Keturunan Ke Tujuh

Keturunan Ke Tujuh

Sebuah Nama

Sebuah buku besar terletak di sebuah meja, dengan sebuah pena, yang menari-nari di atasnya.Mengukir huruf per huruf untuk membuat sebuah kata yang disusun dengan sedemikian rupa.

...Tampak pria tua mengerutkan keningnya sesaat. Memilih kata-kata yang tepat. Sebelum ia melanjutkan tulisannya. Setelah ia selesai menulis. Ia menoleh pada jam tua yang seukuran lemari....

Buku itu kemudian ditutup lalu disimpan di sebuah laci. Dan setelah memastikan tidak ada yang terlupakan, pria tua itu pun meninggalkan meja tempatnya menulis tersebut.

...Ia segera bersiap-siap untuk tidur. Sebab esok adalah hari pernikahan putra dari anak ketujuhnya....

...Persiapan pesta sudah rampung. Semuanya hanya tinggal menunggu hari esok....

Meski ia ingin sekali tidur, namun rasa kantuk belum juga menghinggapinya. Sulit sekali memejamkan mata, meski sudah terasa perih karena memerah akibat lelah.

Ia menatap langit-langit kamarnya. Seketika melintas bayang-bayang masa lalunya. Tentang suka-duka saat istrinya masih hidup.

Dan ketika ia memiliki tanggung jawab yang diwariskan secara turun-temurun. Yaitu melanjutkan pesan agar cucu dari putra ke tujuhnya menggunakan nama khusus.

"Sean, ingat baik-baik pesan kakek, kelak jika kamu berumur panjang dan memiliki keturunan. Kamu harus meneruskan pesan ini. Sebuah nama, yang jika dihitung dari garis keturunan yang memberikannya adalah nama untuk anak dari cucumu," ujar kakek Sean kala itu.

...Hal itu selalu dipesankan secara berulang-ulang saat ia hendak tidur. Sehingga terpatri dengan jelas dalam ingatannya....

Di hari yang sama di tempat yang berbeda, putra dan putrinya memikirkan banyak hal. Mereka diundang ke pernikahan yang akan diselenggarakan besok.

"Apa kita tidak bisa menolak undangan itu?" ujar seorang wanita paruh baya pada seseorang di seberang panggilan.

"Sebenarnya aku juga tidak mau ke acara pernikahan tersebut. Tapi aku tidak ingin papa menjadi marah. Sebab orang yang akan menikah esok adalah cucu kesayangan papa."

"Ah, jangan mengatakan hal yang membuatku merasa mual. Tapi baiklah. Jika kalian datang untuk menghadiri pesta pernikahan itu, maka aku pun juga akan datang," ujar wanita paruh baya tersebut.

...Lalu ia mengakhiri panggilan terakhir. Tidak sampai lima menit, suaminya datang ke kamar mengenakan piyama tidur. Lalu duduk di samping wanita paruh baya tersebut....

"Merina, kamu barusan berbicara dengan siapa?" tanya suaminya.

"Oh, aku baru saja menghubungi Moris untuk masalah keberangkatan esok ke pesta anak sial itu," jawab istrinya.

...Wanita paruh baya itu menekankan intonasi di beberapa kata. Untuk menunjukkan rasa ketidaksukaannya pada calon pengantin, yang akan menikah esok. Meski salah satu dari sang pengantin adalah keponakannya....

"Bukannya kita sudah sepakat akan datang?"

"Iya, tapi siapa tahu mereka akan berubah pikiran," jawab Merina pada suaminya yang tampak kebingungan sambil memegang dagunya.

...Lalu ia memeluk suaminya dengan manja....

...Ke esokan harinya, pesta pernikahan pun dilangsungkan. Merina dan suaminya berpenampilan senada. Ia menggunakan pakaian yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari....

Meski ia bukan seorang pengantin, tapi rasa haus akan perhatian membuatnya selalu ingin tampil memukau. Namun kecantikannya tetap saja kalah dibandingkan oleh sang pengantin. Yang kini duduk di kursi pelaminan.

...Pengantin pria dan wanita sesekali harus berdiri menyambut tamu-tamu undangan yang datang....

...Dan sesekali pengantin pria memperkenalkan pengantin wanita pada tamu-tamunya....

Begitu juga dengan pengantin wanita, ia memperkenalkan mempelai pria, ke orang-orang yang ia undang.

