karena sebuah hutang, Rere Margaretha, seorang remaja cantik yang berusia 19 tahun harus dipaksa menikah dengan CEO di perusahaan di mana Rere bekerja.
Sean Agipratama, seorang pria dewasa berusia 32 tahun, pria dingin dan arrogant, harus menikahi gadis yang tidak ia cintai karena tujuannya.
akankah pernikahan yang mereka jalani sesuai dengan tujuan Sean, atau malah sebaliknya.
ikuti terus ceritanya agar tau kelanjutannya 🤗
ikuti ig author untuk informasi MPH
@aran_diah
Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arandiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 26
Selamat membaca,,, 😘😘😘
...****************...
“Bukankah anda baik-baik saja Nona, bahkan hari ini saya masih melihat anda berdiri di hadapan saya,” ucap pria kutub itu yang tak lain adalah Sekertaris Roy.
“Cih! Dasar pria aneh!” bentak wanita tersebut tepat di hadapan Sekertaris Roy.
“Terserah anda Nona, sebaiknya anda jangan menghalangi jalan saya,” ucap Sekertaris Roy menatap tajam ke arah wanita tersebut.
“Hey Tuan sombong yang terhormat, dari awal kita bertemu, anda yang duluan menabrak saya, dan sekarang juga anda yang menabrak saya hingga minuman cokelat saya tumpah dan mengotori pakaian saya!” ucap wanita itu berteriak, sebenarnya itu bukan masalah baginya, tapi melihat pria sombong yang tidak mau meminta maaf dan malah memasang wajah muka datar, menyebalkan pikir wanita tersebut.
“Ck, saya akan mengganti rugi, dan minggir,” ucap Sekertaris Roy sambil mengambil uang di dompet dan memberikannya pada wanita tersebut.
Bugghh
Bukannya menerima uang tersebut, wanita itu malah memberikan bogeman mentah pada Sekertaris Roy, sedangkan Sekertaris Roy yang mendapat serangan mendadak itu tidak bisa menahan bogeman itu dan membuat dirinya terhuyung ke belakang.
‘Cih! Brengsek,’ geram Sekertaris Roy sambil mengusap sudut bibirnya sobek dengan ibu jarinya akibat bogeman wanita cantik tersebut.
“Yola!” teriak seorang pria yang melihat perkelahian itu dan segera menghampiri wanita tersebut.
Yolanda Jackson, seorang wanita berparas cantik berusia 20 tahun, Yola, begitulah orang memanggilnya, ia hanya tinggal bersama Ayahnya yang bernama Jackson dan ibunya telah meninggal saat dirinya berusia 10 tahun karena penyakit yang di deritanya, Ayahnya memilih tidak menikah lagi dan membesarkan putrinya sendiri, Tuan Jackson adalah pemegang sabuk hitam dan kini keahlian bela diri tersebut juga di kuasai putrinya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya John, sahabat Yola yang memiliki perasaan terhadap Yola namun memilih untuk memendamnya.
“Of course, kau tidak perlu khawatir,” ucap Yola meyakinkan sahabatnya dan pandangannya masih tertuju pada pria yang sedang menatapnya dengan tajam.
“Sebaiknya kita segera pulang, Ayahmu pasti sangat khawatir saat ini, biarkan saja pria itu,” ucap John mengingatkan Yola agar tidak pulang larut malam dan membuat Ayah Yola menjadi khawatir.
“Baiklah,” ucap Yola menyetujui saran John.
“Dan kau! Tidak semua permasalahan dapat di selesaikan dengan uang, kau mungkin punya banyak uang tapi aku belum yakin jika kau punya kebahagiaan,” bentak Yola yang memang tidak menyukai sikap dan sifat pria arrogant itu dengan menatap tajam lalu tersenyum sinis.
Sekertaris Roy terlihat marah dan menggertakkan giginya karena ucapan wanita yang baru di temui nya beberapa hari ini, bahkan dirinya tidak pernah semarah ini terhadap wanita, kecuali yang berhubungan dengan Tuannya, Sean Agipratama.
“Ingat! Jika sampai aku bertemu dengan mu lagi, aku akan mencekik dirimu!” bentak Yola dengan bertujuan mengancam dan segera pergi dari hadapan pria datar itu.
‘Apa dia bilang? Mencekik diriku? Haha rasanya aku ingin sekali menertawakan ancamannya itu, tapi jika di lihat dia sepertinya jago bela diri,’ batin Sekertaris Roy yang rasanya ingin terbahak dengan tangan yang masih memegang sudut bibirnya, tanpa dia sadari, sebuah senyuman indah terukir di bibirnya.
Setelah perkelahian itu, eh bukan, bahkan Sekertaris Roy hanya menganggap sebuah perdebatan kecil itu selesai, ia segera pergi untuk mencari gaun untuk Nona mudanya, setelah menemukan apa yang di cari, kini Sekertaris Roy pulang ke apartemennya untuk mengistirahatkan tenaga serta pikirannya dan memberikan gaun itu besok pagi.
......................
Pagi yang cerah dan sinar mentari yang masuk menerobos jendela kaca besar, tak mengusik dua insan yang masih terlelap, bahkan seorang pria malah mencari kenyamanan di ceruk leher istrinya dengan memperat pelukan pada pinggang istrinya.
“Enghh, kenapa pinggang ku rasanya berat sekali,” lirih wanita itu yang tak lain adalah Rere.
Dan ketika Rere melihat perutnya, ada sebuah tangan besar dan kokoh yang sedang memeluknya, Rere pun berbalik untuk melihat suaminya itu dan mengamati setiap inci wajah Sean yang nyaris sempurna, bahkan Sean tidak merasa terganggu dengan pergerakan Rere.
“Apa aku bangunkan saja ya,” gumam Rere.
“Di rumah ini ada aturan yang tidak boleh mengganggu Tuan Sean dari tidurnya, karena itu akan membuat Tuan Sean menjadi murka,” pikiran Rere langsung mengingat bagaimana Pak Sam berbicara dan menasehatinya.
“Hhaahh, anggap saja aku sedang di peluk beruang,” dengan membuang napas kasar iya meyakinkan dirinya agar merasa lebih tenang di peluk beruang daripada di peluk Suami datarnya, pikir Rere.
*To be continue*
Terima kasih,,,
...****************...
Tekan favorit agar dapat notifikasi jika sudah up,,, 😘
Jangan lupa sedekah dengan like, vote, hadiah dan komen tentang ceritanya,, 🤗
Follow IG Author @aran_diah