

Bersambung...

1
Arinda Fira
brillo berhasil kabur
Arinda Fira
sudah pindah saja
Arinda Fira
paranormalnya g jelas
🍏Rahmadani🍃
griss akhirnya bertobat
vera wati
Luar biasa
vera wati
menarik
Ridho Gaming
Luar biasa
Adiwaluyo
mengerikan
Adiwaluyo
awal yang bagus
Neyna 🎭🖌️
Semangat lanjut ke karya barunya opa 💪
Riys
wah keren opah dah tamat nih🥰
Reo Hiatus: makasi banyak eyang. 😍😍😍🤣🤣🤣😷😷😷
total 1 replies
Mihayada
padahal pengen lagi keuwuan Nicholas Ama te espere..tapi dah tamat gpp lah yg penting mereka bersatu
Reo Hiatus: makasi habibah. 🙏🙏🙏😷😷😷
total 1 replies
Mihayada
Sebenarnya yg jahat itu oppa apa pemeran keturunan ketujuh sihhh 😤😤
Reo Hiatus: pemeran keturunan ke tujuh😷😷😷
total 1 replies
Mihayada
ndeso bgt 😂
Reo Hiatus: makasi komentarnya🙏🙏🙏
total 1 replies
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ
masih menanti kepastian wehhh..
kek nungguin balesan chat dr si dia..
bentar2 nengokin updatenya..
& masih sama.. belum berubah warna..
tetep abu2.. kuharap segera biru..
biar cpt tau kabar darimu..
kelanjutan karyamu..
༄⃞⃟⚡oleng.comKᵝ⃟ᴸ
lanjut dong Oppa!!! jgn biarkan rasa penasaran ini menguasai hati & pikiranku sebab menanti semua jawaban dr sejuta tanya yg masih mengusikku. tetep nunggu season berikutnya.. kuharap coming soon.. sehat2 slalu Oppa..
Mihayada
wkwkw..oppa terinspirasi aqiqah bayi nih pasti😂
Mihayada
sad ending kisah te espere 😔..tapi gpp walaupun gak bisa jadi pasangan di dunia tapi bisa jadi pasangan di surga nanti
Mihayada
cara bisa ngilang in kutukan gimana sihhh..sedih tauu liat te espere kayak gitu..udah serasi plus cocok napa ada halangan kutukan segala..pasti oppa yg buat kutukan nya nihh😤😤
Reo Hiatus: 🤔🤔🤔🤦‍♂️🤦‍♂️🤦‍♂️😷😷😷
total 1 replies
TK006
ini baru benar
Reo Hiatus: ok🤣🤣🤣👍👍👍😷😷😷
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!