Dan semua orang yang diundang oleh pengantin wanita maupun pengantin pria meminta satu permohonan. Yaitu berfoto bersama sebagai kenang-kenangan.

...Dan di setiap foto yang diambil, ada sosok yang tidak terlihat oleh orang biasa ikut terfoto. Yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu....

...Sosok yang memancarkan kebencian di matanya dan penuh dengan rasa dendam. Namun sosok itu tersenyum penuh arti....

Seorang tamu yang bisa melihat sosok itu merasa kalau para pengantin ini akan mengalami nasib sial. Tapi ia hanya bisa diam saja. Sebab tidak ingin memperkeruh suasana di hari yang bahagia tersebut. Sambil menikmati hidangan yang ada di meja. Serta hiburan yang disediakan untuk para tamu agar betah berlama-lama di pesta tersebut.

Tamu itu tidak mengenal pengantin wanita mau pun pengantin pria. Ia hanya diajak oleh kenalannya, yang kebetulan adalah teman dekat, sekaligus karyawan di perusahaan pengantin pria.

"Tolonglah kali ini saja, berpura-pura jadi pasanganku. Nanti aku belikan apa pun yang kamu minta," ujar pemuda yang merupakan teman dekat pengantin pria tiga hari sebelum pesta.

..."Sungguh?" tanyanya memastikan....

"Iya, sungguh!" ujar sahabat pengantin pria mengangkat jari telunjuk dan jari tengah sejajar telinga kanannya.

...Tamu yang bisa melihat roh yang duduk di pelaminan tiba-tiba sadar dari lamunan sesaatnya....

"Hei, kenapa melamun? Ayo kita memberi salam pada pengantin. Sekalian kado untuk mereka," ujar sahabat sekaligus karyawan dari pengantin pria.

"Oh ok, tapi di mana kadonya?" tanya gadis Indigo tersebut.

"Di sini! Sebuah tiket bulan madu," ujar sahabat mempelai pria.

...Gadis Indigo itu hanya mengangguk-angguk. Saat menyalami para mempelai, gadis Indigo itu bertingkah seolah tidak melihat roh yang menyimpan dendam itu. Dan ia memeluk pengantin wanita sambil mengatakan ucapan selamat....

"Selamat ya. Semoga kamu bahagia. Jaga dirimu baik-baik," ujarnya dengan senyuman, namun ada penekanan dalam pengucapannya.

...Jika ada yang mendengarnya, mereka akan mengira yang macam-macam. Mungkin mereka hanya mengira kalau gadis Indogo ini hanya menggoda pengantin wanita. Dan yang lain mungkin akan mengira kalau gadis ini sedang mengancam pengantin wanita yang merebut kekasihnya....

"Terima kasih, iya saya akan berhati-hati," jawab pengantin wanita yang tidak menanggapi dengan serius ucapan gadis Indigo tersebut.

...Pada akhirnya pesta pernikahan sudah usai, tampak beberapa dekorasi pernikahan mulai dibersihkan....

...Mulai dari bunga-bunga indah, baik bunga palsu, mau pun bunga hidup, yang dipetik dan dirangkai, menjadi bentuk yang berbeda....

...Dan menambah keindahan alami bunga-bunga tersebut setelah berada di dalam satu rangkaian....

"Lihat bunga ini, terampil sekali ya jari yang membuatnya, katanya di rancang oleh penata bunga terkenal," ujar wanita muda berseragam pelayan di sela-sela waktunya melaksanakan tugas.

"Aku jadi merasa sayang, untuk membuangnya," lanjutnya lagi sambil menarik napas dalam-dalam dan membuangnya dengan satu tiupan dari lubang hidungnya.

"Kalau kamu merasa sayang, ya sudah ambil dan simpan saja di dalam lemarimu. Sebelum mobil truk pengangkut sampah membawa bunga-bunga itu pergi!" ujar wanita muda lainnya yang berseragam sama dengannya, dengan nada judes.

"Ia aku juga sebenarnya merasa sayang untuk membuangnya. Tapi, untuk apa lagi diperdulikan, jika sudah tidak ada lagi, orang yang ada di tempat ini, untuk menikmati keindahannya, walau sedetik lagi saja. Maka lebih baik bunga-bunga itu, dibuang ke dalam tong sampah. Agar kita bisa segera beristirahat." ujar wanita paruh baya yang juga mengenakan pakaian pelayan.

