Berawal dari tabrakan di koridor sekolah saat terlambat, hidup Alya yang tenang mendadak berubah jadi penuh drama gara-gara Raka, si kapten basket populer yang hobi mengganggunya. Situasi makin kacau saat foto candid Alya tak sengaja masuk ke story Instagram Raka dan membuat satu sekolah gempar.
Namun, dari benci jadi chattingan. Di balik sikap usil Raka, Alya pelan-pelan menemukan sisi rapuh cowok itu yang tersembunyi dari dunia.
Sayangnya, saat benih perasaan mulai tumbuh, kehadiran Kevin—murid baru yang mendekati Alya—menyalakan api cemburu Raka. Ditambah rumor sekolah dan kesalahpahaman masa lalu, Alya mulai ragu dengan perasaan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon grayen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senyum yang Beda
Pagi itu Alya datang ke sekolah dengan flashdisk yang berisi semua hasil foto turnamen basket.
Sesuai janji, ia juga sudah mengedit beberapa foto terbaik untuk diserahkan ke guru multimedia.
Begitu sampai di kelas, Nadya langsung menghampirinya.
“Udah jadi fotonya?”
“Udah.”
“Yang Raka ada?”
“Ada.”
“Banyak?”
Alya menutup tasnya lalu menatap Nadya datar.
“Lo kenapa sih penasaran banget?”
“Karena gue yakin setengah isi folder lo foto Raka.”
“Lebay.”
“Coba lihat.”
“Nggak.”
“Nah kan.”
Alya hanya terkekeh pelan. Ia tahu kalau Nadya cuma bercanda, meski ada sedikit rasa gugup saat mendengar tuduhan itu.
---
Saat jam istirahat, Alya pergi ke ruang multimedia untuk menyerahkan file. Setelah semuanya selesai, ia berjalan keluar sambil membawa kamera.
Di koridor, seseorang memanggilnya.
“Alya!”
Ia menoleh.
Raka berlari kecil menghampirinya dengan seragam olahraga karena baru selesai latihan ringan.
“Nih,” kata Alya sambil menyerahkan flashdisk kecil.
“Apaan?”
“Foto yang kemarin. Gue salin khusus buat tim basket.”
Mata Raka langsung berbinar.
“Serius?”
“Iya. Tapi jangan bilang-bilang yang lain. Nanti semua minta.”
Raka menerima flashdisk itu hati-hati.
“Makasih banyak.”
“Udah, sana.”
“Bentar.”
“Apa lagi?”
“Katanya ada foto gue yang bagus.”
Alya mengangguk.
“Ada.”
“Yang mana?”
“Nanti lihat sendiri.”
Raka tersenyum lebar.
“Kalau jelek, gue protes.”
“Silakan.”
---
Sepulang sekolah, ponsel Alya berbunyi.
Pesan dari Raka.
> Raka:
Gue baru lihat fotonya.
Beberapa detik kemudian masuk lagi.
> Raka:
Bagus banget.
Lalu satu lagi.
> Raka:
Yang ketawa itu favorit gue.
Alya membaca sambil tersenyum kecil.
> Alya:
Sama.
Begitu pesan terkirim, ia langsung membeku.
“Loh…”
Ia baru sadar sudah mengetik “sama” tanpa berpikir.
Beberapa detik kemudian Raka membalas.
> Raka:
Jadi kita sepemikiran.
Alya buru-buru menaruh ponselnya di meja.
“Kenapa gue jawab gitu…”
Namun bukannya menghapus rasa malu, ia malah tertawa sendiri.
---
Keesokan harinya, ada sesuatu yang berbeda di sekolah.
Saat Alya berjalan menuju kelas, beberapa teman menyapanya lebih dulu.
“Pagi, Alya!”
“Fotonya keren ya!”
“Ajarin motret dong!”
Ia membalas dengan senyum sopan.
Dulu biasanya ia hanya mengangguk lalu lewat.
Melihat itu, Nadya langsung berkomentar,
“Lo akhir-akhir ini sering senyum.”
“Enggak juga.”
“Sering.”
“Perasaan biasa aja.”
“Coba deh jujur.”
Alya mengernyit.
“Jujur soal apa?”
“Sejak kenal Raka, mood lo lebih bagus.”
Alya hendak menyangkal, tapi kata-katanya tertahan.
Kalau dipikir-pikir…
Ia memang jadi lebih sering tertawa.
Lebih sering membuka chat.
Bahkan lebih semangat datang ke sekolah.
Bukan karena pelajarannya berubah jadi lebih mudah.
Melainkan karena hampir setiap hari selalu ada hal tak terduga yang terjadi.
Dan anehnya, sebagian besar melibatkan Raka.
---
Siang itu, kelas mereka mendapat tugas membuat poster secara berpasangan.
Guru membebaskan siswa memilih pasangan sendiri.
Sebelum Alya sempat memanggil Nadya, seseorang sudah lebih dulu berdiri di samping mejanya.
“Partner?”
Alya mendongak.
“Lo cepat banget.”
“Takut keduluan.”
“Emang kenapa kalau keduluan?”
“Nggak jadi sekelompok sama lo.”
Alya menghela napas sambil tersenyum tipis.
“Ya udah.”
Mereka mulai mengerjakan poster di satu meja.
Sesekali Raka memberi ide yang aneh, seperti menambahkan gambar alien atau dinosaurus di pojok poster.
Alya langsung menolak.
“Ini tugas Biologi, bukan film fiksi.”
“Biar kreatif.”
“Biar nilainya nol?”
“Oke, masuk akal.”
Di tengah obrolan itu, Dion lewat dan berhenti sejenak.
Ia melihat Alya yang sedang tertawa kecil karena tingkah Raka.
Dion mengangkat alis.
“Wah.”
“Apa?” tanya Raka.
“Baru kali ini gue lihat Alya ketawa gara-gara becandaan lo.”
Alya langsung menutup mulutnya.
Baru sadar ia memang tertawa cukup lepas.
Raka melirik Alya lalu tersenyum.
“Tuh kan. Berarti jokes gue berkembang.”
“Jangan geer,” balas Alya cepat.
“Tapi senyumnya beda.”
Kalimat itu membuat suasana mendadak hening.
Alya menatap kertas di depannya, pura-pura fokus menggambar.
Sementara Raka hanya tersenyum kecil tanpa berkata apa-apa lagi.
Di luar kelas, angin sore berembus pelan melewati jendela yang terbuka.
Tak ada yang benar-benar mengaku.
Tak ada yang membahas perasaan.
Namun perlahan, hubungan mereka berubah.
Dari dua orang yang awalnya sering berdebat karena tabrakan di koridor, menjadi dua teman yang mulai terbiasa mencari satu sama lain di tengah keramaian sekolah.
Dan mungkin, tanpa mereka sadari, senyum yang muncul sekarang memang sudah berbeda dari sebelumnya.