Aureline Vance mengira pernikahan kontrak dua tahun dengan Zayyan El-Ghazali—sang CEO berdarah dingin penguasa imperium bisnis terbesar—hanya sekadar transaksi demi keselamatan diri. Namun, yang tidak diketahui dunia adalah kehadiran Xavi, putra rahasia mereka yang berusia tujuh tahun dengan kecerdasan siber tingkat genius.
Saat ancaman dari kartel informasi global, *Valerius Syndicate*, dan intrik pengkhianatan dalam keluarga El-Ghazali mulai membidik Xavi sebagai target eliminasi, Zayyan dan Olin terpaksa meruntuhkan dinding pembatas di antara mereka. Di tengah desing peluru dan konspirasi tingkat tinggi, kertas kontrak dua tahun itu akhirnya dibakar menjadi abu. Kini, tidak ada lagi jalan mundur. Zayyan siap mengerahkan seluruh kekuatan imperiumnya demi melindungi takhta, wanita yang dicintainya, dan sang pewaris rahasia yang tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blaze Onyx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Ketukan Sepatu yang Terhenti
Ketegangan di aula barat Galeri Nasional kian merapat, menyisakan deru napas Olin yang tersendat di balik sapuan hawa pendingin ruangan. Tubuhnya yang ramping bergemih, melebarkan kedua lengan secara implisit demi menutup sisa celah pandang Zayyan ke arah pintu darurat. Di belakangnya, sayup-sayup terdengar suara ketukan jemari kecil di atas papan ketik gawai, pertanda Xavi telah mundur kembali ke dalam remang ruang kerja.
Zayyan tidak langsung mengejar. Dia menarik sebelah tangannya dari saku jas, membiarkan jemari kokohnya menggantung di sisi tubuh, sedikit bergetar sebelum akhirnya mengepal rapat. Sepasang mata elangnya perlahan kembali pada Olin, menelisik setiap jengkal ekspresi ketakutan yang tersirat di wajah wanita itu.
"Tujuh tahun," suara Zayyan bergetar rendah, bukan karena ragu, melainkan oleh amarah yang tertahan di balik kerongkongan. "Kau membawa darah dagingku berlari dari satu pulau ke pulau lain, menyembunyikannya di balik nama asing, hanya untuk membiarkannya tumbuh menjadi peretas yang mengusik perusahaanku?"
"Dia bukan darah dagingmu sejak kau memilih untuk melepaskan kami, Tuan El-Ghazali," desis Olin, suaranya setajam pecahan kaca meski tenggorokannya terasa kering. "Kau tidak punya hak atas hidupnya. Atas hidup kami."
Zayyan melangkah maju satu tapak. Dorongan auranya yang masif memaksa Olin mundur setengah langkah hingga tumit sepatunya membentur pembatas karpet merah di bawah lukisan monokrom. "Hak?" Zayyan membeo dengan kekehan hambar yang sedingin es. "Anak itu baru saja mengacaukan sistem pertahanan Iron Sentry di kantorku dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Jika tim siber pusat melacak alamat IP ini sebelum aku menghentikannya, galeri ini sudah dikepung oleh satuan pengamanan khusus, Aureline. Aku ke sini bukan untuk bernegosiasi tentang masa lalu, tapi untuk mengamankan apa yang menjadi milikku."
Olin merasakan seluruh sendinya mendingin. Dia tahu persis watak Zayyan; bagi pria ini, segala sesuatu di dunia adalah aset yang harus dikendalikan di bawah jemarinya. Kejeniusan Xavi justru menjadi magnet paling berbahaya yang menarik mereka kembali ke dalam sangkar emas El-Ghazali.
"Dia bukan aset bisnismu, Zayyan," ucap Olin, matanya mulai berkaca-kaca namun tatapannya menolak untuk tunduk. "Dia anak kecil. Dia hanya ingin melindungi ibunya."
Sebelum Zayyan sempat membalas, sebuah langkah kaki ringan yang teratur terdengar mendekat dari arah belakang Olin. Kali ini bukan derit pintu biasa. Xavi berjalan keluar dengan santai, mengabaikan larangan ibunya. Gawai portabelnya telah terselip di saku celana kodok, sementara kedua tangannya terbenam di saku depan, meniru persis postur berdiri pria tegap di hadapannya.
"Mommy, tidak usah berdebat dengan pria yang tingkat kortisolnya sedang tinggi," cicit Xavi, memecah konfrontasi berat di antara kedua orang dewasa itu. Bocah tujuh tahun itu berdiri tepat di samping Olin, mendongak menatap Zayyan tanpa ada secercah pun rasa gentar di balik lensa kacamata bundarnya. "Halo, Tuan CEO. Enkripsi pelacak dari tim sibermu sudah kuhapus dari sistem satelit lima menit lalu. Mereka tidak akan bisa melacak tempat ini. Jadi, Anda bisa menurunkan intonasi suara Anda sekarang."
Zayyan terpaku. Sepasang alis tebalnya bertaut rapat saat memandang bocah yang tingginya bahkan belum mencapai pinggangnya. Kemiripan mereka bukan lagi sekadar guratan sketsa kasar; cara anak ini berbicara, ketenangannya yang dingin di tengah situasi pelik, hingga binar mata bulat yang penuh perhitungan adalah cerminan dirinya sendiri di masa muda.
"Xavi, Mommy bilang masuk ke dalam," bisik Olin panik, mencoba menarik lengan kecil putranya ke belakang tubuhnya.
Namun Xavi menahan langkahnya, matanya tetap mengunci pandangan pada Zayyan. "Aku tahu siapa Anda. Anda Zayyan El-Ghazali, orang yang namanya selalu muncul di urutan pertama pembayar pajak korporasi tertinggi di tablet kunoku. Dan Anda... adalah alasan kenapa Mommy sering menangis diam-diam di ruang tengah setiap tanggal dua belas Desember."
Atmosfer di dalam aula galeri mendadak membeku. Kata-kata polos dari sang arsitek kecil itu menghantam dada tegap Zayyan lebih keras daripada pukulan fisik mana pun. Zayyan melirik Olin, mendapati wanita itu langsung memalingkan wajah, menyembunyikan setitik air mata yang akhirnya lolos di sudut matanya yang lelah.
Rahang Zayyan mengatup rapat hingga urat di pelipisnya menonjol tegang. Perlahan, dia menekuk satu lututnya di atas lantai marmer dingin, merendahkan tubuh tegapnya hingga posisinya sejajar dengan pandangan mata Xavi. Jarak mereka kini begitu dekat, mempertemukan dua generasi El-Ghazali dalam satu tarikan napas yang sunyi.
"Kau sangat pintar untuk ukuran anak kecil yang menggunakan gawai kuno," ucap Zayyan, suaranya melunak, kehilangan sedikit nada ketajaman besinya namun tetap menyiratkan otoritas yang pekat. "Tapi memancingku ke sini berarti kau sudah siap menerima konsekuensinya, Jagoan."
Xavi menaikkan sebelah alisnya, tersenyum tipis dengan lagak yang teramat familier bagi Zayyan. "Konsekuensi selalu berjalan dua arah, Tuan CEO. Dan kurasa, Anda yang belum siap dengan apa yang kubawa setelah ini."