"Semua orang pasti berpikir betapa beruntungnya gadis yang menikah hari ini. Tidak perlu memikirkan tentang masa depannya lagi. Masa depan mereka berdua seperti pangeran dan putri dalam dongeng saja ya. Mereka pasti akan hidup bahagia selamanya," ujar wanita muda pertama yang dikenal bernama Ros.

"Padahal aku sudah lama tinggal di sini, tapi aku tidak memiliki keberuntungan. Kudengar pendidikan terakhir mempelai wanita hanyalah SMA. Sama dengan pendidikan terakhirku. Dan ia hanyalah seorang buruh yang bakerja di salah satu pabrik tuan Dion. Tapi ia berhasil mencuri hati tuan muda kita," ujar gadis pelayan lainnya.

"Sudahlah jangan bahas tentang mempelai wanita terus! Apa kalian tahu kalau hari ini tuan besar mengumpulkan seluruh anak-anaknya, kira-kira mereka akan membicarakan apa?" tanya wanita muda yang dipanggil dengan nama Vivina penasaran.

...Vivina merasa cemburu pada pengantin wanita, karena ia juga tertarik pada ketampanan serta kemapanan tuan muda mereka....

...Untuk menutupi rasa cemburu, maka ia pun mengalihkan pembicaraan tetang nasib baik pengantin wanita yang menikah hari ini, dengan kabar yang ia dengar tanpa sengaja....

"Hah benarkah?" ujar wanita paruh baya yang sering dipanggil dengan sebutan bibi Kinan.

"Iya, tadi aku melihat beberapa dari mereka menerima panggilan, lalu pergi ke ruang khusus," jawab Vivina dengan serius dan dengan tatapan tanpa berkedip.

...Tepat seperti yang dikatakan oleh Vivina jika tuan besar mereka yang bernama Sean telah memanggil seluruh anak-anaknya....

...Tidak sulit dan tidak butuh waktu lama untuk mengumpulkan seluruh anggota keluarganya, di sebuah ruangan khusus yang cukup luas....

...Sepertinya tuan Sean merasa jika hari akhirnya akan segera tiba,...

...maka ia pun membuat pernyataan tentang sebuah wasiat....

...Wasiat tentang harta warisan, untuk setiap orang yang dipanggil berkumpul di ruangan itu....

Semua orang bertanya-tanya apa yang akan dibicarakan hari ini. Karena mereka hanya disuruh berkumpul melalui sebuah panggilan, tapi tidak diberitahukan alasannya. Tapi tidak seorang juga yang bertanya, walau untuk sekedar memecahkan kesunyian di ruangan itu.

Setelah semua berkumpul, kecuali putra terakhirnya, tuan Sean memandangi satu persatu wajah-wajah yang hadir di situ. Ada rasa cemas yang ia simpan dalam benaknya.

Akan keputusan yang sudah ia pilih. Maka mau tidak mau ia pun mulai berbicara dengan suara khasnya. Suara seorang kakek yang sudah lanjut usia.

"Dion, cucuku.., anak dari putraku yang ke tujuh. Kakek senang sekaligus merasa lega, karena akhirnya kau sudah menikah. Kakek ucapkan selamat menempuh hidup baru, semoga pernikahan kalian berdua bertahan sampai akhir hayat," kata kakek.

Kalimat awal telah tuan Sean ucapkan untukmemecahkan keheningan. Ia merasa tidak berlebihan tentunya, untuk mengucapkan kata selamat pada Dion. Di depan semua anggota keluarga yang berkumpul hari ini. Karena mengingat hari ini merupakan pernikahan cucunya tersebut.

Walau sebenarnya tuan Sean tahu hal apa yang akan menimpa kehidupan rumah tangga cucunya tersebut. Tapi ia tidak boleh mengatakannya pada Dion. Apalagi jika mengungkapkannya pada anak-anaknya. Biarlah itu menjadi misteri dan biarlah mereka yang memecahkan misteri dalam pernikahan mereka kelak nantinya, pikir pria tua itu.

Lalu ia mengedarkan pandangannya kepada anak-anaknya yang masih tersisa. Karena ia sudah kehilangan satu putranya. Yaitu orang tua Dion. Kakek mengatur napasnya seolah berat baginya untuk menghembuskan tiap napasnya. Seakan ia harus mengiritnya agar cukup untuk beberapa waktu lagi. Agar ia masih bisa bernapas sampai semua tugasnya usai terlaksanakan.

"Untuk anak-anakku, papa sudah buatkan surat wasiat untuk kalian," ucapnya kini pada anak-anaknya.

Anak-anak tuan Sean saling melirik di antar mereka. Sambil mengira-ngira berapa jumlah yang akan mereka terima. Dan dalam bentuk apa warisan yang akan diberikan pada mereka.

Lalu kakek memberi kode pada pengacara yang berdiri di sampingnya. Untuk menyerahkan dokumen.

Kepada masing-masing orang yang berkumpul di situ. Masing-masing dari mereka menerima dokumen dengan wajah yang datar, mencoba menutupi pikiran mereka.

Lalu mereka pun membaca dengan seksama tiap huruf yang tertera disana.Mendadak wajah datar yang menyimpan emosi kini berubah.

Mereka heran kenapa jumlah yang mereka terima sangat sedikit, jika dibandingkan dengan keseluruhan harta papanya. Hal yang lebih mengejutkan lagi bagi mereka, adalah saat pengacara membacakan pembagian keseluruhan warisan yang diterima oleh tiap orang.

Warisan Dion ternyata jauh lebih besar tujuh kali lipat dari yang lainnya.Tentu saja itu membuat anak-anak yang lain protes.

"Apa maksudnya semua ini pa?!"

"Ini tidak adil!"

"Kenapa jumlah warisan untuk Dion lebih besar, pasti ada kekeliruan di sini. Iya kan pa?" ujar anak-anak tuan Sean saling menimpali.

Wajah asli mereka sudah tidak bisa ditutupi lagi. Tanggapan yang sudah bisa papa mereka tebak dari awal, jauh sebelum hari ini tiba, jauh sebelum kata-katanya tertuang dalam kertas menjadi huruf-huruf yang saling bertautan membuat barisan kalimat.

Meski anak-anak protes dan mengungkapkan rasa tidak puas mereka melaui kata-kata pedas. Dan tanpa sensor sedikitpun, tuan Sean merima kata-kata mereka dengan tenang dan berlapang dada. Sebab tuan Sean sadar kalau anak-anaknya tidak tahu, hal apa saja yang akan terjadi kelak pada penerima warisan terbesar.

"Papa juga mendapatkan warisan itu karena kakek papalah yang memberikannya. Itu adalah warisan turun-temurun. Hanya boleh diberikan pada keturunan ke tujuh." ucap kakek yang mencoba menjelaskan alasan pembagian warisan yang tidak merata tersebut.

Penjelasan tersebut tentunya tidak cukup untuk membuat pendengarnya menjadi tenang. Aksi protes masih berlanjut. Walaupun demikian pada akhirnya tidak ada yang berubah dari surat wasiat itu.

Tapi dalam sekejap sikap dari anak-anak kakek kepada Dion berubah 180 derajat.

Mereka langsung pulang bahkan tanpa berpamitan, dan dengan wajah sinis menatap Dion sekilas sebelum akhirnya membuang muka dan pergi.

"Kakek mengapa kakek melakukan semua ini?" tanya Dion setelah seluruh anak-anak kakek pergi.

"Apakah surat wasiatnya tidak bisa diubah lagi kek?" tanya Dion lagi.

"Dion, sebelumnya kakek mau meminta maaf padamu. Sebab keturunanmu akan mengalami banyak cobaan. Warisan itu sudah digariskan secara turun temurun. Hanya anak ke tujuh yang boleh menerimanya. Dan semua yang kakek berikan hanya bantuan kecil saja untuk kalian. Kakek hanya mencoba meringankan beban kalian berdua nantinya," ucap kakek kepada Dion.

Dion tidak mengerti arti dari ucapan kakek yang sebenarnya. Ia hanya mengira kalau cobaan yang kakeknya maksud adalah cobaan dalam berumah tangga, seperti yang dialami oleh keluarga lainnya. Ia pun tidak bertanya lebih jelas maksud dari ucapan kakek, dan ia melihat kondisi kakek yang terlihat semakin lemah.

"Dion, Lina. Kalau nanti kalian punya keturunan. Jika laki-laki beri dia nama Te Apoyo dan jika perempuan namailah dia dengan nama Te Espere," ujar kakek lagi.

Dan takdir baru kedua pengantin baru saja dimulai.

Bersambung...

Terpopuler

Comments

Adiwaluyo

Adiwaluyo

awal yang bagus

2022-12-10

2

Mihayada

Mihayada

novelnya mantep polll oppaa💕💕..angka 7 kerap di gunakan ya oppa😁

2022-05-30

10

puspi

puspi

semangat kak

2022-05-29

7

lihat semua
Episodes
1 Sebuah Nama
2 Ruang Rahasia
3 Bulan Madu
4 Orang Asing
5 Pulang
6 Kehamilan Lina
7 Penglihatan
8 Mahluk Tak Kasat Mata
9 Kesulitan Lina
10 Penelusuran
11 Musuh dalam Selimut
12 Rencana B
13 Pikiran Buruk
14 Anak Panti Asuhan
15 Pengusiran Mahluk Halus
16 Pindah Kamar
17 Ketahuan
18 Kepergian Bibi Kinan
19 Panti Asuhan
20 Terapi
21 Hasil Terapi
22 Mencari Pelaku
23 Pencarian Barang Bukti
24 Pemakaman Vivina
25 Anak Kecil
26 Memangnya Kalian Tidak Lihat?
27 Ros Dipecat
28 Gunting
29 Penculikan
30 Badai di Laut
31 Jejak
32 Wanita Paruh Baya
33 Masa Lalu
34 Shasa
35 Malam Panjang
36 Ganti Gelas
37 Air Baru
38 Pengikut
39 Bermain Api
40 Kasus-Kasus
41 Kelahiran
42 Teror di Rumah Sakit
43 Kerasukan
44 Biaya Rumah Sakit
45 Pernikahan Dion
46 Takdir atau Nasib
47 Ulang Tahun
48 Teresia
49 Ray
50 Dion
51 Taman Kanak-Kanak
52 Peti Ruang Rahasia
53 Kematian Ben
54 Membersihkan Jejak
55 Belatung
56 Melarikan Diri
57 Ruang Berdarah
58 Ikatan Batin
59 Perjodohan
60 Calon Suami
61 Penderitaan Ray
62 Emile dan Gina
63 Mata Ganti Mata
64 Dion dan Lina
65 Riwayat Perusahaan
66 Bersentuhan
67 Perpisahan
68 Tempat Asing
69 Rumah Besar
70 Kabur dari Rumah
71 Kobaran Api
72 Mimpi atau Nyata
73 Kamu Siapa?
74 Teresia Kembali
75 Berbaikan
76 Bertukar Cincin
77 Ratu Makan
78 Bunuh Diri
79 Mimpi Buruk
80 Penghianatan
81 Penangkapan
82 Bantuan
83 Kekuatan Teresia
84 Bikin Ulah
85 Mengunjungi Rumah Tua
86 Siaran Langsung
87 Akhir Pertunjukan
88 Video Klara
89 Pertemuan Tidak Terduga
90 Pengakuan Gina
91 Tinggal Bersama
92 Pendekatan
93 Kulit Merah
94 Perubahan Fisik
95 Perjanjian Berakhir
96 Jangan Dilepas
97 Rencana Gagal
98 Maut
99 Tantangan
100 Mama Malika
101 Arwah Korban
102 Berbicara dengan Arwah
103 Psikopat
104 Cresentia
105 Kobaran Api
106 Hilang
107 Jalan Buntu
108 Buku Tua
109 Rahasia Keluarga
110 Gadis yang Mirip Cresentia
111 Ada tapi Tidak Terlihat
112 Lingkungan Baru
113 Sepatu Baru
114 Suara Sepatu
115 Peran Utama
116 Syarat Bantuan
117 Alfredo
118 Alfredo yang Sebenarnya
119 Jadi Sandra
120 Makan Daging
121 Perjanjian Menikah
122 Perbuatan Baik
123 Preman
124 Kantor Polisi
125 Warung Kopi
126 Ruang Jenazah
127 Darah Te Espere
128 Te Amo
129 Menginap
130 Berbagi Rahasia
131 Saingan
132 Berpacaranlah Denganku
133 Kerasukan
134 Apakah Kamu Suka Aku?
135 Aroma Mayat
136 Longlongan Anjing
137 Berpindah Tempat
138 Tumbal
139 Pembukaan Pabrik Sepatu
140 Hari Libur
141 Jendela Sempit
142 Kuliah
143 Pacar Te Espere
144 Tidak Sia-Sia
145 Mama Aku Sudah Pulang
146 Sampai Jumpa
147 Terima atau Tidak
148 Oscuridad
149 Kedai Kecil
150 Ich Liebe Dich
151 Tulang Belulang dan Tengkorak
152 Penyusup
153 Permen Coklat
154 Apa Kabar?
155 Keinginan Terakhir
156 Kekacauan
157 Sang Pengantin
158 Masa Lalu
159 Riwayat Pedang Pusaka
160 Akhir Riwayat Oscuridad
161 Kepergian Te Espere dan Nicholas
162 Gadis yang Hilang
163 Kue Bolu
164 Mau Kemana?
165 Dihukum walau Tidak Bersalah
166 Sepotong Kue
167 Bersikap Seolah Melihat
168 Gadis yang Tersiksa
169 Melarikan Diri
170 Keributan
171 Menyamar
172 Pernikahan Malika
173 Tujuh Bulan
174 Nicorazón dan Esperanza
175 Berwisata
176 Kemalangan Beruntun
177 Pesulap
178 17 Tahun
179 Pertunjukan Sulap
180 Akhir Pertunjukan
181 Gangguan di Jalan
182 Penumpang Pesawat
183 Anak Malang
184 Kemampuan yang Disalahgunakan
185 (Season 2) Perubahan Nicorazón
186 (Season 2) Rahasia yang Belum Terungkap
187 (Season 2) Kejujuran
188 (Season 2) Roh di Dinding
189 (Season 2) Sentuhan
190 (Season 2) Takut
191 (Season 2) Kamar
192 (Season 2) Demam
193 (Season 2) Menemui Pesulap
194 (Season 2) Tiket
195 (Season 2) Kucing Sembilan Nyawa
196 (Season 2) Bersedia
197 (Season 2) Satu Kepala Menggelinding
198 (Season 2) Asisten Pesulap
199 (Season 2) Keturun Ketujuh
200 (Season 2) Mendadak Sakit
201 (Season 2) Hari Pertama
202 (Season 2) Dorado
203 (Season 2) Pengawas
204 (Season 2) Tomi Datang
205 (Season 2) Berpindah
206 (Season 2) Pacar Nicorazón
207 (Season 2) Lari
208 (Season 2) H E L P
209 (Season 2) Identitas
210 (Season 2) Dalam Kurungan
211 (Season 2) Kembali ke Tubuh Asli
212 (Season 2) Verde
213 (Season 2) Pesawat Meledak
214 (Season 2) Kapal Penjahat
215 (Season 2) Penangkapan
216 (Season 2) Rapat
217 (Season 2) Tertukar
218 (Season 2) Beraksi
219 (Season 2) KETAHUAN
220 (Season 2) Dua Esperanza
221 (Season 2) Panggilan
222 (Season 2) Tidak Percaya Siapapun
223 (Season 2) Satu Esperanza Terbunuh
224 (Season 2) Kekuatan Terkuat
225 (Season 2) Esperanza di Tengah Pusaran Angin
226 (Season 2) Lautan Api
227 (Season 2) Di Pengungsian
228 (Season 2) Sebuah Kebenaran
229 (Season 2) Bahan Makanan
230 (Season 2) Mencari Esperanza
231 (Season 2) Kebohongan Dorado
232 (Season 2) Penghianat yang Sebenarnya
233 (Season 2) Pribadi yang Lain
234 (Season 2) Jadi Budak atau Buronan
235 (Season 2) Semakin Terbiasa
236 (Season 2) Penyamaran Terbongkar
237 (Season 2) Malam Bertabur Timah Panas
238 (Season 2) Tujuh Kehidupan
239 (Season 2) Ikut Campur
240 (Season 2) Terkepung
241 (Season 2) Menyerah
242 (Season 2) Esperanza Tiba
243 (Season 2) Leluhur Dorado
244 (Season 2) Akhir Hidup Dorado
245 (Season 2) Bangun
246 (Season 2) Belum Terbiasa
247 (Season 2) Usaha Gina
248 (Season 2) Izin Kembali Pulang
249 (Season 2) Pergi Sejauh Mungkin
250 (Season 2) Tawaran
251 (Season 2) Murid Baru
252 (Season 2) Akibat Mengganggu Esperanza
253 (Season 2) Empedu
254 (Season 2) Museum
255 (Season 2) Akhir yang Berbeda
256 (Season) Sampai Jumpa
Episodes

Updated 256 Episodes

1
Sebuah Nama
2
Ruang Rahasia
3
Bulan Madu
4
Orang Asing
5
Pulang
6
Kehamilan Lina
7
Penglihatan
8
Mahluk Tak Kasat Mata
9
Kesulitan Lina
10
Penelusuran
11
Musuh dalam Selimut
12
Rencana B
13
Pikiran Buruk
14
Anak Panti Asuhan
15
Pengusiran Mahluk Halus
16
Pindah Kamar
17
Ketahuan
18
Kepergian Bibi Kinan
19
Panti Asuhan
20
Terapi
21
Hasil Terapi
22
Mencari Pelaku
23
Pencarian Barang Bukti
24
Pemakaman Vivina
25
Anak Kecil
26
Memangnya Kalian Tidak Lihat?
27
Ros Dipecat
28
Gunting
29
Penculikan
30
Badai di Laut
31
Jejak
32
Wanita Paruh Baya
33
Masa Lalu
34
Shasa
35
Malam Panjang
36
Ganti Gelas
37
Air Baru
38
Pengikut
39
Bermain Api
40
Kasus-Kasus
41
Kelahiran
42
Teror di Rumah Sakit
43
Kerasukan
44
Biaya Rumah Sakit
45
Pernikahan Dion
46
Takdir atau Nasib
47
Ulang Tahun
48
Teresia
49
Ray
50
Dion
51
Taman Kanak-Kanak
52
Peti Ruang Rahasia
53
Kematian Ben
54
Membersihkan Jejak
55
Belatung
56
Melarikan Diri
57
Ruang Berdarah
58
Ikatan Batin
59
Perjodohan
60
Calon Suami
61
Penderitaan Ray
62
Emile dan Gina
63
Mata Ganti Mata
64
Dion dan Lina
65
Riwayat Perusahaan
66
Bersentuhan
67
Perpisahan
68
Tempat Asing
69
Rumah Besar
70
Kabur dari Rumah
71
Kobaran Api
72
Mimpi atau Nyata
73
Kamu Siapa?
74
Teresia Kembali
75
Berbaikan
76
Bertukar Cincin
77
Ratu Makan
78
Bunuh Diri
79
Mimpi Buruk
80
Penghianatan
81
Penangkapan
82
Bantuan
83
Kekuatan Teresia
84
Bikin Ulah
85
Mengunjungi Rumah Tua
86
Siaran Langsung
87
Akhir Pertunjukan
88
Video Klara
89
Pertemuan Tidak Terduga
90
Pengakuan Gina
91
Tinggal Bersama
92
Pendekatan
93
Kulit Merah
94
Perubahan Fisik
95
Perjanjian Berakhir
96
Jangan Dilepas
97
Rencana Gagal
98
Maut
99
Tantangan
100
Mama Malika
101
Arwah Korban
102
Berbicara dengan Arwah
103
Psikopat
104
Cresentia
105
Kobaran Api
106
Hilang
107
Jalan Buntu
108
Buku Tua
109
Rahasia Keluarga
110
Gadis yang Mirip Cresentia
111
Ada tapi Tidak Terlihat
112
Lingkungan Baru
113
Sepatu Baru
114
Suara Sepatu
115
Peran Utama
116
Syarat Bantuan
117
Alfredo
118
Alfredo yang Sebenarnya
119
Jadi Sandra
120
Makan Daging
121
Perjanjian Menikah
122
Perbuatan Baik
123
Preman
124
Kantor Polisi
125
Warung Kopi
126
Ruang Jenazah
127
Darah Te Espere
128
Te Amo
129
Menginap
130
Berbagi Rahasia
131
Saingan
132
Berpacaranlah Denganku
133
Kerasukan
134
Apakah Kamu Suka Aku?
135
Aroma Mayat
136
Longlongan Anjing
137
Berpindah Tempat
138
Tumbal
139
Pembukaan Pabrik Sepatu
140
Hari Libur
141
Jendela Sempit
142
Kuliah
143
Pacar Te Espere
144
Tidak Sia-Sia
145
Mama Aku Sudah Pulang
146
Sampai Jumpa
147
Terima atau Tidak
148
Oscuridad
149
Kedai Kecil
150
Ich Liebe Dich
151
Tulang Belulang dan Tengkorak
152
Penyusup
153
Permen Coklat
154
Apa Kabar?
155
Keinginan Terakhir
156
Kekacauan
157
Sang Pengantin
158
Masa Lalu
159
Riwayat Pedang Pusaka
160
Akhir Riwayat Oscuridad
161
Kepergian Te Espere dan Nicholas
162
Gadis yang Hilang
163
Kue Bolu
164
Mau Kemana?
165
Dihukum walau Tidak Bersalah
166
Sepotong Kue
167
Bersikap Seolah Melihat
168
Gadis yang Tersiksa
169
Melarikan Diri
170
Keributan
171
Menyamar
172
Pernikahan Malika
173
Tujuh Bulan
174
Nicorazón dan Esperanza
175
Berwisata
176
Kemalangan Beruntun
177
Pesulap
178
17 Tahun
179
Pertunjukan Sulap
180
Akhir Pertunjukan
181
Gangguan di Jalan
182
Penumpang Pesawat
183
Anak Malang
184
Kemampuan yang Disalahgunakan
185
(Season 2) Perubahan Nicorazón
186
(Season 2) Rahasia yang Belum Terungkap
187
(Season 2) Kejujuran
188
(Season 2) Roh di Dinding
189
(Season 2) Sentuhan
190
(Season 2) Takut
191
(Season 2) Kamar
192
(Season 2) Demam
193
(Season 2) Menemui Pesulap
194
(Season 2) Tiket
195
(Season 2) Kucing Sembilan Nyawa
196
(Season 2) Bersedia
197
(Season 2) Satu Kepala Menggelinding
198
(Season 2) Asisten Pesulap
199
(Season 2) Keturun Ketujuh
200
(Season 2) Mendadak Sakit
201
(Season 2) Hari Pertama
202
(Season 2) Dorado
203
(Season 2) Pengawas
204
(Season 2) Tomi Datang
205
(Season 2) Berpindah
206
(Season 2) Pacar Nicorazón
207
(Season 2) Lari
208
(Season 2) H E L P
209
(Season 2) Identitas
210
(Season 2) Dalam Kurungan
211
(Season 2) Kembali ke Tubuh Asli
212
(Season 2) Verde
213
(Season 2) Pesawat Meledak
214
(Season 2) Kapal Penjahat
215
(Season 2) Penangkapan
216
(Season 2) Rapat
217
(Season 2) Tertukar
218
(Season 2) Beraksi
219
(Season 2) KETAHUAN
220
(Season 2) Dua Esperanza
221
(Season 2) Panggilan
222
(Season 2) Tidak Percaya Siapapun
223
(Season 2) Satu Esperanza Terbunuh
224
(Season 2) Kekuatan Terkuat
225
(Season 2) Esperanza di Tengah Pusaran Angin
226
(Season 2) Lautan Api
227
(Season 2) Di Pengungsian
228
(Season 2) Sebuah Kebenaran
229
(Season 2) Bahan Makanan
230
(Season 2) Mencari Esperanza
231
(Season 2) Kebohongan Dorado
232
(Season 2) Penghianat yang Sebenarnya
233
(Season 2) Pribadi yang Lain
234
(Season 2) Jadi Budak atau Buronan
235
(Season 2) Semakin Terbiasa
236
(Season 2) Penyamaran Terbongkar
237
(Season 2) Malam Bertabur Timah Panas
238
(Season 2) Tujuh Kehidupan
239
(Season 2) Ikut Campur
240
(Season 2) Terkepung
241
(Season 2) Menyerah
242
(Season 2) Esperanza Tiba
243
(Season 2) Leluhur Dorado
244
(Season 2) Akhir Hidup Dorado
245
(Season 2) Bangun
246
(Season 2) Belum Terbiasa
247
(Season 2) Usaha Gina
248
(Season 2) Izin Kembali Pulang
249
(Season 2) Pergi Sejauh Mungkin
250
(Season 2) Tawaran
251
(Season 2) Murid Baru
252
(Season 2) Akibat Mengganggu Esperanza
253
(Season 2) Empedu
254
(Season 2) Museum
255
(Season 2) Akhir yang Berbeda
256
(Season) Sampai Jumpa

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!